Kamis, 31 Januari 2013

Kyoto, Ketika Hidup dalam Gambar Cantik

Dalam musim apapun itu selalu ada hari untuk menikmati kehangatan sinar mentari. Kyoto, terima kasih untuk hari musim dingin yang cerah.


Kyoto seakan menyambut kedatangan kami dengan kehangatan. Rasanya sehari kurang untuk berkunjung ke Kyoto yang memberikan kejutan gambar cantik di setiap sudutnya. Saya berbagi beberapa sudutnya disini. Selamat menikmati Kyoto.








  • Kyoto dapat ditempuh sekitar 30 menit menggunakan kereta rapid dari Osaka
  • Kyoto dulunya adalah ibukota Jepang
  • Berkeliling Kyoto paling praktis menggunakan bus. Tiket unlimited bus seharga 500 yen untuk satu hari
  • Stasiun Kyoto sangat besar. Carilah tourist information centre dan kamu akan mendapat banyak brosur, peta, dan petugas berbahasa Inggris yang ramah
  • Makanan di Kyoto cenderung lebih mahal, terutama di tempat turis. Makanan yang agak murah di warungnya.Cek cerita saya tentang makan di Jepang
  • Sempatkan berjalan kaki di daerah Gion. Di sini banyak rumah-rumah tradisional Jepang. Kabarnya di daerah sini juga tempat tinggal geisha
  • Kalau mau belanja murah datang ke Kawaramachi
boots, maple leaf, and Kyoto
once again, God answers my wish

Minggu, 27 Januari 2013

Mitaka for Ghibli

Seseorang bisa dikenal dari karyanya. Dan ketika pertama kali saya lihat ini,, saya langsung jatuh cinta sama Tororo dan Museum Ghibli. Pokoknya tubuh fisik saya minta menikmatinya secara kasat mata.


Ternyata untuk menikmati Museum Ghibli nggak semudah lagi di Tokyo - pesen ke Lawson - berangkat ke Mitaka - masuk museum. Kami kesulitan pesen tiket di Lawson karena petugasnya nggak ada yang bisa bahasa Inggris. Ketika temen saya yang bisa bahasa Jepang berusaha mesen, ternyata tiket sudah habis karena masa liburan sekolah. Dicoba ke hari-hari selanjutnya,, tetep habis. Huhu.

matahari memang bersinar cerah. tapi angin juga berhembus membawa hawa 4 derajat celcius

Di tengah hawa paling dingin sepanjang #wintertrip saya, saya rayu-rayuin adek saya untuk tetep berangkat ke Mitaka, walaupun kami nggak punya tiket masuk museum. Gapapa lah lihat dari depannya aja,, ngerasain atmosfirnya, dan lihat ramenya kayak apa. 


Mitaka terletak di pinggiran Tokyo. Turun di Mitaka Station. Mitaka kota kecil yang menyenangkan. Jalannya kecil, rapi, dan bersih. Burung-burung liar beterbangan bebas. Setiap sudutnya cantik. Andai hari itu kami nggak kedinginan, pasti ada lebih banyak foto yang terjepret dan lebih lama duduk-duduk cantik di pinggir sungai.



Well,, biarpun saya cuma bisa menikmati Ghibli Museum dari luar [bahkan ke souvenir shop atau cafenya saja kami nggak punya akses :'((], tapi tetap saya menikmati karyanya Hayao Miyazaki. Karya yang dibuat dari hati selalu membawa keindahan dan menyentuh hati yang lain. Let's your kindness energiesing others.


Sedih karena nggak bisa berinteraksi secara langsung dengan tokoh-tokoh Tororo di Museum Ghibli, Tuhan menuntun saya menemukan satu tempat kecil di Kyoto yang menjual sovenir Tororo. Luar biasa bagaimana Tuhan memenuhi keinginan saya.

@dinilint

Sabtu, 26 Januari 2013

Trip 120k Rupiah

Tantangan yok. Berangkat pagi. Pulang malem. Ngabisin duit 120k. Pake angkot.


Niat berangkat jam 6 dan eksekusi di lapangan berangkat jam 6.30. Bukan karena nggak bisa bangun pagi,, tapi nunggu batere hp penuh *alesan. Trip diawali dengan jalan kaki dari rumah,, nyegat angkot di perempatan, janjian ketemuan di Sukun. Pas banget. Pas saya turun dari angkot, pas angkotnya Reta juga sampe. Langsung naek ke bus jurusan Solo. Bus AC yang masih ada tempat duduk kosong.

perahu otok-otok. terbuat dari besi seng,, bisa muter2 di air asal sumbunya disulut api

Menurut perkiraan pak kondektur,, kita bakalan sampe di Solo sekitar jam 10an. Kalo nggak macet. Semoga hari ini hari yang tidak biasa, karena biasanya jalanan Semarang-Solo yang luas ini suka padat merayap kala musim liburan. Dan,, perkiraan pak kondektur tepat. 

kereta mainan anak2 dengan warna cerah ceria yang anak-anak banget

Kami turun di Kerten, karena akses ke kota lebih fleksibel. Setiap angkot dan bus yang lewat halte kerten pasti memelankan kecepatannya. Sebelum naik, kami tanya dulu sama kondekturnya,, "alun-alun?". Kalo kernetnya bilang iya, kami naik. [inilah salah satu kenikmatan travelling di Solo, oknum angkotnya sopan dan jujur].


