Jumat, 15 Maret 2013

Tawang Jaya, Maret 2013

Januari 2013
"Tiket berangkat udah beres beb. Pulangnya mau pake apa?"
"Tantangan yuk. Kita pulang pake kereta ekonomi. Berani nggak?"
*ketik-ketik di laptop
"Mau yang jam berapa nih beb? Jam 15, 17, 19, 21?"
*melihat layar laptop sambil mikir sok serius
"Yang Tawang Jaya aja."
*ketik-ketik di laptop.
"Berdua seratus ribu ya beb. Aku pesen nih."
*ngangguk "Yah ntar kalo berubah pikiran yang lima puluh ribu itu diikhlasin ya beb."
"Deal.

Maret 2013
Stasiun Senen masih rame aja. Padahal di luar masih hujan deres. Kami harus berjuang jalan kaki dari Atrium   Senen ke Stasiun Senen. Jarak yang aku ingat cuma nyebrang jalan doang, ternyata lebih jauh dari yang terbayang. Sambil tanya sana-sini, yang kemudian dibekali dengan kalimat 'hati-hati ya neng', akhirnya kami sampai juga di Stasiun Senen. Fiuh,, baju ini sedikit basah oleh keringat dan sedikit cipratan hujan akibat pake payung kecil untuk berdua.
Atmosfer stasiun emang nggak bisa dikalahin sama atmosfer terminal maupun bandara.
Kereta yang dinanti akhirnya tiba. Waktu lima belas menit ternyata terasa sangat cepat berlalu ketika kita harus berlarian di kerumunan orang banyak, mencari gerbong, dan berusaha naik ke gerbong kereta tanpa bantuan tangga pijakan.
Kami berhasil naik ke gerbong no.1, gerbong dimana no 11 A dan B menjadi tempat duduk kami selama 7 jam malam itu. Tapi ternyata untuk bisa duduk di kursi yang kami pesan, kami harus rela menanti kerumunan di depan kami. Entah apa yang mereka ributkan. Berisik sekali.
Sampai kami tiba dan duduk di tempat duduk kami, dengan mengusir seorang perempuan dan bayinya yang menduduki tempat duduk kami, kerumunan orang masih menyemut di sekitar tempat duduk kami. Masih ribut. Dan tentu saja bonus berisik.
Kereta berjalan perlahan. Makin lama makin kencang layaknya kereta api bisnis dan eksekutif yang sering kunaiki bertahun lalu. Di luar hujan makin intensif mengguyur bumi. Kami harus menutup jendela untuk menghindari tampias.
Malam semakin gelap dan jalanan perkotaan berubah menjadi hitam. Kerumunan di sekelilingku bertambah ramai. Sepertinya mereka saling mengenal satu sama lain. Atau, memang beginilah adanya proses sosialisasi di kereta ekonomi? Semua orang tiba-tiba saling kenal, saling berbagi minum dan makan, juga berbagi cerita layaknya sahabat lama.
Seseorang menyorongkan dua bungkus roti tanpa merk pada kami. Aku membalasnya dengan senyum dan gelengan. Si bapak pemilik tangan yang membawa roti pun membuka pembicaraan. Kami pun mulai membuka diri, melanjutkan perbincangan.
Ternyata satu gerbong kereta ini dipesan khusus. Semua orang di gerbong ini, kecuali kami, berasal dari desa yang sama. Persamaan lain yang mereka miliki adalah sama-sama mencari makan di ibukota, dipisahkan jarak, dan jarang berjumpa dengan teman sekampung. Seorang dari desa yang mencalonkan diri menjadi lurah, berbaik hati menanggung biaya mereka pulang kampung dengan kereta dan bus carteran sampai desa. Inilah ajang pertemuan kawan lama, yang sama-sama merantau ke Jakarta, tapi tidak punya daya untuk bersua sama-sama di sana.
Sepanjang malam suasana selau riuh rendah. Ada yang bercerita tentang kehidupan barunya di Jakarta, beranak sampai bercucu. Ada yang merasa cuma Jakarta yang mampu membuat dia bekerja, karena di kampungnya, tidak ada yang buka usaha. Ada yang bercerita tentang keinginan untuk berumah tangga, tapi masih mencari cara bagaimana supaya orang yang di suka balik suka.
Malam makin malam, kereta terus melaju, dan rombongan bedol desa ini belum kehabisan cerita. Kami memilih untuk tidur saja dengan nina bobo celotehan mereka yang tak ada habisnya.

@dinilint

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)