Selasa, 29 November 2011

Eiffel Tower, Seafood, and Wine

Malam di Dalat itu dingin sodara. Temen sih uda wanti2 buat bawa light jacket. Eits,,, ternyata salah. Orang2 di Dalat jalan kaki di pusat kota dengan coat, topi, penutup kuping, sarung tangan, boat yang trendi. Yap, kebanyakan juga turis trendi. Welcome to tourist city, Dalat!

Kami belum booking hotel, hostel, guest house atau apapun di Dalat ini. Begitu turun dari bus, saya langsung celingukan kanan kiri depan belakang. Dan ketemulah tulisan guest house di seberang jalan. Seorang bapak dengan ramahnya mengajak kami berbincang dengan bahasa inggris, juga menunjuk guest house yang sudah saya lirik. Ternyata dia sopir tuktuk sodara. Beware. Saya sudah diperingatkan di milis tentang sopir tuktuk sok ramah yang berujung tipu di vietnam. 


our guest house

Si resepsionis guest house adalah seorang pria muda yang ramah dan jago ngomong inggris. Begitu kami datang, dia langsung ajak kami menaiki tanggak. Masih ingat kan kalo hostel di Vietnam luasnya kecil tapi tinggi dan berlantai banyak. Nggak tanggung2, kami dibawa ke lantai 5. Iya, pake tangga. Lumayan ngos2an. 
Tapi begitu sampe di kamar,,, hmmm. Kamarnya luas. Ada 3 ranjang luas nan bersih lengkap dengan selimut tebal. Dari kamar bisa lihat Dalat. Kelihatan danaunya sama gedung2 di dataran naik-turun. Kamar mandinya bersih. Si resepsionis menawarkan harga US$3 per orang. Murah. We said yes.

jalanan Dalat dan sepeda tandem
eiffel tower looks like

Menikmati malam di Dalat sungguh menyenangkan. Kami memulai ritual jalan dengan makan. Ada banyak penjual makanan di Dalat. Mau pilih kios kecil pinggir jalan, warung dengan kursi2 kecil dan meja plastik, atau cafe mahal yang jual makanan bule. Kami memilih warung seafood jalanan. Dia mematok 50,000dong untuk sejenis seafood dalam satu piring yang bisa dimakan rame2. 
Nasi putih yang kami pesan selalu nasi ketan. Orang vietnam tidak mengenal kobokan. Mereka hanya menyediakan sendok, garpu, sumpit, dan tusuk gigi untuk tusuk seafoodnya, juga tisu basah, tapi yang terakhir dikenai biaya tambahan 2000dong per tisu. Cara makannya unik. Mereka tidak terbiasa kasih bumbu ke makanan. Mereka sediakan garam dan lada, kecap encer, juga sambal botol khas mereka. Colek sesuai selera.


choose what you want
the warung

Menikmati Dalat saat malam adalah one must thing you to do ketika jalan2 di Vietnam, khususnya di sekitaran HCMC. Dalat di waktu malam hangat dengan turis2 dan warga lokal dengan baju hangatnya yang trendi. Di kawasan pasar Dalat, ada pasar malam yang ramai. Pedagang berlomba-lomba menawarkan buah, bunga, sayur, sampai sweeter terbaik mereka. Kualitas yang ditawarkan tidak main2 dengan harga yang murah. Saya dapat syal sutra cantik motif kupu-kupu dengan menukar 35000 dong. Warga Dalat sepertinya punya hobi merajut. Mereka bisa membuat benda2 rajutan cantik dengan benang yang halus.



nemu Bandung di Dalat
rangkaian bunga cantik untuk yg pacaran dan honeymoon. how romantic


Sembari menikmati malam, kami mampir ke salah satu cafe di pusat kota. Dari cafe tersebut, kami bisa melihat lomba balap mobil mainan di jalanan Dalat yang ditutup dari kendaraan bermotor. Di belakangnya tampak taman kota yang cantik lengkap dengan bunga aneka warna yang subur. Psstt,, pizza dan wine sangat tepat untuk menemani malam dingin di Dalat :d

the wine and the park as background

the delicious pizza

Dalat in the night
  
the wine store

Published with Blogger-droid v1.7.4

Day to Dalat

sepertinya cara paling efektif untuk bangun pagi adalah ngetrip. Yeah, tiap ngetrip saya selalu bangun pagi.

