Senin, 10 Desember 2012

Kebaya. Bangga

Saya orang Indonesia. Dan saya bangga. Tentu saja. Salah satu kebanggaan saya adalah ketika memakai baju khas Indonesia. Kebaya.



Dulu,, kalo ada kata kebaya, saya inget mbah putri saya. Dan di otak saya langsung nyantel --> kebaya = baju orang kuno.
Kemudian, saya mulai kenal sama Ibu Anne Avantie dan kebaya payet manisnya. Jadilah nyantel --> kebaya = baju cantik untuk acara formal.
Semakin saya menyukai fashion dan kebudayaan Indonesia, saya pun yakin kebaya itu baju yang sangat fleksibel. Kalo mau, bisa dijadikan pakaian sehari-hari yang modis dan cantik pastinya.

@dinilint
proud Indonesian :D

Kamis, 06 Desember 2012

Official. Visa Approve. Jepang I'm Coming. :D

"Mbak mau bikin visa Jepang."
"Udah tahu syarat-syaratnya?"
"Tahu beberapa. Tapi dikasih tahu lagi yang lebih jelas nggak papa mbak."
*nyodorin kertas. "Syarat-syaratnya yang di kertas ini ya." *senyum manis
"Mbak, untuk tabungan ada jumlah minimumnya nggak? Berapa?"
"Ya, biar aman tu sekitar 50 - 100 jutaan."
*melongo "Lah mbak. Kalo segitu nggak ada." *mewek


Di hari-hari awal mau ngurus visa saya sudah dibuat desperate sama syarat-syarat yang ribet. Bleh,, masa iya yang bisa dapet visa cuma orang-orang dengan rekening melimpah kayak gitu. Gimana dengan traveller berbudget cekak kayak aku yang punya cita-cita keliling dunia? Demi tiket 5juta pp yang sudah dipesan, saya nggak mau menyerah.

Bermodal baca-baca blog traveller lain yang sukses dapet visa Jepangnya, saya juga nekat. Kebetulan saya punya sodara dan teman baik yang tinggal di Jepang. Saya minta surat undangan dan meminta mereka mau jadi guarantor saya. Ini demi kelancaran visa. Tapi ternyata oh ternyata,,, menjadi guarantor itu nggak semudah yang saya pikir. Mereka menolak untuk menjadi penjamin keuangan saya di atas kertas karena prosesnya juga ribet, malah lebih ribet. Ya wes lah. Saya pasrah.

Jadi, di hari berikutnya saya datang kembali ke travel agent dengan membawa kelengkapan:
1. Paspor asli yang masa berlakunya minimal 8 bulan
2. Foto background putih ukuran 5 x 5 cm
3. Print out tiket pesawat pp + jadwal perjalanan 
4. Akte lahir + KTP
5. Surat sponsor dari perusahaan, yang intinya menerangkan kalo kita pasti balik lagi ke Indonesia
6. Invitation letter (saya minta undangan sodara)
7. Copy tabungan,,, psst yang ini nggak harus tabungan 3 bulan terakhir ternyata. Tapi mesti nge-print dari halaman awal sampe halaman terakhir. Dan yang penting jumlah tabungannya cukup buat biaya hidup disana.  Demi keamanan, saya itung sejuta per hari. Dan di hari-hari deket visa saya baru nambahin sekitar 10jt di tabungan. 
8. Copy paspor, copy visa temen dan sodara yang mau diinepin, bukti kalo emang sodara dan temen kita ini nyata dan masih tinggal di Jepang.

Sebenernya saya nggak sekali jadi langsung bisa kirim. Beberapa kali saya harus bolak-balik travel agent karena syarat saya kurang. Misal, visa temen udah expired dan nggak ada bukti perpanjangannya, jadi saya mesti minta visa dia lagi. Ato kalo sodara mesti kasih bukti-bukti kalo dia bener-bener sodara kita. Sama kakak ipar ibu saya, saya mesti bawa akte lahir ibu, akte lahir kakaknya, serta surat nikah kakaknya. 

