Rabu, 19 September 2012

Tapak Pertama: Kenalan Sama Sembalun

Langkah besar dimulai dari satu langkah kecil. Menyambangi satu gunung besar, dimulai dengan niat membuat langkah-langkah kecilnya. Sembalun, aku kulo nuwun.

Rinjani peak view from Sembalun
Saya ingat sekali, ketika ikut pendakian waktu itu, bersama temen PA anak stm, semuanya dimulai dari makan. Sang pembina galaknya minta ampun pas nyuruh habisin nasi bungkus porsi kuli. Saya juga kebagian porsi kuli itu. Ya jelas saya nggak habis. Diam2 sambil takut2 saya cepet bungkus separuh porsi yang nggak habis dan langsung buang ke kotak sampah. Ya saya paham tujuan mas pembina ini baik, maksudnya makan yang banyak biar energinya banyak.
Maka dari itu, saya dan teman-teman maen dulu ke warung depan sekolahan di Sembalun. Pilihannya cuma dua; kari ayam atau tongseng kambing. Kalo nggak mau pilihan tadi, boleh juga minta bikinin mi instan. Kenyang, kami pun memulai langkah-langkah kecil kami. Ciaaatttt.

taken from pick up car
Melihat ada mobil bak bisa masuk, dan memang itu mobil bersedia nganterin pendaki sejauh kira-kira 1 km (sampe trek mobilnya habis) ke arah puncak dengan imbalan 10ribu per orang. Saya pun merayu teman-teman. Lumayan hemat waktu satu jam, lumayan hemat tenaga, lumayan biar kari yang saya makan tadi nggak cepet habis. Hasil tawar-menawar (yg hukumnya wajib kami lakukan) adalah dua porter kami bebas biaya nebeng. Jadi kami bayar 80,000 untuk mengangkut 10 orang dalam mobil bak.

need to move by feet by now
Lumayan juga nebeng mobil bak. Jalanan panas, berliku naik - turun dibantu dengan mesin beroda. Pengennya ini mobil bisa nganter sampe puncak. Tapi apa daya, jalanannya nggak merestui. Kami mesti turun di ujung jalan dan lanjut jalan kaki di jalan setapak. 

crossing savana
Jalanannya seru. Sepanjang jalan pemandangannya memukau, savana dengan warna kecoklatan dan hijau yang serasi, langit biru yang super luas dan awan putih yang berarak-arak. Kami juga melalui langit senja yang berubah warna dari biru cerah, menjadi oranye, jingga, dan perlahan menggelap. Perlahan tapi pasti, ketika mendongak ke atas bintang-bintang menyapa sedikit, sedikit, lama kelamaan memenuhi langit. 

Sembalun grass view
Kalo menurut petunjuk, seharusnya perjalanan ini memakan waktu sekitar 3-4jam. Kalau kami berangkat jam 2 siang, minus 1 jam karena naik mobil, mestinya kami sampai di pos 2 saat senja. Tapi kami ini penikmat alam, bukan anak P A yang kebanyakan adalah pendaki gunung. Slowly but sure,, yeah.

the sun over my head
the change of sky color
Ditemani cahaya lampu kepala (baca: head lamp) dan kegelapan malam lengkap dengan bintangnya, kami sampai di pos 2. Dua abang porter kami sudah mendirikan tenda dengan rapi. Kami pun tinggal menanti ayam disajikan. Nyam nyam,,, ini ayam enak sekali yak. Malam ini tidur nyenyak. Besok,, trekking apa lagi yang menanti. Ah itu besok. Malam ini tidur dulu saja.

good night. sleep tight

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)