Seperti pagi ini di HCMC, kami harus bangun pagi kalo mau mandi [kemaren belum mandi sore karena kemalaman dan keburu bobo] sebelum lanjut perjalanan seharian. 
Hari ini tujuan kami berpindah ke Dalat. Perjalanan darat dari HCMC diperkirakan memakan waktu 6jam. Kami pilih naik bus dengan agen Sinh Tourist yang ada di distrik 1.

Untuk start awal, kami membekali diri kami dengan makanan khas Vietnam, pho. Kami bertemu dengan penjual pho di ujung gang tempat kami menginap. Si penjual yang tidak bisa bahasa Inggris berhasil merayu kami untuk duduk di kursi2 kecil miliknya di pinggir jalan. Hmm,, pho kali ini punya dua pilihan; mi besar warna putih atau mi tipis2 mirip soon yg berwarna coklat. Saya pilih yang pertama, kali ini dengan daging ayam irisan besar.

penjual pho pinggir jalan
pho ayam
penjual minuman dan jus pinggir jalan

Tiket bus kami pukul 08.00 pagi. Petugas meminta kami untuk datang 07.30. Busnya memang sudah siap di depan kantor Sinh Tourist 30 menit sebelum keberangkatan. Kami menaruh backpack kami di bagasi bus, dan memasuki bus besar berwarna pink cerah dan motif polkadot. Tempat duduk 2-2, dapat 1 tisu basah dan sebotol air mineral. Harganya sekitar 240000 dong (kalo nggak salah :P).

Berhubung kemaren baru nyampe malem dan belum sempat keliling kota HCM,, saya beruntung bisa lihat kota HCM dari balik kaca bus. Selain nggak panas,, adem,, juga bisa foto. Yap, bus di Vietnam kalo jalan nggak lebih dari 40 km/jam. Kendaraan bermotor yg lain juga sama aja. Mungkin itu kebijakan mereka untuk mengantisipasi kecelakaan, berhubung jalannya padat banget sama motor motor dan motor.

Sopir bus disini sepertinya sangat dihargai. Sesuai ketentuan yang seharusnya, tiap 2 jam mereka istirahat. Dan di tempat istirahat itu mereka biasanya makan. 
Di tempat peristirahatan pertama, saya melihat orang2 pada bawa gelas plastik berisi minuman hitam pekat dan es batu yang padat. Dari awal mau ke Vietnam saya sudah penasaran sama es kopinya yang katanya fantastis. Pas saya datang ke petugas yang saya curiga kopi itu,, dia malah bingung. Yak, nggak bisa bahasa inggris dia. Untung ada petugas restoran dari lantai 2 yang bisa bahasa Inggris. Mereka mengajak kami untuk naik ke restoran dan membuatkan es kopi yang bisa di-take away.

es kopi take away

Es kopi datang. Sruput. Rasanya pait semua. Si petugas yang melihat tampak memprihatinkan kami, dengan sigap mengambil kembali es kopi kami. Dia kembali dengan wajah cerah ceria. Tampaknya si bapak uda nambahin gula di es kopi itu. Yak. Sekarang rasanya lebih enak. Seger.

buah TAO

suasana penjual di rest area 1

Di lantai bawah ada minimarket dan di depannya ada penjual buah. Di antara jajaran buah rambutan, mangga, pisang, dan buah2 yang sudah kami kenal, ada satu buah bulat kecil berwarna kuning-hijau. Namanya Tao. Rasanya asam segar, mirip apel. Seru lah buat nemenin perjalanan dan nahan lapar. 

Peristirahatan kedua. Saya kira udah nyampe Dalat, karena suasana udah mulai adem. Ternyata itu cuma tempat istirahat tapi mirip mal. Di dalemnya ada jualan souvenir, makanan khas, sampe restoran. Si sopir jelas makan lagi. Serunya, di tempat ini disediain es gratis. Tinggal pilih mau teh ato kopi.

rest area yang mirip mal

nyobain souvenir
another souvenir

Ternyata perjalanan yang diramalkan menempuh waktu 6jam, baru berakhir setelah 8 jam. Over time 2jam.

behind bus glasses

Minggu, 27 November 2011

A night at Ho Chi Minh City

Vietnam? What will you get there? komentar kebanyakan orang ketika saya cerita perjalanan saya selanjutnya. Well, let see. I even not really sure.

3 jam perjalanan udara membawa kami berpindah dari Jakarta, Indonesia ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Dari ketinggian saya sudah melihat ambience yang berbeda dari kota ini. Saya melihat banyak lampu kecil2 bergerak seirama pada garis2 lebar yang tertata rapi. Yeah,, lampu motor. HCMC terkenal dengan kepadatan motor2nya. Jalanan dipenuhi oleh warga Vietnam yang trendy di atas motornya.

