Senin, 31 Oktober 2011

the photograph

for completing my previous post the beach







When: Oktober 2011
Where: Sadranan Beach and surround
Who: mr. Andre

start - do - finish

satu jam perjalanan, satu siang, dan tempat kerja yang menyenangkan membawa saya ke petualangan kali ini.


this picture taken from here



Uda ketauan dari postingan gambarnya yaa. Saya barusan outbond. :))
Nggak seperti yang sudah2, cuma naik sekali luncur flying fox ato nyoba gelantungan di pohon orang ato coba2 rapeling sambil teriak2. Kali ini saya outbond melewati jalur dengan beberapa rintangan. Sekali naik harus selesai biar bisa turun.

Pukul 6.30 pagi -waktu yang terlalu pagi buat saya yang kerja officiallnya seringnya mulai di sore hari- saya sudah siap ngumpul di tempat kerja. Bareng2 rekan2 sekerjaan, kami bermobil kira-kira satu jam ke arah Salatiga, tepatnya di Kopeng.

Nama tempatnya Kopeng TreeTop. Di antara pohon2 -saya nggak tau namanya dan lupa nanya sama masnya- yang tinggi menjulang, tali-temali dan kayu-kayu sudah rapi tertata. Ya ya,, bakal gelantungan disana saya.
Disini outbondnya terbagi menjadi beberapa jalur yang diberi nama dengan warna. Mulai dari jalur untuk anak-anak dengan tinggi minimal 120cm, jalur santai, menengah, sampe ekstrim tinggal pilih deh. 

Kami milih untuk nyobain semuanya. Saya mulai dengan jalur ungu yang santai. Dimulai dengan manjat pohon - flying fox - lewat rintangan meniti satu tali - masuk dalam gentong kayu tapi di antara pepohonan - flying fox lagi - jalan di kayu yang nempel di tali sambil goyang2 - trus turun lewat jaring.
Energi masih ok. Lanjut ke jalur hitam 2. Ternyata jalur ini jalur ekstrim sodara. Saya lupa persisnya gimana. Yang jelas saya jajal rintangan tapal kuda yang cuma nempel pada satu tali putih, tapal kuda yang jalannya pake acara kaki kanan diselip ke belakang kaki kiri, jelas ada flying fox, meniti satu tali juga pasti ada, yang meniti dua tali juga ada, dan pastinya ada tali tarzan. Jadi kita lompat dengan satu tali mirip tarzan trus nempel ke jaring2 di depan kaya spiderman. Huhu,, ini salah satu yang serem tp kalo uda dirasain bikin nagih. Dan akibat kaki saya nyelip di bagian tapal kuda yg jalannya mesti membelakangi satu kaki dan lainnya, saya sempet jatuh. Diangkat masnya trus lanjut ke bagian tali tarzan. Tapi apa daya, kayaknya energi mulai terkuras, saya nggak berhasil nemplok di jaring trus diturunin deh.
Tapi nggak berhenti disitu, saya lanjut nyobain lajur yang berikutnya. Lajur hitam 1. Dimulai dengan merangkak di jaring - flying fox - flying fos lagi - jalan di tali2 gitu deh - jalan di kayu dan tali - flying fox lagi - manjat jaring2 - manjat tali - tali bentuk lain mirip jaring - flying fox - rintangan aneh dari tali dan kayu yang mesti jalannya kanan kiri kanan kiri - flying fox super panjang - turun jaring. Lajur yang ini berhasil :)

Pokoknya di tiap jalur, kita nggak bisa berhenti di tengah2. Kalo uda mutusin buat naik, harus diselesaikan biar bisa turun. 
Tiap rintangan punya keunikan sendiri2. Tiap mau mulai mengatasi rintangan, saya selalu deg2an dan ngerasa takut. Pas dijalani, saya berusaha gimana caranya biar bisa sampe titik aman. Pas udah selesai dan berhasil rasanya plong dan puas. Terus dihadapkan sama rintangan baru di depan.
Mirip sama hidup ya. 
Ya, saya belajar dari outbond, untuk tetep bergerak dan mengatasi setiap rintangan dan sensasinya yang menyenangkan, dalam hidup. Kalau tidak bergerak ya bakalan stagnan di tempat. Kalo sudah mulai ya harus lanjut biar bisa stop dengan tenang. Rintangan ya harus dihadapi. 
Thank God

Psst,, sy nggak ambil foto, jadi fotonya ngambil dari web

Minggu, 30 Oktober 2011

the heels

ada cowok yang berucap, "thank God for high heel"

Ketika cewek pake high heel, konon postur badannya jadi bagus; badan tegap, kaki tampak jenjang, dan bokong terangkat. Buat sebagian cewek high heeling is pain. But, beauty is pain.


