Selasa, 31 Juli 2012

What Are You Looking For? (week holiday)

What are you looking for from a trip. Some looking for some pride about the places. Some looking for prove about their selves. Some looking for some friends. Some looking for experiences. Some looking for good pictures. Some looking for some stories. 
For me, trip is God's message. My every trip always remind me that God is really kind on me. And every time I in my life, for me is a trip with God. Yes, I know that God always by my side.

trip = menu list
choose what you want to enjoy, so many choices

trip = your food
pick your favorite, pick what you want to fill into your body, wisely

trip = enjoyable moment
even some chill taste, it makes the taste better and mix into the main taste dish

trip = sweet stories to share
share the experiences and memories, share the happines

it gonna be good if you wanna make it good
@dinilint

Those pictures are taken in Warung Pasta, Dago, Bandung

Senin, 30 Juli 2012

Bandung, Aku Nitip Barang (week holiday)

Setelah menikmati alam pedesaan, kangen juga sama hiruk-pikuk perkotaan. Harga yang yang harus dibayar adalah duduk seharian di duduk di dalam bus tanpa kepanasan. Sesekali mesti bersabar sama kemacetan. Dan akhirnya bisa berkata girang, Bandung, aku datang!!


Kedatangan kami di Bandung disambut dengan hujan tanpa aba-aba. Dari suasana yang panas, tiba-tiba datang hujan. Hujannya pas kami sampe di Terminal Leuwi Panjang, pas ketika kami barusan turun dari bus, dan hujannya berhenti ketika kami sudah duduk manis di Damri yang akan membawa kami ke Stasiun Bandung. Bener-bener ucapan selamat datang.


Tujuan pertama adalah meletakkan backpack kami ke tempat aman. Ini perjalanan di kota, dan kami mau sedikit gaya tanpa ransel :D. Setelah googling sana sini, ternyata di Stasiun Bandung ada penitipan barang.
Sampai di Stasiun Bandung dan celingak-celinguk sana-sini, kami tidak menemukan tulisan penitipan barang. Ketika sedang bingung, melintas mamang2 berseragam bertuliskan Stasiun Bandung. Pas banget. Kami tanya si mamang. Untuk menitipkan barang di Stasiun Bandung, si mamang memberikan instruksi seperti ini:
  1.  sebaiknya kamu punya tiket kereta untuk masuk stasiun. Berhubung kami nggak punya tiket dan tidak berencana naik kereta sore itu, si mamang kasih tips. Beli tiket kereta termurah di Stasiun Bandung yang harganya Rp.1000,- yaitu tiket menuju Padalarang. (saya sempat kaget nemu tiket kereta yang lebih murah dari tiket peron)
  2. ikut langkah si mamang, masuk ke dalam stasiun
  3. ikut langkah si mamang, keluar stasiun. Iya, ternyata penitipan barangnya ada di sisi yang berbeda
  4. Sewa loker dan titipin deh backpack

Berhubung kami sampai di tempat penitipan barang stasiun bandung jam 5 sore dan penitipan barang tutup jam 7.30 malam, kami putuskan untuk menitipkan barang sampai besok sore. Pertimbangannya adalah, kalo mesti balik lagi makan waktu dan percuma aja nitipin barang. Besok juga kami akan kembali ke stasiun ini karena berencana melanjutkan perjalanan naik kereta. Kami nginep di rumah teman kali ini dan teman saya yang baik ini sedang ada urusan sampai malam. Saya menghabiskan waktu untuk keliling2 Dago sambil tunggu dia selesai urusan dan jalan bareng ke rumahnya yang nyaman di pinggiran Bandung.


