Jumat, 21 September 2012

Menggapai Puncak Rinjani

"Piye kabarmu nduk? Ibu wingi nonton nang metro tv,, ono tayangan rinjani. Dalan e medeni. Kowe ndak iso tenan munggah rinjani?"
"Apa kabar nak? Ibu kemarin nonton di metro tv,, ada tayangan rinjani. Jalanannya mengerikan. Apa kamu benar naik rinjani?"


Menggapai puncak rinjani bukanlah hal mudah. Seperti cerita saya sebelumnya, saya deg-deg an sebelum melakukan trip kali ini. Beruntung kali ini saya punya teman jalan yang menyenangkan dan setipe. Kami jalan super santai,, jalan - capek - ketemu pohon - duduk leyeh-leyeh - jalan lagi - ada view bagus - berhenti, foto-foto - jalan lagi - kelaperan - berhenti - makan cemilan sambil minum soda - jalan - sampe deh :D.
Sampe ketika sudah sampai di Plawangan Sembalun, kurang sedikit dari puncak sang dewi anjani, saya masih terbengong-bengong. Heran kok bisa sih saya bawa badan saya sampe sejauh ini? Tapi inilah namanya niat. Karena uda niat dan percaya kalo niat baik dan restu Tuhan ada bersama, jadi ya pendakian ini berjalan mulus.


Bagaimana dengan puncak?
Untuk menggapai puncak rinjani bukan perkara mudah. Yang pertama kita harus mengalahkan diri sendiri. Di tengah-tengah tidur nyaman di dalam sleeping bag dan tenda yang hangat, kita harus rela bangun di pagi hari, yang suhunya paling dingin. Kira-kira jam 2 pagi sudah harus start. Kenapa pagi? Karena saat paling tepat untuk berada di puncak adalah ketika matahari terbit. Syukur-syukur bisa menikmati sunrise ketika sudah berada tepat di puncak.
Demi menghalang udara super dingin beserta anginnya, yang pastinya kalo di atas gunung berkali-kali lipat kencengnya, kita mesti pake perlengkapan yang lengkap. Ini nih yang saya suka dari anak gunung. Anak gunung itu pasti tau apa yang dia butuh dan mempersiapkan sebelumnya. Nggak mungkin kan cari-cari jaket windproof, sepatu trekking, kupluk, masker, sarung tangan, head lamp di atas gunung. Semua orang bawa sesuai kebutuhan.
Perlengkapan siap, logistik (bawa secukupnya aj ya; minum sama coklat itu sangat cukup) siap, fisik fit. Jalan deh.


Jalanan menuju puncak rinjani ini terdiri dari pasir dan kerikil sodara. Jadi nginjek dikit, kaki terbenam, trus kalo kelamaan kebawa gravitasi turun lagi ke belakang. Sungguh butuh kesabaran dan tekat yang kuat. 
Tekat kembali dipertanyakan ketika matahari mulai muncul, tapi kita belum menggapai puncak. Dan di depan tampak jalannya masih panjang aja. Kemudian didera angin super kencang dan dingin. Cari-cari batu besar buat berlindung. Terus ngantuk luar biasa ditambah lapar gila-gilaan. Padahal logistik sudah habis. Teman sepertinya masih ngos-ngosan, dan kita pengen jalan duluan demi puncak. Puncak oh puncak.


Ketika halangan-halangan itu terkalahkan oleh niat,, semuanya terbayar! Ketika saya di sana, pemandangan sedang bagus-bagusnya. Di kejauhan tampak danau segara anak, gunung anak baru, dan juga trio gili! Wuahhhh,,, luar biasa.

Danau Segara Anak
Taken from Rinjani Peak
the caldera
trio gili (Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air)
taken from rinjani peak
gunung anak baru
hasil dari letusan Rinjani tahunan lalu (imagine how high rinjani was)
taken from Rinjani peak

*Terima kasih buat Sari yang cerita perjuangannya sampe puncak bayangan. Biarpun cuma bayangan,, tapi kamu sudah sampe puncak. Terima kasih buat Ando dengan ceritanya,,  yang ke puncak sendirian,, bikin video di puncak,, trus turunnya juga sendirian. Terima kasih buat Kibo, Baita, Mamat, yang cerita akhirnya berhasil naik puncak setelah tidur di jalan, dan baru balik ke camp sekitar jam 11an setelah dijemput Pru yang bawain tempe goreng paling sedep di dunia.

*Iya,, saya nggak ikutan muncak. Saya sudah ngebayangin jalanan ngeri (jalan pasir, kanan jurang, kiri jurang) yang belum tentu bisa saya lalui. Saya pikir, daripada setengah-setengah mending nggak sama sekali. Saya pilih bobo di tenda yang hangat dan menikmati pagi dengan ngeteh sambil lihat segara anak. Saya mau save energy buat perjalanan ekstrim selanjutnya. Janji saya sama Rinjani ya di Segara Anak. Janji saya sudah terpenuhi belum yah,,, 

3 komentar:

  1. Rinjani emang keren yah :)
    Hebat euy bisa sampe puncak. Saya harus balik lagi kesana biar bisa ke puncak Rinjaniiii

    BalasHapus
  2. Yuk,,, aku juga pengen balik,, kan puncaknya belum tergapai :D

    BalasHapus
  3. Yuk,,, aku juga pengen balik,, kan puncaknya belum tergapai :D

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)