Selasa, 21 April 2015

Annyonghaseo!

Sesuai janji yang aku buat sendiri di post sebelumnya,, aku mau cerita jalan-jalan Korea secara hari per hari,, atau semacam jurnal perjalanan aku selama di Korea Selatan. Sebenernya kalo mengingat perjalanan ke Korea kemaren, semacam mengingatkan pada luka lama. Haish. Males cerita sekarang,, ntar-ntar aja ya, biar nggak perih.


Kali ini aku pergi berempat, semuanya cewek, dan salah satu dari kami baru kali ini pergi ke luar negeri. Iya, visa Korselnya lulus meskipun pertama kali ke LN. Selain kejelasan tujuan dan budget yang masuk akal, dia menyertakan surat pernyataan pasti akan kembali ke Indonesia setelah berlibur di Korsel. Berhubung dapat tiket murah, kami berangkat dari Solo ke Busan. 


Busan adalah kota kedua terbesar setelah Seoul di Korea. Aku membayangkan Busan dan Seoul itu seperti Tokyo dan Osaka. Setelah landing dan menapak bandara Busan yang bersih dan cihuy, aku pun sadar, Busan sedang gencar promosi tentang pariwisata kesehatan. Baru sampai ruang imigrasi poster berbau pariwisata sehat super besar sudah menyapa kami. Nggak ada foto,, kan nggak boleh foto di area imigrasi.


Petugas informasi di bandara sangat ramah. Kami bertanya bagaimana cara terbaik untuk berkeliling Busan dan kalo bisa sekalian Seoul. Mbak petugas yang cantik menyarankan kami untuk membeli T-money di convenience store yang ada di area bandara sekalian isi ulang kartunya. Satu kartu itu bisa digunakan untuk bayar kereta dan bus dalam kota,, asal ada isinya. 

Setelah beres urusan kartu transportasi, kami mengikuti petunjuk untuk naik kereta. Tujuan kami adalah ke Samyeonchon, area tempat hostel kami. Pertama kami harus naik light train untuk menuju kota Busan. Kemudian kami pindah kereta, dengan geser stasiun, menuju ke Sumeyon. Petunjuk keretanya sangat jelas dan dibedakan dengan warna.


Berbeda dengan bandara Busan dan area sekitarnya yang sepi, sesampai di Stasiun Samyeonchon, kami bertemu dengan keramaian. Aku sendiri baru ngeh kalo ternyata Samyeonchon itu tempatnya Lotte Mart Building yang terkenal. Tapi biar terkenal buat turis, Lotte sendiri kurang happening untuk warga sekitar distrik. Aku pernah nyasar dan tanya dimana Lotte nya untuk patokan dan nggak ada yang mudeng. Tapi kalo warga ditanya pintu masuk stasiun mereka langsung paham.


Acara malam itu sebenernya bertemu teman yang janjian jam 7 malam di pintu masuk stasiun. Sayangnya, hp dengan sim card indonesia ku sedang trouble dan ngga bisa terima sinyal. Stasiun Sumeyon pun stasiun yang besar dengan banyak pintu. Setelah nunggu setengah jam kedinginan, nggak ketemu deh kita. Hiks.


Malam pertama kami di Busan dihabiskan dengan jalan-jalan ke BIFF yang terkenal itu, yang buat aku biasa wae. Yang seru ya Eattery Alley dengan makanan favorit, pancake seafood. Karena Busan adalah kota pesisir, maka seafood nya seger dan murah. 


Masih ada cerita selanjutnya, tunggu yaaa
@dinilint

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)