Jumat, 23 November 2012

Tenun Lombok yang Memesona

Setiap pulang dari jalan-jalan saya selalu berharap membawa pulang sesuatu yang baru. Dan akibat dari jalan-jalan ke Lombok kemaren, saya dapat kain cantik hasil tenunan ibu cantik. #suwunGusti


Lombok punya kain khas yang pembuatannya melalui proses tenun. Awalnya saya pikir kalo pake tenun itu bakalan panas dan berat. Kainnya juga pasti sulit dibuat secara kasual. Ternyata, saya salah!

Senin, 12 November 2012

Kangen Laut

Simfoni orkestra ombak laut. Belaian lembut angin laut. Aroma asin sedap laut. Dan rasa asin-pekat-segar yang melingkupi seluruh tubuh ketika bersentuhan langsung dengan laut. Kangen. Kangen. Kangen.


Baru sekitar sebulan saya bilang bye bye sama laut, tapi hari ini saya udah kangen dan pengen berinteraksi langsung lagi sama si laut. Tapi apa daya. Keterbatasan selalu menclok ketika saya masih menjadi manusia. Jadilah saya bikin postingan ini demi mengobati kekangenan saya sama laut. Ini cerita saya sebulan lalu saat berinteraksi sama laut.

Cerita satu (bobo bareng laut):
Mendapat kesempatan tidur di pinggir pantai tapi dengan fasilitas kelas bintang tentu saja jadi kesan tersendiri. Hari itu saya dapat fasilitas menyenangkan itu. Saya hanya perlu jalan beberapa meter untuk duduk di kursi malas demi menikmati senja. Ditemani suara ombak yang menenangkan jiwa dan fantasi gila (maklum jalan sendiri, jadi yang ngelamun sendiri), saya kembali menikmati warna langit yang berubah perlahan tapi pasti dari biru cerah, menjadi semburat jingga, dan diakhiri dengan warna gelap dengan aksen cahaya-cahaya bintang kecil kerlap-kerlip seperti gula. 
Bangun pagi saya disapa dengan bunyi ombak yang merdu. Ketika membuka gorden jendela, saya boleh melihat ombak menari-nari di kejauhan. Si laut juga setia menemani saya sarapan dari kejauhan. Aroma telur kocok dan asinnya laut berpadu menjadi satu dan menambah kenikmatan makan saya.

Cerita dua (sea walker):
Cara berinteraksi paling asik sama laut adalah masuk ke laut. Tapi sayangnya saya belum bisa diving. :(. But, thanks God, ada yang namanya sea walker. Saya bisa masuk ke dalam laut tanpa punya kemampuan menyelam. Bahkan yang nggak bisa berenang pun bisa banget. Sesuai dengan namanya, sea walker, kita tinggal jalan pake kaki di dasar laut dengan kedalaman 4km. 
Saya maen sea walker di Tanjung Benoa, pusatnya olah raga air di Bali. Langkah awalnya, tentu saja cari operator yang terpercaya. Ini salah satu olah raga dengan taruhan nyawa. Jadi saya nggak mau dong main-main dengan nyawa saya. Kita bakalan masuk ke dalam laut lepas. Kalo peralatannya nggak mumpuni sedangkan kita nggak punya ketrampilan sama sekali, tentu saja mirip bunuh diri kan. Jadi atas rekomendasi pak sopir yang antar kami hari itu, kami pilih operator yang tempatnya gede banget (saya lupa nama operatornya :p). Biar ini operator gede dan banyak yang pake, kami masih bisa nego harga kok. Lumayan, harganya bisa turun dari penawaran 600,000 jadi 500,000. Semua harga sudah all in, termasuk baju menyelam, sepatu, oksigen, helm, kapal antar jemput, dan tentu saja guide di dasar laut.
Kami ganti baju dengan baju menyelam dan sepatunya. Kemudian naik kapal kecil ke tengah laut. Sampai tengah laut, kami pindah ke kapal yang lebih gede. Di situ terdapat perlengkapan sea walkernya (helm, oksigen, termasuk guidenya).
Dengan modal semua intruksi di darat, kami bersiap turun ke dasar laut. Kami tinggal turun lewat tangga. Pada saat kepala mau masuk laut, petugas memasangkan helm ke kepala. Kami tinggal nyemplung aja. Sambil pelan-pelan turun lewat tangga, tubuh mesti menyesuaikan diri dengan tekanan di dasar laut. 
Masuk ke kedalaman 4km, dan di situ sudah dipasang plang-plang besi untuk pegangan ketika berjalan. Whuaa,,, ikannya lucu-lucu banget. Ada juga tumbuhan-tumbuhan laut yang seolah menari-nari mengikuti ombak di dalam. Kami diberi roti untuk kasih makan ikan-ikan. Jadinya, ikan-ikan lucu itu seolah berkerumun di sekitar kami, padahal minta makan roti.
Nggak terasa 30 menit sudah lewat dan kami harus naik ke atas. Kalo kelamaan juga oksigennya habis kan. Kami naik melalui tangga yang sama ke atas kapal. 
Sebelum dibawa pulang ke daratan dengan kapal kecil, saya menyempatkan diri berenang di laut lepas. Ternyata ombak di atas lebih gede daripada ombak di dalam laut. Oke, saatnya kembali ke darat.