Jumat, 28 Oktober 2011

lampion merah dan makanan yummy

pengen lihat orang banyak ditemani lampion dan makanan enak. Yuk ikut!

lagi bikin martabak krispi nii

menyusuri jalanan yang penuh makanan dan orang makan

lampionnya,,, aku suka

pilih-pilih menu
here they are,, the yummy food

Kalo ditanya ada apa di Semarang? Saya suka jawab, makanan enak. Yap, Semarang terkenal dengan kulinernya yang beraneka macam dan enak. Banyak kuliner Semarang yang merupakan perpaduan antara lidah pribumi dan keturunan. Kalo bertandang ke Semarang di akhir minggu, cobalah mampir ke Semawis, china town nya Semarang. Kalo malem, penuh dengan lampion, manusia, dan tentu saja makanan.
Psst,,, tanya dulu makanannya apa? Beberapa makanan disini adalah pantangan buat kebanyakan masyarakat Indonesia. Tapi yang halal juga ada kok ;)


the butterfly flying at the airport

datang tepat saat jam boarding di counter check in Changi Airport adalah salah satu hal bodoh yang pernah saya lakukan. Tapi hari ini saya bakal seharian di Changi. Ngapain coba,,,,


Ternyata Changi bisa jadi objek wisata tersendiri. Mulai dari cuma nongkrong di sofa empuk, makan aneka makanan tp harganya agak beda yaa, belanja belanji tanpa dikenai tambahan tax, nikmatin kursi pijet gratis yg uenak tenan, bahkan bisa ikutan city tour, tidur di tempat layak, shower, sampe nge gym.

Ternyata Changi bener2 mengkondisikan dirinya sebagai salah satu objek wisata andalannya Singapura. Tiap season mereka punya tema khusus untuk pengunjungnya. Saya tertarik dengan butterfly park di terminal 3nya. nggak kesampean ke butterfly and insect park nya Sentosa. Dan ternyata,,,,

di dalam gedung bandara, mereka bisa sulap taman beneran lho. Lengkap dengan kupu-kupunya yang cantik.

door to the park


nanas manis




next visit to Changi, bakal ketemu apa yaa

Selasa, 25 Oktober 2011

kemana kaki melangkah

Iten emang butuh,, tapi nggak selamanya iten itu berguna


full team
Sepertinya hari ketiga saya dan teman2 di Singapura bakalan out off iten draft. Sejujurnya, saya lupa iten hari ini mau ngapain. Pokoknya kita jalan ke MRT station trus naek MRT ke arah City Hall. Keluar dari MRT station, trus biarkan kaki ini melangkah.
Then, there we are. Kami disuguhi jalanan sepi -jalanan ditutup demi kelancaran F1- sehingga kami bebas berpose di jalanan, jempalitan juga gapapa. Di kanan kiri ternyata banyak bangunan menarik. Ya semacam bangunan tua yang bersih dan terawat gitu. Kebanyakan digunakan buat cafe, galeri, dan hotel.
Jalan dikit, kita nemu bangunan mirip katedral yang megah. Ya, memang it was cathedral. Dan sekarang dimanfaatkan jadi cafe dan bar. Tempat ini hip pada malam hari. Karena kami kesininya pas pagi, jadi ya pemandangan yang kami lihat jejeran kursi2 kosong yang ditata apik. Kemegahan katedral tetep kerasa dan cantik.



Kaki kita bawa kita jauh dari MRT Station, tapi deket sama halte bus. Kita putusin buat cari bus ke Orchard. 10 menit, 20 menit. Masih nggak ada bus yang kita mau. Saya tengok ke keterangan, ternyata bus yang dinanti bakal datang tiap 30 menit. Oke. 40 menit berlalu. Bus yang dinanti tak kunjung tiba. Ah,, kaki, bawa kita ke MRT station lagi yaa. Uda istirahat lumayan lama kan di halte.

