Senin, 28 Mei 2012

Eiffel for You

Entah mengapa kamu tergila-gila pada Prancis, salah satu kotanya yang cantik Paris, dan Menara Eiffel


Entah mengapa kamu tergila-gila pada Prancis, salah satu kotanya yang cantik Paris, dan Menara Eiffel. Jadi saya imajinasikan Eiffel di kepala saya, dan mewujudkannya di sehelai kain favorit saya. Hari ini saya berhasil mewujudkan Eiffel di bantal, hari berikutnya saya pasti berhasil mewujudkan Eiffel pada kehidupan saya.




Senin, 21 Mei 2012

Lumpia oh Lumpia

Ketika saya berada jauh dari Semarang saya suka kangen banget sama makanan di Semarang. Salah satunya lumpia.
Sama si lumpia ini, meskipun saya masih di Semarang dan lama nggak makan lumpia, tetep bikin kangen loh.


Tapi sayang, beberapa hari kemaren saya punya pengalaman buruk sama lumpia. Demi kepraktisan parkir mobil dan rute jalan, saya memilih beli lumpia asal di salah satu toko oleh-oleh sepanjang Jalan Pandanaran. Saya pikir, rasanya pasti nggak jauh beda, rebung yang dibungkus kulit lumpia plus cabe rawit. Ternyata saya salah sodara, hari itu saya kangen lumpia-lumpia favorit yang emang maknyus;

  • Lumpia Gang Lombok; lumpia ini bisa ditemukan di daerah pecinan. Toko kecil dengan dua meja panjang. Ini lumpia paling enak. Harganya juga paling ciamik. Sepuluh ribu rupiah untuk satu lumpia.
  • Lumpia Mataram; kalo bawain oleh-oleh ato anter sodara yang mau bawa lumpia saya suka anterin ke jalan mataram, gerobak yang deket toko roti sanitas, yg ada warna ijo-ijonya. Ati-ati, banyak banget tiruannya, kalo nggak biasa makan ya, nggak ngerti kok kalo misalnya salah beli sama yang palsu. Tapi tetep, yang asli lebih enak.
  • Lumpia Express; untuk memudahkan traveller, ada gerai lumpia yang dibangun mirip cafe di Jalan Gajahmada. Katanya ini turunannya lumpia mataram.
  • Lumpia Mbak Lin; nemu pas jalan-jalan di Jalan Pemuda. Letaknya dekat dengan Toko Oen. Bentuknya kios nyempil di gang kecil. Yang ini enak nih. Makan sore-sore sambil temu kangen.
  • Lumpia vegetarian. Berhubung keluarga saya banyak yang vegetarian dan tetep kangen makan lumpia, ditemukanlah makanan spesial ini. Rasanya nggak kalah lho sama yang campur udang & telur. Yang paling yummy lumpia vegetarian bikinan Haha Vegetarian Resto di Jalan Seteran Serut.
Selamat makan lumpia :D

*yak,, makan. Bukan ngemil. Buat saya satu lumpia semarang itu mengenyangkan.

Selasa, 15 Mei 2012

Menyambut Datangnya Matahari di Punthuk Setumbu

Satu hal yang selalu konsisten sepanjang hidup saya adalah kesetiaan matahari untuk menyapa saya di pagi hari. Senangnya hidup di khatulistiwa. Dan pagi ini saya mau gantian menyambut matahari yang selalu setia tiap pagi. Saya mau menyambut matahari :)


Saya sudah siapkan alarm dan badan saya untuk bersiap bangun jam 4 pagi. Jarak 4km dari penginapan dekat pintu 8 Borobudur dan kemampuan otak yang minim untuk mengingat jalan dan disorientasi peta serta nekat nggak cari guide adalah alasan mesti bangun pagi, selain nggak mau keduluan sang matahari.

Setelah cuci muka ala kadarnya, packing barang yang nggak di unpacking, dan memanggil badan yang masih setengah tertidur, saya tancap gas. Berbekal peta oret-oretan dari mas resepsionis, saya sok tau memacu mobil ke arah Bukit Menoreh. Niat awalnya mau ke Puncak Suroloyo karena pertimbangan ada tangganya, biar nggak terlalu capek. 
Pas mengikuti petunjuk peta oret-oretan, di tengah jalan kami bertanya pada seorang bapak pensiunan yang sedang lari pagi. Beliau bersaran kalau kami harus putar arah. Mengikuti saran si bapak, kami pun putar arah dan malah kembali ke titik semula. Sempat bertemu dengan bapak-bapak yang ngeyel mau nganterin lihat sunrise, tapi nggak jelas *feeling traveller. Demi meninggalkan si bapak ngeyel, kami jalan ke arah pasar Borobudur dan bertemu kerumunan orang. Daripada kehilangan momen, jadi kami tanya. Dan kami nyerah dengan tawaran seorang bapak yang mau antar kami ke Punthuk Setumbu demi kejar waktu. Baiklah.