Cerita tiga (parasailing):
Saya boleh menikmati laut dari dalam, saya juga mau menikmati laut dari atas. 
Beberapa tahun yang lalu, saat bom bali baru saja terjadi, saya datang ke Tanjung Benoa. Yang saya ingat adalah pantai dengan pasir yang super luas. Orang-orang lalu lalang menawarkan berbagai servis olah raga laut. Saya bisa lihat pantainya dengan puas.
Ketika saya datang kembali ke Tanjung Benoa sepuluh tahun kemudian, saya kaget. Pantai yang saya ingat dulu telah berubah menjadi bangunan-bangunan operator. Kalo mau ke pantainya harus melewati bangunan operator tersebut. Pas ketemu pantai, dapatnya cuma view sebagian pasir pantai, karena lautnya penuh dengan kapal-kapal kecil dan pasir pantainya penuh dengan bangunan-bangunan atau alat-alat olah raga air yang parkir di sana.
Saya penasaran. Bagaimana sebenarnya bentuk Tanjung Benoa yang sekarang? Kebetulan. Hari itu saya punya kesempatan untuk mencoba parasailing untuk pertama kalinya. (Sebelum-sebelumnya belum pernah karena,,, ah,, kebanyakan kalo diceritain alasannya satu-satu di sini). 
Dan saya lihat itu bentuk Tanjung Benoa dari atas. Warna-warni. Beraneka manusia dan aktivitas olah raga airnya yang beranek. Crowded tapi nggak bertabrakan. Saya mau lagiii

Ah laut. Biar pun saya sudah bisa cerita beberapa pengalaman saya dengan kamu, saya tetap rindu. Sampai ketemu.

@dinilint
penikmat laut yang lagi kangen laut

Kamis, 08 November 2012

Ubud = Ricefield

Meski cuma butuh sekitar 20 menitan dari rumah untuk bisa melihat sawah, tapi saya selalu pengen menikmati sawahnya Ubud. Kenapa? Saya pun belum ketemu jawabnya...


Perjalanan sawah Ubud saya kali ini lumayan berat. Kenapa? Karenaaaa,,,,


Pertama, saya ke Ubud sendirian tok til. Nggak ada persiapan sebelumnya. Modal pengen tok. Terus ya jalan aja gitu. 


Kedua, saya mesti bangun pagi padahal bangun saya paling pagi itu kalo jarum pendek udah lewat dari angka tujuh. Ini demi kenikmatan memandang warna langit yang berubah dari biru gelap ke biru cerah.


Ketiga, saya mesti berusaha sekuat tenaga baca peta dan mengingat jalan. Kelemahan saya adalah sulit sekali baca peta dan sering disorientasi lokasi. Untung sekarang ada google map. Tiap ada belokan sedikit, saya pasti cek tanda kedip-kedip di google map sudah searah belum sama warna birunya.


Keempat, saya nyaris ketinggalan pesawat salah satunya karena rela nyasar-nyasar sendirian di jalan sempit pake motor sewaan demi Tegallalang! 

Dan sepertinya saya belum ketemu sama Tegallalang yang saya impikan. Pasti saya mesti balik lagi nih. Temenin dong,,, 

Ubud In A Day

Ubud, I'm lucky to have opportunity to visit you again this year. One day is enough, even actually i wish more. Here's the story.


I use rent motorbike to reach Ubud. It's the easiest-cheapest way to reach Ubud from Kuta. And the plus point is I can use this motorbike around Ubud. But the fun things in Ubud is going by foot. Ubud is small village with many small cute arty places around. 
  

I get my guest house by go show. I have to pay 150,000 for a night. It's include breakfast. 


I get my noon meal at Babi Guling Ibu Oka. I choose nasi campur. Rice with so many Pork menu on it. Delicious and satisfied.


I do shopping on Ubud Market. I always have some offer in english while I'm trully Indonesian. Maybe those people just not familiar with Indonesian girl who travel alone.


I found library near the field where I can found so many books and read it in their reading room.


Early in the morning, I catch the morning breeze in the rice field. I do walk to Kajeng Street. It's behind the Starbucks. You just need to walk on this little road there and get the ricefield.


I also go to famous Tegallalalng. The google map told me the way. And i do pass the footpath with rent motorbike. It's fun. And i wish to do it again.

Time is up, and I need to go back to Kuta. Maybe next year I can meet with Ubud again. Would you accompany me?...