Urusan backpack gede beres. Kami tinggal melenggang. Yipie. 
Tapi berhubung semua perlengkapan di backpack, jadi kami terpaksa nggak mandi dan mesti cari baju bersih. Ini kan Bandung yang dingin dan pusat FO yak. *alesan :P

---- Info terbaru dari perjalanan saya ke Bandung September 2015 ----
Penitipan barang sekarang sudah gabung jadi satu dengan tourist information center di bagian Hall Stasiun Bandung. Sayangnya, tourist information center hanya buka sampe jam 16.30,, jadi penitipan barang yang sifatnya hanya fungsi titipan juga hanya bisa melayani sampe sore saja.
Kemaren saya nitip ke tukang ojek yang mangkal di depan stasiun Bandung. Kebetulan tukang ojeknya punya kosan di depan Stasiun Bandung. Untuk harga silakan nego sendiri.

Semoga infonya berguna :)
@dinilint

Minggu, 29 Juli 2012

Pagi di Desa Sawarna. Saatnya Berpindah (week holiday)

Layaknya manusia yang berpasang-pasangan, seperti halnya pertemuan yang selalu berpasangan dengan perpisahan, kedatangan yang berpasangan dengan kepergian. Kali ini aku melunasi kedatanganku di desa ini dengan kepergian.


Malam itu aku memaksa diriku untuk mengepak barang-barangku dalam ransel. Melakukan packing adalah hal paling malas yang harus kulakukan. Padahal aku beberapa kali bepergian dan packing adalah hal wajib yang harus dilakukan. Setelah dengan setengah hati berhasil memasukkan setengah barang dalam ransel (separuhnya lagi kurasa masih dibutuhkan untuk kebutuhan sampai pagi nanti), aku memaksa diriku untuk tidur dan berpindah ke alam mimpi. Sebenarnya aku belum merasa ngantuk. Tapi jika ingin terjaga, aku mau apa. Novel Utukki yang menemaniku dalam perjalanan ini sudah habis kubaca, televisi menayangkan siaran yang membosankan, di luar hanya ada gelap yang pekat. Lagipula besok perjalanan kami harus dimulai jam 7 pagi. Berarti mau tidak mau aku harus bangun pagi kalau tidak mau ketinggalan elf.


Bersyukur aku bukan orang yang kesulitan memulai tidur. Asal ada kasur, selimut, dan niat untuk merem, pasti badan ini mudah terbang ke alam mimpi. Badan ini ternyata punya alarm tubuh tersendiri. Tanpa diganggu oleh alarm handphone, aku sudah terbangun. Sempat tidur lagi sebentar akibat melirik arloji masih berkata 'ini jam setengah 5 pagi'. Kira-kira pukul 5, sambil kedinginan, aku memaksa tubuhku mandi. Setelah membereskan badan dan barang bawaan, saatnya untuk persiapan pulang.


Si ibu datang pagi-pagi membawa sarapan. Bonus pisang goreng yang panas dan enak serta teh manis hangat. Berhubung perut kekenyangan dan masih ingin pisang goreng, kami niat membawa pisang goreng sebagai bekal perjalanan.


Pukul tujuh tepat, kami sudah sampai di jembatan gantung dan bertemu dengan elf hitam. Saatnya pulang, meninggalkan desa sawarna. 


Perjalanan melalui jalanan yang meliuk-liuk dan terjal kembali kami lalui. Di beberapa titik, elf berhenti untuk mengangkut penduduk desa yang ikut dalam perjalanan menuju Pelabuhan Ratu. Ada anak sekolah, ada ibu-ibu yang mau berbelanja kebutuhan, ada balita yang mau vaksin di puskesmas, ada pula bapak-bapak, dan tentu saja ada kami berdua yang sedang travelling.
Dua jam sudah, dan kami berhasil melampaui sawarna. Saatnya berpindah lagi.
 
suasana pagi desa sawarna
@dinilint

Sabtu, 28 Juli 2012

crépuscule. Abenddämmerung. σούρουπο. 황혼. takipsilim. dusk. senja (week holiday)

The time when the sun goes down to the earth is the time when we mused about the day. About what we have done. About what the plan after. And it's always reminds me that live is going. So just do the life lively.