Agak sedikit ngepot, saya nyetir ngikutin motor si bapak. Rada susah juga, soalnya nggak bisa nyalip kaya bawa motor. Tapi acara ngepot berlangsung mulus, kami sampai parkiran dengan selamat. Parkirannya ini di masjid kecil dan jalan ke arah Punthuk Setumbu itu mirip gang kecil. Beneran butuh bantuan pemandu nih.

Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Ya kira-kira 1km jalanan menanjak dan licin akibat hujan semalam mesti ditaklukkan. Lumayan menguras tenaga dan bikin laper. Apalagi saya ajak ibu buat,, bukan, ibu yang mau ikut saya dalam trip kali ini. Beruntung ada guide, saya jadi duluan jalannya. Hehe,, maaf ibu.

Bangun super pagi, nyetir dengan setengah nyawa, tanya sana-sini, dan jalan naik 1km tanpa henti terbayar sudah. 
Di kejauhan Gunung Merapi dan Merbabu seperti merentangkan tangannya sambil menyapa, selamat pagi. Tak lama kemudian muncul bola kuning ke atas langit. Persis gambaran masa SD, dua gunung dan matahari di tengah. Langit yang tadinya gelap dan berbulan perlahan-lahan berubah warna menjadi biru cerah dengan lingakaran penuh berwarna kuning kemerahan. Saya juga bisa melihat Borobudur yang megah di antara kabut dan pepohonan. Ini luar biasa.



Keindahan yang ditawarkan Punthuk Setumbu dan Borobudur belum berhenti. Mereka masih mengantarkan kami dengan pesonanya sepanjang perjalanan pulang. Beruntunglah kami bertemu si bapak baik hati yang menawarkan mengantarkan kami melewati jalanan yang berbeda dari jalan berangkat. Kata si bapak, supaya kalian kenal dengan Borobudur dan desa-desanya. Jadilah kami melewati jalan kecil yang mulai ramai dengan aktivitas pagi hari warganya, sawah menghijau dengan background gunung (saya lupa namanya), dan desa wisata dari mulai yang memproduksi gerabah sampai tahu. 
Terima kasih Tuhan.


*Psst,,, pagi itu kami beruntung. Pagi sebelumnya ada sekitar 200an orang di Punthuk Setumbu sehingga sulit menikmati sunrise. Dan pagi itu kabut tidak tampak sehingga saya boleh melihat bulatan penuh sang matahari dari balik gunung. Satu lagi, ketika saya menikmati sunrise posisi matahari sedang persis di tengah gunung, kalau menikmati di bulan lain posisi matahari berubah.

Minggu, 13 Mei 2012

Memaknai Waisak di Borobudur

Melihat seribu lampion beterbangan di langit malam pikir saya hanyalah angan-angan imajinasi saja, tapi ternyata setiap tahun lampion-lampion itu terbang membawa harapan yang dilepaskan di langit, tak jauh dari tempat saya menghabiskan hari, Borobudur pada hari Waisak.


Jadi Waisak tahun ini saya sudah memohon pada Tuhan untuk menikmatinya di Borobudur. Semua orang pasti tahu Borobudur, salah satu warisan budaya dunia yang sudah ditetapkan oleh Unesco. Borobudur adalah candi Budha, jadi semua umat Budha di dunia akan merayakan Waisak di Borobudur. Ritual sudah dilakukan sejak  beberapa hari sebelumnya, mulai dari pengambilan api abadi di Mrapen dan pengambilan air suci dari Umbul Jumprit. Pada hari Waisak, mulai pagi ritual sudah dilakukan, mulai dari detik-detik waisak, prosesi arak-arakan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, ritual di tenda masing-masing majelis. Hingga malam hari, ritual di panggung utama, pradaksina (berjalan mengelilingi candi sebanyak 3x), hingga acara puncak pelepasan lampion.

Demi menikmati waisak, saya sudah booking hostel di area Borobudur. Banyak hostel, hotel, dan penginapan di sekitar Borobudur, namun semua sudah fully booked. Beruntung saya masih mendapatkan satu. Saya tiba di hostel pada pagi hari. Setelah mandi dan beberes, saya menuju kompleks candi dan menanyakan informasi. Ternyata khusus hari waisak ini, tiket masuk candi bisa menjadi tiket terusan, jadi kita bisa keluar kemudian masuk lagi ke candi dengan menunjukkan potongan tiket. Mengingat jadwal acara waisak yang panjang, tentu saja ini menyenangkan.