Jumat, 02 November 2012

Cerita [Nyaris] Ketinggalan Pesawat

Siang hari yang panas dan jalanan Kuta yang ruwet dan tak bersahabat. Aku semakin bingung mencari tempat persewaan motor. Akibat kebablasan dan putar jalan, sekarang aku berada di jalanan yang sangat asing dari Kuta. Lama-lama jalanan sepi, menjadi jalan tanah, dan tiba-tiba,,, gubraaaakkkk. Dengan motor matik pinjaman, aku harus terjatuh di tempat orang, belum lagi waktu yang menipis untuk boarding. Bagaimana ini :'( :'( :'(


Ini hari terakhirku di Bali. Rencana sudah kupersiapkan. Cabut dari Ubud maksimal jam 10.30. Jalan ke Kuta, kembalikan motor. Jam satu siang aku sudah leha-leha tunggu boarding di ruang tunggu Bandara Ngurah Rai. Let's pack the day.

Tapi rencana tinggal rencana. Aku, dengan kemampuan sangat minim membaca peta dan mengingat jalan, mesti nyasar beberapa kali. Untuk keluar dari wilayah Ubud pun, aku harus berputar-putar dulu :(. Demi menyiasati nyasar dan sedikitnya plang petunjuk jalan, tiap belokan aku selalu berhenti untuk cek apakah jalan yang kulaui betul atau tidak lewat google maps di hp. Hal ini tentu saja memperlambat lajuku. Dan ternyata perjalanan balik kali ini lebih lama daripada perjalanan berangkat. Huhu

Alhasil aku baru mencapai jalanan bypass sekitar pukul 12.30. Seharusnya aku check in jam 13.00. Tapi menyiasati macet di Kuta, aku pilih check in dulu dan taruh ransel dalam bagasi. 
Bandara Ngurah Rai yang besar dan masih berantakan akibat pembangunan sangat menyulitkanku kali ini. Aku mesti berlari-lari mengejar waktu. Usahaku membuahkan hasil. Boarding pas sudah di tangan. Saatnya mengembalikan motor. 

Kalau sesuai perkiraan mestinya cuma seperempat jam sampai di tempat persewaan. Seperempat jam lagi jalan ke bandara. Cukup waktu lah.
Aku memacu motorku kencang sambil mengais memori jalanan tembus menuju Kuta. Yeay! Aku berhasil menuju Kuta. Sekarang gampang, tinggal cari tempat persewaan yang deket sama monumen peringatan. Mestinya putar di ujung jalan. Berputar sekali, tidak kutemukan tempat itu. Aku pun bertanya pada bapak yang menawarkan jasa. Kata si bapak aku kebablasan dan harus berputar lewat jalan lain. Inginku melipir saja, tapi jalanan kecil nan ramai sangat tidak memungkinkan. 
Nah, ketika berputar ini kok rasa-rasanya aku sudah keluar area Kuta yah. Tidak ada jalan mulus rapi dengan jejeran toko-toko lucu atau pun guest house manis. Hadeh. Tambah panik ketika melihat arloji, ini sudah 25 menit. Dan tiba-tiba,, gubrakkk...

Kesadaranku melayang sepersekian detik. Ketika seorang ibu bertanya padaku, "tidak apa-apa?" dan beberapa bli membantuku bangun, aku sadar, aku harus ngejar pesawat. Masa ranselku aja yang pulang ke Semarang. Dengan nekat aku pun minta bantuan diantar ke bandara dalam waktu 15 menit. Seorang bli manis menyanggupi dan langsung memberi kode untuk naik ke motornya. Motor sewaanku aku tinggalkan di sana, nitip pada si ibu dan bli yang lain, dan telpon bagian persewaan untuk ambil sendiri. Jaminan SIM A ku terpaksa aku tinggalkan dulu di Bali.

Menyusuri jalanan Kuta yang macet dan kucing-kucingan dengan polisi karena aku tak pakai helm jadi pengalaman baru buatku liburan ini. Untungnya, 15menit itu aku selamat sampai bandara. Terima kasih bli!

Perjuangan yang lain menanti. Tepat aku sampai di bandara, itu adalah saat untuk boarding. Dan ternyata aku harus mengalami kejadian di film-film itu, beneran lari di bandara. Kalo di film demi ngejar kekasihnya, aku demi ngejar pesawat. Beda tipis lah. Lari di bandara Ngurah Rai yang ruameee dan gedeeee lumayan menguras energi. Kira-kira itu pesawat masih mau nungguin nggak ya? Pengalaman terakhir ngejar pesawat, pesawatnya udah terbang pas aku baru datang di ruang tunggu.

Udah ngos-ngosan, udah habis energi, kulihat antrian di gate ku mulai habis. Ah, sepertinya aku orang terakhir yang naik pesawat. Tapi yang penting aku keangkut. Yeay.

Ketika sudah duduk manis di kursiku, barulah berasa kalo dengkulku ngilu luar biasa, kerongkonganku kering, dan lambungku protes minta diisi. Sabarlah sebentar wahai tubuhku. Tunggu mengangkasa biar bisa makan. 
Thank God, rentetan ketinggalan pesawatku tidak bertambah. Tidak untuk saat ini, tidak di masa depan.