Senin, 30 April 2012

Malem2 ada Karnaval di Semarang (SNC 2012)

Karnaval. 
Mendengar kata itu, saya langsung teringat pada memori masa kecil. Siap2 di pinggir jalan dan nonton mobil2 berhias lengkap dengan manusia di dalamnya yg membangkitkan imajinasi liar seorang gadis kecil.



Sekarang karnaval mulai semarak lagi. Di Semarang disebut sebagai Semarang Night Carnival. Karena diadakannya selalu malam2. Demi menghindari macet akibat penutupan jalan dan arus manusia yang menuju pusat kota, saya dan teman2 sudah niat datang ke titik awal karnaval, Jalan Pemuda, tiga jam sebelumnya.
Seru ikut arus dalam karnaval tahun ini. Peserta berdandan menjadi bunga warna-warni yang semarak. Semua orang berlomba-lomba menikmati keseruan dengan caranya masing-masing. Sang peserta memasang pose terbaik. Panitia dan pendamping beramah-tamah. Ada juga bapak penjaga yang galak demi ketertiban. Kamera berlomba-lomba meng-candid momen. Dan masyarakat berlomba-lomba dapat spot terbaik untuk nonton. Meriah.


para bunga melati yang berpose

suasana jalan pemuda yang penuh  manusia
fotografer dan objeknya

sang bapak yang bantu fix kostum supaya maksimal

adik kecil pun ikut berpose dengan bunga di kepala dan wajah manis

capek kakak. bunga teratai duduk dulu yaa
catatan kecil dari saya,, @dinilint
  

Kamis, 26 April 2012

Kucuran Shower & Pengalaman Mandi

Apa pengalaman menyenangkan tentang mandi? Aku punya banyak. Tapi kali ini aku pengen berbagi tentang mandi di bawah shower raksasa buatan Tuhan. How it feels? Segerrrrrrr,,,,,


Shower raksasa ini dinamakan penduduk sekitar Air Terjun Seloprojo. Saya mesti menempuh sekitar satu jam perjalanan dari Semarang. Mengikuti jalanan ke arah Jogja, kemudian berbelok ke kiri. Perjalanan menuju Air Terjun Seloprojo menyuguhkan pemandangan sawah hijau dengan terasering yang cantik, juga pegunungan sebagai latar belakang. Untuk mencapai air terjun, kita harus melewati jalan setapak di antara hijaunya sawah. Kadang saat berjalan, kita bisa bertemu warga yang sedang bekerja di sawah. Sapa dengan senyum dan kau bakal dapat senyum balik yang tulus. Hal yang menyenangkan bukan.

Tampilan lain dari Air Terjun Seloprojo



Minggu, 22 April 2012

Between Green

Do you know why Indonesia is called negeri zamrud kathulisitiwa? See between those magnificent green,,






See. Happines is always araound. Bless is always follow.
It's a bless seeing those people on their daily duty, in such beautiful place work. God is awesome.

Taken in Kabupaten Semarang. Photograph by Mr. Andre

Minggu, 15 April 2012

Orange Flower



I made this for gift for my bestfriend. Bad me, I haven't give this to her because I forgot :(

Senin, 02 April 2012

,,, lanjut djuk !

Menuliskan kembali petualangan yang sudah saya jalani dan mengingat detailnya satu-persatu membuat saya merasakan perjalanan saya sendiri


Kali ini tak ada objek wisata spesial atau apa, postingan ini murni pengalaman saya jalan, lanjutan dari cerita destination no where dan baluran dan petualangan.

Malam itu kami keluar dari taman nasional Baluran menggunakan pick up petugas. Kami melewati jalanan sepanjang 12km membelah hutan hujan tropis yang lebat beratapkan bintang. Yang saya ingat adalah celetukan teman2 bahwa saat itu malam minggu dan kami terdampar di tengah hutan. Biasanya saya cuma ngakak kalo melihat kehidupan saya, tapi kali itu ada rasa yang lain. Entah dari mana datangnya tapi rindu itu menyusup di dada. Ah, kamu.

