Rabu, 20 November 2013

What To Do

This post is about Karimunjawa. This island located in the north of Jepara. Karimunjawa is the big island. There are many small islands. Most of the island is uninhabitated. The underwater is great. I think it's better if you dive there, but snorkeling is also fun.


What time is the best?
They said the best season is September - November. Avoid Desember - Januari because the wheater is bad, it's rainy season.

How many days?
For me the best time to spend is about 2 days on the island, 2 days full of snorkeling time. But, my friends that fall in love to this island can spend 2 weeks just lying on the hammock and do some diving.

How to get there?
Take fast boat from Semarang that take 3 hours, fast boat from Jepara that takes 2 hours, or ferry Muria from Jepara that take 6 hours. The schedule can be changed during the weather and wave condition.

What to eat?
Seafood is the best part of the island. If you are vegetarian, prepare for egg meal everyday. Vegetables are rare.

Where to stay?
There are many hotel, homestay, even resident house that can be rented. You can choose which one is your style, the comfy, the budget, or even just camping in alun-alun

What to do?
Snorkeling is a must! If you have diving certificate it's gonna be fun [I wish I have soon]. You should try hangout at alun-alun in the night and try local dishes.

Enjoy your Karimunjawa time!
@dinilint

Sabtu, 16 November 2013

Sehat :)

Sejak masih kecil, aku selalu punya keinginan untuk bisa berkeliling dunia. Bagaimana caranya? Entahlah.
Meninginjak usia dewasa, aku mulai sadar akan beberapa hal untuk mewujudkan impianku itu. Salah satunya adalah dengan menjaga kesehatan.

Aku ingat guyonan-guyonan di antara pejalan. Ketika muda, kita punya banyak waktu, tapi nggak punya banyak uang. Ketika kita punya banyak uang, kita tak punya waktu. Ketika kita punya banyak uang dan waktu, kita sudah terlalu tua untuk berjalan-jalan. 
Mereka menganggap tua itu dekat dengan penyakit, penurunan fungsi tubuh, dan hanya diam di rumah.
Berhubung aku masih muda, aku mau membentuk masa tua ku. Aku tidak mau masa tua ku dekat dengan kata penyakit, fungsi tubuh yang menurun, bahkan hanya bisa diam saja di rumah. Bersyukur aku dikelilingi orang-orang yang menunjukkan bahwa di masa tua mereka, mereka bahkan bisa lebih produktif lagi, lagi dan lagi. 

Luka Sobek di Kaki

Setelah suara mesin kapal perlahan berubah menjadi pelan, kapal akhirnya berhenti di tengah laut. Pulau berpasir putih tampak di kejauhan. Apa kita bakalan snorkeling lagi?
"Dari sini kita hanya bisa jalan kaki. Lautnya terlalu dangkal sehingga kapal tidak bisa ke pantai." penjelasan mas Ta'il menjawab pertanyaanku.
Olala,, setelah agak kering, aku mesti basah-basahan lagi nih. 
Kedalaman laut ini hanya sepaha. Dasarnya adalah pasir putih super lembut. Namun, kita harus hati-hati. Kita harus melihat ke bawah, jangan menginjak karang yang warnya coklat. Di balik karang, seringnya ada ikan karang yang bersembunyi. Bila terinjak dia bisa mengeluarkan racun sebagai pertahanan diri.
Demi selamat dan nyaman, aku mengikuti arahan untuk jalan di pasir yang tampak berwarna putih. 
Duh,, tampaknya kaki kananku menginjak karang. Rasanya nyut-nyutan. Pasti ada luka ini. Aku pasti kurang hati-hati. Aku pelankan langkahku, dan menajamkan penglihatan. Aku buat diriku berjalan tetap di pasir yang berwarna putih.
Sesampainya di pulau, kakiku masih berasa nyut-nyutan. Huh,, lukanya belum menutup juga rupanya. Tapi jika dibuat berjalan di pasir, sakitnya tidak terlalu berasa. Aku beranikan untuk melihat telapak kakiku. Tepat di bagian yang sakit, warnanya merah segar, tanda darah segar keluar dari balik kulit yang rusak. Aku ingat cara penanganan luka terbuka adalah dengan mengkompres NaCl. Aku pikir air garam nggak jauh beda dengan air laut kan. Aku bersihkan kakiku dengan air laut super bening. Kulihat kembali. Ya Tuhan,, ternyata kakiku sobek lumayan dalam. Baru semenit, darah segar sudah keluar lagi dari sobekannya. Tak ada apotek atau apa pun di pulau tak berpenghuni ini. Aku tetap memanfaatkan alam untuk pengobatan pertama, kompres air laut.
Aku teringat obrolanku dengan salah seorang penduduk pulau utama Karimunjawa di kapal ferry kemarin. Di Kepulauan Karimunjawa tidak ada rumah sakit, hanya tersedia satu puskesmas. Dokter yang bertugas adalah dokter dari Pulau Jawa. Sering di kepulauan tidak ada dokter karena dokternya ke Jawa, tetapi ada bidan dan perawat. Masyarakat Karimun juga kurang percaya dengan pengobatan medis, mereka lebih suka memeriksakan anak mereka yang sakit ke dukun dengan pengobatan ala dukun. Bila sakitnya parah, mereka baru datang ke puskesmas. Seringnya puskesmas sudah tidak bisa mengatasi sehingga harus dirujuk ke rumah sakit di Jepara. Untuk membawa pasien dan keluarga ke Pulau Jawa, mereka mau tidak mau charter kapal puskesmas seharga 3 juta dari kantong sendiri.
Mendengar ini, aku jadi merenung. Karimunjawa bisa digapai dengan kapal cepat dari Jepara sekitar 2 jam, tapi untuk masalah kesehatan, mereka seperti masyarakat terpencil. Pengetahuan tentang kesehatan sangat minim, fasilitas kesehatan pun sangat terbatas. Bahkan ada cerita, ibu-ibu melahirkan bayinya di kapal. Haduh.
Berbicara tentang fasilitas kesehatan, aku kembali melongok kakiku. Darah merah segar masih saja mengalir dari luka sobekku. Tampaknya lukanya cukup dalam. Begitu sampai di pulau utama, aku segera cari plester dan menempelkan plester ala kadarnya itu. Aku berharap aku tidak perlu sampai dijahit di puskesmas. 