Sempet deg-deg-an beberapa hari. Soalnya tabungan saya kan nggak jelas gitu.
Tapi,,,, visa saya approve juga. Yeay yeay. Ternyata traveller ber-budget cekak kayak saya juga bisa dapet visa Jepang untuk 15 hari. #suwunGusti

*Saya ngurus visa via travel agent, karena itungannya jauh lebih murah. Kalo ngurus visa ke kedutaan bayarnya Rp. 375,000. Itu pun bayarnya kalo visa udah jadi. Kalo nggak approve nggak bayar. Kalo lewat travel agent saya bayar Rp. 475,000, visa approve atau nggak, bayar di muka. Semua untuk single entry 15 hari yah. Bandingin kalo saya mesti ke Jakarta, bolak-balik. karena saya tinggal di Semarang. Oh thank God for travel agent.

@dinilint
lagi doa biar budgetnya cukup

Sabtu, 01 Desember 2012

Hello Goodbye - Anneyong Annyeong - Halo Selamat Tinggal

"Dari awal kita bertemu kita cuma dikasih satu pilihan. Berpisah."
"Kenapa kamu mengutuk perpisahan? Kalau kamu mengutuk perpisahan berarti kamu juga mengutuk pertemuan."


Cerita yang menarik, visualisasi yang bagus, dan lagu yang 'in' dengan gambarnya. Itulah tiga hal yang membuat saya memutuskan menonton sebuah film. Dan film Hello Goodbye punya tiga-tiganya buat saya.


Cerita yang menarik.
Ceritany sebenarnya simple. Tentang pertemuan dua anak manusia yang akhirnya harus berpisah lagi. Tapi di  antara pertemuan dan perpisahan itu, ada banyak pelajaran yang bisa didapat. Tentang bagaimana mengenal individu lain, melebur, dan saling menerima.
Visualisasi yang bagus.
Setting tempatnya di Busan, Korea yang terkenal sebagai kota wisata.Tapi film ini hanya mengambil gambar Busan yang itu-itu saja. Meskipun demikian, saya nggak bosen memandang layar lebar selama kurang lebih satu setengah jam. Bahkan beberapa kali saya terpikat dengan gambar pelabuhan penuh warna, pergerakan matahari terbit kemudian tenggelam, dan kuil di ujung laut. Indah.
Musik yang 'in' dengan gambarnya.
Musik yang digunakan di film ini menggunakan nada-nada sederhana dan penggunaan alat musik yang minim. Tapi musik yang dihasilkan sangat kena dengan gambar-gambar cantiknya, dan menguatkan makna ceritanya.



@dinilint
penyuka gambar ciamik

Jumat, 23 November 2012

Tenun Lombok yang Memesona

Setiap pulang dari jalan-jalan saya selalu berharap membawa pulang sesuatu yang baru. Dan akibat dari jalan-jalan ke Lombok kemaren, saya dapat kain cantik hasil tenunan ibu cantik. #suwunGusti


Lombok punya kain khas yang pembuatannya melalui proses tenun. Awalnya saya pikir kalo pake tenun itu bakalan panas dan berat. Kainnya juga pasti sulit dibuat secara kasual. Ternyata, saya salah!

Senin, 12 November 2012

Kangen Laut

Simfoni orkestra ombak laut. Belaian lembut angin laut. Aroma asin sedap laut. Dan rasa asin-pekat-segar yang melingkupi seluruh tubuh ketika bersentuhan langsung dengan laut. Kangen. Kangen. Kangen.


Baru sekitar sebulan saya bilang bye bye sama laut, tapi hari ini saya udah kangen dan pengen berinteraksi langsung lagi sama si laut. Tapi apa daya. Keterbatasan selalu menclok ketika saya masih menjadi manusia. Jadilah saya bikin postingan ini demi mengobati kekangenan saya sama laut. Ini cerita saya sebulan lalu saat berinteraksi sama laut.