Jalan yang seharusnya tinggal lurus, mesti muter2 dikit. Yah,, sekalian menikmati kota Solo kan. Kami turun di alun-alun, dekat dengan PGS (Pusat Grosir Solo). Numpang pipis dulu sebentar di situ. Juga numpang makan kupat sayur di depannya. Kami siap menerjang banyak orang.

dawet khas yang cuma ditemukan di dalam pasar gede

Sesungguhnya hari ini kami berniat datang ke Solo dalam rangka menikmati Sekaten. Acara sukuran sambil bawa gunungan tumpeng super gede, diarak beriringan, trus diperebutkan oleh rakyat,, tanda berkat. Kemaren ada pesta rakyat juga, semacam pasar malem di alun-alun.

jamu beras kencur. ditemukan di depan keraton

Sayang, kami telat datang jadi udah nggak ketemu sama gunungan super gede. Kami cuma ketemu sama orang-orang berseragam yang konon bawa gunungan itu. Ternyata banyak juga orang-orang dengan baju item dan semacam lencana yang dipake saat wisuda, yang datang dari sekitar Solo, ngumpul di keraton. Sepertinya hari ini dijadikan hari yang tepat untuk berdoa.


Ketika memasuki keraton, saya nggak sengaja bertemu dengan ibu abdi dalem yang bawa sesajen dan berdoa. Tiba-tiba rombongan datang mengerubuti si ibu untuk ikut berdoa. Di momen ini saya senang sekali belajar kearifan lokal. 
Si ibu abdi dalem berkata, "Sing penting sampeyan percoyo. Iki *menunjuk sesajen yang dibawa* mung sarana. Aku ndonga karo Gusti *tangan menunjuk ke atas*. Nak sampeyan melu aku, sampeyan kudu percoyo soko ati sampeyan dewe *tangan di dada*."
Rombongan tadi mengangguk. Doa berlangsung khusyuk. Ibu abdi dalem memimpin doa. Caranya ya dengan memejamkan mata dan mengucap syukur serta permohonan. 
Di akhir sesi,, rombongan memperebutkan sesajen yang dibawa ibu abdi dalem. Si ibu kembali mengingatkan,, "Nyuwun karo Gusti, iki mung sarana. Sampeyan kudu percoyo."


Kembali saya berjalan di halaman keraton yang adem. Kami bertemu dengan abdi dalem yang lain, yang ramah dan bercerita tentang keraton Solo, tempat tinggal raja. Saya sempat melihat si bapak menghimbau orang yang mengambil air di dapur keraton. "Orang itu sering salah kaprah. Sing maringi (memberi) rejeki kuwi Gusti sing ning dhuwur *tangan menunjuk ke atas*. Kok mikir e rejeki soko banyu keraton," kata si bapak.


Kadang orang itu suka nggak ngerti,, nggak mau tahu,, trus asal kasih penilaian. Hari ini saya belajar dan makin cinta sama budaya Jawa. Yang kembali lagi menyerahkan semua pada Yang Punya Hidup. Kita? Di dunia diajak untuk belajar.


Nb: Trip 120k ini adalah trip lumrah. Pake bus AC, travel bagus. Makan juga yang seporsi 20k. Yang penting niat.

Snack(in) Japan

Orang Jepang sangat peduli dengan hal-hal kecil, misalnya menciptakan pembersih teralis yang efisien atau memanfaatkan celah sempit di kamar untuk tempat penyimpanan koper. Sama hal nya dengan makanan kecil, makanan yang tinggal masuk ke mulut bisa dihias dan dibuat sedemikian rupa.


Rabu, 23 Januari 2013

Makan di Jepang

Cara untuk membuat acara jalan-jalan ke Jepang murah adalah dengan melakukan penghematan di pos makan. Tapi masa udah jauh-jauh ke Jepang cuma makan mi instan sama onigiri demi ngirit -___-


Yang membuat budget jalan-jalan ke Jepang adalah tingkat harga transportasi dan makanan yang rata-rata sepuluh kali lipat dibanding Indonesia. Kalo di transportasi kita bisa mengakali dengan jalan kaki atau naik sepeda [kalo kakinya nggak gempor], nah di makanan kita bisa makan mi instan yang dibawa dari Indonesia.

