Senin, 17 Oktober 2011

day two, so ready

matahari sepertinya sudah menari-nari kegirangan sebelum aku sempat mengumpulkan nyawa pagi ini. Arloji tercinta berbisik padaku saat ini sudah pukul 8 waktu setempat. Ah, berdasar itenary yang dibuat, seharusnya aku sudah wangi dan menikmati makan pagi saat ini. Mataku masih berkunang-kunang, dan badanku masih sangat malas untuk diajak beranjak dari ranjang. Kupaksa kakiku melangkah menuju kamar mandi bersama di luar kamar, menyalakan shower, dan menikmati air segar (dari semalam belum ketemu shower) dan menggosok seluruh tubuh dengan sabun wangi. Ok, day two, I'm so ready.

Bermodal dua tangkap roti selai strawberry, sebatang sosis spesial compliment, dan secangkir teh panas, saya menyambut hari kedua saya di Singapore. Berjalan melewati lapangan luas menuju stasiun MRT Boon Keng. Hari ini kami akan bertemu satu teman lagi di Vivo City. Karena masih punya waktu, kami putuskan untuk jalan-jalan dulu di sekitaran MRT City Hall. Melalui akses ini seharusnya kami bisa jalan sampai ke Esplanade dan Merlion. Tapi tahun ini beda, jalanan ditutup karena digunakan untuk sirkuit F1. Saya lupa namanya apa, yang jelas kami sampai di sebuah bangunan yang mirip mal tapi yang jualan sedikit. Yang menggoda malah food courtnya. Food courtnya dibuat sedemmikian rupa sehingga mirip perpustakaan dengan buku di mana-mana. Bukan hanya interiornya yang melambai mesra, ketika kami jalan di tengah-tengahnya, ternyata bentuk2 makanan di sana serasa berbisik, minta dilarikan ke perut kami. Jadilah kami mencicip beberapa menu ciamik di sana. Leker :d.




Vivo City, mal ini terkenal di Singapore. Dari mal ini ada akses menuju Sentosa Island, tempat hiburan segala rupa di Singapore. Vivo City punya rooftop yang oke punya. Ada tempat untuk pertunjukan, ada juga pantai buatan, dan taman yang cantik. Jangan khawatir untuk jalan2 di atap pas siang bolong, ada pedestrian walk dengan kanopinya yang friendly. Dan pastinya ada berbagai macam toko di Vivo City. Mal ini juga sepertinya selalu punya jadwal sale di atriumnya.




Tim sudah lengkap. Tim sudah kenyang. saya sempet beli bakpao kacang merah di food republic vivo city sembari nunggu temen2 menentukan tujuan di sentosa. Dengan nge-tap EZlink dan merelakan isinya berkurang 3SGD, kita dikasih tumpangan buat naek monorail ke Sentosa. Singapore emang mantab kalo soal transportasi publik. Everthing seems so easy and fun. Apalagi kalo soal pariwisata, asoy. Sambil menikmati teknologi tinggi, kita disuguhi pemandangan di bawah, air laut, jembatan, Sentosa tampak dari atas, USS.


Berhubung kebutuhan dan keinginan kadang suka beda-beda dan sungguh susah menyatukan 5 otak dalam 3 hari di satu lokasi yang menawarkan berbagai kemungkinan, jadinya kami berpisah di tengah hari. Tenang,, perpisahannya nggak pake nangis2 model sinetron Indonesia kok. Saya dan dua orang teman penasaran dengan Ikea di pinggiran, dan dua teman lagi menghabiskan hari di Sentosa, biar puas, saya uda taun kemaren dan taun ini masih sama bentuknya.

Kami janjian ketemu lagi di Bugis. Ehm,, kalo inget Bugis, saya pasti inget sama Bugis Market dan mie babi enak. Jadi di dekat Bugis Junction itu ada tempat makan kaki lima. Ada kedai mi babi enak yang sebelahan dengan kedai masakan India. Kalo Bugis Market, tempat cari oleh-oleh khas Singapore yang murah2. Mulai dari gantungan kunci, magnet, sampe kaos tulisan aneh2 dan pakaian renda2 ada semua di sana dan relatif murah. Pas jalan2 disana, pasti nemu orang Indonesia lagi nawar.

Perjalanan saya masih berlanjut. Setelah temu kangen di Bugis yang membuat tim kami komplit, ternyata perpisahan harus terjadi lagi apa seh. Saya dan kombinasi dua teman yang berbeda turun di MRT Little India. Saya penasaran sama Little India kalo diexplore dari MRT Stationnya padal penginapan saya di pojokan Little India. Kebetulan malam itu ada sisa-sisa dekorasi Deepavali Festival di jalanan Little India pas tengah malam saya jalan2 di sana.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)