Berkali-kali saya mengunjungi Candi Borobudur, baru kali ini saya habiskan waktu seharian di candi, yang ternyata menyenangkan. Saya bisa menonton film tentang Borobudur karya Garin Nugroho. Saya bisa sewa sepeda dan berputar-putar di kompleks candi yang sangat luas. Ketika capek, saya bisa pilih naik kereta untuk berkeliling candi. Bisa juga naik delman berkeliling kompleks. Saya juga menikmati duduk-duduk di area joglo Museum Borobudur yang terletak di dalam kompleks candi sambil menikmati permainan karawitan yang dibawakan secara live. Belajar mengenai Candi Borobudur dengan memasuki bangunan museum. Ada pula bukit Dagi yang biasa menggelar pameran kesenian, masih di kompleks candi. Banyak pula yang memilih untuk leyeh-leyeh di bawah pohon rindang sambil menikmati pijatan penghilang lelah.



Tentu saja saya tidak melewatkan naik ke monumen sampai ke atas dan mengagumi relief-relief di dindingnya. Pertanyaan tentang pembuatan candi, bagaiamana mereka membawa batu besar ke bukit, apakah mereka memahat batu sebelum atau sesudah batu tersusun, kembali datang di kepala saya dan belum terjawab. 
Meskipun saat itu hujan, tetap banyak wisatawan bermantel warna-warni yang memadati monumen. Namun, karena ini adalah hari waisak, kami tidak boleh menapaki candi di bagian barat.
Sayang sekali, akibat salah timing, saya tidak bertemu dengan arak-arakan dari Candi Mendut yang menggelar prosesi sampai ke atas monumen. Saya pun cukup puas mengamati tiap ritual yang dilaksanakan di masing-masing tenda majelis. Berbagai macam cara, namun tetap satu tujuan.




Menjelang malam, saya kembali lagi ke kompleks Borobudur untuk mengikuti ritual dan pelepasan lampion yang saya nanti-nantikan. Tidak seperti perjalanan saya tadi siang, kali ini saya boleh bawa mobil melewati pintu 8, yaitu pintu dari Hotel Manohara. Acara ini terbuka untuk umum, sehingga banyak sekali orang di sana. Baik umat maupun wisatawan dan fotografer menjadi satu di sana. Meskipun ramai, namun saya senang melihat ketenangan umat yang tetap khusyuk melaksanakan ritual tanpa terlihat terganggu dengan keributan wisatawan. Saya juga belajar tentang keterbukaan umat Budha, yang secara tidak langsung berkata, kita semua makhluk Tuhan, siapa pun boleh ikut bergabung tanpa pembedaan, ritual adalah urusan pribadi dengan Sang Empunya Hidup.


Setelah ritual, saya mengikuti ribuan orang melakukan pradaksina sambil membawa lilin. Lilin-lilin itu kemudian diletakkan ketika telah selesai mengitari candi sebanyak 3kali. Dan yang ditunggu-tunggu datang. Saatnya melepaskan harapan ke udara. Ditemani cahaya bulan yang utuh malam itu, ribuan lampion dilepaskan ke angkasa sambil membawa harapan. 
Saya teringat kata seorang Banthe saat ritual, "Selain bertanya apa kabar, tanyakan apa perbuatan baik yang sudah kamu lakukan hari ini?"
Saya pulang tidak hanya dengan kepuasan karena menemukan mimpi saya dengan ribuan lampion di udara, tapi juga ada nilai hidup yang saya dapat hari itu. #thankGod

Jumat, 11 Mei 2012

Pasar Tradisional - catatan awal perjalanan

Nikmatnya travelling di negara sendiri itu,, ketika pagi-pagi kelaparan, belok ke pasar tradisional,,,





Selain mendapatkan tujuan utama, yaitu perut yang menjadi tenang dengan pilihan beraneka ragam penggoyang lidah, saya jug bisa menikmati berbagai warna pasar tradisional, dan pastinya bertanya tentang arah tujuan dari orang lokal. 
Pengalaman kemarin: 
  • bertanya pada satu orang, yang ternyata tidak terlalu paham dengan pertanyaan saya
  • datang orang lain dan ikut berbincang
  • orang semakin banyak sehingga terbentuk kerumunan
  • dari kerumunan ada orang yang paham dengna pertanyaan saya dan mencoba membantu memecahkan masalah saya
  • orang-orang yang paham ikut berdiskusi sehingga menghasilkan mufakat, dan jadilah saya dapat kesimpulan
  • :D