Kamis, 20 September 2012

Tujuh Hari Dalam Seminggu, Tujuh Warna Pelangi, Tujuh Nada Diatonis, Tujuh Bukit Penyiksaan

Ngapain coba naik gunung. Capek-capek naik, di puncak sebentar, trus turun lagi,,,


Matahari menyapa pagi ini dengan memperlihatkan cahaya paginya yang cantik. Aku keluar dari tenda dan mendapatkan suguhan warna luar biasa dari kolaborasi pegunungan, savana luas, dan langit pagi yang cerah. Setelah merasakan dinginnya gunung, disambut dengan hangatnya pagi sungguh anugrah yang luar biasa.



view from our camp. The sunrise!
Teh hangat, nasi goreng, dan telur. Kalo nggak salah itu menu makan pagi kami, di pagi pertama mengunjungi  sang dewi anjani. Kenyang makan dan bertenaga, kami siap menjelajahi langkah demi langkah kaki-kaki kecil kami menuju puncak.

morning tea = the mountain view = awesome journey
Menurut cerita teman-teman, saya akan menemui bukit terjal yang disebut tujuh bukit penyiksaan. Wuih,,, namanya serem aja. Memang penyiksaan macam apa?

morning preparation. need to move
Ketika jalan, saya sih merasa jalanannya ramah. Jalan setapaknya rapi, tidak licin atau berpasir, tetapi terdiri dari tanah gelap yang kering. Jalanan lumayan landai walaupun tampak jelas kalau naik. Beberapa kali saya mendapati jalanan bonus, jalanan datar.

the nice road
Eitss,,, itu baru permulaan. Setelah beberapa saat saya mulai melihat jalanan curam yang naik ke atas. Mungkin ini bukitnya. Tapi yang nampak hanya satu bukit. Ujung bukitnya juga sudah kelihatan. Yip yip. Aku pasti bisa!

who's come first?
Naik, naik, naik. Nafas mulai berkurang sedikit-sedikit. Akhirnya mendekati puncak bukit. Tapi baru saja sampai atas,, tampak jalanan yang lebih terjal di depan mata. Olala,, bukit lainnya baru nampak setelah melewati puncak bukit sebelumnya. Oke.Oke. Aku masih sanggup. Udah niat. Persediaan makan dan minum juga masih banyak. Ayo menapak!

take a picture means take a break. it's must to do thing while you are trekking a mountain
Yah,, begitulah bulit penyiksaan. Dan tiap selesai dengan satu bukit, kemudian bertemu dengan bukit berikutnya yang jalannya lebih terjal dibanding bukit sebelumnya. Kalo awalnya cuma memandang ke puncak bukit, lama kelamaan harus mendongak lebih atas lebih atas dan lebih atas lagi. Saya lupa persisnya. Jadi saya copy paste aja dari note-note yg sempat saya buat ketika berjuang berjalan mendaki bukit lewati lembah,*dinyanyikan dengan gaya ninja hatori

11.43
1825 mdpl
salah satu dari tujuh bukit penyiksaan - leyeh-leyeh, ngadem
  
sisipan: saya beruntung jalan sama ando, pru, coco, sari, baita, kibo, mamat.  Bener2 jadi penikmat, tak ada target tapi juga tahu diri. Berkali-kali kami duduk leyeh-leyeh di bawah pohon ketika jalanan mulai tak ramah. Kami berbagi air minum sampai minuman. Prinsipnya, makanan dan minuman dibawa untuk diminum dan dimakan. Kalo habis, ya turun gunung cari yg ada makanan. Hahahaha
12.15
1900 mdpl
masih di salah satu dari tujuh bukit penyiksaan
 
15.03
2125 mdpl
matahari masih di atas kepala, sepertinya belum lepas dari tujuh bukit penyiksaan
 
15.44
2245 mdpl
udah setara sama langit
17.26
3000 mdpl
akhirnyaaaaaa - speechless
Rasa capek yang mendera di sepanjang punggung, jerit nyut-nyutan di betis kaki, dan rasa kelaparan yang datang dari lambung mendadak hilang ketika melihat danau segara anak di kejauhan. Semuanya terbayar. Ya Tuhan,, saya nggak bisa ngomong banyak. Mendingan lihat sendiri dan merasakan apa yang saya rasakan. Saya susah nulisnya di sini. Bahkan gambar- gambar yang saya ambil pun masih kurang mewakili apa yang saya rasakan saat itu. Terima kasih Tuhan.

sunset from plawangan sembalun.
speechless and so thankfull

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)