Minggu, 09 Juni 2013

The Palace


Saran saya, bila kamu berkunjung ke Korea, kamu harus menyempatkan diri untuk berkunjung ke istananya. Di Seoul sendiri ada banyak pilihan; Gyeongbokgung Palace (istana utama Dinasti Joseon), Changdeokgung Palace (terdaftar dalam UNESCO World Heritage Site), Changgyeonggung Palace, Deoksugung Palace, dan Jongmyo Shrine. Ketika berkunjung ke istana, sedikit banyak kamu belajar tentang sejarah Korea dan kehidupan masyarakat Korea di jaman dulu. Hal-hal yang terjadi di masa lalu yang menjadi alasan mengapa masa sekarang jadi seperti sekarang, kan?
Oia,, dalam pandangan pribadi saya, istana di Indonesia nggak kalah keren. Saya pernah mengunjungi Istana Kesultanan Jogja, Istana Raja di Solo, dan Istana Maimun di Medan. Hal yang kita belum punya, kesadaran untuk merawat peninggalan sejarah kita yang luar biasa. PR buat kita semua. Sebagai penikmat dan traveller,  kita bisa berkontribusi dengan berkunjung, ikut merawat, dan beri masukan. ;)


All this photos is taken in Seoul, by me @dinilint

Sabtu, 08 Juni 2013

Waisak dan Cerita Yang Menyertainya

Saya ingat waisak tahun lalu. Saya ikut merayakan. Saya berdecak kagum memandang langit penuh cahaya. Lampion - entah berapa jumlahnya - beterbangan di udara. Permohonan dilepaskan ke angkasa. Biar semesta yang beri tanda 

Tahun ini aku ingin kembali menikmati suasana magical itu. Menikmati lampion yang beterbangan di udara. Merapalkan permohonan dan melepaskannya ke udara. Bertepatan dengan weekend, saya berencana untuk merayakan waisak hari Sabtu seharian dan minggunya dilanjut dengan jalan-jalan. Tapi, saya terpaksa mengubah rencana dan membatalkan niat. Hari minggu saya wajib bekerja.

Sabtu itu pukul 3 sore. Setelah serentetan drama hidup, akhirnya kami berenam tambah satu berangkat menuju Magelang. Saya cuma pengen nonton lampion sekalian make a wish. Actually I have many wishes. Hehehe. Perjalanan santai ditemani cuaca cerah dan guyon antar sahabat selalu menyenangkan.

Memasuki kompleks Candi Borobudur, suasana sangat berbeda seperti tahun lalu. Seperti dugaan saya dan teman, tahun ini pengunjung yang ingin merayakan waisak lebih banyak. Bahkan lebih lebih lebih banyak. Gila. Kalau tahun lalu mobil saya bisa masuk ke taman kompleks, kali ini masih di pertigaan dekat pasar saja kami tak boleh lewat. Terpaksa kami parkir di pinggir jalan, dan lanjut jalan kaki. Sudah sampai sini. Demi lampion.

Hujan rintik terus saja datang. Sepertinya sedikit, tapi bila tak pakai payung atau pun jas hujan, lama-kelamaan kami akan basah kuyup. Setelah jalan di bawah hujan yang konsisten, melewati petugas berseragam, dan pintu keamanan - waisak kali ini begitu banyakkah orang, sampai-sampai keamanannya sampai seperti di konser dan bandara - akhirnya kami berhasil memasuki kompleks Candi Borobudur. Di dalam kompleks candi, manusia betebaran di mana-mana. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana suasana di depan altar.

Okelah mari kita menikmati waisak bersama. Berpikir secara positif, banyak orang sudah terbuka dengan prosesi agama lain. Mereka mungkin mau mengenal lebih dekat budaya negerinya. Tapi, di kejauhan saya lihat banyak mbak-mbak yang cuma pake pakaian ala kadarnya. Saya ke konser apa ke ritual keagamaan sih. Di ujung sana, saya lihat ada yang ngerokok dengan nikmatnya. Saya ke tempat ibadah atau ke warung kopi. Di sudut mata saya melihat tangan yang dengan santainya melepaskan genggamannya dari botol plastik kosong. Ah,, kenapa masih pada nggak risih buang sampah sembarangan. Saya jadi sedih.