Next destination is Orchard. Jalan-jalan di Orchard Road, foto2 di depan display toko bermerk, ngintipin harga  branded shoes and clothes, dan pastinya makan es krim uncle. Es krim uncle adalah es krim potong dengan berbagai pilihan rasa. Cukup tuker 1SGD, es krim siap meleleh di mulut.

Di daerah Orchard ini saya menemukan toko buku besar, Kinokuniya. Seneng banget deh lihatnya. Everywhere is book. Tapi ya gara2 buku-buku yang bertumpuk gila2an ini, saya jadi kepisah sama temen2. Dan yang pasti lapar berat.
Di daerah ini gampang nemu food republic, food court tempat makan segala makanan ada. Mi pedes bisa saya dapatkan dengan harga 5SGD saja dengan porsi yang super guede. Herannya saya habis tu seporsi, akibat jalan mulu kali ya


nangkring di batu

Dengan bekal perut kenyang dan informasi dari petugas, kami jalan ke Singapore Botanical Garden. Nggak ada MRT yang bisa bawa kita ke sana, only bus. Perjalanan pake bus sempet bikin kami kebablasan. Untung dua jalur, jadi ambil bus yang sama untuk balik. Lumayan lama juga nunggunya. Tapi semuanya terbayar setelah ketemu sama Singapore Botanical Garden. Taman yang satu ini luas banget dan gratis. Tamannya rapi dan indah. Hari Minggu sore itu sedang ada pertunjukan musik oleh2 anak2. Semua orang duduk2 di rumput, gelar makanan, dan minum wine. Anjing2 boleh lari2an dan main frisby. Kita, tetep, foto2. :D

Berhubung malam masih panjang, kami lanjut ke China Town. Pas naik bus dan lewat Orchard Road, kami tergoda dengan lampu2 cantik di sepanjang Orchard. Pemandangan gedung2 tinggi dengan lampu warna-warni dari atas bus tingkat beda lho. Just try it.
China Town adalah tempat lampion, orang jualan oleh2, dan makan makanan enak menurut saya. Yang jelas saya seneng banget ketemu lampion warna-warni, nemu lukisan cina 3 biji dengan nuker 10SGD dan makan mie ayam goreng yang enak. Saya juga bisa beli apel sebiji, dan ngicipin kenari panggang.


Malem ini hari terakhir F1 dan ada konser Linkin Park. Demi menikmati ambience dan memanfaatkan waktu operasi MRT yang lebih lama yang biasanya sampe j12malam saat itu j1pagi, kami melaju ke MRT station Esplanade. Yang ada cuma sepi sama petugas. Bahkan ketika kami coba tanya keberadaan konser Linkin Park, si petugas malah baru tau kalo ada konser. Jyaa. 
Otot2 di betis uda teriak2. Jadinya kami nongkrongin starbuck aja lah. 6SGD untuk coklat panas yang lezat. Pas pulang naik MRT, baru kerasa ambience orang2 pulang dari nonton F1. Semua mukanya pada kecapekan.

Jumat, 21 Oktober 2011

land of fun fun and fun

Saya rasa Singapura ngiri sama Indonesia yang punya Pulau Bali yang terkenal seantero dunia dengan kemolekannya. Makanya dia bikin Sentosa Island buat jadi andalan pariwisatanya.

maximazing the property

walking area

in front of cafe,, just take the picture. hahay

lake of dream
throw your coin while make a wish

decide wether play or not

you are not allowed :P

jump inside the fountain
beware of the wet!

the laser games,,
and the music also

say cheese!
there's merlion behind
the candy tree
images of Singapore
am I look like Voyage de La Vie actress?

off course,, the Universal Studio Singapore
Tapi tetep nggak bisa disebandingkan ya dua pulau itu. Yang satu emang terbentuk cantik dari sananya dengan budaya unik yang sudah mengakar sekian abad, sedangkan yang satu cantik buatan. Itulah hebatnya Singapura, dia meniru tapi dengan modifikasi dan menonjolkan kekuatannya sendiri. Hasilnya, Sentosa Island jadi salah satu agenda wajib setiap orang yang niat liburan di Singapura, termasuk saya dan teman2. Hehe

Senin, 17 Oktober 2011

the beach

words can paint imagination lively. (read: there's no picture in this post)

Bermodal bensin full, perut kenyang, dan empat lembar uang warna merah, kami berempat menantang jalanan panas dengan sepeda motor menuju selatan pulau Jawa. Yeah, kami mau membelah Jawa dari Utara ke Selatan menjadi dua bagian sama rata.

