Sabtu, 15 Maret 2014

Hal Kurang Menyenangkan di Flores :(

"Bagaimana Flores, nak?".
"Menyenangkan. Semua orang ramah dan suka menolong. Saya harap terus begitu sampai saya pulang dari Flores ya"
:)

Pesan yang selalu ibu berikan ketika aku hendak berangkat ngetrip adalah 'waspada'! Tiap dengar kata itu aku selalu teringat dengan para scamer dan penipu di jalanan yang suka memanfaatkan turis dengan berbohong demi kepentingan dirinya sendiri saat itu. Sayangnya, aku selalu pasang sikap waspada paling tinggi saat jalan-jalan di negara sendiri, Indonesia :(. 

Tapi ketika tiba di Flores, aku merasa hal yag berbeda. 

Sebelum berangkat menuju Flores, aku boleh merasakan keramahan orang Flores. Berbekal blog dan alamat email, aku bertanya pada orang lokal. Satu pertanyaan dijawab dengan informasi detail dan jelas. 
Pertama kali menginjakkan kaki di tanah Flores, sambutan Flores yang ramah lewat pertolongan pak polisi sangat menyenangkan. Aku cukup bertanya bagaimana cara mencapai satu titik, si bapak-bapak polisi memberiku dua orang tukang ojek lengkap dengan motornya.
Saat menunggu travel, kami dapat saudara baru. Hanya bercerita mau menghabiskan malam di Moni, dibantu mencari penginapan sesuai budget dan bersih. Kami tinggal duduk manis di travel dan kamar kami sudah siap, lengkap dengan sambutan hangat saudara jauh yang lama tidak bertemu.

Sayangnya, saya juga ketemu hal kurang menyenangkan di Flores :(.
Pagi itu kami akan berpindah dari Moni ke Bajawa. Berdasar pengalaman sebelum-sebelumnya bahwa orang Flores super baik, males ribet cari-cari sendiri, dan mengejar waktu, kami minta tolong bapa di penginapan untuk mencarikan travel ke Bajawa. Saat itu sudah jam 9 pagi, agak susah rupanya untuk mencari travel karena kebanyakan sudah penuh. Syukurlah, saat itu ada satu travel yang masih kosong 2 tempat duduk. Pas sekali.

Kami ikut travel itu, diantar langsung ke Bajawa. Kami harus bayar 175k untuk satu orang. Belakangan kami tahu harga itu terlalu mahal. 175k adalah harga rute dari Maumere ke Manggarai. Memang travel itu berasal dari Maumere, melewati Moni, dan melewati pertigaan menuju Bajawa. 

Hal yang paling mengecewakan adalah, mobil travel yang menarik uang berlebih, yang seharusnya memberhentikan kami di depan rumah, malah menurunkan kami di pertigaan Bajawa coret. Kata Bajawa saja belum ada di pertigaan itu. Kami harus lanjut ber-ojek sekitar 20 menit. :( :( :(. Sedih sekali. Kami marah-marah, tapi energi kami terbuang hanya  untuk marah dengan bapak travel tak bertanggung jawab itu.

Aku jadi ingat pesan seorang bapak (orang Flores juga), "Kami orang Flores memang baik, tidak suka tipu-tipu. Tapi kau hati-hati dengan orang Maumere ya nak.". Ah,, terjawab sudah mengapa.

Hati-hati ya

Senin, 10 Maret 2014

My Multi-Function Travel Pouch

Hi,, this time Elmo will share some story to you.


This is the story about my previous trip. I had two plan for one trip. The first trip is Java Jazz Festival for Jamie Cullum Special Show. The next one is trip to Phi Phi Island through Phuket, the international flight. So, I need different outfit and i'm really sure I can't wash my clothes. The problem is I had no baggage for my flight and I'm sure I should use my backpack. So I do bring two outfit-pouch.  


This is one of my travel pouch. I have to roll all my outfit so I can bring more. Thank God beach outfit need thin fabric.


This is why I call it multi function. When I have to sleep in the airport, I can use this travel pouch with all of my outfit inside as a pillow. What a pouch :D


Psstt,,, I made the pouch by myself ;)
@dinilint

Delay-nya Air Asia

QZ 8242 menuju Phuket sudah memanggil penumpang untuk naik ke pesawat sejak jam 17.05. Nampaknya maskapai paling baik 5X berturut-turut ini tetap pada kebiasaannya yang on time di penerbangan kali ini.

Mendekati jam 17.20 semua penumpang sudah duduk manis di dalam pesawat. Para pramugari sudah memperagakan instruksi keselamatan. Pesawat sudah mulai berjalan menuju lapangan lepas landas. Semua tampak sempurna ketika sang kapten memberikan pengumuman bahwa ada salah satu onderdil pesawat yang rusak fatal sehingga pesawat harus kembali ke tempat parkir untuk perbaikan. Kami, penumpang harus sabar menunggu.

Pesawat pun putar balik dan nggak jadi lepas landas. Di parkiran, kru teknisi sudah menunggu dan langsung menuju bagian depan pesawat untuk memperbaiki entah bagian apa yang rusak pada pesawat. Mending dibetulin deh daripada resiko satu murnya copot di udara. 

Sayangnya, bagian menunggu ini nggak selalu menyenangkan. Meskipun AC dan ruangan dalam pesawat yang cukup nyaman, tapi lapar dan haus membuat kami kelonjotan. Apalagi kami tidak diperkenankan membawa minuman ke atas pesawat. [*aku berhasil menyelundupkan satu kotak kopi instan dalam pouch. Lumayanlah biar nggak haus nunggu. Hihihi].

