Selasa, 04 Juni 2013

Mengenang Si Sepatu

Aku memperhatikan ban berjalan yang masih kosong itu. Pesan bagasi itu mesti sabar. Sabar antri untuk masukin bagasi di bagian baggage drop station. Juga sabar untuk menunggu bagasi keluar seperti saat ini. Kenapa pula,, ini bagasi mesti lebih lama daripada orangnya. Padahal orangnya tadi juga begitu turun dari pesawat mesti jalan memutar dulu, naik bus, dan setor ke toilet. 

Ah,, itu dia. Koper hijauku sudah melambai dari ujung ban berjalan. Jadi aku bawa koper satu, ransel kecil satu, satu kresek besar berisi rumput laut untuk oleh-oleh. Apa lagi ya? Aku menundukkan kepala dan melihat kakiku dengan sandal jepit baru hasil memasuki tiap toko sovenir di LCCT Kuala Lumpur. Terpaksa aku berpaling dari merk sandal jepit favorit sepanjang masa, swallow, ke sandal jepit hitam dengan logo kepala sapi ini. Nggak papa. Demi kenyamanan. Setelah enam hari full jalan-jalan di udara dingin dengan sepatu boot berhak 5cm, begitu sampai di suhu 30 derajat celcius, kakiku protes. Tapi,, di mana sepatuku ya?

Seingatku aku masukan sepatu itu ke dalam plastik hitam. Pinginnya supaya praktis aku masukkan jadi satu dalam kresek super gede berisi nori. Tapi membayangkan makanan yang akan kumakan dan dibagikan ke sanak sodara mesti tercemar dengan bau sepatu demi kepraktisan,, kok ya nggak tega. Akhirnya aku tenteng aja satu-satu. Tapi ini nih akibatnya. Nasib teledor, ternyata plastik berisi sepatu tadi ketinggalan di cabin. 

Aku inget beberapa jam lalu. Saat menemukan sandal jepit yang nyaman, rasanya sepatu boot itu jadi alas kaki paling menyebalkan. Aku berpikir, sepertinya sampe rumah ini sepatu bakal pensiun. Lah, aku nggak mungkin demi gaya mesti pake sepatu boot yang panas di udara tropis Indonesia.

Jadi ternyata, sebelum aku membuat si sepatu, sepatu duluan yang nggak mau bareng aku. Lucu yah. Barang kalo udah nggak disayang dan dibutuh suka menghilang begitu saja dari pemiliknya. Aku jadi teringat jasa-jasa si sepatu. Di suhu 5-15 derajat celcius dia bantu supaya kakiku tetap hangat supaya bisa jalan lebih jauh. Dia juga bikin penampilan aku di foto jadi modis dan stylish. Halah. 

Ya sudahlah. Ada pertemuan, juga ada perpisahan. Toh, dalam waktu dekat aku nggak ada rencana berdingin-dingin lagi dan butuh sepatu boot. Mungkin persahabatan kami cukup di dua perjalanan. Aku kenang kamu di post ini ya, sepatu. Good luck for your new experience.

@dinilint

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)