Cerita satu (bobo bareng laut):
Mendapat kesempatan tidur di pinggir pantai tapi dengan fasilitas kelas bintang tentu saja jadi kesan tersendiri. Hari itu saya dapat fasilitas menyenangkan itu. Saya hanya perlu jalan beberapa meter untuk duduk di kursi malas demi menikmati senja. Ditemani suara ombak yang menenangkan jiwa dan fantasi gila (maklum jalan sendiri, jadi yang ngelamun sendiri), saya kembali menikmati warna langit yang berubah perlahan tapi pasti dari biru cerah, menjadi semburat jingga, dan diakhiri dengan warna gelap dengan aksen cahaya-cahaya bintang kecil kerlap-kerlip seperti gula. 
Bangun pagi saya disapa dengan bunyi ombak yang merdu. Ketika membuka gorden jendela, saya boleh melihat ombak menari-nari di kejauhan. Si laut juga setia menemani saya sarapan dari kejauhan. Aroma telur kocok dan asinnya laut berpadu menjadi satu dan menambah kenikmatan makan saya.

Cerita dua (sea walker):
Cara berinteraksi paling asik sama laut adalah masuk ke laut. Tapi sayangnya saya belum bisa diving. :(. But, thanks God, ada yang namanya sea walker. Saya bisa masuk ke dalam laut tanpa punya kemampuan menyelam. Bahkan yang nggak bisa berenang pun bisa banget. Sesuai dengan namanya, sea walker, kita tinggal jalan pake kaki di dasar laut dengan kedalaman 4km. 
Saya maen sea walker di Tanjung Benoa, pusatnya olah raga air di Bali. Langkah awalnya, tentu saja cari operator yang terpercaya. Ini salah satu olah raga dengan taruhan nyawa. Jadi saya nggak mau dong main-main dengan nyawa saya. Kita bakalan masuk ke dalam laut lepas. Kalo peralatannya nggak mumpuni sedangkan kita nggak punya ketrampilan sama sekali, tentu saja mirip bunuh diri kan. Jadi atas rekomendasi pak sopir yang antar kami hari itu, kami pilih operator yang tempatnya gede banget (saya lupa nama operatornya :p). Biar ini operator gede dan banyak yang pake, kami masih bisa nego harga kok. Lumayan, harganya bisa turun dari penawaran 600,000 jadi 500,000. Semua harga sudah all in, termasuk baju menyelam, sepatu, oksigen, helm, kapal antar jemput, dan tentu saja guide di dasar laut.
Kami ganti baju dengan baju menyelam dan sepatunya. Kemudian naik kapal kecil ke tengah laut. Sampai tengah laut, kami pindah ke kapal yang lebih gede. Di situ terdapat perlengkapan sea walkernya (helm, oksigen, termasuk guidenya).
Dengan modal semua intruksi di darat, kami bersiap turun ke dasar laut. Kami tinggal turun lewat tangga. Pada saat kepala mau masuk laut, petugas memasangkan helm ke kepala. Kami tinggal nyemplung aja. Sambil pelan-pelan turun lewat tangga, tubuh mesti menyesuaikan diri dengan tekanan di dasar laut. 
Masuk ke kedalaman 4km, dan di situ sudah dipasang plang-plang besi untuk pegangan ketika berjalan. Whuaa,,, ikannya lucu-lucu banget. Ada juga tumbuhan-tumbuhan laut yang seolah menari-nari mengikuti ombak di dalam. Kami diberi roti untuk kasih makan ikan-ikan. Jadinya, ikan-ikan lucu itu seolah berkerumun di sekitar kami, padahal minta makan roti.
Nggak terasa 30 menit sudah lewat dan kami harus naik ke atas. Kalo kelamaan juga oksigennya habis kan. Kami naik melalui tangga yang sama ke atas kapal. 
Sebelum dibawa pulang ke daratan dengan kapal kecil, saya menyempatkan diri berenang di laut lepas. Ternyata ombak di atas lebih gede daripada ombak di dalam laut. Oke, saatnya kembali ke darat.