Keluar dari bandara, kami langsung celingukan mencari taksi. Saya selalu ingat pengalaman teman2 di milis soal kegilaan HCMC. Beberapa pernah tertipu gila2an saat mencoba mengubek2 kota ini. Dari sini saya dapat pelajaran untuk memilih taksi terpercaya, Vinasun dan Mainlinh. Setelah celingukan kesana kemari dan bertanya pada seorang petugas, akhirnya kami mendapatkan taksi Vinasun tercinta. Yeay.

Kami diantar sampai ke depan gang penginapan kami di Distrik 1, Pam Ngu Lao Street dengan menukar 135000dong. Penginapan yang kami pesan melalui internet terletak di gang sempit. Luasnya tak seberapa, tapi dia memiliki 5 lantai. Untunglah kamar kami masih di lantai 3. Lumayan menguras tenaga. 
Sayangnya si resepsionis kurang bisa berbahasa Inggris. Jadilah kami agak kesulitan berkomunikasi.

jalanan di distrik 1 HCMC

Malam itu kami habiskan untuk menikmati HCMC di malam hari. Langkah awal adalah cari money changer untuk menukar dolar kami yg cuma beberapa lembar menjadi Dong. Begitu uang kami berubah menjadi Dong, rasanya jadi kaya mendadak. Dalam waktu sekian menit uang selembar berubah menjadi jutaan Dong. Yihaa,, let's enjoy this Uncle Ho country.
Kami berjalan ke Ben Thanh Market untuk mencicipi makanan lokal. Kami menikmati pho, makanan khas Vietnam berupa noodle soup. Ada dua pilihan, dengan daging ayam atau daging sapi. Rasanya,,, you better try it with your own tongue. Yang jelas, kenyang.

pho daging sapi
kelapanya vietnam yg dibentuk

Di jalanan, banyak penjual memasang lapak2 untuk berjualan. Tinggal pilih, mau tas2 khas Vietnam, souvenir khas Vietnam berupa pajangan, kotak, lukisan pada lidi, lukisan telur, sampai baju modis yang murah. 
Di sini juga banyak penjual buah2an tropis. Tinggal pilih.

souvenir khas vietnam

pasar malam

Di daerah distrik 1 juga banyak terdapat tourist agen. Sebut saja mau kemana, masuk ke salah satu tokonya, kau dapatkan tiketnya. Tapi untuk hari pertama kami, kami memilih rekomendasi kebanyakan teman, Sinh Tourist. Kantornya besar dengan plang tulisan yang jelas. Kami sudah dapat tiket untuk besok pagi.


Kegiatan di distrik 1 sepertinya berlangsung sampai pagi hari. Di berbagai sudut terdengar dentuman musik. Tampaknya ini benar2 tempat untuk berpesta. Kami memilih kembali ke guest house pada pukul 1. Dan ternyata sudah ditutup. Hmm,, cepet amat tidurnya

salah satu dentuman berasal dari buffalo raksasa ini

Sabtu, 26 November 2011

Pamer Batik di Negeri Orang

Hi blog world !!
After several days no tell you my story, now I'm coming w/ my new project :). 

Akibat googling tentang keamanan selama travelling, otak saya berputar bagaimana supaya barang berharga saya (baca: paspor, tiket pesawat, uang, hp) aman dari kemungkinan yang tidak menyenangkan. Browsing sana-sini, baca saran di milis, saya dapat inspirasi untuk membuat benda stylish ini.


Sabtu, 12 November 2011

backpacking surprise

akibat angkat ransel, saya punya cerita seru :D

"Semalam lagi di Jogja yuk." dan dari kalimat itu cerita kali ini dimulai.

Kami kembali lagi ke daerah Malioboro, touristy area of Jogja. For your information, beberapa temen saya yg pernah tinggal di Jogaj malah kurang suka menelusuri Malioboro. Tapi saya selalu menjadikan Malioboro sebagai post visit saya ketika di Jogja. 

Di satu gang kecil bernama Sosrowijayan, gang di balik jalan Malioboro itu, kami melangkahkan kaki kami sambil memanggul backpack tercinta. Masuk satu demi satu penginapan untuk mendapatkan penawaran terbaik. Demi bisa dapat satu kamar yang bisa dihuni empat orang bersama-sama dengan harga yang murah ternyata butuh putar2 di gang kecil Sosrowijayan. Kami sempat niat mau pasang tenda aja entah dimana. Tapi satu penginapan kecil di pinggir jalan besar itu menerima kami berempat dalam satu kamar dengan menukar 120000 rupiah kami. Kamar mandi dalam dan kasurnya luas plus ekstra bed. Ah, salah satu surprise backpacking, dapat kamar bagus, murah, dan hangat :).

