Sabtu, 14 Juli 2012

Transit (week holiday)

Malam pekat, kota kecil yang tampaknya terlelap, dan tawaran ojek yang datang merayap. Sepertinya harus berhenti sejenak.

sunrise di Pelabuhan Ratu
Bus baru saja berhenti dan kami baru merapikan barang bawaan kami untuk dibawa turun, tiba-tiba muncul kepala-kepala tukang ojek di hadapan kami dengan tawaran "pantai, ojek, pantai, ojek" dengan nada sedikit memaksa. Ouh,, beginilah wajah travelling Indonesia, semua orang berlomba-lomba menawarkan servis, kadang bisa menjengkelkan, tapi saat ini menjadi hal yang saya syukuri.
Saat itu sudah gelap, dan sepanjang jalan saya hanya melihat aspal, bukan pantai. Padahal menurut desas-desus yang saya dengan Pelabuhan Ratu itu salah satu hideaway place nya orang Jakarta kalo pengen berlibur ke pantai. Pastinya saya membayangkan pantai cantik dengan berbagai pilihan hotel, resort, sampai hostel. Tapi sedari tadi yang saya lihat hanyalah jalan aspal kecil dengan rumah-rumah penduduk di kiri-kanan dan berakhir di terminal kecil yang sepi. Saya mengiyakan ajakan salah satu tukang ojek dan segera melempar pantat ke motornya.
Tukang ojek yang tampak ramah dan sigap menolong membawa kami ke sebuah penginapan kecil, tepat di pinggir pantai. Setelah tawar-menawar harga penginapan dan harga ojek, kami meletakkan ransel-ransel kami. Tujuan pertama sampai di Pelabuhan Ratu adalah mencari tempat makan yang bersih dan punya banyak pilihan makanan. Setelah menyusuri jalanan yang sepi - benar2 di luar dugaan saya sebagai tempat wisata -, kami menemukan warung makan yang cukup bersih. Si ibu menjual makanan Sunda, jadi banyak asupan sayur. Satu lagi, di warung itu ada tv. Berhubung di penginapan kami yang murah meriah tak ada tv, jadi ya sekalian makan sekalian nongkrong di depan tv.
Hiburan malam di Pelabuhan Ratu yang bisa kami nikmati itu ya cuma sepi, makanan sunda, tv di warung, dan suara ombak. Penginapan kami yang dekat dengan bibir pantai pun tidak memberikan pemandangan laut. Malam itu gelap banget, yang tampak hanya lampu-lampu super kecil di kejauhan. Satu lagi hiburan, akang - yang saya lupa namanya - yang tidak bosen cerita sepanjang malam. Bahkan cerita berlanjut sampai pagi ketika kami berharap bertemu sunrise di Pelabuhan Ratu.

si ibu lagi menyeleksi ikan mana yang layak dibawa pulang
Pagi di Pelabuhan Ratu lebih menyenangkan. Udara sejuk menyambut dengan ramah. Langit berubah warna perlahan dari hitam pekat menuju merah - jingga hingga biru cerah. Ombak berorkestra dengan harmonisasi yang merdu. Di muara, banyak nelayan sedang mencari ikan kecil untuk makan. Di laut tampak anak-anak kecil yang pandai bermain ombak dengan papan serfing. Di sisi lain pantai beberapa keluarga sedang bermain air mengisi liburan. Dan yang selalu ada adalah cerita-cerita dari si Aak.

view dari penginapan,, pas ada matahari yaaa
Menyusuri garis pantai di Pelabuhan Ratu ternyata membunuh waktu. Tak terasa matahari sudah berpindah posisi ke atas kepala. Ini bukan tujuan kami, ini hanya tempat transit. Kami harus melanjutkan perjalanan. Backpack sudah kembali disandang. Kami mulai kembali titik keberangkatan melalui Terminal Pelabuhan Ratu.

leyeh-leyeh di saung 

1 komentar:

Thank you for reading and leaving comment :)