Ditemani novel Utukki karya Clara Ng, saya menikmati sore terakhir di Desa Sawarna sembari leyeh-leyeh di atas pasir putihnya yang lembut. Beberapa bule datang melintas, dari yang sekedar berfoto dengan matahari senja, mandi di air laut, atau menikmati beberapa kaleng bir di saung. Wisatawan lokalnya malah pulang duluan. 
Beberapa momen bersama matahari berwarna keemasan berhasil saya abadikan dengan kamera handphone kesayangan. Terima kasih Tuhan.

Jumat, 27 Juli 2012

Menikmati Mimpi Yang Sedang Terjadi (week holiday)

Bermimpi, berimajinasi, berencana, kemudian berusaha mewujudkannya dalam kehidupan adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Kemudian, ketika mimpi itu sudah menjelma menjadi nyata dalam dunia kita, apa yang akan kita lakukan.

berjemur di pinggir pantai

Buat saya, jawabannya adalah menikmati mimpi. 
Saya kerap kali mengimajinasikan berada di tempat yang tenang, dikelilingi pantai pasir putih dengan anginnya yang sepoi-sepoi, nyiur melambai-lambai, dan tidak ada batasan waktu. Dan mimpi itu terlaksana sekarang, di Pantai Sawarna. Tempat menginap saya adalah salah satu tempat yang nyaman disini. Ruangan bersih, makanan selalu diantar saat saya kelaparan, deru ombak terdengar jelas di telinga, kalau ingin ke pantai tinggal lompat saja.
Tapi, rasanya sayang kalau saya hanya diam saja di penginapan. Saya ingin untuk menikmati mimpi saya lebih lagi. Berhubung tidak ada (orang lokal) yang bersedia menemani saya dan adek untuk jalan-jalan keliling desa, ya kami memutuskan untuk melakukan kegiatan indie. Maksudnya, jalan sendiri mengikuti intuisi. Intuisi saya nggak selalu bagus, jadi sekalian saya belajar mengasah intuisi saya. Hehe.

lewat ladang berwarna coklat musim gugur

Ketika perut sudah kenyang, saya dan adek melangkah menuju pasir pantai putih. Bermodal topi, kacamata hitam, dan sepatu karet, saya siap melangkah. Ternyata kami tidak hanya berdua. Kami dapat tiga teman lagi yang berniat jalan kaki menyusuri desa Sawarna. Berhubung tadi pagi saya dan adek sudah jalan susur pantai sampai ke pantai Tanjung Layar, Saya putuskan untuk melewati bukit dan persawahan. Tujuannya adalah Pantai Lagoon Pari. Ketiga teman baru setuju. Baiklah mari susur desa.

sawah-sawah dan komplek rumah penduduk di kejauhan

Pemandangan sekitar perjalanan adalah sawah-sawah yang barusan di panen dan kering. Ada pula ladang, kumpulan kerbau, dan tentu saja pantai dari kejauhan. Kami tinggal mengikuti jalan setapak yang menuju bukit. Ada kalanya kami bertemu dengan persimpangan jalan. Saya teringat pengalaman kemarin tentang orang lokal desa wisata yang membandrol semua jasa dengan uang. Tapi kalau tidak bertanya dan tersesat, lebih parah lagi. Bermodal nekat, kami beranikan bertanya pada orang lokal. Ternyata orang-orang yang kami tanya sepanjang jalan sangat ramah dan murah informasi. Bahkan ada bapak-bapak yang bersedia menemani kami berjalan beberapa meter untuk menunjukkan arah yang benar. 
Jalanan melalui bukit ini tidak mudah. Kami harus trekking naik dan turun beberapa kali. Makin jauh semak-semak dan pepohonannya semakin lebat. Jalannya pun makin mengecil. Orang-orang pun mulai berkurang. Hingga di sebuah persimpangan kami harus memutuskan belok mana tanpa ada satu orang pun yang bisa ditanya. Yah, modal arah mata angin dalam kepala dan feeling kami pilih jalan. Tapi, kok sepertinya malah menuju hutan nggak jelas ya. Di kejauhan ternyata ada bapak-bapak sedang bekerja di ladang. Kami bertanya lagi, dan di luar dugaan si bapak mengantar kami dengan motornya karena tahu kami tersesat. Si bapak tidak minta bayaran apapun, padahal jarak antarnya lumayan jauh dan kami mengganggu waktu kerjanya. Ternyata tidak semua orang lokal di sini pamrih terhadap uang. Bertemu dengan orang yang salah bisa mengakibatkan pemikiran yang salah.

