Kamis, 07 November 2013

Catatan Lima Tahun Lalu

"Karimunjawa. Pernah denger nggak?" |  "Kayaknya semacam pulau kecil gitu ya. Denger-denger bagus." | "Ada yang ngajakin. Mau?" | "Mau!"


Nasib punya bude yang sering dapet sponsorhip dari obat untuk memberikan service buat kliennya, saya punya kesempatan dapat fasilitas kelas satu berlibur ke Karimunjawa sekeluarga. Yeay. Kami berangkat dengan kapal Kartini dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Tempat duduk nyaman dan AC adem di bagian bawah kapal ternyata nggak bisa membohongi tubuh kami dari ombak setinggi 2m yang mengombang-ambing kami selama kurang lebih 3 jam. Semua keluarga saya jackpot, mabuk laut, dan memuntahkan isi perutnya. Saya yang merasa mual luar biasa, berusaha menahan jackpot dengan naik ke atas, menikmati angin laut, dan berharap saya beruntung dan bertemu lumba-lumba yang lagi lompat-lompatan di laut. Saya berhasil nggak memuntahkan isi perut saya sampai kedatangan kami di Pelabuhan Karimunjawa. Thank God, sudah sampai.

Ternyata kami harus pindah kapal. Dari kapal ekspress imut yang modern berwarna putih, kami dipindah ke kapal kayu tradisional warna coklat. Lah,, fasilitas kelas satu kok kapalnya kapal nelayan begini. Aneh lihat bude, ibu, dan pakde mesti duduk sila ndolosor di dek kayu kapal. Perjalanan sekitar 1-2jam di laut yang ombaknya lagi super itu pun kembali berulang. Kali ini saya yang jackpot. Genap sudah. Semua anggota keluarga jackpot karena perjalanan menikmati Karimunjawa ini. Saya ingat, mukanya semua pada manyun, bad mood.

Mood saya kembali naik ketika akhirnya kami benar-benar sampai di tempat kami akan stay malam itu. Namanya Pulau Sambangan, termasuk dalam Kepulauan Karimunjawa. Pasirnya putih. Kamar-kamarnya ditata macam vila satu per satu. Ternyata cuma ada kami hari itu. Selain untuk vila, Pulau Sambangan juga digunakan untuk penelitian yang berhubungan dengan biota laut dan terumbu karang. Yang tinggal di Pulau Sambangan hanya pengelola dan peneliti, dan sesekali orang yang mau nginep disana, dengan koneksi tentunya.


Kegiatan pertama saya di Pulau Sambangan, tentu saja lari ke kamar mandi, mengguyur tubuh ini dari bekas muntahan yang tertiup angin laut. Akhirnya saya bau wangi.
Tak tahan dengan pasir putih dan air tenang, saya duduk-duduk di pasir pantai sambil mencelupkan kaki ke air laut. Ombak laut ini, tadi mengombang-ambing kami, tapi sekarang saat saya duduk santai begini, kok sangat menghibur dan tampak sangat jinak. Saya pun menikmati matahari terbenam di dermaga kayu pulau. Indah. Malam itu ditutup dengan makan ikan laut super enak. Nom nom.

Kamar kami persis di bibir pantai. Bagian yang menghadap pantai bukan tembok, melainkan jendela kaca super besar yang ditutup dengan tirai. Pagi itu saya sengaja bangun pagi, membuka tirai lebar-lebar dan tidur menghadap laut. Saya menantikan momen lautan berubah warna dari gelap menjadi merah sambil tiduran. Ketika matahari mulai menampakan wajahnya, saya berlari keluar, pindah tiduran di pasir. Ah,, saya selalu kangen momen ini. Kalau begini, memori bisa jadi hal yang paling jahat. Saya tahu hal bagus pernah terjadi pada saya, saya ingin mengalaminya lagi, dan saya jadi lupa menikmati saat ini, dan saya jadi sedih. Ah sudahlah.


Sepanjang hari itu kami diajak kembali ke laut. Untuk kali pertama, saya berkenalan dengan snorkeling dan berenang di tengah laut. Saya belajar cara pakai mask dan snorkel. Saya belajar tenang di laut yang berombak. Saya belajar bernapas pakai mulut dan melupakan kebiasan hirup napas lewat hidung. Ketika berhasil mengambang di laut, tenang, nafas, dan mengintip di balik mask, saya ketagihan. Berbagai warna menyebar di muka saya. Berbagai karang laut aneka warna aneka bentuk. Berbagai ikan lucu yang cantik. Indahnyaaaaaa.

Hari itu kami juga keliling Pulau Sambangan. Cukup jalan kaki, karena memang nggak ada kendaraan apapun di pulau itu. Kami mengunjungi sebuah tempat konservasi. Sepertinya pada saat itu mereka sedang meneliti terumbu karang yang mati. Saya hanya ingat satu penyebab terumbu karang mati, sentuhan manusia. Manusia itu emang bisa lebih kejam dari virus mematikan buat alam. Kalau manusia tidak diberi kesadaran, kita bisa kehilangan terumbu karang akibat ulahnya. Acara snorkeling pun jadi nggak berarti. Alam juga kehilangan keseimbangannya. Yang rugi juga manusia juga.

Besoknya, saya sempat belajar diving. Saya belajar menghirup nafas lewat oksigen tabung dan pakai pemberat di perut. Baru tiga meter saya nggak tahan sama sakit telinganya. Belakangan saya tahu cara paling pas buat saya mengatasi sakit telinga akibat perbedaan tekanan itu; tutup hidung dan sisi. Sayangnya, sampai tahun ini saya belum berhasil belajar diving. Huhuhu.

Siangnya, kami kembali harus naik kapal kayu untuk kembali ke Pulau Karimunjawa. Hari itu ombaknya tidak setinggi hari pertama. Tidak ada yang jackpot dan lebih nikmat perjalananya. Saat itu hanya ada satu hotel bagus di Karimunjawa, letaknya persis di depan pelabuhan dan menghadap ke laut. Kami sempat diajak berkeliling Pulau Karimunjawa, melihat sunset di dermaga kapal nelayan, mengunjungi Kampung Bugis, melihat bandara mini Karimun yang cuma bisa dilalui pesawat focker, dan ke tempat oleh-oleh yang waktu itu cuma berupa toko 4x4 meter.


Besoknya kami pulang menggunakan feri muria kelas VIP. Semua rombongan sudah siap-siap terima jackpot dan terombang-ambing ombak tinggi. Ternyata kalau masalah ombak, naik feri jauh lebih nyaman karena kapalnya lebih besar dibanding kapal cepat. Tapi masalah waktu kapal cepat jauh lebih cepat, 3jam dari semarang dibanding 6 jam menuju Jepara. 

Anyway, bye Karimun. Saya (saat itu) nggak tahu gimana caranya bisa balik lagi sendiri kesana. Tapi,, 5 tahun kemudian saya berhasil balik kesana. Tunggu lanjutan ceritanya.

@dinilint
Ps: maaf antara cerita dan gambarnya random,, namanya juga mengais memori dari bertahun lalu :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)