Jumat, 11 Juli 2014

One un[Perfect] Afternoon in Bangkok

Sore itu adalah sore paling bete sepanjang perjalanan aku #crosscountry. Setelah mendapat banyak momen gila dengan dek crit di Singapura, dapat teman baru yang super asik di Penang, ini saatnya aku untuk jalan sendirian di Bangkok. Rencanya sih nggak sendirian. Ada teman yang bersedia menampung aku di Bangkok. Paling nggak seharusnya sore itu aku ada teman bicara. Tapi mendadak dia ada urusan di luar Bangkok sehingga kami nggak bisa bertemu dan aku nggak jadi nginep di tempat dia. Yah,, sudahlah. 
Dari awal berangkat aku udah siap dengan semua konsekuensi di perjalanan yang mungkin terjadi, termasuk jalan sendirian dan bener-bener jadi solo traveller. Udah diniati si,, tapi pas kejadian tetep aja ada rasa nelangsa. Itu orang-orang semua ada temennya, kenapa aku jalan sendirian gini. Biasanya pas makan ada temen ngomongnya sekarang cuma lihat-lihatan sama handphone yang bahkan nggak dapat koneksi internet. Khaosan Road yang ramai orang, rasanya kurang friendly sore itu. Di tiap sudut aku selalu lihat traveler yang lagi jalan dengan partner mereka. Kiri-kanan jalanan juga terasa kurang menarik sore itu. Ah,, pengen pulang.
"Where are you come from?" tiba-tiba ada sapaan bernada ramah dari sebelah kanan. Aku menengok dan mendapati penampakan traveler berambut gimbal.
"Indonesia." jawabku. 
"Where will you go?" 
Aku yang sore itu juga masih bingung mau kemana menjawab sekenanya, "Wat Pho." Kenapa Wat Pho? Yaaaa,,, nama kuil itu yang terlintas di kepala. Tiap aku inget Bangkok aku selalu ingat akan patung Budha dan kuil, disusul dengan belanja. Kalo untuk belanja,, nggak deh. Aku udah mblenger belanja di Singapura dan berniat untuk mengeluarkan uang sesedikit mungkin. Jadi ya aku pengen ke kuil aja. Aku kemudian teringat ada satu kuil yang diberi nama dalam Bahasa Inggris 'Temple of A Dawn'. Kayaknya cocok nih kalo sore-sore gini melakukan pembuktian akan nama kuil tersebut. Masalahnya aku nggak tahu Temple of A Dawn ini nama Thailandnya apa. Si teman baru menanyakan apa aku punya gambarnya, supaya dia tahu kuil mana yang aku maksud. Yah,, aku nggak pernah bawa gambar tujuan kalo lagi jalan-jalan. Biar indra visual dan persepsi otakku saat lihat, yang memberi kejutan di perjalananku.
Aku nggak tahu kenapa, si traveller gembel ini jalan searah dengan jalanku, nunjukin arah, dan akhirnya jadi menemanu perjalananku. Surprise,, dia temen perjalanan yang menyenangkan lho. Kami bisa bicara banyak hal sore itu. Mulai dari asal-usul kami sampai tentang pemikiran-pemikiran yang absurb, yang biasanya aku nggak bisa ngomong asal ke semua orang. God is so good.
Kami jalan bersama sepanjang Khaosan Road, tiba di sebuah pelabuhan kecil yang entah namanya pier entah apa. Kami naik boat lokal seharga 15 baht yang berjalan ngebut di aliran sungai besar Chao Phraya. Yeay, wishlistku di Bangkok terlaksana. Kami berhenti di pier selanjutnya yang entah namanya apa,, mungkin kalo sore itu aku jalan sendirian bakalan nyasar entah kemana. Kami tiba di Wat Arun yang ternyata dikenal dengan kuil dengan Budha tidur di dalamnya. Aku nggak mau masuk karena ya memang nggak ada keinginan untuk masuk saat itu. Toh, aku sudah bisa melihat patung Budha tidur dari balik jendela di kuil itu. Aku bilang pada teman baruku itu, ternyata bukan kuil ini yang ingin aku datangi. Kalau namanya bukan Wat Pho berarti temple of a dawn bernama Wat Arun. Dia dengan sukarela mengantarku lagi ke Wat Arun. Kirain sampe di Wat Pho bakal say goodbye lho, ternyata dianterin lagi. Senangnya.