*Dibutuhkan sekitar 1-2 hari sampai darah tidak merembes dari plester. 
*Dibutuhkan sekitar 5-7 hari sampai kulit telapak kakiku benar-benar menutup, kulit terluarnya tetap harus dibuang karena sudah mati.
*Plester hanya dibutuhkan ketika aku tidak memakai alas kaki. Aku tidak butuh dijahit. Luka sembuh dengan sendirinya

Kamis, 14 November 2013

Dear Karimunjawa

Nggak tahu kenapa kok saya pernah bilang sama Bali, saya bakalan balik tiap tahun buat mengunjungi kamu! Tahun lalu saya sampe datang dua kali. Tahun ini pun saya sudah  mengantongi tiket JOG-DPS-JOG di bulan November yang saya dapetin di bulan Januari. Tapi rencana manusia ya cuma rencana aja. Saya batal ke Bali tahun ini. Hiks.


Banyak hal yang menyebabkan saya nggak bisa memenuhi perkataan saya untuk mengunjungi Bali tahun ini. Sebelum memutuskan batal, saya sempat bertanya pada diri saya sendiri, kamu maunya apa? Kalo inget Bali, saya pasti inget laut biru, pasir putih, dan main air. Saya kangen snorkeling. Saya akhirnya menggeser tujuan saya. Saya inget kalo nggak jauh dari Semarang ada spot snorkeling yang cantik dan melambai-lambai manggil saya. Karimunjawa.


Saya putuskan ke Karimunjawa saat long weekend seminggu sebelum berangkat. Awalnya bakal berangkat sendiri dari Semarang, siap-siap bobo sendirian di Jepara, dan jadi cewek sendirian dalam grup. Tapi ternyata Tuhan kasih restu, saya dapat temen cewek dari Semarang. Bukan apa-apa sebenernya jadi cewek dalam grup cowok, tapi kadang ada hal-hal nggak terduga dalam trip. Misal, saya lupa bawa celana pas mandi, jadi teriak-teriak minta tolong ambilin celana ke kamar mandinya nggak cengok kalo sama temen cewek :p.


Restu Tuhan datang lagi. Setelah bulan Agustus kemaren saya batal ke Karimunjawa karena kapalnya nggak berangkat, kali ini kapal saya berangkat. Meski nggak dapat kapal ekspress yang hanya butuh 2 jam dari Jepara untuk sampai ke Karimunjaw atau kapal cepat Kartini yang hanya butuh 3 jam dari Semarang ke Karimunjawa, kami bisa naik ferry Muria. 6 jam ngemper di depan ruang VIP lumayan banget bikin kami mati gaya. Jangan tanya deh, rasain sendiri, kalo mau. 


