Senin, 12 November 2012

Kangen Laut

Simfoni orkestra ombak laut. Belaian lembut angin laut. Aroma asin sedap laut. Dan rasa asin-pekat-segar yang melingkupi seluruh tubuh ketika bersentuhan langsung dengan laut. Kangen. Kangen. Kangen.


Baru sekitar sebulan saya bilang bye bye sama laut, tapi hari ini saya udah kangen dan pengen berinteraksi langsung lagi sama si laut. Tapi apa daya. Keterbatasan selalu menclok ketika saya masih menjadi manusia. Jadilah saya bikin postingan ini demi mengobati kekangenan saya sama laut. Ini cerita saya sebulan lalu saat berinteraksi sama laut.

Cerita satu (bobo bareng laut):
Mendapat kesempatan tidur di pinggir pantai tapi dengan fasilitas kelas bintang tentu saja jadi kesan tersendiri. Hari itu saya dapat fasilitas menyenangkan itu. Saya hanya perlu jalan beberapa meter untuk duduk di kursi malas demi menikmati senja. Ditemani suara ombak yang menenangkan jiwa dan fantasi gila (maklum jalan sendiri, jadi yang ngelamun sendiri), saya kembali menikmati warna langit yang berubah perlahan tapi pasti dari biru cerah, menjadi semburat jingga, dan diakhiri dengan warna gelap dengan aksen cahaya-cahaya bintang kecil kerlap-kerlip seperti gula. 
Bangun pagi saya disapa dengan bunyi ombak yang merdu. Ketika membuka gorden jendela, saya boleh melihat ombak menari-nari di kejauhan. Si laut juga setia menemani saya sarapan dari kejauhan. Aroma telur kocok dan asinnya laut berpadu menjadi satu dan menambah kenikmatan makan saya.

Cerita dua (sea walker):
Cara berinteraksi paling asik sama laut adalah masuk ke laut. Tapi sayangnya saya belum bisa diving. :(. But, thanks God, ada yang namanya sea walker. Saya bisa masuk ke dalam laut tanpa punya kemampuan menyelam. Bahkan yang nggak bisa berenang pun bisa banget. Sesuai dengan namanya, sea walker, kita tinggal jalan pake kaki di dasar laut dengan kedalaman 4km. 
Saya maen sea walker di Tanjung Benoa, pusatnya olah raga air di Bali. Langkah awalnya, tentu saja cari operator yang terpercaya. Ini salah satu olah raga dengan taruhan nyawa. Jadi saya nggak mau dong main-main dengan nyawa saya. Kita bakalan masuk ke dalam laut lepas. Kalo peralatannya nggak mumpuni sedangkan kita nggak punya ketrampilan sama sekali, tentu saja mirip bunuh diri kan. Jadi atas rekomendasi pak sopir yang antar kami hari itu, kami pilih operator yang tempatnya gede banget (saya lupa nama operatornya :p). Biar ini operator gede dan banyak yang pake, kami masih bisa nego harga kok. Lumayan, harganya bisa turun dari penawaran 600,000 jadi 500,000. Semua harga sudah all in, termasuk baju menyelam, sepatu, oksigen, helm, kapal antar jemput, dan tentu saja guide di dasar laut.
Kami ganti baju dengan baju menyelam dan sepatunya. Kemudian naik kapal kecil ke tengah laut. Sampai tengah laut, kami pindah ke kapal yang lebih gede. Di situ terdapat perlengkapan sea walkernya (helm, oksigen, termasuk guidenya).
Dengan modal semua intruksi di darat, kami bersiap turun ke dasar laut. Kami tinggal turun lewat tangga. Pada saat kepala mau masuk laut, petugas memasangkan helm ke kepala. Kami tinggal nyemplung aja. Sambil pelan-pelan turun lewat tangga, tubuh mesti menyesuaikan diri dengan tekanan di dasar laut. 
Masuk ke kedalaman 4km, dan di situ sudah dipasang plang-plang besi untuk pegangan ketika berjalan. Whuaa,,, ikannya lucu-lucu banget. Ada juga tumbuhan-tumbuhan laut yang seolah menari-nari mengikuti ombak di dalam. Kami diberi roti untuk kasih makan ikan-ikan. Jadinya, ikan-ikan lucu itu seolah berkerumun di sekitar kami, padahal minta makan roti.
Nggak terasa 30 menit sudah lewat dan kami harus naik ke atas. Kalo kelamaan juga oksigennya habis kan. Kami naik melalui tangga yang sama ke atas kapal. 
Sebelum dibawa pulang ke daratan dengan kapal kecil, saya menyempatkan diri berenang di laut lepas. Ternyata ombak di atas lebih gede daripada ombak di dalam laut. Oke, saatnya kembali ke darat.

Cerita tiga (parasailing):
Saya boleh menikmati laut dari dalam, saya juga mau menikmati laut dari atas. 
Beberapa tahun yang lalu, saat bom bali baru saja terjadi, saya datang ke Tanjung Benoa. Yang saya ingat adalah pantai dengan pasir yang super luas. Orang-orang lalu lalang menawarkan berbagai servis olah raga laut. Saya bisa lihat pantainya dengan puas.
Ketika saya datang kembali ke Tanjung Benoa sepuluh tahun kemudian, saya kaget. Pantai yang saya ingat dulu telah berubah menjadi bangunan-bangunan operator. Kalo mau ke pantainya harus melewati bangunan operator tersebut. Pas ketemu pantai, dapatnya cuma view sebagian pasir pantai, karena lautnya penuh dengan kapal-kapal kecil dan pasir pantainya penuh dengan bangunan-bangunan atau alat-alat olah raga air yang parkir di sana.
Saya penasaran. Bagaimana sebenarnya bentuk Tanjung Benoa yang sekarang? Kebetulan. Hari itu saya punya kesempatan untuk mencoba parasailing untuk pertama kalinya. (Sebelum-sebelumnya belum pernah karena,,, ah,, kebanyakan kalo diceritain alasannya satu-satu di sini). 
Dan saya lihat itu bentuk Tanjung Benoa dari atas. Warna-warni. Beraneka manusia dan aktivitas olah raga airnya yang beranek. Crowded tapi nggak bertabrakan. Saya mau lagiii

Ah laut. Biar pun saya sudah bisa cerita beberapa pengalaman saya dengan kamu, saya tetap rindu. Sampai ketemu.

@dinilint
penikmat laut yang lagi kangen laut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)