Senin, 17 Oktober 2011

the beach

words can paint imagination lively. (read: there's no picture in this post)

Bermodal bensin full, perut kenyang, dan empat lembar uang warna merah, kami berempat menantang jalanan panas dengan sepeda motor menuju selatan pulau Jawa. Yeah, kami mau membelah Jawa dari Utara ke Selatan menjadi dua bagian sama rata.

Jalanan Semarang-Solo ketika weekend suka kurang bersahabat. Tampaknya semua orang rindu untuk melewati rute ini. Dengan sedikit merayap, kami menyusuri jalanan sempit yang disisakan truk, bus, dan mobil penguasa jalan demi tidak stuck kelamaan di satu titik. Kami pun memilih melewati jalur tak biasa untuk mencapai tujuan. Jalanan tak biasa ini lebih menyenangkan. Setelah memutar setir ke kanan dari jalan besar, kami bertemu dengan jalan dua jalur yang mulus. Di kanan tampak pegunungan yang adem. Kiri-kanan jalan adalah sawah berwarna hijau segar. Ah, mata ini segar.

Duduk di jok belakang motor selama kurang lebih 5 jam sungguh luar biasa. Pantat pegel, posisi badan seperti terasa terkunci, tapi mata ini terpuaskan dengan jalanan di kanan kiri. Ah, untung ini Indonesia. Alamnya luar biasa. Selama 5 jam ini, saya yang biasanya langsung terlelap bila naik kendaraan tertutup (baca: bus, mobil) benar2 diajak untuk menikmati jalanan dan berbagai pemandangan yang menyapa di kanan kiri. Sebut saja sawah, pegunungan, rumah penduduk, pedesaan, hutan, bukit penuh bintang, bahkan detik2 sunset pun saya nikmati di atas jok motor.

Sedikit cerita tentang sunset. Seharusnya kami mengejar sunset ke pantai. Namun apa daya, sepertinya kami belum bisa menikmati sunset pantai sepi saat itu. Namun, saya mendapat sesuatu yang beda. Di jok belakang motor, saya disuguhi jajaran pohon2 kering yang rapi. Di sela2nya saya melihat bulatan merah yang cantik itu. Warna langit di sekitarnya menyatu, menghubungkan warna merah matahari dan biru langit. Jingga di latar belakang, dan warna coklat jajaran pepohonan tanpa daun di depannya. Ah, menurutku kau harus menikmatinya kawan.

Memasuki wilayah Wonosari lebih ke dalam, sinar bulan dan lampu motor menyambut kami. Tak ada lampu jalan disana. Yang ada adalah kepekatan yang ditembus lampu motor yang merajai jalanan. Jalanan pun berkelok2 mengikuti kontur tanah yang naik turun. Semuanya terbayar ketika akhirnya kami sampai di sebuah rumah sederhana di depan pantai kecil. Mbah Lono, datang menyambut kami dengan hangat. Ini adalah pertemuan pertama saya, dan beliau sangat ramah. Indonesia's personality.

Rumah mbah Lono gelap, tak ada listrik di situ. Beliau bercerita kalau gensetnya sedang tidak berfungsi sehingga harus menggunakan lampu sentir dan hanya dengar radio saja. Sebelum kedatangan kami, 200 mahasiswa baru saja pulang. Mahasiswa2 itu baru saja melakukan penelitian dan mohon keramahan mbah Lono. Tentu saja mbah Lono senang. Kurasa kehidupan mbah Lono adalah ketika orang2 datang dan pergi ke tempatnya, merasakan keramahannya, dan membawanya pulang sebagai memori yang membuat orang2 itu ingin kembali lagi menikmati keramahan mbah Lono.

Malam itu, mbah Lono memasak sayur daun kates, gudeg, tumis udang, dan telur ceplok. Ditemani lampu sentir dan cahaya bulan, kami menikmati makanan enak racikan mbah Lono. Nyam nyam. It feels like home.

Malam di sepi di Wonosari (sebenernya lupa nama tepatnya apa,, pokoknya deketan sama Sundak lah), membuat kegalauan kami keluar. Ditemani api unggun, bir, deru ombak di depan mata, dan kamera, galau pun melanda. Hal apapun bisa menjadi percakapan kami malam itu. Untuk detailnya, saya nggak mau cerita lebih :)

Malam itu, kami istirahat beberapa jam di salah satu kamar nyaman di rumah mbah Lono. Biar di daerah pantai dan berempat dalam satu kamar, bawaannya dingin juga. Thank God for kain sarung Bali.

Tiap bermalam di pantai, saya selalu menyempatkan diri untuk menyambut mentari bilang halo ke bumi. Seperti juga hari itu. Kami sengaja set alarm kami supaya bisa bangun jam lima pagi. Ternyata matahari sudah mripit2 nongolin sinarnya yang cerah pagi itu. Yah,, kalah deh. Kami pun naik ke gundukan di tepi pantai. Whoaa,, dari tiap sudut pemandangannya beda2. Kami juga jalan di pasir pantai yang putih. Ternyata matahari menampakkan dirinya yang bulat terang. Cantik.

Pagi itu, kami disuguhi nasi goreng enak dan telur ceplok. Menu yang sangat Indonesia di tempat yang sangat Indonesia. Pantai, pagi, dan nasi goreng tanpa teri. :D

Pergi ke pantai kalo nggak basah sama aja boong. Jadi pagi menuju siang itu kami nikmati dengan bercanda dengan ombak. Ombak Samudra Hindia ini dhasyat. Kenceng, sampe2 kalo kena ombak saya berasa dipijet. Air lautnya dingin, angin lautnya juga dingin. Untung pasirnya panas. Saya pun dengan tenangnya tidur2an di pasir. Biar dapet kehangatan. Hehe.

Siangnya, kami melipir ke pendopo di bukit karang. View dari atas sini sangat menyenangkan. Kita bisa lihat  pantai pasir putih di bawah dan orang2 yang bermain ombak. Sejajar dengan kami ada resort cantik yang dibangun di atas karang. Kabarnya untuk bisa bermalam di situ, harus merogoh 15juataan untuk weekend. Saya pun berkaca. Saya dapat view yang sama dengan modal sangat jauh dari sejuta. Terima kasih Tuhan.

Leyeh-leyeh, cerita ngalor-ngidul, doing nothing adalah hal yang sangat menyenangkan dan perlu. Tapi waktu selalu mengingatkan kalo dia selalu bergerak, perlahan tapi pasti. Kami pun diingatkan untuk kembali ke dunia kami, melakukan rutinitas, dan selalu menyelipkan sedikit rindu supaya kami mau kembali.

Siang itu mbah Lono kembali makani kami dengan jangan terong (sayur lodeh) yang enak ditemani tempe goreng yahud dan lagi lagi telur ceplok. Enak enak enak. Untuk servis yang diberikan mbah Lono selama weekend ini, beliau hanya ngitung kurang dari seratus ribu untuk kami berempat. Ini itungannya gimana to mbah. Pulangnya mbah masih kasih sangu minuman kemasan sama doa lagi. Ah, berkatmu banyak mbah.

Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk mampir ke pantai yang sudah tertata di daerah Gunung Kidul, Pantai Baron. Di sini orangnya lebih banyak. Sudah ada penjaga pantai. Pedagang bervariasi, mulai dari ikan goreng, kripik, layang-layang, kaos, hiasan kerang, sampe pong pong ndut (sejenis hewan bercangkang yang cangkangnya dilukis lucu2). Well, di pantai ini kami menikmati warna langit saat sunset. Nice.

dinilintangasri.dla[at]gmail[dot]com


2 komentar:

Thank you for reading and leaving comment :)