Minggu, 02 Oktober 2011

Cherry Story

Sejak masih berukuran setitik debu, aku, Che dan saudara kembarku, Ry selalu bersama. Gagang kami menempel satu sama lain. Kami mendapat nutrisi yang sama, melalui aliran yang sama. Kami selalu bergantung pada ranting yang sama. Bila Bunda Angin mulai berteriak kencang dan menggoyangkan kami, kami selalu bisa bergelantungan satu sama lain. Kami tidak membiarkan salah satu dari kami untuk jatuh ke lapisan coklat basah di bawah sana.

Sejak kami bisa melihat apa yang ada di luar, kami selalu berbagi cerita. Ry selalu teriak kegirangan bila melihat berbagai warna hasil bias cahaya dan air setelah Om Hujan datang berkunjung. Aku selalu terpana dan menyuruh diam bila mendengar suara "guk, guk, guk" dari makhluk coklat yang manis di bawah sana yang selalu mengunjungi kami untuk tidur kemudian.

Di lain hari, kami melihat beberapa kepala kecil dengan kuncir berbagai macam bentuk - bahkan ada yang bentuknya mirip kami  - berlarian di bawah kami. Beberapa kali mata kami bertatapan dengan mata si pemilik kuncir-kuncir lucu itu. Kemudian kami bisa mendengar mereka berteriak,, atau bernyanyi.

Makin hari, tubuh kami makin mengembang, montok, dan berisi. Warna kami semakin merah. Beberapa pasang mata mulai melirik ke arah kami. Seekor tupai kecil memanjat dahan kami dan memainkan kami. Sepasang kupu-kupu berwarna ungu dan biru beterbangan di dekat kami. Di bawah sana mata milik gadis tanggung memperhatikan kami tanpa kedip.

Hingga datang hari itu. Hari dimana dunia di bawah terasa begitu sepi dan damai. Tak sadar, ternyata ada dua anak manusia yang sedang tidur2an di bawah sana. Lama. Bunda Angin mendendangkan lagu tidurnya yang merdu. Ketika mata milik si gadis terbuka, malapetaka mulai menyerang kami. Tangannya yang dihiasi kuku berwarna jingga membangunkan laki-laki di sebelahnya. Tangannya mencoba menggapai tubuh kami. Si laki-laki mengangkat badannya, dan hap, tangannya memisahkan badan kami dengan ranting. Kami masih berdua. Tak berapa lama tangan berkuku jingga itu meraih tubuhku, memisahkan aku dan saudaraku.

Che dan Ry yang sejak awal selalu bersama harus terpisah. Bahkan sebelum kami sempat mengucapkan salam perpisahan, tubuh kami dibawa ke ruang kosong yang gelap. Sesuatu menekan tubuhku dan tubuhku meledak. Aku tidak bisa jelaskan bagaimana rasanya. Namun, ada rasa bahagia seketika. Saat tubuhku terurai menjadi atom2 kecil, aku tahu saat itu Che bertemu kembali dengan Ry di ujung lorong gelap. Atom2 kami kembali bersama dan menyatu.





.

Di bawah pohon cherry, ditemani angin sepoi-sepoi, sepasang kekasih memadu kasih, menebar cinta, dan memaut bibir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)