Jumat, 27 Juli 2012

Menikmati Mimpi Yang Sedang Terjadi (week holiday)

Bermimpi, berimajinasi, berencana, kemudian berusaha mewujudkannya dalam kehidupan adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Kemudian, ketika mimpi itu sudah menjelma menjadi nyata dalam dunia kita, apa yang akan kita lakukan.

berjemur di pinggir pantai

Buat saya, jawabannya adalah menikmati mimpi. 
Saya kerap kali mengimajinasikan berada di tempat yang tenang, dikelilingi pantai pasir putih dengan anginnya yang sepoi-sepoi, nyiur melambai-lambai, dan tidak ada batasan waktu. Dan mimpi itu terlaksana sekarang, di Pantai Sawarna. Tempat menginap saya adalah salah satu tempat yang nyaman disini. Ruangan bersih, makanan selalu diantar saat saya kelaparan, deru ombak terdengar jelas di telinga, kalau ingin ke pantai tinggal lompat saja.
Tapi, rasanya sayang kalau saya hanya diam saja di penginapan. Saya ingin untuk menikmati mimpi saya lebih lagi. Berhubung tidak ada (orang lokal) yang bersedia menemani saya dan adek untuk jalan-jalan keliling desa, ya kami memutuskan untuk melakukan kegiatan indie. Maksudnya, jalan sendiri mengikuti intuisi. Intuisi saya nggak selalu bagus, jadi sekalian saya belajar mengasah intuisi saya. Hehe.

lewat ladang berwarna coklat musim gugur

Ketika perut sudah kenyang, saya dan adek melangkah menuju pasir pantai putih. Bermodal topi, kacamata hitam, dan sepatu karet, saya siap melangkah. Ternyata kami tidak hanya berdua. Kami dapat tiga teman lagi yang berniat jalan kaki menyusuri desa Sawarna. Berhubung tadi pagi saya dan adek sudah jalan susur pantai sampai ke pantai Tanjung Layar, Saya putuskan untuk melewati bukit dan persawahan. Tujuannya adalah Pantai Lagoon Pari. Ketiga teman baru setuju. Baiklah mari susur desa.

sawah-sawah dan komplek rumah penduduk di kejauhan

Pemandangan sekitar perjalanan adalah sawah-sawah yang barusan di panen dan kering. Ada pula ladang, kumpulan kerbau, dan tentu saja pantai dari kejauhan. Kami tinggal mengikuti jalan setapak yang menuju bukit. Ada kalanya kami bertemu dengan persimpangan jalan. Saya teringat pengalaman kemarin tentang orang lokal desa wisata yang membandrol semua jasa dengan uang. Tapi kalau tidak bertanya dan tersesat, lebih parah lagi. Bermodal nekat, kami beranikan bertanya pada orang lokal. Ternyata orang-orang yang kami tanya sepanjang jalan sangat ramah dan murah informasi. Bahkan ada bapak-bapak yang bersedia menemani kami berjalan beberapa meter untuk menunjukkan arah yang benar. 
Jalanan melalui bukit ini tidak mudah. Kami harus trekking naik dan turun beberapa kali. Makin jauh semak-semak dan pepohonannya semakin lebat. Jalannya pun makin mengecil. Orang-orang pun mulai berkurang. Hingga di sebuah persimpangan kami harus memutuskan belok mana tanpa ada satu orang pun yang bisa ditanya. Yah, modal arah mata angin dalam kepala dan feeling kami pilih jalan. Tapi, kok sepertinya malah menuju hutan nggak jelas ya. Di kejauhan ternyata ada bapak-bapak sedang bekerja di ladang. Kami bertanya lagi, dan di luar dugaan si bapak mengantar kami dengan motornya karena tahu kami tersesat. Si bapak tidak minta bayaran apapun, padahal jarak antarnya lumayan jauh dan kami mengganggu waktu kerjanya. Ternyata tidak semua orang lokal di sini pamrih terhadap uang. Bertemu dengan orang yang salah bisa mengakibatkan pemikiran yang salah.

