Minggu, 17 Maret 2013

Perempuan Muda

Pagi datang perlahan sambil membawa sinar harapan dari ujung timur di kejauhan. Meski matahari baru saja memunculkan sedikit wajahnya, Terminal Lebak Bulus masih saja berkutat dengan kebisinginannya. Di ujung sana tampak bapak-bapak sedang berhitung dengan cermat hasil pendapatannya semalam, berapa banyak penumpang bus yang berhasil dia bantu untuk mendapatkan bus tujuan. Di sebelehnya tampak seorang laki-laki beraksen batak yang sedang bercerita mengenai anaknya yang baru bisa jalan, namun harus ditinggalkan demi mengempan tugas membawa kelapa ke ujung barat Pulau Jawa. Di ujung yang lain kulihat seorang nenek sedang terkantuk-kantuk di depan tulisan 'kencing 1000, berak 2000, mandi 3000'.
Aku memanggul ranselku dan melanjutkan kegiatanku di awal hari ini. Nampaknya perjalanan membuat energiku cepat minta isi ulang. Peristaltik ususku bergemuruh lebih kencang pagi ini. Tanda aku harus mencari sebuah warung makan di terminal ini.
Aku memilih untuk masih ke dalam sebuah bangunan semi permanen di ujung terminal. Makanan maupun tempat di sini memang tidak akan mengalahkan kenikmatan sarapan di rumah meskipun aku sangat jarang makan pagi di rumah. Namun, aku tergoda oleh bau sambal yang sedang digoreng. Seorang perempuan muda tersenyum ramah dan menanyakan pesananku. Ah, tentu saja aku pilih nasi rames dengan sambelnya yang menggoda.
Nasi setengah  porsi dan teh hangat seharga 8000 rupiah ini membuat kantukku hilang begitu saja. Aku memutuskan untuk duduk-duduk sejenak sebelum kembali memanggul ransel dan mengejar bus ke Bandung. Kembali aku bertemu dengan drama anak manusia. Seorang balita yang sedang bermain seadanya dengan piring plastik dan sendok makan, sembari menunggui adiknya yang masih bayi dalam gendongan dari jarik yang diikatkan ke atap. Aku melirik perempuan muda yang saat ini sedang sibuk menuangkan air panas dalam cangkir berisi kopi bubuk. Perempuan itu pasti lebih muda dari aku. Dan sepertinya perempuan itu adalah ibu dari si balita dan si bayi.
Aku tergelak. Coba lihat kehidupan mereka. Tinggal di ujung terminal, bergaul dengan preman, dan harus memutar uangnya setiap hari untuk makan. Bila hari ini si perempuan muda tidak berjualan, tidak ada susu untuk si bayi dan si balita. Warung ini bahkan mesti membuka pintunya sepanjang hari. Sembari menanti pelanggan yang selalu silih berganti, mereka harus tidur bangun dan tidur lagi di waktu-waktu yang tak pasti.
Aku memberikan selembar uang sepuluh ribuan. Si perempuan muda tersenyum. Tak ada tanda kekhawatiran pada wajahnya. Aku membalas senyumnya dan menerima empat keping lima ratusan. 
Ranselku kembali berada di belakang punggung, dan kakiku kembali melangkah. Dalam hati aku berterima kasih pada perempuan muda, untuk mengajarkanku arti 'tidak khawatir'. Bila perempuan muda bersama balita dan si bayi bisa hidup dengan bahagia tanpa kekhawatiran, untuk apa aku khawatir akan hari depan. Tuhan selalu ada. Kali ini dalam bentu perempuan muda dan balita serta bayinya.

@dinilint
less worry, God with us

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)