Senin, 25 Maret 2013

Surat Cinta di balik Visa Korea Selatan

Dear ibu pegawai travel agen langganan,

Sudah sekitar dua tahunan ini keluarga kami percaya sama layanan travel agen tempat ibu bekerja. Saya ingat terakhir kali pakai jasa travel agen tempat ibu bekerja dalam rangka pembuatan visa jepang. Saya bahkan rekomendasikan teman saya untuk bikin di travel agen tempat ibu bekerja. Saat itu yang melayani saya bukan ibu, melainkan rekan ibu yang muda dan ramah.

Saya berharap, ketika kembali lagi ke travel agen tempat ibu bekerja, saya menerima pelayanan yang memuaskan. Hari itu saya datang lengkap dengan persyaratan visa korea selatan dari daftar yang diberikan oleh travel agen tempat ibu bekerja. Paspor asli, copy ktp, copy akta lahir, copy kartu keluarga, surat reerensi bank, copy buku tabungan, copy tiket pesawat, bukti penginapan, surat sponsor, dan pas foto latar belakang putih 4x5, itenary selama di korea, sampai perkiraan budget sudah saya siapkan. Semuanya baik-baik saja. Sampai Anda melihat jumlah saldo tabungan saya. 

Anda mengharapkan saya menambah jumlah saldo tabungan saya supaya berjumlah sepuluh kali lipat. Saya berkata ketika saya mengurus visa jepang saya tidak perlu menunjukan kepemilikan sekian puluh juta dan visa saya diterima. Tapi Anda menolak dan mencari-cari alasan demi saya menambah jumlah saldo tabungan saya. Saya ingat kata rekan Anda yang muda dan ramah, bila saya menambah saldo tabungan secara mendadak, ada kemungkinan untuk ditolak karena curiga uang tersebut hanya pinjaman. Salah satu pelanggan Anda pernah ditolak visanya karena tabungannya mencurigakan. Anda tetap berharap saya menambah saldo tabungan saya.

Ibu pegawai travel agen langganan, saya tidak punya uang sebanyak puluhan juta. Apakah saya tidak boleh bepergian? Apakah traveling ke luar negeri milik orang kaya saja?

Saya pilih diam dan mencari alternatif yang lain. Di Semarang ini banyak travel agen yang bersedia membantu menguruskan visa ke luar negeri. Dengan berbagai syarat tentunya. Saya memilih Agen Travel Modern di jalan gajahmada. Begitu datang dengan dokumen lengkap saya disambut dengan hangat. Bahkan saya tidak perlu bolak-balik ke kantornya, karena begitu visa saya jadi saya tinggal transfer dana dan visa diantar sampai ke rumah. Ya, saya dapat visanya. Dengan tabungan saya yang apa adanya ibu pegawai travel agen langganan. Ups,, sekarang sudah ganti langganannya.


Terima kasih Tuhan, saya diijinkan melanjutkan perjalanan menikmati ciptaanMu. Thanks to South Korean Embassy for accept my visa aplication. Terima kasih Agen Travel Modern Semarang dalam membantu pengurusan visa. Thanks to myself for not giving up to make dream come true.

@dinilint
budget traveller yang uang nggak banyak-banyak amat

Childhood Memories from #castle

Kotak kecil itu berubah warna. Perlahan muncul berbagai warna yang saya kenal sebagai warna pelangi, merah, hijau, kuning, ungu. Seingatnya saya, ada lebih banyak warna lagi. Blarrrr,,,,, ratusan kertas kecil beterbangan di angkasa. Gambar berubah perlahan disertai musik ceria yang saya suka. Anak-anak berdansa gembira lengkap dengan kostum aneka warna. Anak-anak kecil yang berdansa tampak mengecil, dan di belakangnya aku melihat istana.

Ini adalah kenangan masa kecil saya. Childhood memories. Mengapa istana? Masa kecil saya penuh dengan cerita dongeng. Mulai dari cerita princess yang selalu berakhir dengan happily ever after atau pun dongeng binatang yang selalu berbagi tawa dan kue teh yang enak. Di setiap sudutnya selalu ada tempat menyenangkan, happy places, tempat mereka berbagi. Saya suka menganalogikannya sebagai istana. Di fantasi saya, tempat itu besar, berwarna cerah, dipenuhi detail ornamen yang rumit dan artistik, dan berisi orang-orang bahagia.

Tanpa sadar, memori masa kecil saya membawa saya ke masa sekarang saya yang senang bepergian dan bertemu banyak happy places. Di happy places tersebut saya juga bertemu happy people. Saya menemukan happy places terombang-ambing di Samudra Hindia dalam jukung berisi tiga orang. Saya menikmati tambahan liburan ketika tertinggal pesawat di negeri orang. Saya menemukan happy place ketika dihantam badai di pulau tak berpenghuni. Saya menemukan happy places ketika ditemani jalan-jalan seorang bapak ojek. Saya menemukan happy places ketika mesti mengatur keuangan mepet saya di kota paling mahal sedunia. Saya juga menikmati happy places ketika harus berjalan berjam-jam demi bisa menikmati tidur di salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Ah,, masih banyak happy places yang bisa saya ceritakan padamu. Dan masih banyak happy places yang masih ingin saya datangi. Selamat menikmati happy places :)

@dinilint
terinspirasi ketika meng-apload #castle #childhood di instagram

Selasa, 19 Maret 2013

Street Style Candid on Java Jazz 2013

The fun thing of being in international festival is see many people. I try to capture some of those people on my camdig. Well, I've got some story.