Sampai di depan altar, saya mendengar doa - doa dipanjatkan. Ah,, saya belum ketinggalan pradaksina berarti. Saya pengen ikutan berjalan mengelilingi Candi Borobudur tiga kali sambil merapalkan doa seperti tahun lalu. Tapi, di sela-sela pembacaan doa, saya dengar pengumuman dari panitia, peringatan pada para fotografer, turis, pendatang, atau apalah mereka supaya tidak berada di atas altar. Cosss,,, kok bisa. Pada saat ritual, baca doa, kok ya tega-teganya naik-naik ke altar. Di kejauhan saya lihat ada fotografer - ah,, mereka bisa disebut fotografer nggak sih,, cuma pegang kamera SLR tok - ketawa ketiwi duduk di tempat persembahan. Kok tegaaaaa.

Dan ternyata saya kehilangan momen pradaksina. Entah bagaimana, konsentrasi saya terbelah. Saya kecewa sama orang-orang ini. Kalo cuma bikin bete kenapa rombongan orang ini mesti kesini??

Hujan masih turun dengan konsiste. Rintik, kecil, dan basah. Cuaca yang terus seperti itu mengakibatkan lampion tidak jadi dilepaskan malam itu. Ah,, ada sedikit kecewa di hati saya. Tapi saya mau apa. La wong hujan Tuhan yang kasih. Mungkin saya dan banyak orang di sana belum siap untuk momen lampion. Saya dengar banyak yang kecewa dan menyalahkan panitia. Kok bisa-bisanya??

Tiba-tiba saya tersentil. Saya juga ada di kompleks Candi Borobudur malam itu ya cuma untuk menikmati lampion. Untuk bisa cerita ke teman-teman. Untuk saya sendiri. Keingininan egois. Damn. Apa bedanya saya dengan orang-orang itu?? Apa bedanya saya dengan turis-turis hipster yang dihujat di media sosial? Apa bedanya saya dengan orang-orang sok fotografer yang ganggu-ganggu itu? Kehadiran saya di sana juga cuma menuh-menuhin aja kan. Nambahin pengap. Nambahin macet. Malahan kirim getaran negatif dengan pemikiran-pemikiran kejengkelan saya. Ah,,,

Jumat, 07 Juni 2013

Ketika Donat Hanya Sekedar Bulat

Sebagai penggemar donat ndeso - donat bikinan tangan yang dilumuri gula halus - saya suka kecewa. Sejak menjamurnya toko donat modern di mal mal,, donat ndeso seakan langka dan nyaris sirna. Ibu saya yang sejak sepuluh tahun beralih menjadi vegetarian, menghentikan segala aktivitasnya memasak menggunakan bahan dasar daging, telur, madu, dan segala hal yang berbau telur, termasuk stop memasak donat yang konon resepnya mengandung telur. Jadilah saya kangen setengah mati sama donat ndeso ini.

Setelah bermodal bejo datang ke warung burjo demi beli donat ndeso kesukaan, kemaren entah kesamber jin apa, saya pilih untuk bikin donat sendiri. Bermodal tepung donat instan beserta ragi, sedikit air, dan margarin, akhirnya percobaan donat saya jalankan. Tapi ya itu,, hasilnya donat saya nggak bolong. Padahal hal yang saya suka dari donat itu ya bolongannya. Hehehehe.


Kalo nggak bolong mestinya namanya bukan donat yah. Mungkin ini ibarat cerita jatuh cinta saya kali ini. Entah datang dari mana, tapi rasa sayang itu muncul perlahan. It's like there's butterfly in your stomach. Tapi cinta itu nggak selamanya sayang-sayangan, make relationship, dan berakhir seperti film-film drama romantis itu. Cinta nggak selalu manis. Ibarat donat nggak selalu punya lubang yang bolong. Tsahhh,,,,

Selasa, 04 Juni 2013

Mengenang Si Sepatu

Aku memperhatikan ban berjalan yang masih kosong itu. Pesan bagasi itu mesti sabar. Sabar antri untuk masukin bagasi di bagian baggage drop station. Juga sabar untuk menunggu bagasi keluar seperti saat ini. Kenapa pula,, ini bagasi mesti lebih lama daripada orangnya. Padahal orangnya tadi juga begitu turun dari pesawat mesti jalan memutar dulu, naik bus, dan setor ke toilet. 