Nyaris satu jam kami menunggu tanpa kabar, akhirnya kapten ambil keputusan supaya kami ganti pesawat saja. Rupanya maskapai merah ini punya pesawat cadangan di Soetta. Proses pemindahan penumpang pun dilaksanakan tanpa ribet.

Kira-kira 2jam kurang 10 menit dari jadwal penerbangan seharusnya kami lepas landas meninggalkan Jakarta. Hoh, padahal aku udah siap2 mau klaim asuransi apabila delay lebih dari 2jam.

That's why I know why Air Asia get the best airlines for five times. Good job!

Minggu, 09 Maret 2014

Ketika Paspor Hilang di Phuket

Aku, Misi, Kuncrit baru sampai di Bandara Phuket dekat tengah malam. Kami langsung menuju imigrasi dan mendapatkan satu cap lagi di paspor. Misi dan Kuncrit yang pertama kali datang ke Phuket langsung heboh mengambil tiap flyer dan brosur pariwisata sampai penjahit [*entah mengapa banyak turis yang suka bikin baju di Thailand], dan SIM card operator lokal gratis [*pulsanya isi sendiri ya].

Keluar dari bandara, kami celingak-celinguk cari taksi terpercaya. Banyak orang yang menawarkan taksi, tapi kami khawatir kalo yang begituan taksi gelap macam di negeri sendiri. Kami akhirnya menemukan satu agen di sebelah kanan yang menawarkan rute menuju Phuket Town. Kami bayar 600 THB.

Taksi yang menuliskan namanya airport limousine di badan mobil mercedez mulusnya itu membawa kami melewati jalanan mulus Phuket menuju kota. [*sebaiknya kamu menuliskan alamat hotel lengkap, nomor telpon, dan kalau bisa peta untuk menuju hotel/hostel/guest house/ dll]. Kami pun selamat sampai di guest house.

Nah, pada saat kami harus check in, barulah Misi sadar kalau paspornya telah hilang entah kemana. *JANG JANG*. Nah, dokumen setara nyawa di negara orang hilang,, mesti gimanaaaaaa?

Tentu saja hal pertama yang harus dilakukan adalah menunjukkan paspor aku atau paspor kuncrit untuk check in GH. Hal kedua menaruh barang di kamar GH di lantai 4 tanpa lift, supaya bisa cek ulang barangkali paspor nyelip di mana gitu. Berhubung paspor tidak diketemukan, hal ketiga adalah mengingat dimana tu paspor pergi setelah keluar dari imigrasi. Olala,, ternyata si paspor ikut diselipkan bersama brosur, flyer, SIM card lokal dalam tas roti. Sayangnya, ketika semua backpack dibawa ke GH, kresek berisi roti dan printilan-printilan penting yang nyelip paspor ketinggalan di kursi belakang taksi. Hal selanjutnya tentu saja cari blangko taksi dan telpon ke perusahaan taksi dengan bantuan ibu baik resepsionis GH [*inilah asiknya naik taksi bernama dan terpercaya dan kasih blangko tanda jadi]. Hasil teleponan malam itu, kami harus tunggu sampai besok pagi. Besok pagi telpon lagi jam 8 ya, Nak.

Hal selanjutnya yang bisa dan harus dilakukan adalah makan! 

Setelah perut kenyang dan ngantuk mulai merayap, inilah saatnya terhubung pada wifi GH dan cari tahu cerita orang-orang yang pernah kehilangan paspornya di luar negeri. Mungkinkah ada burung merpati yang membawa paspor mereka, atau tinggal bilang abrakadabra sambil tutup mata trus paspornya hilang, atau mungkin paspor bisa diganti dengan SIM C, atau pilihan deportasi bisa jadi jalan keluar. Halah.

Info yang didapat malam itu; harus lapor polisi di Phuket dan kedutaan Indonesia terdekat adalah di Bangkok. Selanjutnya kita tunggu info besok pagi. Malam itu kami berdoa supaya pak sopir taksi nggak langsung buang kresek berisi printilan dan paspor ke tempat sampah melainkan memberikan paspor pada perusahaannya. Malam itu kami tidur.

Besoknya kami sudah siap-siap mau ke kantor polisi [sempet bingung salah kostum karena kami cuma bawa bikini, tank top, short pants. Piye iki?]. Sebelumnya kami mandi, gosok gigi, dan pastinya telpon lagi perusahaan taksi.

Kabar baik! Paspornya sudah duduk manis di bandara dan nunggu diambil. Ah, thanks God it's Phuket. Ketika sampai di bandara, misi -si pelaku kehilangan paspor- diminta tanda tangan dan paspor berpindah ke tangannya. No add more money. Ah, untung ilangnya di Phuket.

Ups,, paspor itu dokumen negara. Nyawa ketika kamu berada di luar negeri. Sebisa mungkin jangan sampe ilang!!
Tips: (1) scan semua dokumen kamu dan kirim lewat email [jaga-jaga kalo ilang], (2) punya wadah kecil berisi dokumen penting yang selalu kamu bawa kemanapun ketika kamu pergi, termasuk ke kamar kecil ketika kamu nginep di ruang dormitory, (3) waspada 

Keep on the safe and fun trip guys!
@dinilint

Senin, 03 Maret 2014

[More] Pictures From Kelimutu, Flores, Indonesia


Selain cerita yang super menyenangkan dari Kelimutu, aku masih punya banyak gambar bagus dari Kelimutu. Terima kasih untuk bapa Markus yang berkali-kali pencet shutter kamera ;)












One thing that I always remember about Kelimutu is about the people. They believe that this beautiful Kelimutu is created by God to every people in the world in every generation. So, they have to take care of Kelimutu. It's one of everyone's treasure.