"Yah Beb, kaki aku digigitin nyamuk nih. :("
"Sukurin,, tadi dibilang bawa obat nyamuk nggak mau sih :P"
"Jon, Sinta kok nggak dateng yoh."
"Kan kamu lagi jalan sama aku. Sinta nggak berani gangguin lah."
"Thank God si papap nggak jadi ikut. Bebas ngeceng kayak jaman muda dulu :D"
"Sayang, kita cari hot dog sosis yang gede aja yah"
"Iya sayang. Yang penting kan tadi udah update status lagi di JJF. Enakan makan daripada rebutan nonton sama orang sekampung."
"Cari temen yang bisa kembaran pake kaos 'shit'. Syaratnya, perutnya mesti 'shit' kaya punya gue juga"
all those picture is captured and captioned just for fun. No other reason.
@dinilint


Minggu, 17 Maret 2013

Perempuan Muda

Pagi datang perlahan sambil membawa sinar harapan dari ujung timur di kejauhan. Meski matahari baru saja memunculkan sedikit wajahnya, Terminal Lebak Bulus masih saja berkutat dengan kebisinginannya. Di ujung sana tampak bapak-bapak sedang berhitung dengan cermat hasil pendapatannya semalam, berapa banyak penumpang bus yang berhasil dia bantu untuk mendapatkan bus tujuan. Di sebelehnya tampak seorang laki-laki beraksen batak yang sedang bercerita mengenai anaknya yang baru bisa jalan, namun harus ditinggalkan demi mengempan tugas membawa kelapa ke ujung barat Pulau Jawa. Di ujung yang lain kulihat seorang nenek sedang terkantuk-kantuk di depan tulisan 'kencing 1000, berak 2000, mandi 3000'.
Aku memanggul ranselku dan melanjutkan kegiatanku di awal hari ini. Nampaknya perjalanan membuat energiku cepat minta isi ulang. Peristaltik ususku bergemuruh lebih kencang pagi ini. Tanda aku harus mencari sebuah warung makan di terminal ini.
Aku memilih untuk masih ke dalam sebuah bangunan semi permanen di ujung terminal. Makanan maupun tempat di sini memang tidak akan mengalahkan kenikmatan sarapan di rumah meskipun aku sangat jarang makan pagi di rumah. Namun, aku tergoda oleh bau sambal yang sedang digoreng. Seorang perempuan muda tersenyum ramah dan menanyakan pesananku. Ah, tentu saja aku pilih nasi rames dengan sambelnya yang menggoda.
Nasi setengah  porsi dan teh hangat seharga 8000 rupiah ini membuat kantukku hilang begitu saja. Aku memutuskan untuk duduk-duduk sejenak sebelum kembali memanggul ransel dan mengejar bus ke Bandung. Kembali aku bertemu dengan drama anak manusia. Seorang balita yang sedang bermain seadanya dengan piring plastik dan sendok makan, sembari menunggui adiknya yang masih bayi dalam gendongan dari jarik yang diikatkan ke atap. Aku melirik perempuan muda yang saat ini sedang sibuk menuangkan air panas dalam cangkir berisi kopi bubuk. Perempuan itu pasti lebih muda dari aku. Dan sepertinya perempuan itu adalah ibu dari si balita dan si bayi.
Aku tergelak. Coba lihat kehidupan mereka. Tinggal di ujung terminal, bergaul dengan preman, dan harus memutar uangnya setiap hari untuk makan. Bila hari ini si perempuan muda tidak berjualan, tidak ada susu untuk si bayi dan si balita. Warung ini bahkan mesti membuka pintunya sepanjang hari. Sembari menanti pelanggan yang selalu silih berganti, mereka harus tidur bangun dan tidur lagi di waktu-waktu yang tak pasti.
Aku memberikan selembar uang sepuluh ribuan. Si perempuan muda tersenyum. Tak ada tanda kekhawatiran pada wajahnya. Aku membalas senyumnya dan menerima empat keping lima ratusan. 
Ranselku kembali berada di belakang punggung, dan kakiku kembali melangkah. Dalam hati aku berterima kasih pada perempuan muda, untuk mengajarkanku arti 'tidak khawatir'. Bila perempuan muda bersama balita dan si bayi bisa hidup dengan bahagia tanpa kekhawatiran, untuk apa aku khawatir akan hari depan. Tuhan selalu ada. Kali ini dalam bentu perempuan muda dan balita serta bayinya.