lautnya di ujung!
jalan setapak

Setelah kira-kira satu jam berjalan, akhirnya kami bertemu dengan bibir pantai. Di ujung sana Pantai Lagoon Pari melambai-lambai memberikan ucapan selamat datang. Ah,, senangnya.
Akibat capek hasil jalan sekitar satu jam-an, saya langsung mendatangi tempat leyeh-leyeh berupa dipan dari bambu di pinggir pantai. Saya pilih menghabiskan waktu-waktu awal perjumpaan saya dengan Lagoon Pari dengan tidur-tidur ayam.


pemandangan ketika leyeh-leyeh cantik di dipan
pantai lagoon pari

Tapi tentu saja saya juga mencicipi nyebur ke air laut Lagoon Pari. Basah basah deh.
Karena saya kesana saat weekday, yang tampak di sana hanyalah nelayan yang baru pulang melaut. Saya sempat bantuin nelayan-nelayan itu mendorong kapal ke pantai. Ternyata berat yah. 
Kami juga sempat berbincang-bincang ringan. Saya juga sempat tergiur untuk menuju Pelabuhan Ratu menggunakan kapal. Sayang, kami cuma berdua. Untuk menyewa kapal dari Sawarna menuju Pelabuhan Ratu diperlukan 500 ribu rupiah. Tentu saja tidak worth it kalau hanya dibagi berdua. Mungkin suatu saat nanti. Saya kembali membuat mimpi baru.

gimana nggak tergoda lihat air sebiru ini
bantuin dorong

Matahari sudah bergerak beberapa derajat, perut mulai keroncongan, dan kerongkongan protes karena sedari tadi belum dialiri air. Di pantai sepi ini tidak ada penjual minuman. Padahal kami tidak persiapan bawa air. Kami harus balik ke penginapan.
Berdasar informasi dari orang lokal tadi, kami bisa pulang melewati kampung penduduk. Saya dan adik mau coba option itu. Sekalian mau berfoto di jembatan gantung karena pada saat datang belum berfoto. Ketiga teman tadi mau pilih cara susur pantai. Kami pun berpisah.

jalanan yang fotogenic
teman baru

Jalanan lewat kampung penduduk ternyata lebih lebar. Jalanannya terbuat dari batu putih. Ternyata kami bertemu dengan jembatan gantung yang lain. Memasuki kampung penduduk, beberapa penduduk ramah menyapa. Seorang bapak yang kami tanya arah, menawarkan untuk mengantar ke penginapan. Kami menolak, karena berdasar informasi dari ibu penginapan, naik ojek dari Lagoon Pari ke penginapan ongkosnya 70 ribu rupiah. Kami masih sanggup jalan. Sampai di tengah jalan, si bapak dengan motornya masih menawarkan untuk mengantar. Kami menolak dengan halus. Si bapak sampai bilang, tidak perlu bayar. Kami pilih jalan saja lah. Ya ampun, bertemu dengan orang yang salah mengakibatkan pemikiran yang salah. Di Desa Sawarna masih banyak orang yang baik dan tulus membantu.

jembatan gantung kampung penduduk (warnanya otentik)
Jalanan menuju penginapan bukan jalan yang susah. Tinggal mengikuti jalan, sampailah kami ke jembatan gantung bercat kuning yang menandakan kawasan homestay sawarna. Di dekat jembatan gantung ada rumah bapak pembuat gitar akustik yang terkenal. Konon karyanya diminati seniman Ebiet dan banyak seniman lain. Saya pingin mengintip ke dalam rumahnya, tapi rupanya rumahnya sangat sepi. Mungkin si bapak sedang istirahat dan saya nggak berani ganggu.

mukanya kembali cerah karena bertemu minuman kaleng dingin
Di sungai bawah jembatan gantung rupanya sedang ramai menjala ikan. Bapak-bapak menawari kami untuk ikut menjala ikan. Saya pilih lihat dari atas saya lah. 
Akhirnya sampai juga kami ke penginapan. Si ibu sudah membawa makan siang dan kami siap untuk makan. Nyam nyam. 
kapal bernama lintang :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)