Cerita tiga (parasailing):
Saya boleh menikmati laut dari dalam, saya juga mau menikmati laut dari atas. 
Beberapa tahun yang lalu, saat bom bali baru saja terjadi, saya datang ke Tanjung Benoa. Yang saya ingat adalah pantai dengan pasir yang super luas. Orang-orang lalu lalang menawarkan berbagai servis olah raga laut. Saya bisa lihat pantainya dengan puas.
Ketika saya datang kembali ke Tanjung Benoa sepuluh tahun kemudian, saya kaget. Pantai yang saya ingat dulu telah berubah menjadi bangunan-bangunan operator. Kalo mau ke pantainya harus melewati bangunan operator tersebut. Pas ketemu pantai, dapatnya cuma view sebagian pasir pantai, karena lautnya penuh dengan kapal-kapal kecil dan pasir pantainya penuh dengan bangunan-bangunan atau alat-alat olah raga air yang parkir di sana.
Saya penasaran. Bagaimana sebenarnya bentuk Tanjung Benoa yang sekarang? Kebetulan. Hari itu saya punya kesempatan untuk mencoba parasailing untuk pertama kalinya. (Sebelum-sebelumnya belum pernah karena,,, ah,, kebanyakan kalo diceritain alasannya satu-satu di sini). 
Dan saya lihat itu bentuk Tanjung Benoa dari atas. Warna-warni. Beraneka manusia dan aktivitas olah raga airnya yang beranek. Crowded tapi nggak bertabrakan. Saya mau lagiii

Ah laut. Biar pun saya sudah bisa cerita beberapa pengalaman saya dengan kamu, saya tetap rindu. Sampai ketemu.

@dinilint
penikmat laut yang lagi kangen laut

Kamis, 08 November 2012

Ubud = Ricefield

Meski cuma butuh sekitar 20 menitan dari rumah untuk bisa melihat sawah, tapi saya selalu pengen menikmati sawahnya Ubud. Kenapa? Saya pun belum ketemu jawabnya...


Perjalanan sawah Ubud saya kali ini lumayan berat. Kenapa? Karenaaaa,,,,


Pertama, saya ke Ubud sendirian tok til. Nggak ada persiapan sebelumnya. Modal pengen tok. Terus ya jalan aja gitu. 


Kedua, saya mesti bangun pagi padahal bangun saya paling pagi itu kalo jarum pendek udah lewat dari angka tujuh. Ini demi kenikmatan memandang warna langit yang berubah dari biru gelap ke biru cerah.


Ketiga, saya mesti berusaha sekuat tenaga baca peta dan mengingat jalan. Kelemahan saya adalah sulit sekali baca peta dan sering disorientasi lokasi. Untung sekarang ada google map. Tiap ada belokan sedikit, saya pasti cek tanda kedip-kedip di google map sudah searah belum sama warna birunya.


Keempat, saya nyaris ketinggalan pesawat salah satunya karena rela nyasar-nyasar sendirian di jalan sempit pake motor sewaan demi Tegallalang! 

Dan sepertinya saya belum ketemu sama Tegallalang yang saya impikan. Pasti saya mesti balik lagi nih. Temenin dong,,, 

Ubud In A Day

Ubud, I'm lucky to have opportunity to visit you again this year. One day is enough, even actually i wish more. Here's the story.


I use rent motorbike to reach Ubud. It's the easiest-cheapest way to reach Ubud from Kuta. And the plus point is I can use this motorbike around Ubud. But the fun things in Ubud is going by foot. Ubud is small village with many small cute arty places around. 
  

I get my guest house by go show. I have to pay 150,000 for a night. It's include breakfast. 


I get my noon meal at Babi Guling Ibu Oka. I choose nasi campur. Rice with so many Pork menu on it. Delicious and satisfied.


I do shopping on Ubud Market. I always have some offer in english while I'm trully Indonesian. Maybe those people just not familiar with Indonesian girl who travel alone.


I found library near the field where I can found so many books and read it in their reading room.


Early in the morning, I catch the morning breeze in the rice field. I do walk to Kajeng Street. It's behind the Starbucks. You just need to walk on this little road there and get the ricefield.


I also go to famous Tegallalalng. The google map told me the way. And i do pass the footpath with rent motorbike. It's fun. And i wish to do it again.

