Rabu, 11 Juli 2012

Di Timur Matahari

Papua. Kata yang terlintas di kepalaku adalah hitam, hijau, dan merah.


Belakangan ketika mendengar kata Papua, saya teringat tentang dua hal; Raja Ampat yang membuat penasaran dan di lain sisi pertikaian yang masih terjadi di sana-sini. Bila mendengar berita di tv, kabar yang sering beredar adalah perang antar suku, pertikaian warga dan aparat, penembakan, dan keinginan merdeka. Rakyat Papua di lain sisi, tidak dapat menikmati kekayaan buminya karena permainan sistem penguasa. Nampaknya tanah super kaya yang keindahan alam tak terkira ini menjadi tempat kurang nyaman untuk dihuni. 
Saya, yang cuma rakyat jelata dari NKRI, yang merasa Papua juga bagian dari NKRI, merasa tidak bisa berbuat banyak untuk Papua. Ya, saya cuma bisa apa to. Yang mampu bikin ini itu kan yang punya kuasa. Tapi,,, pemikiran seperti itu nampaknya sudah basi sekarang ini. Alenia lewat filmnya Di Timur Matahari bercerita.
Alenia memang hanya pembuat film, tapi lewat film itu dia bisa bercerita dan berbagi. Mereka bercerita tentang keindahan Papua, alamnya, masyarakatnya, adatnya. Mereka bertutur tentang adat Papua yang masih mengerikan (memotong jari sebagai peringatan anggota keluarga yang sudah meninggal, hukum adat yang menganjurkan membayar sekian milyar untuk anggota keluarga yang meninggal, atau penyelesaian masalah dengan jalan perang sampai mati). Mereka juga bercerita tentang harapan yang sangat tinggi di Papua (anak mudanya yang pintar dan mampu bekerja dan sukses di luar Papua, suara nyanyian indah anak-anak Papua, kemampuan berolah raga masyarakat Papua, dan keinginan untuk belajar). 
Lewat film Di Timur Matahari, Alenia berbagi, lakukan apa yang bisa kamu lakukan untuk bangsa ini. Alenia mahir membuat film dan mereka membuat film bagus.
Saya bangga jadi orang Indonesia yang boleh menikmati film bagus Di Timur Matahari. Saudaraku di Papua, kita Indonesia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)