Perjalanan menyusuri jalanan Malioboro berlanjut. Sight seeing melihat aktivitas manusia jual, beli, menyanyi, menonton, berfoto adalah suatu seni tersendiri buat saya. Apalagi di sela-sela itu ada canda tawa dari teman2 seperjalanan. Kami berhenti di salah satu sudut Malioboro untuk menyantap nasi. Haha,, ketika travellin kadang makan nasi komplit itu susah sodara. Saya pilih menu nasi putih, oseng2 daun kates yang pedas, dan burung dara. Nyam nyam. Malam itu pemuda dari Semarang, Balikpapan, Palembang dan Jakarta berkumpul di Jogjga dan bercanda layaknya teman lama. Surprise backpacking selanjutnya. :)


Di ujung jalan Malioboro ternyata sedang ada syuting film Hollywood. Ternyata untuk dapat satu adegan saja butuh waktu berjam-jam dan set luar biasa complicated. Tampak dari situ kerja keras di balik suatu produksi film. Mereka bekerja dari malam [ketika semua orang terlelap dan jalanan mulai sepi] hingga pagi hari.

Kaki kami terus melangkah. Melewati sudut2 kota Jogja di malam hari. Tujuan selanjutnya adalah pohon beringin kembar di alun-alun kidul. Konon katanya, bila berhasil melewati si beringin kembar sambil menutup mata, permintaanmu akan dikabulkan. Dan ternyata, berjalan kaki dari alun-alun lor, yang dekat dengan alun-alun kidul, itu cukup menguras energi. Tapi selalu ada sesuatu yang menyenangkan. Surprise backpacking selanjutnya adalah, nemu spot seru untuk foto di jalanan. Nggak mungkin kan kalo sambil naik becak ato apalah itu, trus berhenti semena2 di jalanan buat foto di kota. :)


Jalan itu butuh energi. Energi bikin laper. Malam itu [yg rencananya mau naek becak warna-warni keliling2, mau nembus pohon beringin] kami jadinya nongkrong lesehan demi ganjel perut. Saking capeknya [akumulasi efek perjalanan sebelumnya dan jalan kaki lumayan jauh] kami tidur di lesehan itu. Thank God it's lesehan, kalo kursi kan g bisa rebahan. Dan makanannya baru datang setelah kami pulas tidur trus bangun lagi. Surprise :)


Jumat, 11 November 2011

Sang Penari

Roman, culture, history. It's all wraped in @SangPenari. Recommended movie


Buat saya menonton film ini seperti menonton gambar indah yang bergerak di masa lalu. Warna film ini sephia,, tp berwarna dan cantik. Saya bisa merasakan suasana Dukuh Paruk, dengan hamparan sawah hijau dan gradasi langit biru lengkap dengan awan putihnya yang bergumpal2.

Saya juga bisa merasakan rasa Srinthil dan Rasus. Kisah cinta mereka dan konflik yang terjadi antara mereka.

Melalui film ini saya juga mengerti tentang pilihan Srinthil dan tari ronggeng. Bagaimana tentang ronggeng, kultur Indonesia, dan masyarakat yang menjunjung ronggeng sebagai sebuah kesenian dan kepercayaan.

Saya juga diajak merasakan kekerasan sejarah. Jaman pergolakan masa lalu. Sehingga hari ini saya bisa bersyukur bisa menikmati hari ini.

Saya pun bersyukur, ada manusia-manusia yang membuat film ini ada. Sang Penari. Indonesian movie. Recommended.

Selasa, 08 November 2011

moving



Starting by now,, all my posting labeled book is moving to this. Also introduced my another blog, antoher sharing, another story. Wish you enjoy it

Senin, 07 November 2011

cave tubing

cuma duduk diam di atas ban,, dan membiarkan tubuhmu dihanyutkan arus sungai,, memasuki mulut goa,, kau akan disuguhi kegelapan abadi


Berhubung menemukan ajakan untuk cave tubing dari anak bpi, saya langsung ngikot. Sebenarnya, saya uda pengen dari setahun lalu, akibat hasutan dari salah satu teman. Menyusuri sungai besar di dalam perut bumi itu seru. Sayangnya teman saya itu nggak ngerti aksesnya gimana. 
Saya bertemu teman2 di Terminal Giwangan, Jogjakarta. Dari sana, kami naik bus jurusan Wonosari. Di perempatan Grogol, kami turun dan sudah dijemput dengan truk manis seperti di foto. Yihaa,, mari bertualang.


