Selasa, 20 Desember 2011

Tambahan Liburan dari Tuhan

Ketika menurut pandangan manusiaku semuanya terasa sempurna, Tuhan punya caraNya yang istimewa untuk berkata, masih ada banyak hal yang perlu disyukuri lagi lagi dan lagi.


Semua objek sudah terlampaui. Uang di kantong juga sudah tinggal beberapa lembar. Tinggal menunggu keberangkatan menuju Ho Chi Minh City, ke bandara, trus dada-dada sama Vietnam dan say hello to Indonesia. Ah, senangnya. Membayangkannya saja membuat hati bahagia.


Dengan ditemani cup popmie kosong dan gelas green tea khas Vietcong, kami menanti sleeping bus yang janji mau jemput kami jam 1 siang itu. Yak, salah satu kesempurnaan trip kali ini adalah kami berhasil nyobain sleeping bus. Cuma ada di Vietnam ini.


Bus yg ditunggu2 akhirnya datang juga. Telat setengah jam dari perjanjian. Padahal pengalaman yg sudah2 jam keberangkatan bus di Vietnam tepat waktu. 
Cara naek sleeping bus beda dengan seating bus yang cuma masuk, cari tempat duduk, trus duduk manis. Begitu masuk, kita wajib copot sepatu [beware buat yg suka males ganti kaos kaki, please yaa], trus dikasih keresek buat naruh sepatu, dan pilihlah tempat tidur yang disukai. Saya milih yang di atas. Biar nggak kena kaki orang dan bisa lihat pemandangan dari atas. Hehe. Tempat tidur di bus ini pas banget sama badan orang Asia, mungil. Saya nengok bule2 yang naik sleeping bus ini mesti tekuk2 kaki biar muat. Beruntungnya saya.

Baru menikmati jalanan pinggir pantai MuiNe lewat jendela, tau2 bus ini berhenti cukup lama. Entah berapa lama, pokoknya saya sampe bosen cuma dikasih suguhan toko surfing tapi nggak bisa masuk tokonya.

Perjalanan MuiNe menuju Ho Chi Minh City diperkirakan memakan waktu 4 jam. Ya paling nggak kami sampai HCMC jam 6 sore, pake molor2. Ato paling mentok jam 7 lah. Flight ke Indonesia jam 20.20. Udah mobile check in. Pas banget.

Memasuki jam 6.30, bus kami masih nangkring di jalan tol menuju HCMC. Saat itu kepanikan mulai melanda. Sepanjang perjalanan yang diisi dengan becanda, berubah jadi becanda panik. Dan di tengah becandaan panik itu, mau nggak mau kami harus bikin plan, kalo sampe ketinggalan. Ah,,, mikirinnya aja saya nggak berani.

Kami baru bener2 berhenti di HCMC jam 7.30. Langsung lompat ke taksi dan nyerocos sama bapak sopir taksi demi menyampaikan pesan kalo kita udah telat banget dan harus sampe bandara secepatnya. Tapi,, dasar bapak taksinya nggak bisa bahasa inggris, jalanan HCMC yang padat, budaya 40 km/jam [bus tadi juga jalan kurang dari 40 km/jam], dan budaya santai di jalanan membuat lengkap kepanikan kami. 
Pas banget, sampe di bandara jam 8 kurang dikit, pas waktu boarding. Dengan modal print boarding pas dari warnet di MuiNe, kita lari2 gelisah di Than Son Nat airport. Ngantri imigrasi. Dan dengan selamat ketemu petugas imgrasi. 
Tapi ternyata print boarding pass kami harus dapet cap dari petugas AA. Larilah kami ke bagian cek in. Ternyata counternya kosong sodara. Ada petugas baik yg bilang kalo petugas AAnya pindah di counter ujung. Tapi ternyata, petugas counter yg di ujung nggak asik. Dia nggak kasih kami cap. Dia nggak ijinin kami pulang ke Indonesia. Huhu. Mamaaaa

Berbagai usaha dilakukan. Ngerayu petugas AA. Mencak2 kayak orang gila di depan petugas AA. Nungguin tulisan delay dari papan pengumuman [ngarep bisa pulang]. Tapi ternyata semua sia-sia. Huhu. 
Mau nggak mau mesti extend di HCMC. Cari Vinasun Taksi yang kali ini susah banget dapetnya. Balik ke distrik1. Cari makan dengan ditemani backpack gede dan badan loyo. Cari warnet. Booking tiket lagi.


Yah,,, malam itu saya belajar, saya sebaiknya menikmati tambahan liburan ini. Yak, saya kan belum menikmati HCMC sejak kedatangan di Vietnam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)