Jalanan Semarang-Solo ketika weekend suka kurang bersahabat. Tampaknya semua orang rindu untuk melewati rute ini. Dengan sedikit merayap, kami menyusuri jalanan sempit yang disisakan truk, bus, dan mobil penguasa jalan demi tidak stuck kelamaan di satu titik. Kami pun memilih melewati jalur tak biasa untuk mencapai tujuan. Jalanan tak biasa ini lebih menyenangkan. Setelah memutar setir ke kanan dari jalan besar, kami bertemu dengan jalan dua jalur yang mulus. Di kanan tampak pegunungan yang adem. Kiri-kanan jalan adalah sawah berwarna hijau segar. Ah, mata ini segar.

Duduk di jok belakang motor selama kurang lebih 5 jam sungguh luar biasa. Pantat pegel, posisi badan seperti terasa terkunci, tapi mata ini terpuaskan dengan jalanan di kanan kiri. Ah, untung ini Indonesia. Alamnya luar biasa. Selama 5 jam ini, saya yang biasanya langsung terlelap bila naik kendaraan tertutup (baca: bus, mobil) benar2 diajak untuk menikmati jalanan dan berbagai pemandangan yang menyapa di kanan kiri. Sebut saja sawah, pegunungan, rumah penduduk, pedesaan, hutan, bukit penuh bintang, bahkan detik2 sunset pun saya nikmati di atas jok motor.

Sedikit cerita tentang sunset. Seharusnya kami mengejar sunset ke pantai. Namun apa daya, sepertinya kami belum bisa menikmati sunset pantai sepi saat itu. Namun, saya mendapat sesuatu yang beda. Di jok belakang motor, saya disuguhi jajaran pohon2 kering yang rapi. Di sela2nya saya melihat bulatan merah yang cantik itu. Warna langit di sekitarnya menyatu, menghubungkan warna merah matahari dan biru langit. Jingga di latar belakang, dan warna coklat jajaran pepohonan tanpa daun di depannya. Ah, menurutku kau harus menikmatinya kawan.

Memasuki wilayah Wonosari lebih ke dalam, sinar bulan dan lampu motor menyambut kami. Tak ada lampu jalan disana. Yang ada adalah kepekatan yang ditembus lampu motor yang merajai jalanan. Jalanan pun berkelok2 mengikuti kontur tanah yang naik turun. Semuanya terbayar ketika akhirnya kami sampai di sebuah rumah sederhana di depan pantai kecil. Mbah Lono, datang menyambut kami dengan hangat. Ini adalah pertemuan pertama saya, dan beliau sangat ramah. Indonesia's personality.

Rumah mbah Lono gelap, tak ada listrik di situ. Beliau bercerita kalau gensetnya sedang tidak berfungsi sehingga harus menggunakan lampu sentir dan hanya dengar radio saja. Sebelum kedatangan kami, 200 mahasiswa baru saja pulang. Mahasiswa2 itu baru saja melakukan penelitian dan mohon keramahan mbah Lono. Tentu saja mbah Lono senang. Kurasa kehidupan mbah Lono adalah ketika orang2 datang dan pergi ke tempatnya, merasakan keramahannya, dan membawanya pulang sebagai memori yang membuat orang2 itu ingin kembali lagi menikmati keramahan mbah Lono.

Malam itu, mbah Lono memasak sayur daun kates, gudeg, tumis udang, dan telur ceplok. Ditemani lampu sentir dan cahaya bulan, kami menikmati makanan enak racikan mbah Lono. Nyam nyam. It feels like home.

Malam di sepi di Wonosari (sebenernya lupa nama tepatnya apa,, pokoknya deketan sama Sundak lah), membuat kegalauan kami keluar. Ditemani api unggun, bir, deru ombak di depan mata, dan kamera, galau pun melanda. Hal apapun bisa menjadi percakapan kami malam itu. Untuk detailnya, saya nggak mau cerita lebih :)

Malam itu, kami istirahat beberapa jam di salah satu kamar nyaman di rumah mbah Lono. Biar di daerah pantai dan berempat dalam satu kamar, bawaannya dingin juga. Thank God for kain sarung Bali.