Pelabuhan Karimunjawa masih mirip dengan ingatan samar-samar saya lima tahun lalu. Air lautnya super jernih dan manggil-manggil buat berenang. Saya lihat ada anak-anak kecil main air di deket dermaga. Yeay,, selamat datang acara leyeh-leyeh, main air, snorkeling, minum kelapa, makan ikan. Empat hari tiga malam trip ke Karimunjawa kali ini bikin saya puas. Apalagi kami emang sengaja ngintil mas Ta'im yang bakalan memandu kami full selama trip ini.

coba tebak. ini sunset apa sunrise?
kongkow cantik di alun-alun karimunjawa dengan latar belakang musik dangdut dan cemilan cumi-cumi & ikan laut

makan ikan bakar yang baru mateng di pulau pasir putih yang tak berpenghuni di bawah pohon kelapa beralas tikar

Selama di Karimunjawa kami nginep di rumah penduduk yang dijadikan homestay selama bapaknya yang punya rumah sedang stay di Jepara. Satu rumah gede berkamar tiga, kamar mandi tiga, dan ruang-ruang yang bisa dipake salto kami tempati bertujuh. Hari pertama kami menikmati sunset di Bukit Jala Tua. Hari kedua kami snorkeling all day ke arah timur. Hari ketiga kami snorkeling lagi all day ke arah barat. Hari keempat kami pulang.


Perjuangan untuk datang dan pulang dari dan ke Karimunjawa ini memang luar biasa. Saat long weekend semua orang berlomba-lomba untuk datang ke Karimunjawa. Beruntunglah mereka yang berhasil booking kapal cepat dan ruang VIP di ferry Muria jauh-jauh hari. Buat kami, dapat tempat duduk di ferry muria sudah bagus. Perjalanannya 6 jam. Kami tidak mau mengulangi duduk ngemper di sela-sela ruangan, atau di dek kapal yang panas di siang hari. Kami bangun jam 4 pagi dan berangkat ke pelabuhan jam 5 pagi. Matahari belum nongol kala itu, tapi kapal ferry Muria sudah penuh. Thank God, kami masih kebagian tempat duduk. 6 jam perjalanan diselingi dengan tidur, bangun, nonton film Dono Kasino Indro sampai 3 episode, makan, tidur lagi, dan akhirnya sampai.

terima kasih travel mate! Ucup, Tante Lia, Hendro, Agung, Mamet, Sinchan

Kapok nggak? Saya malah mau balik lagi. Tapi kalo bisa pake kapal cepat dari Semarang aja :D

@dinilint

Senin, 11 November 2013

w.a.r.n.a

Laut. Kenapa saya selalu suka ya?


 Saya selalu kangen bunyi desir ombak laut yang konstan dan menenangkan. Saya selalu kangen dengan angin laut yang semilir,, sejuk bercampur panas khas laut. Bahkan saya sering kangen bau laut yang asin,, sedikit amis tapi seger. Hahahahah



Akibat perjalanan terakhir saya bertemu laut, mencoba masuk ke kedalaman, tapi selalu gagal dan naik lagi ke permukaan, bertemu berbagai warna yang menawan, saya jadi iseng bikin benda ini. Apa itu? Persepsikan sendiri yah ;)



See you soon, laut!
@dinilint

Sabtu, 09 November 2013

Sabtu siang ini mestinya kita sudah santai santai di pantai menikmati semilir angin Pantai Kuta sambil menenggak sebotol minuman kemasan dingin. 


Perjalanan ini mestinya jadi lanjutan akan cerita-cerita dan mimpi-mimpi kita untuk mengelilingi nusantara. Tapi hari ini aku duduk di rumah, menghabiskan satu kemasan jumbo facial tisu untuk mengusap ingus, dan berjalan tertatih menahan perih akibat sobekan karang di telapak kaki. Aku tak tahu kabarmu saat ini dimana,, dan tampaknya aku malas untuk mencari tahu. Yang aku sadari sekarang,, rencana tinggal rencana. Rencana manusia apalah artinya. Aku tak tahu di benakmu perbincangan kita beberapa bulan lalu berarti apa. Tapi buatku, itu seperti janji tak terucap untuk kemudian dilakukan actionnya. Aku tak menuntut harus jalan bersama kamu. Ahh,, lagi-lagi aku disadarkan, sesuatu yang pasti di dunia ini hanya perubahan. Bahkan janji manusia pun tidak bisa dipegang. Lagipula, siapa suruh percaya pada manusia. Pelajaran hari ini,, jangan pernah percaya dan bergantung pada manusia!

Kamis, 07 November 2013

Catatan Lima Tahun Lalu

"Karimunjawa. Pernah denger nggak?" |  "Kayaknya semacam pulau kecil gitu ya. Denger-denger bagus." | "Ada yang ngajakin. Mau?" | "Mau!"