Ah,, itu dia. Koper hijauku sudah melambai dari ujung ban berjalan. Jadi aku bawa koper satu, ransel kecil satu, satu kresek besar berisi rumput laut untuk oleh-oleh. Apa lagi ya? Aku menundukkan kepala dan melihat kakiku dengan sandal jepit baru hasil memasuki tiap toko sovenir di LCCT Kuala Lumpur. Terpaksa aku berpaling dari merk sandal jepit favorit sepanjang masa, swallow, ke sandal jepit hitam dengan logo kepala sapi ini. Nggak papa. Demi kenyamanan. Setelah enam hari full jalan-jalan di udara dingin dengan sepatu boot berhak 5cm, begitu sampai di suhu 30 derajat celcius, kakiku protes. Tapi,, di mana sepatuku ya?

Seingatku aku masukan sepatu itu ke dalam plastik hitam. Pinginnya supaya praktis aku masukkan jadi satu dalam kresek super gede berisi nori. Tapi membayangkan makanan yang akan kumakan dan dibagikan ke sanak sodara mesti tercemar dengan bau sepatu demi kepraktisan,, kok ya nggak tega. Akhirnya aku tenteng aja satu-satu. Tapi ini nih akibatnya. Nasib teledor, ternyata plastik berisi sepatu tadi ketinggalan di cabin. 

Aku inget beberapa jam lalu. Saat menemukan sandal jepit yang nyaman, rasanya sepatu boot itu jadi alas kaki paling menyebalkan. Aku berpikir, sepertinya sampe rumah ini sepatu bakal pensiun. Lah, aku nggak mungkin demi gaya mesti pake sepatu boot yang panas di udara tropis Indonesia.

Jadi ternyata, sebelum aku membuat si sepatu, sepatu duluan yang nggak mau bareng aku. Lucu yah. Barang kalo udah nggak disayang dan dibutuh suka menghilang begitu saja dari pemiliknya. Aku jadi teringat jasa-jasa si sepatu. Di suhu 5-15 derajat celcius dia bantu supaya kakiku tetap hangat supaya bisa jalan lebih jauh. Dia juga bikin penampilan aku di foto jadi modis dan stylish. Halah. 

Ya sudahlah. Ada pertemuan, juga ada perpisahan. Toh, dalam waktu dekat aku nggak ada rencana berdingin-dingin lagi dan butuh sepatu boot. Mungkin persahabatan kami cukup di dua perjalanan. Aku kenang kamu di post ini ya, sepatu. Good luck for your new experience.

@dinilint

Sabtu, 01 Juni 2013

Ranu Kumbolo, Swimming In The 2400 meters-above-sea-level

2006. It's my first time know about mountain, hiking, climbing, and Ranu Kumbolo in Semeru Mountain. Blame it to 5cm. Yes, since I love to the story and had found story about climbing mountain in that novel, I had wish to visit Semeru Mountain. And finally it's happen in 2013.

My wish to climb Semeru Mountain just to meet Ranu Kumbolo. The 14 ha lake in the 2400 meter-above-sea-level. If I ask to google how is Ranu Kumbolo looks like, I will see wonderful picture of great lake in the mountain surround by hills and gorgeous I-don't-know-the-name plants.

And here I am. After about six hours slow walk pass footpath through forest, finally we arrived in Ranu Kumbolo. It was 8 pm. It was dark. It was noise by a lot of tent. Yes, there was a lot of people with me in Ranu Kumbolo that night. It was cold. So, I decided to just come into my sleeping bag and sleep, wait for the sunshine next morning.

Morning in Ranu Kumbolo was awesome. The cold weather still coming. The nice fog said good morning for us.And Ranu Kumbolo always wonderful as always. It's clearly like what I saw in the pictures. I thought in the better version.

And there the time. After the sun really smile bright, gave it's bright that morning, we decided to swim. Ah,,,, I can't explain it in words. I think you have to experience it by yourself. But, be careful! The Bromo Tengger Semeru National Park is not be responsible of any consequences if you swim in Ranu Kumbolo. Yeap, actually it's prohibited to swim there. But, it was my obsession. And I just swim in small area around the margin of Ranu Kumbolo. And it was,,, ah,, I can't explain something to good to be true. ;)

@dinilint