Perjalanan beratapkan langit berbintang dan menyusuri hutan dengan pick up perum perhutani sukses membawa kami ke jalan raya, tempat bus besar siap membawa kami ke tujuan selanjutnya. Berhubung malam, perut kami butuh diisi lagi. Di dekat pintu masuk, ada warung warga yang masih buka. Thank God. Sayang, menu indomie rebus - yang menurut saya adalah menu paling safe dari segi rasa dan kebersihan - tidak dapat dihidangkan, karena ibunya yang masak mau tutup warungnya. Pilihan jatuh ke menu bakso urat super gede yang katanya tengahnya dingin padal kuahnya panas, rawon, nasi rames, dan pilihan saya soto ayam yang ternyata dapet tambahan telor asin. Tu kan cuma nulisin ini aja saya tiba-tiba laper dan pengen makan.


Perut kenyang dan bus kesayangan sudah datang. Bye Baluran. Saya pasti rindu untuk datang lagi ke kamu saat kemarau datang. Pingin ngecamp di tengah savana yang berwarna coklat sambil silaturahmi dengan penduduk aslinya. Hehe.

Sekitar 4-5jam duduk manis sambil bermimpi di dalam bus, kami sampai di Terminal Purbolinggo. Yang ditanyakan orang-orang di terminal selalu sama, 'mau ke bromo?'. Yah,, kita mau ke Surabaya pak. Dan ternyata, biarpun kita nungguin bus itu tengah malam, bus ke Surabaya selalu aja penuh. Tidak seperti formasi di bus sebelumnya, saya harus pisah duduk dengan ke11 teman-teman saya. Bus nya membangkitkan kenangan tersendiri lagi. Saya harus rela berbagi kaki dengan kursi roda tepat di depan kursi saya, entah bagaimana caranya kaki saya itu saya tekuk sedemikian rupa yang menghasilkan kaki saya bengkak2 saat pulang. Temen saya di belakang harus rela mencium aroma tai ayam sepanjang jalan sampe Surabaya, it means about 3 hours. Yang satu lagi harus rela denger rengekan anak kecil, 'ma, mau eek,, ma, mau eek' sepanjang jalan sampai perjalanan ini berakhir. Dan gilanya, subuh belum datang, tapi orang2 yang mau ke surabaya ini banyak bener. Bus kami full orang. Temen saya merelakan berdiri demi kasih tempat duduk ke orang lain sampai terminal Surabaya.

Siksaan itu menguap setelah sekitar 3-4jam di dalam bus. Kami sudah dijemput mobil sewaan - hasil deal semalam via telpon - yang berAC dan pake sopir. Demi mendapatkan mandi yang layak, kami jalan ke masjid agung deket terminal. Karena kami ber12, jadi pengantaran dibagi dua sesi. Saya kebagian sesi terakhir. Di antara waktu tunggu, saya sempet2nya menjalankan tugas profesional untuk ngurusin jari2 kaki temen saya yang belom mandi yang lecet2 akibat mainan karang. Sayang nggak difoto ya Ndo, itu hasil karyaku tempelan tensoplat batik 6biji di jari kamu kan bagus banget.


Ini memang mandi termewah yang pernah saya rasakan selama menjalani hari-hari berbackpacking. Kamar mandi luas, shower, dan air bersih yang melimpah. Terima kasih untuk keberadaan masjid agung ini. Yang berterima kasih nggak cuma saya dan temen2 pejalan lho, warga pun memanfaatkan halaman masjid yang luas untuk berolahraga, jalan2, dan foto2. Konon kabarnya di masjid ini ada menara yang bisa membuat kita melihat kota Surabaya. Kami nggak nyoba karena nggak enak aja. Mana pada pake celana pendek lagi. Hoho.