Time is up, and I need to go back to Kuta. Maybe next year I can meet with Ubud again. Would you accompany me?...

Jumat, 02 November 2012

Cerita [Nyaris] Ketinggalan Pesawat

Siang hari yang panas dan jalanan Kuta yang ruwet dan tak bersahabat. Aku semakin bingung mencari tempat persewaan motor. Akibat kebablasan dan putar jalan, sekarang aku berada di jalanan yang sangat asing dari Kuta. Lama-lama jalanan sepi, menjadi jalan tanah, dan tiba-tiba,,, gubraaaakkkk. Dengan motor matik pinjaman, aku harus terjatuh di tempat orang, belum lagi waktu yang menipis untuk boarding. Bagaimana ini :'( :'( :'(


Ini hari terakhirku di Bali. Rencana sudah kupersiapkan. Cabut dari Ubud maksimal jam 10.30. Jalan ke Kuta, kembalikan motor. Jam satu siang aku sudah leha-leha tunggu boarding di ruang tunggu Bandara Ngurah Rai. Let's pack the day.

Tapi rencana tinggal rencana. Aku, dengan kemampuan sangat minim membaca peta dan mengingat jalan, mesti nyasar beberapa kali. Untuk keluar dari wilayah Ubud pun, aku harus berputar-putar dulu :(. Demi menyiasati nyasar dan sedikitnya plang petunjuk jalan, tiap belokan aku selalu berhenti untuk cek apakah jalan yang kulaui betul atau tidak lewat google maps di hp. Hal ini tentu saja memperlambat lajuku. Dan ternyata perjalanan balik kali ini lebih lama daripada perjalanan berangkat. Huhu

Alhasil aku baru mencapai jalanan bypass sekitar pukul 12.30. Seharusnya aku check in jam 13.00. Tapi menyiasati macet di Kuta, aku pilih check in dulu dan taruh ransel dalam bagasi. 
Bandara Ngurah Rai yang besar dan masih berantakan akibat pembangunan sangat menyulitkanku kali ini. Aku mesti berlari-lari mengejar waktu. Usahaku membuahkan hasil. Boarding pas sudah di tangan. Saatnya mengembalikan motor. 

Kalau sesuai perkiraan mestinya cuma seperempat jam sampai di tempat persewaan. Seperempat jam lagi jalan ke bandara. Cukup waktu lah.
Aku memacu motorku kencang sambil mengais memori jalanan tembus menuju Kuta. Yeay! Aku berhasil menuju Kuta. Sekarang gampang, tinggal cari tempat persewaan yang deket sama monumen peringatan. Mestinya putar di ujung jalan. Berputar sekali, tidak kutemukan tempat itu. Aku pun bertanya pada bapak yang menawarkan jasa. Kata si bapak aku kebablasan dan harus berputar lewat jalan lain. Inginku melipir saja, tapi jalanan kecil nan ramai sangat tidak memungkinkan. 
Nah, ketika berputar ini kok rasa-rasanya aku sudah keluar area Kuta yah. Tidak ada jalan mulus rapi dengan jejeran toko-toko lucu atau pun guest house manis. Hadeh. Tambah panik ketika melihat arloji, ini sudah 25 menit. Dan tiba-tiba,, gubrakkk...

Kesadaranku melayang sepersekian detik. Ketika seorang ibu bertanya padaku, "tidak apa-apa?" dan beberapa bli membantuku bangun, aku sadar, aku harus ngejar pesawat. Masa ranselku aja yang pulang ke Semarang. Dengan nekat aku pun minta bantuan diantar ke bandara dalam waktu 15 menit. Seorang bli manis menyanggupi dan langsung memberi kode untuk naik ke motornya. Motor sewaanku aku tinggalkan di sana, nitip pada si ibu dan bli yang lain, dan telpon bagian persewaan untuk ambil sendiri. Jaminan SIM A ku terpaksa aku tinggalkan dulu di Bali.

Menyusuri jalanan Kuta yang macet dan kucing-kucingan dengan polisi karena aku tak pakai helm jadi pengalaman baru buatku liburan ini. Untungnya, 15menit itu aku selamat sampai bandara. Terima kasih bli!