@dinilint
less worry, God with us

Jumat, 15 Maret 2013

Tawang Jaya, Maret 2013

Januari 2013
"Tiket berangkat udah beres beb. Pulangnya mau pake apa?"
"Tantangan yuk. Kita pulang pake kereta ekonomi. Berani nggak?"
*ketik-ketik di laptop
"Mau yang jam berapa nih beb? Jam 15, 17, 19, 21?"
*melihat layar laptop sambil mikir sok serius
"Yang Tawang Jaya aja."
*ketik-ketik di laptop.
"Berdua seratus ribu ya beb. Aku pesen nih."
*ngangguk "Yah ntar kalo berubah pikiran yang lima puluh ribu itu diikhlasin ya beb."
"Deal.

Maret 2013
Stasiun Senen masih rame aja. Padahal di luar masih hujan deres. Kami harus berjuang jalan kaki dari Atrium   Senen ke Stasiun Senen. Jarak yang aku ingat cuma nyebrang jalan doang, ternyata lebih jauh dari yang terbayang. Sambil tanya sana-sini, yang kemudian dibekali dengan kalimat 'hati-hati ya neng', akhirnya kami sampai juga di Stasiun Senen. Fiuh,, baju ini sedikit basah oleh keringat dan sedikit cipratan hujan akibat pake payung kecil untuk berdua.
Atmosfer stasiun emang nggak bisa dikalahin sama atmosfer terminal maupun bandara.
Kereta yang dinanti akhirnya tiba. Waktu lima belas menit ternyata terasa sangat cepat berlalu ketika kita harus berlarian di kerumunan orang banyak, mencari gerbong, dan berusaha naik ke gerbong kereta tanpa bantuan tangga pijakan.
Kami berhasil naik ke gerbong no.1, gerbong dimana no 11 A dan B menjadi tempat duduk kami selama 7 jam malam itu. Tapi ternyata untuk bisa duduk di kursi yang kami pesan, kami harus rela menanti kerumunan di depan kami. Entah apa yang mereka ributkan. Berisik sekali.
Sampai kami tiba dan duduk di tempat duduk kami, dengan mengusir seorang perempuan dan bayinya yang menduduki tempat duduk kami, kerumunan orang masih menyemut di sekitar tempat duduk kami. Masih ribut. Dan tentu saja bonus berisik.
Kereta berjalan perlahan. Makin lama makin kencang layaknya kereta api bisnis dan eksekutif yang sering kunaiki bertahun lalu. Di luar hujan makin intensif mengguyur bumi. Kami harus menutup jendela untuk menghindari tampias.
Malam semakin gelap dan jalanan perkotaan berubah menjadi hitam. Kerumunan di sekelilingku bertambah ramai. Sepertinya mereka saling mengenal satu sama lain. Atau, memang beginilah adanya proses sosialisasi di kereta ekonomi? Semua orang tiba-tiba saling kenal, saling berbagi minum dan makan, juga berbagi cerita layaknya sahabat lama.
Seseorang menyorongkan dua bungkus roti tanpa merk pada kami. Aku membalasnya dengan senyum dan gelengan. Si bapak pemilik tangan yang membawa roti pun membuka pembicaraan. Kami pun mulai membuka diri, melanjutkan perbincangan.
Ternyata satu gerbong kereta ini dipesan khusus. Semua orang di gerbong ini, kecuali kami, berasal dari desa yang sama. Persamaan lain yang mereka miliki adalah sama-sama mencari makan di ibukota, dipisahkan jarak, dan jarang berjumpa dengan teman sekampung. Seorang dari desa yang mencalonkan diri menjadi lurah, berbaik hati menanggung biaya mereka pulang kampung dengan kereta dan bus carteran sampai desa. Inilah ajang pertemuan kawan lama, yang sama-sama merantau ke Jakarta, tapi tidak punya daya untuk bersua sama-sama di sana.
Sepanjang malam suasana selau riuh rendah. Ada yang bercerita tentang kehidupan barunya di Jakarta, beranak sampai bercucu. Ada yang merasa cuma Jakarta yang mampu membuat dia bekerja, karena di kampungnya, tidak ada yang buka usaha. Ada yang bercerita tentang keinginan untuk berumah tangga, tapi masih mencari cara bagaimana supaya orang yang di suka balik suka.
Malam makin malam, kereta terus melaju, dan rombongan bedol desa ini belum kehabisan cerita. Kami memilih untuk tidur saja dengan nina bobo celotehan mereka yang tak ada habisnya.

@dinilint

Rabu, 13 Maret 2013

Meet Indonesia Capital City


Jakarta, we meet again. What you offer me this moment? First time, I met peace in your airbus. And yes, i feel peacefull.











Jakarta always known with it great mall. But, this time I want to avoid that big charming building.
I visited the old town, feel the museum atmosfer.
I enjoyed the international java jazz festival all night long. Feel fun with the music and the crowd.
I've losted in the tol road and chit chat all day long with best friends.
I played with the water and get tanned more and more.
Thanks for the fun things, Jakarta.

@dinilint