lautnya di ujung!
jalan setapak

Setelah kira-kira satu jam berjalan, akhirnya kami bertemu dengan bibir pantai. Di ujung sana Pantai Lagoon Pari melambai-lambai memberikan ucapan selamat datang. Ah,, senangnya.
Akibat capek hasil jalan sekitar satu jam-an, saya langsung mendatangi tempat leyeh-leyeh berupa dipan dari bambu di pinggir pantai. Saya pilih menghabiskan waktu-waktu awal perjumpaan saya dengan Lagoon Pari dengan tidur-tidur ayam.


pemandangan ketika leyeh-leyeh cantik di dipan
pantai lagoon pari

Tapi tentu saja saya juga mencicipi nyebur ke air laut Lagoon Pari. Basah basah deh.
Karena saya kesana saat weekday, yang tampak di sana hanyalah nelayan yang baru pulang melaut. Saya sempat bantuin nelayan-nelayan itu mendorong kapal ke pantai. Ternyata berat yah. 
Kami juga sempat berbincang-bincang ringan. Saya juga sempat tergiur untuk menuju Pelabuhan Ratu menggunakan kapal. Sayang, kami cuma berdua. Untuk menyewa kapal dari Sawarna menuju Pelabuhan Ratu diperlukan 500 ribu rupiah. Tentu saja tidak worth it kalau hanya dibagi berdua. Mungkin suatu saat nanti. Saya kembali membuat mimpi baru.

gimana nggak tergoda lihat air sebiru ini
bantuin dorong

Matahari sudah bergerak beberapa derajat, perut mulai keroncongan, dan kerongkongan protes karena sedari tadi belum dialiri air. Di pantai sepi ini tidak ada penjual minuman. Padahal kami tidak persiapan bawa air. Kami harus balik ke penginapan.
Berdasar informasi dari orang lokal tadi, kami bisa pulang melewati kampung penduduk. Saya dan adik mau coba option itu. Sekalian mau berfoto di jembatan gantung karena pada saat datang belum berfoto. Ketiga teman tadi mau pilih cara susur pantai. Kami pun berpisah.

jalanan yang fotogenic
teman baru

Jalanan lewat kampung penduduk ternyata lebih lebar. Jalanannya terbuat dari batu putih. Ternyata kami bertemu dengan jembatan gantung yang lain. Memasuki kampung penduduk, beberapa penduduk ramah menyapa. Seorang bapak yang kami tanya arah, menawarkan untuk mengantar ke penginapan. Kami menolak, karena berdasar informasi dari ibu penginapan, naik ojek dari Lagoon Pari ke penginapan ongkosnya 70 ribu rupiah. Kami masih sanggup jalan. Sampai di tengah jalan, si bapak dengan motornya masih menawarkan untuk mengantar. Kami menolak dengan halus. Si bapak sampai bilang, tidak perlu bayar. Kami pilih jalan saja lah. Ya ampun, bertemu dengan orang yang salah mengakibatkan pemikiran yang salah. Di Desa Sawarna masih banyak orang yang baik dan tulus membantu.

