Minggu, 02 April 2017

Jepang dan Hal-Hal yang Tidak Menyenangkan

Jepang itu nggak melulu menyenangkan. Yang jelas ketika aku main di Jepang 2 minggu, aku udah kangen sama chaos-nya Indonesia. Jepang terlalu rapiii. Nggak cuma rapi aja sih,, ada empat hal lain yang aku nggak suka dari Jepang.


Terlalu rapi

Jepang emang terkenal karena kerapiannya. Tapiiiii kelamaan sama hal-hal yang rapi, yang rapinya melebihi kadar manusia normal, bikin aku kangen sesuatu yang nggak rapi. Maksudnya kalo semuanya selalu rapi jadinya boring kan. Hal paling ngebetin adalah ketika aku duduk di dalam bus yang berjalan dengan rapi (*baca: jalan dengan stabil dengan kecepatan 20-30 km/jam) tanpa ada niatan untuk menyalip kendaraan di depannya padahal jelas-jelas space nya cukup banget. Kalo aku gemes pengen ambil space kosong itu dan maju ke depan supaya bisa jalan lebih cepet, meski cuma lebih cepet 1-2 menit. Ehehehehe


Manusia-manusia yang dingin

Manusia Jepang, khususnya Tokyo yang aku kenal adalah manusia dengan dua kepribadian yang bertolak belakang. Aku inget banget malem itu dingin, dan aku nggak sadar udah jatuhin sarung tanganku dari kantong coat. Ternyata ada mbak-mbak cantik yang rela lari-lari ngejar-ngejar aku karena aku nggak ngeh udah di teriak-teriakin buat balikin sarung tanganku yang jatuh. Padal mbak nya kenal sama aku juga nggak. Tapi di sisi lain, ketika aku tinggal seminggu di satu kamar di sudut Tokyo, aku sama sekali nggak tahu siapa yang tinggal di kamar sebelah, apakah dia bapak-bapak, apakah dia cewek muda, apakah mereka berkeluarga. Okelah aku cuma seminggu, ini cerita yang berbeda. Temanku tinggal di Akita, sebuah pedesaan di sudut Jepang. Karena baru saja melahirkan, dia tinggal di rumah mertuanya. Ketika suami dan ayah mertua bekerja, dia tinggal dengan ibu mertua dan anaknya di rumah. Tapi teman aku ngaku kalo dia merasa asing dengan ibu mertuanya. Konon ceritanya budaya di Jepang yang menjunjung tinggi privasi membuatnya merasa ibu mertuanya menganggapnya sebagai orang asing. Kalo aku nggak mau ih.


Berisik adalah kejahatan

Kalo kamu naik transportasi umum macam kereta atau bus di Jepang, ada peraturan bahwa dilarang membunyikan ringtone hp, dilarang menerima telpon (cuma boleh sms-an, atau chatting saja yang tidak berisik), dilarang saling ngobrol. Yah,, tujuannya baik sih,, jadi kalo nggak berisik kan pengumuman di dalam kereta atau bus terdengar jelas. Tapiiii kebiasaan nggak ngomong ini kebawa lho sampe di luar area kereta dan bus. Di rumah makan, mereka pun diam, nggak ngomong. Mereka cuma bersuara kalo nyeruput kuah ramen (karena kalo kamu makan sambil nyeruput merupakan tanda kalo kamu suka ramen mereka). Saat aku makan di restoran Jepang yang berisik, aku pikir, yeah ada orang Jepang yang normal. Tapi ternyata ketika aku ngintip ke sumber suara, yang berisik adalah ekspatriat atau pengunjung berambut blonde yang sedang makan dengan teman-temannya. Omaigod.


Peraturan, peraturan, peraturan

Jepang punya banyak sekali peraturan. Indonesia juga punya banyak banget kok. Tapi kalo di Jepang mau nggak mau kamu harus taat. Aku punya teman baik yang hobi melanggar peraturan (sekolah) di Indonesia. Sekarang dia sudah tinggal di Jepang sekitar 5 tahun. Ketika jalan dengan dia di trotoar Jepang, dia dengan galaknya marahin aku karena aku mengambil jalur yang salah. Padahal situasinya saat itu tengah malam dan sepi. Ah,, sistem nurut-nya Jepang bisa bikin aku gila deh.