Perjuangan yang lain menanti. Tepat aku sampai di bandara, itu adalah saat untuk boarding. Dan ternyata aku harus mengalami kejadian di film-film itu, beneran lari di bandara. Kalo di film demi ngejar kekasihnya, aku demi ngejar pesawat. Beda tipis lah. Lari di bandara Ngurah Rai yang ruameee dan gedeeee lumayan menguras energi. Kira-kira itu pesawat masih mau nungguin nggak ya? Pengalaman terakhir ngejar pesawat, pesawatnya udah terbang pas aku baru datang di ruang tunggu.

Udah ngos-ngosan, udah habis energi, kulihat antrian di gate ku mulai habis. Ah, sepertinya aku orang terakhir yang naik pesawat. Tapi yang penting aku keangkut. Yeay.

Ketika sudah duduk manis di kursiku, barulah berasa kalo dengkulku ngilu luar biasa, kerongkonganku kering, dan lambungku protes minta diisi. Sabarlah sebentar wahai tubuhku. Tunggu mengangkasa biar bisa makan. 
Thank God, rentetan ketinggalan pesawatku tidak bertambah. Tidak untuk saat ini, tidak di masa depan.

Selasa, 30 Oktober 2012

Postingan Tak Nyata Tentang Cinta

Cinta itu sebesar kuku jari. Meski dipotong, ia akan tumbuh kembali. Kecil tapi cukup untuk menutupi dan membuat jari-jarimu nyaman.


Ketika kau tanyakan sebesar apa cinta? Apakah aku harus membaginya, atau cukupkah cinta ini untuk kita? Aku akan kembali bertanya, apakah aku membutuhkan cinta yang sangat besar? Aku hanya membutuhkan cinta yang cukup. Untukku, untukmu, untuk mereka. Dan cinta itu tanpa ukuran. Aku bisa merasa, tapi sulit untuk melihat. Karena mataku maya. Tapi cinta yang datang dari hati, pasti bisa dirasakan oleh hati yang siap menerima cinta.



 Terinsipirasi dari cerita cintamu, sahabatku.

Sabtu, 27 Oktober 2012

#randomjourney

Tiket pesawat - checked. Hotel berbintang - checked. Itenary - not yet. Travel partner - not yet.


Bermodal dari ikut-ikutan Bude yang lagi kongres di Nusa Dua, Bali dan punya sisa space buanyaaakkk di hotelnya, saya pun nekat pesen tiket semarang-jakarta-denpasar-jakarta-semarang. Destinasinya jelas, Bali. Tapi Bali sebelah mana, mau apa, dan bagaimana,,, belum ditentukan. Bahkan ketika sampai di persinggahan pertama, Novotel Nusa Dua, saya belum googling apa-apa.
Tapi yang penting dari suatu perjalanan bukan tujuannya, melainkan perjalanan itu sendiri. Jadi beginilah ceritanya

















Yap. Pictures tell more, right. :D
Tapiii,,, saya tetep akan ceritakan perjalanan ini dalam postingan selanjutnya. Sayang aja cerita sendirian di hotel bintang lima, lost in Ubud as real solo traveller, ato cerita (nyaris) ketinggalan pesawat terlewatkan begitu saja. Keep calm and wait ;)


Proses #randomjourney ini pernah saya posting di twitter dan instagram dengan tagar yang sama.
@dinilint

Minggu, 21 Oktober 2012

Pulau Kecil nan Cantik Bernama Lombok

Mengspesialkan sepuluh hari untuk melakukan perjalanan ke Lombok ternyata belum memuaskan. Rinjani bisa terlampaui, tapi pantai-pantai sepi berpasir warna-warni, air terjun aneka rupa serta gili-gili tak berpenghuni yang cantik banyak yang terlewati pada trip kali ini.