jembatan gantung kampung penduduk (warnanya otentik)
Jalanan menuju penginapan bukan jalan yang susah. Tinggal mengikuti jalan, sampailah kami ke jembatan gantung bercat kuning yang menandakan kawasan homestay sawarna. Di dekat jembatan gantung ada rumah bapak pembuat gitar akustik yang terkenal. Konon karyanya diminati seniman Ebiet dan banyak seniman lain. Saya pingin mengintip ke dalam rumahnya, tapi rupanya rumahnya sangat sepi. Mungkin si bapak sedang istirahat dan saya nggak berani ganggu.

mukanya kembali cerah karena bertemu minuman kaleng dingin
Di sungai bawah jembatan gantung rupanya sedang ramai menjala ikan. Bapak-bapak menawari kami untuk ikut menjala ikan. Saya pilih lihat dari atas saya lah. 
Akhirnya sampai juga kami ke penginapan. Si ibu sudah membawa makan siang dan kami siap untuk makan. Nyam nyam. 
kapal bernama lintang :)

Rabu, 25 Juli 2012

Kemana Kaki Melangkah (week holiday)

Bangun disambut udara pagi yang segar, diiringi kicauan burung dan suara ombak yang bersahut-sahutan. Berjalan keluar kamar dan disambut lukisan laut luas dan pantai pasir putih serta gradasi warna kuning kemerahan tanda matahari terbit. Ah,, liburan impian di depan mata. Senangnya. Terima kasih Tuhan.



Saya (S) : di sini ada berapa pantai buk?
Ibuk2 (I) : banyak mbak
S : berapa?
I : mau main2 kesana?
S : iya
I : nanti saya kenalin sodara saya ya. dia biasa nganter wisatawan
S : nggak bisa jalan sendiri ya buk?
I : mendingan ada yang antar ya. Biasanya sih turis kalo kesini pake guide
S : emang jalannya susah ya buk?
I : nanti saya ajak sodara saya ke mbak aja ya. Ngomong sendiri


Bapak2 (B) : mbak mau lihat sunrise? disini yang terkenal lihat sunrise di Lagoon Pari trus jalan ke Gua Lalay
Saya (S): berapa?
B : ya,, biasanya mau banyak mau sedikit 50,000
S : itu semua lokasi?
B : 50,000 satu lokasi aja
S : berarti kalo pengen ke 7 lokasi mesti bayar 7 kali 50,000??
B : angguk2
S : pikir2 dulu deh


Inilah ribetnya kalo sebuah desa sudah tanggap jadi desa wisata. Sepertinya semua servis menjadi duit di mata penduduknya. Nggak papa sih, tapi saya jadi kangen maen ke desa sodara trus dikasih tau begini-begitu, dan nggak pake embel-embel duit.
Andai jalan rame2 pasti harga yang dikeluarkan untuk bayar guide nggak segede kalo jalan berdua doang. Pas tanya sama si ibuk pemilik penginapan, dia saranin untuk pake guide karena di sini jarak antar objek wisatanya berjauhan dan kalo belum pernah ke sana, lebih baik ada temennya. Tapi jeleknya si ibu nggak kasih petunjuk arah atau gimana. Nggak ada info sedikit pun. Misal, ikutin jalan setapak, naik ke bukit, lewatin hutan, sekitar 15menit ketemu pantai. Tapi yang dikasih info blank dan embel2 harga. Sepertinya emang udah di plot untuk memanfaatkan turis semaksimal mungkin. Mau ke sini dikit duit, kesana dikit, duit. Hmffff,,,,
Jengkel,, sebel,, kesal,,. Tapi udah terlanjur di sini, dan harus dimanfaatkan. Berhubung kami niat menggelandang, nggak pake plot2an lah. Pagi itu, ketika kaki mulai gatel dan tubuh sudah niat gerak, kami mengikuti jalan setapak. Nikmatnya jalan berdua dan nggak diatur2, suka nemu pengalaman seru. Akibat membiarkan kaki berjalan ngikuti jalan setapak, kami dapat spot-spot ini, termasuk juga spot sunrise (yang seringnya didapat di pantai lagoon pari, kami dapat di saung deket pantai karang-karang).