Tiap bermalam di pantai, saya selalu menyempatkan diri untuk menyambut mentari bilang halo ke bumi. Seperti juga hari itu. Kami sengaja set alarm kami supaya bisa bangun jam lima pagi. Ternyata matahari sudah mripit2 nongolin sinarnya yang cerah pagi itu. Yah,, kalah deh. Kami pun naik ke gundukan di tepi pantai. Whoaa,, dari tiap sudut pemandangannya beda2. Kami juga jalan di pasir pantai yang putih. Ternyata matahari menampakkan dirinya yang bulat terang. Cantik.

Pagi itu, kami disuguhi nasi goreng enak dan telur ceplok. Menu yang sangat Indonesia di tempat yang sangat Indonesia. Pantai, pagi, dan nasi goreng tanpa teri. :D

Pergi ke pantai kalo nggak basah sama aja boong. Jadi pagi menuju siang itu kami nikmati dengan bercanda dengan ombak. Ombak Samudra Hindia ini dhasyat. Kenceng, sampe2 kalo kena ombak saya berasa dipijet. Air lautnya dingin, angin lautnya juga dingin. Untung pasirnya panas. Saya pun dengan tenangnya tidur2an di pasir. Biar dapet kehangatan. Hehe.

Siangnya, kami melipir ke pendopo di bukit karang. View dari atas sini sangat menyenangkan. Kita bisa lihat  pantai pasir putih di bawah dan orang2 yang bermain ombak. Sejajar dengan kami ada resort cantik yang dibangun di atas karang. Kabarnya untuk bisa bermalam di situ, harus merogoh 15juataan untuk weekend. Saya pun berkaca. Saya dapat view yang sama dengan modal sangat jauh dari sejuta. Terima kasih Tuhan.

Leyeh-leyeh, cerita ngalor-ngidul, doing nothing adalah hal yang sangat menyenangkan dan perlu. Tapi waktu selalu mengingatkan kalo dia selalu bergerak, perlahan tapi pasti. Kami pun diingatkan untuk kembali ke dunia kami, melakukan rutinitas, dan selalu menyelipkan sedikit rindu supaya kami mau kembali.

Siang itu mbah Lono kembali makani kami dengan jangan terong (sayur lodeh) yang enak ditemani tempe goreng yahud dan lagi lagi telur ceplok. Enak enak enak. Untuk servis yang diberikan mbah Lono selama weekend ini, beliau hanya ngitung kurang dari seratus ribu untuk kami berempat. Ini itungannya gimana to mbah. Pulangnya mbah masih kasih sangu minuman kemasan sama doa lagi. Ah, berkatmu banyak mbah.

Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk mampir ke pantai yang sudah tertata di daerah Gunung Kidul, Pantai Baron. Di sini orangnya lebih banyak. Sudah ada penjaga pantai. Pedagang bervariasi, mulai dari ikan goreng, kripik, layang-layang, kaos, hiasan kerang, sampe pong pong ndut (sejenis hewan bercangkang yang cangkangnya dilukis lucu2). Well, di pantai ini kami menikmati warna langit saat sunset. Nice.

dinilintangasri.dla[at]gmail[dot]com


day two, so ready

matahari sepertinya sudah menari-nari kegirangan sebelum aku sempat mengumpulkan nyawa pagi ini. Arloji tercinta berbisik padaku saat ini sudah pukul 8 waktu setempat. Ah, berdasar itenary yang dibuat, seharusnya aku sudah wangi dan menikmati makan pagi saat ini. Mataku masih berkunang-kunang, dan badanku masih sangat malas untuk diajak beranjak dari ranjang. Kupaksa kakiku melangkah menuju kamar mandi bersama di luar kamar, menyalakan shower, dan menikmati air segar (dari semalam belum ketemu shower) dan menggosok seluruh tubuh dengan sabun wangi. Ok, day two, I'm so ready.