Nasib punya bude yang sering dapet sponsorhip dari obat untuk memberikan service buat kliennya, saya punya kesempatan dapat fasilitas kelas satu berlibur ke Karimunjawa sekeluarga. Yeay. Kami berangkat dengan kapal Kartini dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Tempat duduk nyaman dan AC adem di bagian bawah kapal ternyata nggak bisa membohongi tubuh kami dari ombak setinggi 2m yang mengombang-ambing kami selama kurang lebih 3 jam. Semua keluarga saya jackpot, mabuk laut, dan memuntahkan isi perutnya. Saya yang merasa mual luar biasa, berusaha menahan jackpot dengan naik ke atas, menikmati angin laut, dan berharap saya beruntung dan bertemu lumba-lumba yang lagi lompat-lompatan di laut. Saya berhasil nggak memuntahkan isi perut saya sampai kedatangan kami di Pelabuhan Karimunjawa. Thank God, sudah sampai.

Ternyata kami harus pindah kapal. Dari kapal ekspress imut yang modern berwarna putih, kami dipindah ke kapal kayu tradisional warna coklat. Lah,, fasilitas kelas satu kok kapalnya kapal nelayan begini. Aneh lihat bude, ibu, dan pakde mesti duduk sila ndolosor di dek kayu kapal. Perjalanan sekitar 1-2jam di laut yang ombaknya lagi super itu pun kembali berulang. Kali ini saya yang jackpot. Genap sudah. Semua anggota keluarga jackpot karena perjalanan menikmati Karimunjawa ini. Saya ingat, mukanya semua pada manyun, bad mood.

Mood saya kembali naik ketika akhirnya kami benar-benar sampai di tempat kami akan stay malam itu. Namanya Pulau Sambangan, termasuk dalam Kepulauan Karimunjawa. Pasirnya putih. Kamar-kamarnya ditata macam vila satu per satu. Ternyata cuma ada kami hari itu. Selain untuk vila, Pulau Sambangan juga digunakan untuk penelitian yang berhubungan dengan biota laut dan terumbu karang. Yang tinggal di Pulau Sambangan hanya pengelola dan peneliti, dan sesekali orang yang mau nginep disana, dengan koneksi tentunya.


Kegiatan pertama saya di Pulau Sambangan, tentu saja lari ke kamar mandi, mengguyur tubuh ini dari bekas muntahan yang tertiup angin laut. Akhirnya saya bau wangi.
Tak tahan dengan pasir putih dan air tenang, saya duduk-duduk di pasir pantai sambil mencelupkan kaki ke air laut. Ombak laut ini, tadi mengombang-ambing kami, tapi sekarang saat saya duduk santai begini, kok sangat menghibur dan tampak sangat jinak. Saya pun menikmati matahari terbenam di dermaga kayu pulau. Indah. Malam itu ditutup dengan makan ikan laut super enak. Nom nom.

Kamar kami persis di bibir pantai. Bagian yang menghadap pantai bukan tembok, melainkan jendela kaca super besar yang ditutup dengan tirai. Pagi itu saya sengaja bangun pagi, membuka tirai lebar-lebar dan tidur menghadap laut. Saya menantikan momen lautan berubah warna dari gelap menjadi merah sambil tiduran. Ketika matahari mulai menampakan wajahnya, saya berlari keluar, pindah tiduran di pasir. Ah,, saya selalu kangen momen ini. Kalau begini, memori bisa jadi hal yang paling jahat. Saya tahu hal bagus pernah terjadi pada saya, saya ingin mengalaminya lagi, dan saya jadi lupa menikmati saat ini, dan saya jadi sedih. Ah sudahlah.


Sepanjang hari itu kami diajak kembali ke laut. Untuk kali pertama, saya berkenalan dengan snorkeling dan berenang di tengah laut. Saya belajar cara pakai mask dan snorkel. Saya belajar tenang di laut yang berombak. Saya belajar bernapas pakai mulut dan melupakan kebiasan hirup napas lewat hidung. Ketika berhasil mengambang di laut, tenang, nafas, dan mengintip di balik mask, saya ketagihan. Berbagai warna menyebar di muka saya. Berbagai karang laut aneka warna aneka bentuk. Berbagai ikan lucu yang cantik. Indahnyaaaaaa.

