Jumat, 07 Juni 2013

Ketika Donat Hanya Sekedar Bulat

Sebagai penggemar donat ndeso - donat bikinan tangan yang dilumuri gula halus - saya suka kecewa. Sejak menjamurnya toko donat modern di mal mal,, donat ndeso seakan langka dan nyaris sirna. Ibu saya yang sejak sepuluh tahun beralih menjadi vegetarian, menghentikan segala aktivitasnya memasak menggunakan bahan dasar daging, telur, madu, dan segala hal yang berbau telur, termasuk stop memasak donat yang konon resepnya mengandung telur. Jadilah saya kangen setengah mati sama donat ndeso ini.

Setelah bermodal bejo datang ke warung burjo demi beli donat ndeso kesukaan, kemaren entah kesamber jin apa, saya pilih untuk bikin donat sendiri. Bermodal tepung donat instan beserta ragi, sedikit air, dan margarin, akhirnya percobaan donat saya jalankan. Tapi ya itu,, hasilnya donat saya nggak bolong. Padahal hal yang saya suka dari donat itu ya bolongannya. Hehehehe.


Kalo nggak bolong mestinya namanya bukan donat yah. Mungkin ini ibarat cerita jatuh cinta saya kali ini. Entah datang dari mana, tapi rasa sayang itu muncul perlahan. It's like there's butterfly in your stomach. Tapi cinta itu nggak selamanya sayang-sayangan, make relationship, dan berakhir seperti film-film drama romantis itu. Cinta nggak selalu manis. Ibarat donat nggak selalu punya lubang yang bolong. Tsahhh,,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)