Bermodal dua tangkap roti selai strawberry, sebatang sosis spesial compliment, dan secangkir teh panas, saya menyambut hari kedua saya di Singapore. Berjalan melewati lapangan luas menuju stasiun MRT Boon Keng. Hari ini kami akan bertemu satu teman lagi di Vivo City. Karena masih punya waktu, kami putuskan untuk jalan-jalan dulu di sekitaran MRT City Hall. Melalui akses ini seharusnya kami bisa jalan sampai ke Esplanade dan Merlion. Tapi tahun ini beda, jalanan ditutup karena digunakan untuk sirkuit F1. Saya lupa namanya apa, yang jelas kami sampai di sebuah bangunan yang mirip mal tapi yang jualan sedikit. Yang menggoda malah food courtnya. Food courtnya dibuat sedemmikian rupa sehingga mirip perpustakaan dengan buku di mana-mana. Bukan hanya interiornya yang melambai mesra, ketika kami jalan di tengah-tengahnya, ternyata bentuk2 makanan di sana serasa berbisik, minta dilarikan ke perut kami. Jadilah kami mencicip beberapa menu ciamik di sana. Leker :d.




Vivo City, mal ini terkenal di Singapore. Dari mal ini ada akses menuju Sentosa Island, tempat hiburan segala rupa di Singapore. Vivo City punya rooftop yang oke punya. Ada tempat untuk pertunjukan, ada juga pantai buatan, dan taman yang cantik. Jangan khawatir untuk jalan2 di atap pas siang bolong, ada pedestrian walk dengan kanopinya yang friendly. Dan pastinya ada berbagai macam toko di Vivo City. Mal ini juga sepertinya selalu punya jadwal sale di atriumnya.




Tim sudah lengkap. Tim sudah kenyang. saya sempet beli bakpao kacang merah di food republic vivo city sembari nunggu temen2 menentukan tujuan di sentosa. Dengan nge-tap EZlink dan merelakan isinya berkurang 3SGD, kita dikasih tumpangan buat naek monorail ke Sentosa. Singapore emang mantab kalo soal transportasi publik. Everthing seems so easy and fun. Apalagi kalo soal pariwisata, asoy. Sambil menikmati teknologi tinggi, kita disuguhi pemandangan di bawah, air laut, jembatan, Sentosa tampak dari atas, USS.


Berhubung kebutuhan dan keinginan kadang suka beda-beda dan sungguh susah menyatukan 5 otak dalam 3 hari di satu lokasi yang menawarkan berbagai kemungkinan, jadinya kami berpisah di tengah hari. Tenang,, perpisahannya nggak pake nangis2 model sinetron Indonesia kok. Saya dan dua orang teman penasaran dengan Ikea di pinggiran, dan dua teman lagi menghabiskan hari di Sentosa, biar puas, saya uda taun kemaren dan taun ini masih sama bentuknya.

Kami janjian ketemu lagi di Bugis. Ehm,, kalo inget Bugis, saya pasti inget sama Bugis Market dan mie babi enak. Jadi di dekat Bugis Junction itu ada tempat makan kaki lima. Ada kedai mi babi enak yang sebelahan dengan kedai masakan India. Kalo Bugis Market, tempat cari oleh-oleh khas Singapore yang murah2. Mulai dari gantungan kunci, magnet, sampe kaos tulisan aneh2 dan pakaian renda2 ada semua di sana dan relatif murah. Pas jalan2 disana, pasti nemu orang Indonesia lagi nawar.

Perjalanan saya masih berlanjut. Setelah temu kangen di Bugis yang membuat tim kami komplit, ternyata perpisahan harus terjadi lagi apa seh. Saya dan kombinasi dua teman yang berbeda turun di MRT Little India. Saya penasaran sama Little India kalo diexplore dari MRT Stationnya padal penginapan saya di pojokan Little India. Kebetulan malam itu ada sisa-sisa dekorasi Deepavali Festival di jalanan Little India pas tengah malam saya jalan2 di sana.