Mahal

Ini nih bagian paling nyebelin dari Jepang. Bayangin aja, ketika naik gojek bisa bayar tiga ribu, kalo naik bus di Jepang sekali masuk mesti bayar dua puluh ribu. Hampir sepuluh kali lipatnya kan. Kamu pernah nyobain resto ramen berjudul Marugame yang kalo makan di situ udah dianggep mewah? Kalo di Jepang makan dengan harga yang sama dengan di Marugame termasuk murah. Tapi emang Jepang terkenal dengan mahalnyaaa.


Ini semua opini pribadi ya. Kalo kamu yang baca nggak setuju sah-sah aja lho. Atau nggak percaya sama apa yang aku tulis? Coba maen ke Jepang!

-geLintang-

15 komentar:

  1. Tfs mbaak lintaang 😁
    Jepang terkenal dengan disiplin dan sangat rapi mbak ya. Saya ada teman dr jepang juga, mungkin benar kalau dingin org sana ya. .dianya baik bingits tp ya gitu pendiam alias irit bicara heehehe

    Aku pribadi suka yg hangat dan supel which is itu indonesia banget 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak LUCKY,, ya gitu 2 sisi yang berbeda banget,, antara baek banget sama nggak ngurusin urusan orang lain banget. In one side they are good,, but on the other side rasanya mereka nyebelin dan terkesan nggak peduli. Bahkan temen satu kerjaan aja belum tentu punya no pribadi temennya lho.

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Wah, sesuatu yang "terlalu" memang jadi bikin BT ya. Terlalu rapi atau terlalu berantakan lama-lama bisa ngebosenin. Saya juga pengen traveling ke Jepang sih, suka sama kebudayaannya. Tapi traveling aja, untuk tempat tinggal, Indonesia tanah air beta deh. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha,, setujuuuu. Emang paling enak tinggal di Indonesia

      Hapus
  5. ngebaca ini kok aku malah bersyukur ya tinggal di Indonesia. walopun emang msh banyak kekurangan, tapi aku senang tinggal di negara yang hangat dan ramah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes. Aku juga selalu suka di Indonesia,,, anget :D

      Hapus
  6. Wih naik bus bayarnya 10 kali lipat,,,
    wah wah wah.., emejing bener...
    Harus banyak duit nih klw kesana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah,, nggak harus banyak duit kok,, tapi harus smart,, ga bisa asal gitu,, itu kalo aku yaa,, budget terbatas soalnya. Hahaha

      Hapus
  7. Waduh berisik adalah kejahatan.. ampun baru tahu kalau di salam kereta ga boleh nyalain ring tone haha segitunya ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. normanya memang begitu mbak. Aku pernah ketemu turis Asia yang lagi video call pas masuk kereta,, dia doang yang berisik,, yang laen diem sambil ngelirik. Lama-lama nggak nyaman juga kan,, jadi matiin vid call nya deh

      Hapus
  8. Kadang memang sesuatu yang gak biasa, bikin kangen yang gak biasa ya, Mbak. Aku pernah suka Jepang karena kerapian dan kebersihannya. Dan, orangnya.

    BalasHapus
  9. thanks for sharing, ithink it is just your problem being genuine noncomformist Indonesian people, why; 1. despite went to Japan you felt uneasy with the rules (nowadays before u go to somewhere places you should checking their customs/rules with ur gadgets so you can acknowledged it, let me guess u dont do it right! if u did! then why did you feel shocked/bored!?).dont say you go Japan in last minutes or because your electricity company is out of powers so you decide to go to Japan voluntary and unintentionally. 2. you felt uncomfortable instead of grateful after visited Japan (how much money did you spend? a prodigious grants right? dont say you won a lotre and unlimited vouchers that you can't spend it anyway )you should thanks to God that you have visited Japan. 3. Did you just compared Japan and Indonesia!? oh c'mon, yes of course they're completely different it's more like you want to say the difference between ferrari company and local caroseries their stats, attributes, and training works tottaly different, what's more i guess if you would never visited Japan i think you would say the best things about Japan (maybe IMO) alas you have visited 2 weeks so the story is different judges by 2 weeks experiences. it is just my opinion i have no intention to offend anyone i'm sorry if my words hurt someone, once more thanks for sharing it

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you for your beautiful words. Well, we have our own opinion. I have something that I don't like abaout this country and I also have something favorite from this country - I wrote it on my previous post. Every country has their own unique, that's why we need to travel to learn more. Cheers

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)