Sabtu, 20 Oktober 2012

Turun Gunung, Lompat ke Gili

Slow kayak di pulau,,, santai kayak di pantai.
Setelah berhari-hari mengagumi gunung tinggi, saatnya turun gunung dan kembali menjadi anak pantai.


Berhari-hari mengandalkan kaki untuk naik turun dan mendaki Rinjani,, inilah saatnya untuk turun gunung. Setelah berlari-lari menuruni jalan setapak di kawasan hutan lindung Senaru, akhirnya sampailah kami di Senaru Trekking Centre. Sambil menunggu teman-teman yang datang belakangan, kami dengan semangat gembel leyeh-leyeh di lobinya sambil mengamati beberapa orang yang gantian mau naik ke Rinjani. Dari 4 rombongan, 3 rombongan adalah orang asing. Yeah, Rinjani memang lebih populer di kalangan turis mancanegara ketimbang turis domestik.




Hari belum terlalu sore ketika kami mendapat mobil dan berangkat ke tujuan selanjutnya. Mumpung masih di Lombok, tentu saja trio gili menjadi salah satu destinasi wajib kami. Setelah makan ayam betutu super lezat di dekat Pelabuhan Lembar, kami bersiap menyebrang ke gili.


Penyebrangan ke gili dari Pelabuhan Lembar dilayani dengan kapal kecil. Tapi penyeberangan sudah tutup sampai pukul 5 sore waktu setempat. Kami tiba pukul 6 sore. Beberapa orang coba menawarkan untuk sewa kapal. Tentu saja ini mahal banget dan sangat tidak sesuai dengan kantong gerobak kami. Orang sabar banyak yang sayang. Ada satu kapal yang mau berangkat ke Gili Trawangan saat itu. Tidak apalah kami bayar dua kali lipat dari harga standar (Rp. 10,000) demi bermalam di gili. Yihaa,,, Gili Trawangan kami datang.


Mencari tempat nyaman untuk mendirikan tenda saat malam hari di Gili Trawangan bukan perkara mudah, tapi juga bukan sesuatu yang sulit. Pasalnya, tenaga kami sudah terkuras habis di Rinjani, dan kami masih harus jalan kaki sambil lirik kanan-kiri demi tempat yang strategis. Syukurlah, perjuangan kami berbuah manis. Kami berhasil dapat tempat menginap di pasir putih datar yang luas, lengkap dengan bunyi debur ombak dan angin laut yang sepoi-sepoi. 


Segala bentuk akomodasi di Gili Trawangan terkenal di atas rata-rata. Hal ini dikarenakan pengunjung Gili Trawangan mayoritas adalah turis mancanegara. Di sepanjang pulau yang saya lihat hanyalah orang-orang tinggi berkulit putih dan berambut pirang. Huff,,
Demi mengatasi permasalahan akomodasi untuk kantong gerobak kami, kami membeli perbekalan sebelum menyebrang ke gili. Di pantai putih nan cantik ini, kami memasak dan mengiris semangka. Makan malam adalah mi kuah spesial dengan porsi utuh. Makan pagi: scrable egg. Snack time: buah semangka, susu segar, dan teh. Tempat makan menghadap laut dan duduk di atas pasir putih. Nyam nyam.


Yaa beginilah penampaka liburan kami di Gili Trawangan :))


Di Gili Trawangan tidak boleh ada kendaraan bermotor. Pulau ini benar-benar bebas polusi. Kalo kata orang lokal sih, semua besi yang ada di Gili Trawangan akan berkarat, jadi percuma bawa motor kesini, akan berkarat dan tidak terpakai. Kendaraan di Gili Trawangan adalah sepeda (bisa sewa harian) dan cidomo (semacam gerobak yang ditarik kuda). 


Kalo kami sebagai kaum penikmat alam yang cinta sehat dengan budget gerobak, pilih jalan kaki di jalanan yang ramah dengan pejalan kaki (setengah e ngirit :p)


Walau dimana-mana kebanyakan bertemu dengan orang putih tinggi berambut blonde, tapi ini jelas jelas wilayah Indonesia. Warna merah putih dimana-mana dan saya dengan bebas berbahasa Indonesia di pojok mana saja.








Selain Gili Trawangan, kami juga sempat bermain ke Gili Air dan Gili Meno. Bermodal kesabaran dan lihai melirik kesempatan, kami dapat tumpangan kapal. Ceritanya kami berdelapan mau explore trio gili kemudian kembali ke Lombok. Ada dua teman, yang sempat ketemu di Rinjani, yang ketemu lagi di Gili Trawangan, yang pengen snorkeling. Ada pasangan Prancis yang mau diving dan snorkeling sekalian ke Senggigi. Jadilah kami tumplek dalam satu perahu dengan kepentingan masing-masing. Semestinya ini perahu dicarter satu rombongan dengan satu kepentingan. Tapi jadinya begini. Siapa nebeng siapa, nggak penting. Yang penting:


Kami bisa makan nasi goreng bikinan resort di Gili Meno sambil leyeh-leyeh di bale-bale,


Bisa ikutan berenang di laut, walau saat itu arusnya lumayan kenceng dan kurang lama akibat tenaga udah terkuras abis akibat jejingkrakan di Rinjani,


Kenalan sama pasangan Prancis yang ternyata suka diving. Saya tambah pengen bisa diving. Ini salah satu mimpi yang wajib diwujudkan.

@dinilint

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)