Desa Bejiharjo, lokasi Gua Pindul dimana kami akan cave tubing ternyata sudah memantapkan diri menjadi desa wisata yang terorganisir rapi. Begitu sampe, kami langsung disambut bapak2 pengelola di basecamp. Berhubung mau gaya kompakan, kami pinjem baju merah2 dan sepatu karet warna putih. Di foto tampak keren kan.


Satu demi satu dari kami masuk ke air dengan posisi duduk di ban. Yap, petualangan dimulai. Kami cukup diam saja,, menikmati arus sungai, gua, dan ceritanya mas guide.


Saya nggak mau cerita banyak tentang apa yang diucapkan mas guide. Kalo penasaran datang sendiri ya ke Gua Pindul. Yang jelas kami melewati stalagtit dan stalagmit, mengikuti arus sungai di kegelapan, dan bergandengan tangan.


Gua Pindul juga bisa dimasuki secara vertikal. Jadi orang2 itu pada rapeling melewati celah ini.


Selalu ada acara maen air. Setelah tenang melintasi gua yang gelap [bahkan ada bagian gelap abadi],, di ujung gua kami diberi kesempatan untuk terjun ke air. This is one of 101 things you have to do while you are alive and healthy :D


Kalo tebing yang tadi kurang tinggi,, masih ada pohon di luar gua yang bisa dipanjat,, then byur!! Saya nggak berani. Pohonnya tinggi gitu.


Entah ada cara lain atau tidak untuk kembali,, tapi kami semua mesti melewati tali ini untuk bisa naik ke atas.    It so easy.


Nice experience I have. Thank to God because I live in Indonesia, dangerously beautiful :))

Minggu, 06 November 2011

the little world named twitter

pertama kenalan dengan twitter,, saya bingung. what should I do with these thing ...


... dan hari2 terakhir ini,, saya akrab dengan si twitter itu.
Di twitter saya bisa tau pemikiran2 orang2. Something i was imagine when i was a child. Seru. Kita bisa ngerti si A mikir gini, si B mikir gitu, si C mikir anu.
Kalo pemikiran mereka positif dan seru, tentu garis waktu saya jadi seru banget.

Tapi, kadang saya suka ikutan bete gara2 twitter. Masalahnya, saya salah ngikutin orang. Orang2 yang berpikiran g asik malah bikin dunia tambah ruwet.

Apalagi dengan adanya fasilitas retweet with comment. Kadang suka disalahartikan. Beberapa orang di twitter menyalahartikan pemikiran orang, bahkan mengeditnya jadi sedemikian rupa, dan sometimes, mereka jadi sangat sarkas dan kasar. Ah,,

Jadi satu benda jadi asik dan nggak asik tergantung sama pemakainya dan tujuan pemakainya buat apa ya.
Buat saya, menemukan twitter itu adalah proses. Pertama saya kenalan sama twitter dan baru ketemu twitter tok, saya pake si twitter ini buat curhat. Kemudian saya bertemu orang2 saya kenal di twitter sehingga jadi ajang komunikasi dan becandaan. Meningkat lagi dengan mengikuti orang2 yang pemikirannya seru, saya menambah wawasan saya. Semakin ke sini, ya tergantung mood. Sering saya ingin tau keadaan dunia dengan membaca garis waktu. Atau saya pengen hang out, dan cari tau kira2 siapa temen yang lagi lega. Dan di saat lain, saya juga suka curcol di garis waktu sambil main kata2.

Dunia kecil itu bernama twitter.

Kamis, 03 November 2011

passion and question

what you do for life? 
pertanyaan ini menggelitik. Tapi saya yakin bisa jawab. Cuma,, ya itu orang2 kebanyakan belum tentu bisa paham sama jawaban saya.

do you enjoy what you do?
saya pasti jawab yes, off course. But sometimes, people ask me more. And I ask myself more. And discover myself more. And get another question than answer

will you do what you do right now till the end of your life?
this question is difficult acctually. I even have no answer for this right now. I know I love what I do. But, I don't know if I have to do it until i'm old. Because I love freedom. And sometime, when we do something, there are rules behind.


This book helping me discover myself. About what I do now. About what I wish to do for my entire life. About my job. About my career.
This book asking me (again) about my passion. Make me discover (again) about passion.
Passion, something you love, you do over and over and over again,, and you never feel tired to do that.
And all the question above appear again in my mind

Thanks for coach @ReneCC for write this book. You are inspiring