Kami turun dari kapal ketika sore menjelang. Dengan mobil sewaan, kami memacu diri ke salah satu spot indah untuk menikmati sunset. Lebih dikenal dengan nama Malimbu Hill. Aku rasa yang kasih nama orang bule yah. Dan sayangnya aku nggak tahu nama lokalnya.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Turun Gunung, Lompat ke Gili

Slow kayak di pulau,,, santai kayak di pantai.
Setelah berhari-hari mengagumi gunung tinggi, saatnya turun gunung dan kembali menjadi anak pantai.


Berhari-hari mengandalkan kaki untuk naik turun dan mendaki Rinjani,, inilah saatnya untuk turun gunung. Setelah berlari-lari menuruni jalan setapak di kawasan hutan lindung Senaru, akhirnya sampailah kami di Senaru Trekking Centre. Sambil menunggu teman-teman yang datang belakangan, kami dengan semangat gembel leyeh-leyeh di lobinya sambil mengamati beberapa orang yang gantian mau naik ke Rinjani. Dari 4 rombongan, 3 rombongan adalah orang asing. Yeah, Rinjani memang lebih populer di kalangan turis mancanegara ketimbang turis domestik.

Selasa, 16 Oktober 2012

Cita -Citaku Setinggi Tanah [movie review]

Good times never leave. It just wait the right moment to be back.
Rejeki nggak pernah pergi. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.
-Mbah Tapak-

picture from here
Cerita tentang anak-anak yang sederhana dan sarat makna memang selalu mempesona. Kali ini saya dapat cerita dari anak-anak yang tinggal di lereng Gunung Merapi, tepatnya di salah satu desa cantik di Muntilan. Berawal dari tugas mengarang tentang 'apa cita-citamu' kepada anak-anak kelas empat, cerita pun bergulir. Sepanjang cerita ini menceritakan tentang Agus dan cita-citanya untuk makan nasi padang.

Buat saya yang tinggal di kota besar dan hidup berkecukupan, makan nasi padang cuma mampir sebentar di warung pinggir sepulang kerja. Tapi buat Agus yang sehari-hari selalu makan tahu bacem paling enak bikinan ibunya, makan nasi padang menjadi cita-cita. Tapi bukan itu yang mau disorot oleh cerita ini. Ini soal cita-cita, yang nggak perlu ditulis, tapi diwujudkan.

Demi cita-citanya makan nasi padang, Agus putar otak bagaimana caranya supaya bisa mewujudkan cita-citanya. Mulai dari bikin tabungan dari bambu, nabung recehan uang saku, sampai menjemput kesempatan yang ditawarkan. Cerita perjuangan Agus juga diuji ketika mimpinya yang sudah mendekati kenyataan, tiba-tiba harus dipendam lagi.

Dari kisah sederhana ini saya boleh belajar tentang cita-cita, berani bermimpi, niat untuk mewujudkan mimpi, dan yang terpenting keikhlasan. Saya suka karakter Agus yang sederhana, tidak mau menyusahkan orang tua, dan berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan. Saya rasa semua anak wajib tahu kisah ini.

Psst,,, salah satu alasan saya nonton film ini karena semua keuntungannya akan disalurkan pada yayasan anak kanker Indonesia. Dan tentu saja, musik film ini garapan duo favorit saya Endah n Rhesa. Visualisasi film ini juga sangat menghibur dan Indonesia banget (bangunan joglo, sawah hijau, dan latar belakang gunung). Bravo film Indonesia!

Kamis, 11 Oktober 2012

Hitchiking Perdana


Hitchiking atau nebeng, adalah hal yang menantang buat para penggila liburan murah. Ini salah satu cara mengakali pos transportasi yang seringkali membuat biaya liburan bengkak. Sepertinya bawah sadar saya tergerak, saya jadi pengen coba.