Tempat janjian selanjutnya adalah KBS, Kebun Raya Surabaya. Yipie, bisa foto2 sama simbolnya kota Surabaya. Saya juga sempet makan indomie di sebuah gedung kosan yang gede. Boleh lah jadi referensi kalo mau nginep di Surabaya dengan harga terjangkau tapi dapet tempat bersih dan nyaman. Dapet cerita dari bapak penjaga kos yang usianya sudah mencapai angka 60an, pengen punya cucu tapi anaknya belum mau kawin, dan anaknya yang paling kecil ternyata masih balita.


Waktu yang terbatas dan keinginan untuk ngintip Madura, bikin kami tergesa2 jalan. Tujuannya kali ini adalah Pantai Camplong. Madura yang saya bayangkan kecil mungil itu ternyata kalo diputeri juga butuh waktu. Ke Camplong aja makan waktu 1,5jam. Pantainya rame, khas pantai terkenal di musim liburan. Tapi sebenernya kalo geser dikit, bisa dapet yang sepi dengan view cantik. Sayang, keburu2, nggak bisa asal turun. Saya menikmati dari balik kaca mobil saja lah.

Jam 11 siang masih di Madura sedangkan kereta jam 14 lumayan bikin hati kebat-kebit. Kami harus memacu kecepatan kendaraan dengan maksimal melewati jalanan Madura yang kecil, rame, dan kadang suka bolong. Cuacanya juga rada ekstrim pas saya datang. Di tengah jalan setelah panas terik yang memanggang, tahu2 datang hujan deras berangin2. Geser ke sana dikit, panas panggangan datang lagi.


Dengan terburu-buru kami sempet2in foto2 di Suramadu. Jadi inget pengalaman trip kemaren yang sampe dlosor2 foto sendiri2 di Suramadu. Hihi.

Sayang, waktu makan siang harus saya lewatkan sendirian di kereta. Hiks. Saya pulangnya sendirian pake Rajawali ke Semarang. Teman2 pilih pake Gaya Baru lewat jalur selatan ke Jakarta akibat kenalnya sama orang Gubeng. Melewati makan siang pake croissant isi sendirian di kereta ternyata tidak recommended. Mayonesnya kepret kemana-mana. Untung bapak sebelah saya baik, beliau pilih tidur di kursi yang masih kosong. Pas di tengah perjalanan, beliau balik lagi dan ngajakin ngobrol. Lagi. Saya ketemu orang yang menghabiskan kehidupannya di kereta. Tiap minggu dia bolak-balik Jakarta-Surabaya-Jakarta demi kangen sama keluarga dan mengandalkan kereta. Ah, kok jadi kangen kamu yaa.


Stasiun Tawang selalu menyambut saya dengan lagu Gambang Semarang. Senangnya pulang. My best part of travelling. Pulang. :))

Baluran dan Petualangan

Pernah masuk hutan,, ngerasain bobo di hutan, jalan gelap2 di hutan yang beneran hutan?


Taman Nasional Baluran. Senangnya waktu melihat tulisan gede2 itu di pinggir jalan. Bentar lagi kita nyampe. Semoga bisa ngejar sunset di pantai apa namanya itu. Entahlah. Roda-roda elf memutar mengikuti satu2nya jalan. Kami mulai memasuki hutan. Kanan-kiri yang kelihatan cuma pohon, pohon, pohon. Ternyata tulisan gede2 tadi cuma pinggiran hutan. Untuk masuk ke dalam hutannya butuh waktu lagi. Kami harus melewati rangkaian cuaca terang - hujan deras dadakan - udara segar habis hujan.

Kira-kira jam lima sore akhirnya kami sampai di pos penyambutan tamu T.N Baluran. Bernegosiasi dan merayu sang bapak petugas supaya kami punya tempat untuk tidur malam ini di tengah hutan Baluran. Dicapai kesepakatan per orang mesti ninggalin dua puluh ribu rupiah supaya bisa tinggal. Deal. Bersamaan dengan kesepakatan tadi, matahari mulai menghilang di ujung barat.