Hari itu kami juga keliling Pulau Sambangan. Cukup jalan kaki, karena memang nggak ada kendaraan apapun di pulau itu. Kami mengunjungi sebuah tempat konservasi. Sepertinya pada saat itu mereka sedang meneliti terumbu karang yang mati. Saya hanya ingat satu penyebab terumbu karang mati, sentuhan manusia. Manusia itu emang bisa lebih kejam dari virus mematikan buat alam. Kalau manusia tidak diberi kesadaran, kita bisa kehilangan terumbu karang akibat ulahnya. Acara snorkeling pun jadi nggak berarti. Alam juga kehilangan keseimbangannya. Yang rugi juga manusia juga.

Besoknya, saya sempat belajar diving. Saya belajar menghirup nafas lewat oksigen tabung dan pakai pemberat di perut. Baru tiga meter saya nggak tahan sama sakit telinganya. Belakangan saya tahu cara paling pas buat saya mengatasi sakit telinga akibat perbedaan tekanan itu; tutup hidung dan sisi. Sayangnya, sampai tahun ini saya belum berhasil belajar diving. Huhuhu.

Siangnya, kami kembali harus naik kapal kayu untuk kembali ke Pulau Karimunjawa. Hari itu ombaknya tidak setinggi hari pertama. Tidak ada yang jackpot dan lebih nikmat perjalananya. Saat itu hanya ada satu hotel bagus di Karimunjawa, letaknya persis di depan pelabuhan dan menghadap ke laut. Kami sempat diajak berkeliling Pulau Karimunjawa, melihat sunset di dermaga kapal nelayan, mengunjungi Kampung Bugis, melihat bandara mini Karimun yang cuma bisa dilalui pesawat focker, dan ke tempat oleh-oleh yang waktu itu cuma berupa toko 4x4 meter.


Besoknya kami pulang menggunakan feri muria kelas VIP. Semua rombongan sudah siap-siap terima jackpot dan terombang-ambing ombak tinggi. Ternyata kalau masalah ombak, naik feri jauh lebih nyaman karena kapalnya lebih besar dibanding kapal cepat. Tapi masalah waktu kapal cepat jauh lebih cepat, 3jam dari semarang dibanding 6 jam menuju Jepara. 

Anyway, bye Karimun. Saya (saat itu) nggak tahu gimana caranya bisa balik lagi sendiri kesana. Tapi,, 5 tahun kemudian saya berhasil balik kesana. Tunggu lanjutan ceritanya.

@dinilint
Ps: maaf antara cerita dan gambarnya random,, namanya juga mengais memori dari bertahun lalu :p

Jumat, 01 November 2013

Nonton

"Beb, nonton yok. Jadwalnya jam 20.45. Tiga puluh menit lagi kita ketemu di XXI yaa. See you!"


Ah,, saya kangen masa-masa nonton impulsif. Kolaborasi antara keinginan, chat-chat singkat yang random, dan berakhir dengan keputusan dadakan yang seringnya malah terlaksana dengan sukses. Lari-larian ke kamar mandi, nyetir lima menit, cari parkiran asik, sampe ngos-ngosan manjat eskalator. Baru atur nafas pas di dalam gedung teater sambil mengais partikel-partikel otak demi memahami film yang sedang ditonton. 

Belakangan saya merasa hidup saya sedikit membosankan. Dunia kerja yang dulu bikin saya penasaran, akhirnya sudah saya cicipi. Bukan cuma nyicip ding, tapi juga menggelogok. Ternyata saya sudah bergaul dengan pekerjaan saya yang sekarang selama 4 tahun. Lama juga ya. Betah juga saya sama kerjaan ini. Tapi kok lama-lama saya merasa saya stuck. Saya merindukan kehidupan yang statis, berubah, bergerak.

Kemudian, Tuhan seperti jawab pertanyaan saya. Malam ini saya menikmati layar lebar di dalam teater bersama teman nonton baru. Saya kembali menikmati deal satu jam sebelum film dimulai. Saya lagi-lagi janjian di depan gedung bioskop. Kamu memang sudah nggak bisa lagi nemeni saya, tapi ada temen baru yang siap berbagi rasa tentang cerita. Ternyata dunia saya sudah berubah.

Saya jadi tarik garis lagi ke belakang. Saya ingat masa-masa awal saya kenalan sama bioskop dan film berlabel dewasa. Kala itu saya nonton film fenomenal Titanic bareng ibu. Pas di bioskop saya ketemu temennya ibu, dan bercanda tentang umur saya yang mesti dituain sepuluh tahun biar bisa nonton film yang ada adegan orang telanjangnya itu. Hahahahah. Dunia saya berubah. Saya juga berubah. Sekali lagi saya diingatkan, perubahan itu pasti. Kepastian di dunia itu ada.