Malam itu macet sekali di perbatasan Kudus. Perbaikan jembatan membuat jalur kendaraan menyempit. Saya sebagai pejalan kaki pun harus sabar untuk menyeberang jalan. Ketika sedang menanti kendaraan-kendaraan besar ini (baca: truk dan bus) mengalah untuk pejalan kaki, seorang bapak menawarkan tebengan. Biasanya saya malas menanggapi, tapi kali ini saya mengangguk tanda setuju. Cepat-cepat saya menuju ke pintu penumpang dan memasukan tubuh ke dalam truk. Truk pengangkut kertas pun berjalan perlahan.
Entah apa yang ada di pikiran saya saat itu. Tapi ketika saya sadar malam itu saya hitching sepulang kerja, saya merasa saya berhasil melalui zona nyaman saya. Yey yey. Saya mulai membuka diri dan berbincang bersama sopir truk dan keneknya. Tapi demi keamanan, saya nggak berani jujur seratus persen. Saya ngaku beranak satu dan mereka percaya. Hihihi,,. Tapi bukan karena tampang saya yang ketuaan kan ya. Dan bener feeling saya, sepanjang jalan saya jadi tempat sampah buat curhatannya pak sopir. Dia lagi galau karena belum kawin. Jyakakakakak.

Thank God for new experience. Thanks to myself yang sudah bisa keluar dari zona nyaman. 

Cerita Kehilangan

Karena mengalami kehilangan adalah bagian dari kembali kepada menemukan. -Kali Kali, Bukan Cerita Cinta, Windy Ariestanty-


Aku baru berinteraksi denganmu dalam waktu hanya sekejap mata. Pertama kali aku menyadari dirimu tak lagi bersamaku, aku hanya bisa menarik nafas dan diam. Aku sadar, tak selamanya kau bersama aku. Aku kembali berpikir, bila hanya sekejap mata, mengapa kau hadir untukku.
Kemudian aku memutar waktu kembali, mengenang masa-masa kehadiranmu di kehidupanku. Ah,, ternyata kamu menimbulkan cerita baru dalam hari-hariku, walau kehadiranmu hanya sekejap mata.
Aku menikmati saat-saat aku mencurahkan sebagian ideku padamu. Aku kerap memandangmu ketika orang-orang terkasih menunjukkan kasihnya padaku. Kau juga sangat membantuku ketika aku tersesat ketika melakoni perjalanan hanya bersamamu.
Tapi, sepertinya perjalanan aku dan kamu hanya sampai sini. Aku harus ikhlas, dan rela membuka hati untuk yang baru. Semoga, kau berguna untuk siapa pun yang menemukanmu.
Untuk handphoneku, yang raib diambil orang.

Rabu, 03 Oktober 2012

Plawangan Senaru, Negeri Di Atas Awan

Ending dari mendaki gunung adalah turun gunung. Tapiiii lain dengan Gunung Rinjani. Untuk bisa turun ke kaki gunungnya, kita wajib naik lagi, bercengkrama dengan gumpalan awan putih setinggi dada, kemudian dipersilakan untuk turun.


Puas leyeh-leyeh di pinggir Danau Segara Anak dan boleh mengecap nikmatnya berenang disana, saya dihadapkan kenyataan bahwa saya harus memanjat tebing-tebing tinggi di ujung sana. Untuk bisa menuruni Gunung Rinjani, kami harus naik lagi melewati bukit-bukit berbatu, menuju puncak Plawangan Senaru, baru kemudian turun dengan tenang melewati jalur hutan yang rimbun.

Menepati Janji Pada Rinjani (Danau Segara Anak)

Perkenalan saya dengan Rinjani adalah ketika saya menuliskan segara anak pada google. Tujuan saya adalah kangen-kangenan sama Segara Anakan yang merupakan laguna di Pulau Sempu. Ternyata saya menemukan gambar danau vulkanik di tengah-tengah Gunung Rinjani. 


Sejak itu, sepertinya Rinjani perlahan-lahan merasuk ke dalam bawah sadar saya. Saya cuma pengen-pengenan aja ke Rinjani demi bisa menikmati danau ini. Tapi saya juga nggak ngarep banget, soalnya ini gunung gede banget (gunung tertinggi kedua di Indonesia). Mendakinya aja diperlukan waktu berhari-hari. Ditambah saya yang anak pantai, suka ngos-ngosan kalo trekking naik gunung kelamaan, dan sangat pilih-pilih temen kalo naek gunung (minimal yang mampu bawain tas saya kalo saya teler :p).