Untuk mencapai tempat menginap kami di Bekol, kami harus masuk sejauh dua belas km melewati hutan dan kegelapan senja yang menyambut. Kami berdua belas dapat dua kamar ala kadarnya. Mesti disiasati supaya bisa nyaman tidur di situ. Tapi, apa sih yang nggak bisa kami buat tidur.

Malam ini demi makan, kami harus melakukan perjuangan. Kantin di T.N Baluran hanya ada di Pantai Bama, tiga km dari tempat menginap kami di Bekol, melewati savana yang super luas. Petualangan baru harus dicoba. Bermodal senter malam itu kami jalan kaki melewati savana dan jalanan becek sehabis hujan. Satu momen yang saya suka, ketika di tengah jalan, melihat ke ujung-ujung dan tak menemukan lagi cahaya, kami mematikan senter kami dan mendapati cahaya bintang di atas kami bersinar dengan gemilang. #thankGod.

Setelah dua jam di kegelapan savana, dengan kaki penuh lumpur dan korban sandal jepit, akhirnya kami sampai di Pantai Bama. Nasi goreng spesial terhidang di meja. Senangnya. Tidak sanggup membayangkan kembali ke Bekol denga jalan kaki dan membawa lebih banyak lagi lumpur di kaki, kami memilih minta diantar dengan motor. Sebenarnya ini juga serem si, jalan di jalan super licin malam2 naik motor bertiga. Tapi daripada jalan. Sampai di Bekol, saya pilih langsung tidur.

Malam berganti pagi dan sinar matahari menyapa kami. Tak hanya matahari, ternyata di sekitar penginapan banyak monyet2 bergelantungan kesana kemari pagi ini. Yap, petualangan dimulai lagi. Mari.

Petualangan pertama yang saya ambil hari ini adalah menuju menara pandang di ketinggian. Dari sini saya bisa melihat pantai di kejauhan dan lukisan matahari serta sinarnya yang jatuh ke laut. Di sisi lain tampak savana yang super luas. Saya membayangkan bila saat itu musim kemarau, pemandangan savana yang coklat pasti tampak sangat eksotis. Di ujung lain saya menemukan lukisan gunung biru. Ah Tuhan,, mahakaryaMu sungguh luar biasa.

Petualangan selanjutnya adalah kembali menyusuri jalanan becek sepanjang tiga km melintasi savana. Jalan malam dan jalan pagi itu sensasinya benar2 berbeda. Yang pasti kalo pagi gini, bisa foto2. Hihihi.

Lagi-lagi sekitar dua jam yang kami butuh untuk menuju Pantai Bama. Dan lagi-lagi tujuan awal kami adalah kantin dan nasi gorengnya. Tapi kali ini banyak monyet yang nemenin kami makan.

Aktivitas sepanjang hari ini adalah, leyeh-leyeh di pantai, nunggu negosiasi untuk snorkeling - saya nggak usah cerita ya. Intinya kami berdua belas bayar 250k all in, perahu, snorkel, fin -, berenang, jalan2 ke hutan mangrove, dan pastinya foto2.

Walau sudah minta jemput sama bapak petugas dengan charge 150k di mobil pick up, tapi kami putuskan untuk jalan kaki duluan. Pertimbangan tunggu mobil itu melintasi jalanan hutan sejauh 12km menuju Bekol dan 3km menuju Pantai Bama pasti takes a lot time. Saat perjalanan pulang, kami bertemu banyak teman. Cek fotonya aja ya. Kami juga menemukan menara pandang di tengah savana. Sumpah, lihat savana di ketinggian di tengah savana itu bikin saya cuma bisa berdecak kagum. 

penginapan di Bekol

savana dilihat dari menara pandang di Bekol

pantai bama dan lukisan matahari

properti di savana

lukisan gunung biru

jalanan becek melintasi savana





Pantai Bama
karang warna pastel dan ikan nemo kecil

blup,, blup,, blup,,

jembatan mangrove
hai rusa

pick up kita,, eh, pick up bapaknya ding :D

Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Senangnya bisa traveling.