Rabu, 16 Januari 2013

Kereta Ekonomi ala Jepang

Satu kesamaan kereta ekonomi di Indonesia dan di Jepang adalah pada waktu perjalanan yang panjang. Dan karena waktu perjalanan yang panjang, saya jadi bisa menikmati Jepang dari sisi lain. Satu lagi kesamaan kereta ekonomi di Indonesia dan di Jepang. Dengan menumpang kereta ekonomi, kita belajar bersentuhan dengan budaya lokal.


Ada banyak alat transportasi yang menghubungkan Tokyo dan Osaka. Kamu bisa naik Shinkanzen yang hanya memakan waktu dua jam dan menghubungkan pusat kota ke kota lain. Atau bisa naik pesawat yang hanya memakan waktu satu jam, tapi tentu saja bandaranya di pinggiran kota. Bisa juga naik bus malam yang makan waktu semalaman. Tinggal duduk manis dalam bus, mimpi indah, dan besok paginya sudah bisa jalan-jalan lagi. Tapi harganya beda-beda tiap harinya, tergantung permintaan. Atau mau coba cara saya, sambung-menyambung kereta lokal JR. Tapi makan waktu sepuluh jam ya.


Ya, saya pilih hop on hop off dengan kereta lokal. Buat kami ini adalah option paling seru dan paling murah karena kami dapat tiket kippu 18. Kalo nggak dapat tiket kippu, lupakan aja pilihan naik kereta lokal berjam-jam, karena harganya sama dengan naik shinkanzen. Cek sendiri di hyperdia.com. [jadi tarif kereta di Jepang itu di akumulasi dari jaraknya, semakin jauh jarak, semakin mahal bayarnya]. Berhubung dapat tiket kippu, kami cuma perlu bayar 2300 yen per hari. Murah.


Kami memulai perjalanan kami di pagi hari. Untuk menghindari jam sibuk, kami niatnya berangkat jam 7 pagi dari rumah. Tapi,,, tetep aja hawa musim dingin bikin rencana kami molor satu jam. Kami tetep ketemu orang-orang yang sangat banyak di Stasiun Shinjuku dan Stasiun Tokyo. Moment terdorong keluar dari kereta pun tidak bisa kami hindari.


Tapi,, begitu kami berganti ke Tokaido Line,, keadaannya menjadi lebih tenang. Jalur ke luar Tokyo pada jam sibuk tampaknya menguntungkan, karena semua orang menuju ke Tokyo dan kami kebalikannya. Yey yey. Kami bisa lanjut tidur lagi dengan tenang.


Kami sempat salah naik kereta juga ketika menuju Hammatsu. Cara paling mudah adalah dengan balik lagi ke tujuan semula dan bertanya pada petugas. Beruntung petugas di Stasiun Atami bisa berbahasa Inggris dengan lancar.


Kalo kereta ekonomi di Indonesia tidak berAC dan tempat duduknya keras serta tidak ergonomis, berbeda dengan kereta lokal Jepang. Meskipun menempuh jarak dekat atau pun jarak yang agak jauh, kursi yang dirancang tetap ergonomis dan empuk. Semua kereta di Jepang menggunakan AC dan penghangat. Stasiun di Jepang pun bersih dan jelas. Di tiap kereta selalu ada pemberitahuan dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris disertai tulisannya [ini sebabnya mengapa ada peraturan dilarang bicara keras-keras dalam kereta di Jepang]. Kalo di kereta lokal, pemberitahuan langsung dari si masinis yang berbicara lewat speaker.


Melewati kota-kota kecil Jepang yang cantik, saya bertemu dengan orang Jepang lokal, bukan cuma orang Tokyo yang kelewat ekspresif dalam berpenampilan. Saya juga bisa menikmati pemandangan perumahan Jepang, kompleks pabrik, sungai besar, bahkan laut. Di ujung saya bisa bertemu Gunung Fuji yang menjulang tinggi dan berwarna putih pada puncaknya.


Setelah melalui 5 kali transfer, satu kali balik jalur, kencing di beberapa stasiun transit, makan martabak Jepang di Toyohashi, dan bertemu tumpukan salju di Maibara, akhirnya kami sampai juga di Stasiun Osaka jam 9 malam. Sambutan Stasiun Osaka malam itu adalah musik yang diputar bersamaan dengan kerlip lampu  raksasa di depan gedungnya. Hai Osaka!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)