Minggu, 20 Januari 2013

Tokyo Tower That Reminds Me To Shinichi Kudo

Siang itu sepulang sekolah Shinichi dan Ran menuju Tokyo Tower dan melihat Kota Tokyo melalui teropong pandang di lantai atas. Shinichi masih ingat, bagaimana dia memberikan cola kepada Ran, yang dijawab oleh senyuman manis Ran.



Angin malam bersuhu 6 derajat celcius menyapa kami ketika kami keluar dari Tokyo Tower Station. Semoga perjuangan menembus angin dingin ini sebanding dengan melihat menara tinggi di malam hari. Kami perlu berjalan beberapa meter untuk menuju lokasi. Sembari mencari petunjuk jalan, kulihat menara tinggi yang dikenal dengan nama Tokyo Tower memancarkan sinar warna-warni dan gambar hati. Ah,, pasti ke arah sana.

Mendekati Tokyo Tower, yang kuingat malah kenangan masa kecil. Itu adalah saat pertama kali aku mengenal komik. Kisah Shinichi Kudo yang berurusan dengan Geng Hitam dan harus minum obat yang mengecilkan tubuhnya sehingga harus menyamar menjadi Conan. Ah,,, tak disangka aku bisa masuk ke dalam halaman komik itu. Di Tokyo Tower. 

Aku berharap bertemu Shinichi Kudo di salah satu sudut Tokyo Tower. Berbincang dengan otaknya yang cemerlang sehingga mampu menjadi detektif saat sma. Sayang, sampai sekarang Conan belum menemukan obat penawar racun untuk kembali menjadi Shinichi Kudo. 

Sabtu, 19 Januari 2013

Ketika Batik Bersama Chiffon

When batik meets chiffon.



I'm Indonesian. I'm proud. :D

Keliling Osaka Dengan Sepeda

Jalanan mulus, lalu lintas rapi, cuaca cerah. Ini hari yang bagus untuk mengayuh sepeda. Osaka,, kami siap menjelajah!


Kalo kamu sedang berada di Jepang,, ada baiknya mencoba bersepeda. Kenapa?

Ketahuilah kalau transportasi di Jepang itu mahal. Hitungannya kalo sekali naik angkot di Indonesia 2000rupiah, di Jepang 20,000rupiah untuk jarak terdekat dan akumulasi berdasarkan jarak. Jadi sepeda = ngirit.


Ada jalur khusus untuk pejalan kaki dan pengguna sepeda. Jalurnya mulus, lebar, dan tanda lalu lintasnya jelas, dan pastinya nggak bakalan kesrempet mobil yang melaju kencang di jalan raya sebelah. Jadi bersepeda itu nyaman.

gambar diambil di dalam komplek Osaka Castle

Sepeda bebas dibawa masuk ke area wisata dan pusat pertokoan, asal ada jalannya. Dibanding naik mobil yang parkirnya jauh atau naik kereta yang stasiunnya juga jauh, naik kereta bisa bawa kita langsung ke poin tujuan tanpa wajib jalan kaki.


Capek naik sepeda keliling kota? Tenang. Banyak sumber air minum untuk mengisi ulang tenagamu dan menghindari dehidrasi. Kamu juga bisa bawa bekal dan menaruhnya di keranjang depan. Duduk sebentar untuk menikmatinya sembari istirahat dari bersepeda sangat menyenangkan dan mengenyangkan.

gambar di ambil di komples taman kota Osaka

Jepang punya taman kota yang cantik dan ramah fasilitas umum. Kalau capek melanda dan butuh isi ulang energi, bisa leyeh-leyeh di taman sambil menikmati pepohonan. Ya, ini taman di pusat kota.


Kalo bawa bekal, bolehlah turun sebentar dari sepeda dan berbagi dengan sesama makhluk Tuhan. Mereka ramah kan.

gambar diambil dari dalam kios Takoyaki

Kalau mau meninggalkan sepeda, parkir di tempatnya yah. Kalo perlu digembok [orang Jepang jarang yang menggembok sepeda. Karena budaya mereka, malu mengambil barang yang bukan miliknya.] Di parkir yang rapi.


Salah satu cara seru untuk menikmati sekitar selain jalan kaki ya bersepeda. Dengan kecepatan rendah, kita bisa bebas berinteraksi dengan sekeliling. Berhenti sebentar untuk mengambil foto, atau memungut daun maple sebagai sovenir, atau bercengkrama di bawah snowflake. Selamat bersepeda.

Jumat, 18 Januari 2013

Lampu Malam Pagoda Watugong

Apa yang bisa dinikmati di Semarang ketika malam menjelang? Cobalah naik ke arah Ungaran. Di daerah Watugong, tengok ke arah kiri. Belok. Nikmati lampu dan ketenangan Pagoda Watugong Semarang.







