Sabtu, 26 Januari 2013

Snack(in) Japan

Orang Jepang sangat peduli dengan hal-hal kecil, misalnya menciptakan pembersih teralis yang efisien atau memanfaatkan celah sempit di kamar untuk tempat penyimpanan koper. Sama hal nya dengan makanan kecil, makanan yang tinggal masuk ke mulut bisa dihias dan dibuat sedemikian rupa.



Yang paling dikenal tentang oleh-oleh dari Jepang oleh orang Indonesia adalah kit-kat. Produk coklat dari nestle ini juga tersedia di Indonesia, tapi hanya satu rasa. Di Jepang kit-kat dimodifikasi rasanya menjadi berupa-rupa. Saya kebagian mencicipi rasa hallowen [yg cuma diproduksi saat hallowen saja] yg rasanya mirip kacang merah. Ada pula rasa apel,, ya berasa makan coklat sama apel. Rasa winter,, yang mirip sama coklat putih, warna kit-katnya juga putih. Dan rasa dark coklat yang coklatnya pas manisnya buat saya.


Ketika di Osaka, kebetulan apartemen sodara saya dekat dengan toko roti bernama Rikuro yang kabarnya sudah eksis sejak berpuluh tahun yang lalu. Semua rotinya enak-enak [terlebih lagi mereka menyediakan sample roti dengan irisan yang besar. saya makan beberapa potong dan kenyang. tiap belanja bebas minum gratis teh dan kopi lengkap dengan gula dan krimmer]. Yang terkenal dari Rikuro adalah cheese cake nya yang seharga 540 yen. Lucunya proses pembuatan kue ini dilakukan di depan pengunjung. Tiap bel berdenting, pertanda cheese cake sudah jadi. Dalam keadaan panas mengepul, chef melakukan pengecapan pada cheese cake. Rasanya? Enak! 


Pertama kali saya lihat penampakan kue ini ketika terpasang bilboard iklan di stasiun tokyo. Kue tapi dihias sedemikian rupa sehingga menyerupai buntut kucing lengkap dengan pita pemanis. Ternyata ini adalah Tokyo Banana yang terkenal menjadi titipan oleh-oleh ketika ke Tokyo. Tokyo Banana cuma dijual di Tokyo, khususnya di Tokyo Sky Tree dan Tokyo Sky Tower. Di masing-masing tempat itu juga jenis yang dijual berbeda. Beruntung saya bisa mencicipi rasa caramel dan rasa coklat. Baik yang belang-belang maupun yang loreng-loreng, keduanya punya tekstur yang lembut kenyal gimana gitu [mirip perabaan kalo mainan buntut mong, kucing saya]. Ketika dimakan, berasa ini kue pisang kualitas super, dengan kombinasi coklat maupun karamel yang pas. Enak.


Kalo dilihat bentuknya mirip martabak yah. Tapi isi dalamnya adalah mentega dan kacang merah. Kue nya adem [sepertinya akibat suhu 4 derajat celcius]. Niat menghangatkan perut malah ketemu kue dingin. Tapi begitu merasakan kombinasi kulit, mentega, dan kacang merah jadi satu di mulut rasanya jadi enak dan nagih. Sebut aja martabak adem. Ditemukan di salah satu stasiun antara Tokyo dan Osaka.


Kue ini ditemukan di Namba, pusat belanja nya Osaka. Kue sus crispy dengan sus sesuai pilihan rasa. Rasa sus nya khas banget. Coklatnya pas. Nyam nyam.


Ketika saya berada di Kyoto, hari cerah dan matahari bersinar. Saya berani deh makan es krim di musim dingin. Dari berbagai pilihan rasa, saya mencicipi es krim rasa green tea dan rasa kacang merah, dua rasa khas Jepang. Saya lebih suka rasa kacang merah! Oia,, es krim di Jepang emang niat buat sehat. Kalo biasanya es krim ditemani dengan wafer, di Jepang ditemani dengan kayu manis crunchy. Matching banget rasanya.


Kalo ke Osaka, coba deh pizza jepang, atau lebih dikenal dengan okonomiyaki. Saya ketemu di daerah arcade, tempat jualan kaki lima dan di pinggir jalan. Di Osaka Jo juga banyak yang jualan. Jadi irisan bermacam-macam sayuran digoreng tanpa minyak bersamaan dengan tepung takoyaki. Dikasih telor utuh. Dibolak-balik. Ditambah mayones. Taraa,, anget!


Ini dia salah satu alasan saya datang ke Osaka. Mau nyobain takoyaki. Bulatan dengan rasa khas yang di dalamnya ada tako (gurita)nya. Emang beda rasanya makan di Osaka nya sama makan yang di Indonesia. Takoyaki disajikan di warung, dengan air minum es gratis. Ada berbagai pilihan untuk menikmati takoyaki, mau pake toping mayones, bubuk rumput laut, magic sprinkle yg bisa goyang-goyang. Takoyaki orisinal, ato dibikin sup. Cobain sendiri


Iya. Ini McD yang ada dimana-mana. Tapi ketika ketinggalan bus dan harus jalan kaki sejauh 2km demi menghemat ongkos taksi yang muahal, menemukan McD di ujung stasiun itu anugrah. Lari sebentar dari udara dingin, duduk di pojokan sambil ngemil apple pie. Apple pie bikin saya balik lagi, lagi, dan lagi ke McD. Kenapa McD Indonesia nggak jualan apple pie??

Meskipun judulnya snack(in),, tapi sepanjang saya makan makanan di atas, saya kenyang dan menganggapnya sebagai makan. Porsi makan orang Jepang dan saya emang beda. Btw, selamat makan.

1 komentar:

Thank you for reading and leaving comment :)