Minggu, 13 Mei 2012

Memaknai Waisak di Borobudur

Melihat seribu lampion beterbangan di langit malam pikir saya hanyalah angan-angan imajinasi saja, tapi ternyata setiap tahun lampion-lampion itu terbang membawa harapan yang dilepaskan di langit, tak jauh dari tempat saya menghabiskan hari, Borobudur pada hari Waisak.


Jadi Waisak tahun ini saya sudah memohon pada Tuhan untuk menikmatinya di Borobudur. Semua orang pasti tahu Borobudur, salah satu warisan budaya dunia yang sudah ditetapkan oleh Unesco. Borobudur adalah candi Budha, jadi semua umat Budha di dunia akan merayakan Waisak di Borobudur. Ritual sudah dilakukan sejak  beberapa hari sebelumnya, mulai dari pengambilan api abadi di Mrapen dan pengambilan air suci dari Umbul Jumprit. Pada hari Waisak, mulai pagi ritual sudah dilakukan, mulai dari detik-detik waisak, prosesi arak-arakan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, ritual di tenda masing-masing majelis. Hingga malam hari, ritual di panggung utama, pradaksina (berjalan mengelilingi candi sebanyak 3x), hingga acara puncak pelepasan lampion.

Demi menikmati waisak, saya sudah booking hostel di area Borobudur. Banyak hostel, hotel, dan penginapan di sekitar Borobudur, namun semua sudah fully booked. Beruntung saya masih mendapatkan satu. Saya tiba di hostel pada pagi hari. Setelah mandi dan beberes, saya menuju kompleks candi dan menanyakan informasi. Ternyata khusus hari waisak ini, tiket masuk candi bisa menjadi tiket terusan, jadi kita bisa keluar kemudian masuk lagi ke candi dengan menunjukkan potongan tiket. Mengingat jadwal acara waisak yang panjang, tentu saja ini menyenangkan.


Berkali-kali saya mengunjungi Candi Borobudur, baru kali ini saya habiskan waktu seharian di candi, yang ternyata menyenangkan. Saya bisa menonton film tentang Borobudur karya Garin Nugroho. Saya bisa sewa sepeda dan berputar-putar di kompleks candi yang sangat luas. Ketika capek, saya bisa pilih naik kereta untuk berkeliling candi. Bisa juga naik delman berkeliling kompleks. Saya juga menikmati duduk-duduk di area joglo Museum Borobudur yang terletak di dalam kompleks candi sambil menikmati permainan karawitan yang dibawakan secara live. Belajar mengenai Candi Borobudur dengan memasuki bangunan museum. Ada pula bukit Dagi yang biasa menggelar pameran kesenian, masih di kompleks candi. Banyak pula yang memilih untuk leyeh-leyeh di bawah pohon rindang sambil menikmati pijatan penghilang lelah.



Tentu saja saya tidak melewatkan naik ke monumen sampai ke atas dan mengagumi relief-relief di dindingnya. Pertanyaan tentang pembuatan candi, bagaiamana mereka membawa batu besar ke bukit, apakah mereka memahat batu sebelum atau sesudah batu tersusun, kembali datang di kepala saya dan belum terjawab. 
Meskipun saat itu hujan, tetap banyak wisatawan bermantel warna-warni yang memadati monumen. Namun, karena ini adalah hari waisak, kami tidak boleh menapaki candi di bagian barat.
Sayang sekali, akibat salah timing, saya tidak bertemu dengan arak-arakan dari Candi Mendut yang menggelar prosesi sampai ke atas monumen. Saya pun cukup puas mengamati tiap ritual yang dilaksanakan di masing-masing tenda majelis. Berbagai macam cara, namun tetap satu tujuan.




Menjelang malam, saya kembali lagi ke kompleks Borobudur untuk mengikuti ritual dan pelepasan lampion yang saya nanti-nantikan. Tidak seperti perjalanan saya tadi siang, kali ini saya boleh bawa mobil melewati pintu 8, yaitu pintu dari Hotel Manohara. Acara ini terbuka untuk umum, sehingga banyak sekali orang di sana. Baik umat maupun wisatawan dan fotografer menjadi satu di sana. Meskipun ramai, namun saya senang melihat ketenangan umat yang tetap khusyuk melaksanakan ritual tanpa terlihat terganggu dengan keributan wisatawan. Saya juga belajar tentang keterbukaan umat Budha, yang secara tidak langsung berkata, kita semua makhluk Tuhan, siapa pun boleh ikut bergabung tanpa pembedaan, ritual adalah urusan pribadi dengan Sang Empunya Hidup.


Setelah ritual, saya mengikuti ribuan orang melakukan pradaksina sambil membawa lilin. Lilin-lilin itu kemudian diletakkan ketika telah selesai mengitari candi sebanyak 3kali. Dan yang ditunggu-tunggu datang. Saatnya melepaskan harapan ke udara. Ditemani cahaya bulan yang utuh malam itu, ribuan lampion dilepaskan ke angkasa sambil membawa harapan. 
Saya teringat kata seorang Banthe saat ritual, "Selain bertanya apa kabar, tanyakan apa perbuatan baik yang sudah kamu lakukan hari ini?"
Saya pulang tidak hanya dengan kepuasan karena menemukan mimpi saya dengan ribuan lampion di udara, tapi juga ada nilai hidup yang saya dapat hari itu. #thankGod

3 komentar:

  1. ah, sudah lama sekali saya gak maen ke borobudur, dulu waktu kecil sering ikut study tour sekolahan ibuk saya, tapi pas waisak sambil mode backpacking sih belom pernah sama sekali T_T

    BalasHapus
  2. pd saat waisak apakah bisa keluar masuk area borobudur seperti untuk istirahat di hostel gitu?
    th kmrn acara berakhir sampai jam brp?
    thx ya infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai Joshua,,, ini sebenernya info rancu. Tahun kemaren sy dapat dua sumber, sama2 orang borobudur, yg satu bilang boleh, yg lain bilang nggak boleh. Perayaannya kan seharian. Dari pagi saya uda nongkrong di boro. Rencana ya mau istirahat gitu. Ternyata saya keasikan seharian di boro, dan nggak butuh balik hostel. Nah,, yg malemnya tempat upacara pelepasan lampion, masuknya dari pintu yg berbeda, beda dg pintu masuk biasa kita masuk boro di pagi-sore hari. Itu masuknya gratis. Tahun kemaren nggak sampe tengah malam kok. Acara puncak saat pelepasan lampion, make a wish

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)