Ups,,, kalo ke sini yang sopan dan tenang yah. Fungsi utama bangunan ini adalah tempat ibadah. Tapi nggak ada salahnya menikmati kerimbunan pohon bodhi dan cantiknya bangunan ini dan mengabadikannya dalam ingatan, kata, dan gambar. :)
@dinilint


Rabu, 16 Januari 2013

Kereta Ekonomi ala Jepang

Satu kesamaan kereta ekonomi di Indonesia dan di Jepang adalah pada waktu perjalanan yang panjang. Dan karena waktu perjalanan yang panjang, saya jadi bisa menikmati Jepang dari sisi lain. Satu lagi kesamaan kereta ekonomi di Indonesia dan di Jepang. Dengan menumpang kereta ekonomi, kita belajar bersentuhan dengan budaya lokal.


Ada banyak alat transportasi yang menghubungkan Tokyo dan Osaka. Kamu bisa naik Shinkanzen yang hanya memakan waktu dua jam dan menghubungkan pusat kota ke kota lain. Atau bisa naik pesawat yang hanya memakan waktu satu jam, tapi tentu saja bandaranya di pinggiran kota. Bisa juga naik bus malam yang makan waktu semalaman. Tinggal duduk manis dalam bus, mimpi indah, dan besok paginya sudah bisa jalan-jalan lagi. Tapi harganya beda-beda tiap harinya, tergantung permintaan. Atau mau coba cara saya, sambung-menyambung kereta lokal JR. Tapi makan waktu sepuluh jam ya.


Ya, saya pilih hop on hop off dengan kereta lokal. Buat kami ini adalah option paling seru dan paling murah karena kami dapat tiket kippu 18. Kalo nggak dapat tiket kippu, lupakan aja pilihan naik kereta lokal berjam-jam, karena harganya sama dengan naik shinkanzen. Cek sendiri di hyperdia.com. [jadi tarif kereta di Jepang itu di akumulasi dari jaraknya, semakin jauh jarak, semakin mahal bayarnya]. Berhubung dapat tiket kippu, kami cuma perlu bayar 2300 yen per hari. Murah.


Kami memulai perjalanan kami di pagi hari. Untuk menghindari jam sibuk, kami niatnya berangkat jam 7 pagi dari rumah. Tapi,,, tetep aja hawa musim dingin bikin rencana kami molor satu jam. Kami tetep ketemu orang-orang yang sangat banyak di Stasiun Shinjuku dan Stasiun Tokyo. Moment terdorong keluar dari kereta pun tidak bisa kami hindari.


Tapi,, begitu kami berganti ke Tokaido Line,, keadaannya menjadi lebih tenang. Jalur ke luar Tokyo pada jam sibuk tampaknya menguntungkan, karena semua orang menuju ke Tokyo dan kami kebalikannya. Yey yey. Kami bisa lanjut tidur lagi dengan tenang.


Kami sempat salah naik kereta juga ketika menuju Hammatsu. Cara paling mudah adalah dengan balik lagi ke tujuan semula dan bertanya pada petugas. Beruntung petugas di Stasiun Atami bisa berbahasa Inggris dengan lancar.


Kalo kereta ekonomi di Indonesia tidak berAC dan tempat duduknya keras serta tidak ergonomis, berbeda dengan kereta lokal Jepang. Meskipun menempuh jarak dekat atau pun jarak yang agak jauh, kursi yang dirancang tetap ergonomis dan empuk. Semua kereta di Jepang menggunakan AC dan penghangat. Stasiun di Jepang pun bersih dan jelas. Di tiap kereta selalu ada pemberitahuan dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris disertai tulisannya [ini sebabnya mengapa ada peraturan dilarang bicara keras-keras dalam kereta di Jepang]. Kalo di kereta lokal, pemberitahuan langsung dari si masinis yang berbicara lewat speaker.


Melewati kota-kota kecil Jepang yang cantik, saya bertemu dengan orang Jepang lokal, bukan cuma orang Tokyo yang kelewat ekspresif dalam berpenampilan. Saya juga bisa menikmati pemandangan perumahan Jepang, kompleks pabrik, sungai besar, bahkan laut. Di ujung saya bisa bertemu Gunung Fuji yang menjulang tinggi dan berwarna putih pada puncaknya.


Setelah melalui 5 kali transfer, satu kali balik jalur, kencing di beberapa stasiun transit, makan martabak Jepang di Toyohashi, dan bertemu tumpukan salju di Maibara, akhirnya kami sampai juga di Stasiun Osaka jam 9 malam. Sambutan Stasiun Osaka malam itu adalah musik yang diputar bersamaan dengan kerlip lampu  raksasa di depan gedungnya. Hai Osaka!