Kami harus nyebrang Sungai Chao Phraya dengan boat seharga 3 baht. Meski boat yang ini lebih kecil, tapi jalannya tetep ngebut dan ngepot. Sampai-sampai air bisa masuk ke dalam boat. Tas temen bahkan sempat kena air karena ditaruh di bawah. Whoaa.
Taaadaaaa,,, akhirnya aku sampai juga di Wat Arun. Indahnya. Karakteristik bangunannya tidak sama dengan wat - wat kebanyakan di Thailand yang terbuat dari semacam aluminium dan berwarna emas. Di sekeliling bangunannya ada tempelan porselen-porselen dengan detail yang sangat cantik. Di bangunan utama ada tangga curam ke atas. Aku berharap untuk naik ke atas sambil menikmati senja. Kalau bisa melihat dengan sudut 360 derajat dari atas, pasti bisa dapat spot cantik saat matahari perlahan menghilang di barat. Saat aku datang, matahari belum sepenuhnya tenggelam. Sayangnya, Wat Arun sudah ditutup pukul 6 sore. Yah,, sayang sekali. Padahal aku berharap karena namanya temple of a dawn, aku bisa menikmati senja disana. Ya sudahlah. Wishlistku sudah terlaksana, menyebrang ke Wat Arun ketika matahari mulai terbenam.
Jadi selanjutnya apa? Ternyata di dekat Wat Arun ada wat lain yang tidak terkenal. Mungkin karena tidak dikenal dan benar-benar untuk tempat beribadah, maka wat yang satu ini bebas dimasuki siapa saja tanpa ada biaya administrasi. Demi melengkapi catatan perjalananku, aku coba masuk ke wat yang satu ini. Setelah itu. Selesai agendaku untuk hari ini. Yang jelas aku nggak tahu jalan pulang dan nggak punya rencana selanjutnya. Si teman baru tetepa ada di samping aku tanpa ada tanda-tanda untuk say goodbye.
Entah kenapa, aku mau aja tu ngikut si teman baru pergi. Dia ngajak berhenti di sebuah cafe kecil di pojokan. Dia minum kopi, dan aku kembali memenuhi wishlistku untuk minum jus di Bangkok. Meski nggak seutuhnya real jus (menurut temenku itu dari jus mangga, kiwi, lemon yang dicampur air dan es, yang asli cuma lemonnya aja) yang dibuat dalam porsi super gede yang pada akhirnya nggak habis aku minum sendiri dan terpaksa berubah rasa akibat kelamaan diminum dan dibuang seperdelapan bagiannya karena nggak habis.
Aku nggak perlu cerita detail tentang apa yang terjadi malam itu di Bangkok di blog ini kan. Malamnya aku masih kelayapan di tempat yang aku nggak tahu dengan teman baru ini. Aku naik ke condonya yang berada di lantai entah berapa yang aku lupa pas nulis ini untuk menikmati lampu Bangkok dari atas. Kami makan malam bersama dengan menu roti prata, humus, dan pasta tomat lengkap dengan minum jus mint dan lemon, yang kalo di rumah pasti aku nggak mau nyoba yang ternyata rasanya seger. At the end i have to admit that I did kissing with strangers, that strangers. Kalo ditanya, kenapa, ya aku nggak tahu jawabannya. 
At the end, aku selalu berpikir kalo semua yang ada di hadapanku hanyalah ilusi. Kenapa aku bertemu dia, mungkin itu alam bawah sadarku yang minta ditemani dan minta orang seperti dia yang datang ke kehidupanku. Mungkin takdirku cuma sehari. Makanya aku tulis judulnya sebagai [un]perfect. Dibalik sesuatu yang sempurna di dunia, ada ketidaksempurnaan di sana. 
Bad me, aku kasih nama facebook ku ketika aku setting untuk menyembunyikan facebook dari publik. Dia kasih alamat email tapi secara lisan dan jeleknya aku selalu lupa apa yang tidak bisa dilihat secara visual. Ah,, if our fate is only for a day, thank you for this wonderful day. I wish to talk to you more.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)