Minggu, 09 Oktober 2011

Katong, have I got you,,

Itenary sudah dibuat. Detail menuju tiap tempat perjalanan sudah dicari. Peta sudah disiapkan. Tapi tetep,,, something missing from that iten always coloring my journey. Yeay

We start our journey from Semarang @1pm. Tengah malam itu, Pak Selamet, sopir taksi kami siap mengantar. Menurut perkiraan, perjalanan Semarang-Jogja ini ditempuh dalam waktu 3-4jam. Tidurlah kami dengan tenang di bangku penumpang dan menyerahkan perjalanan sepenuhnya pada Pak Selamet. Saya g tau bagaimana tepatnya Pak Selamet memacu taksinya, yang jelas saat itu arloji di tangan saya masih bilang kalo ini jam 3 pagi. Kita sampe Jogja cuma dalam 2 jam perjalanan. Bandara Adi Sucipto pun masih di portal karena belum buka. Dengan mata masih sepet, kita pun nongkrong di Dunkin Donuts, nungguin matahari siap bagi2 sinar. Ah, sekali lagi perut saya bahagia sarapan pake croissant yang super gede. Nyam nyam.

Bandara Jogja yang kecil menyambut kami pagi itu. Yeay, perjalanan kedua saya ke Singapura jadi juga. Beres2 boarding pass, beres2 imigrasi, kita berangkat. 
Terbang dari Jogja bawa pengalaman tersendiri buat saya. Ketika melongok ke luar jendela, saya menmukan gunung Merapi dan Merbabu lagi dada-dada manis sama saya. Ah,, even dari dalam pesawat kalian tetep tampak cantik dan menggoda. Saya jadi inget gimana rasanya pas berada di punggung si Merapi. Kangen. Saya juga bisa lihat gunung tetangga yang lain, Sindoro, Sumbing, trus ada lagi, tapi saya g tau namanya.

Sesuai jadwal di tiket dan itenary, jam 11 waktu Sing kita mendaratkan kaki di Changi Airport. Welcomeback Sing. Sesuai dengan iten juga, kami segera mengeluarkan diri dari Changi, naik Sky Train, and got our MRT to Boon Keng. Sejauh ini semua berjalan lancar.

Singapura yang saya kira kecil dan kemampuan MRT yang menurut saya super cepet itu, ternyata tetep membuat saya spending one hour to take me from Changi Airport to Boon Keng MRT Station, dekat The Hive Backpacker Hostel tempat saya bakal nginap selama disini. Jadilah j12 kami disambut di The Hive, check in, dan mandi. Yak, hasil sepagian belum mandi, gerah juga ternyata.

Berhubung cacing di perut bilang mau berubah jadi naga kalo g dikasih makan, saya dengan niatnya nyeduh pop mie asli Indonesia. Ini adalah snack siang. Makan siang saya lagi nunggu di Katong. Katong itu daerah pinggiran Singapura, not the touristy place, but dia terkenal dengan laksanya yang katanya menggoda. Kesana pun kita naek bus. Mengikuti petunjuk di iten yang sudah melewati riset sedemikian rupa, kita naek bus. Masalahnya, sama kayak di Indonesia, kalo naek bus kita mesti tau bentuk tempat tujuan kita. Apalagi orang Singapura susah kalo ditanya2. Kendala bahasa dan apa yang mereka omongin suka g maksud kitanya. Terbukti pas ada bapak2 baek dan tidak sombong yang ngaku punya saudara di Semarang dan ngomong dengan logat Malaysia, kita g ngeh dia ngomong apa. Yang kita tangkap si, dia bilang "go that way and you find katong". Sebenernya kita tau si kalo kita uda kebablasen. Trus kita turun sesuai petunjuk si bapak. Dan, tetep aja kita nyasar. Kalo g salah ada tulisan Katong. Ada tulisan Geylang juga. Tapi surprisely, kita nemu warung Es Teler 77 gitu di Singapura.


The next destination is find the true Katong. Berdasarkan hasil pembacaan teman di google map nya, kita harus naek bus lagi. Sekarang kita pake taktik. Kita hitung bus ini bakal berhenti berapa kali. Nah, di pemberhentian ke-9 kita mesti stop. Cara stop nya g perlu teriak2. Cukup pencet bel bus stop, then the bus will stop on the next stop. Pemandangan kanan kiri adalah wilayah perumahan Singapura yang tertata rapi tapi juga sepi. Orang2nya pada di mal dan kantor kali yaa. Satu,, dua,, tiga,, empat,, lima,, enam,, tujuh,, delapan,, bentar lagi sembilan dan saya dengan pedenya pencet the stop bus tombol. Serta merta, seorang nenek bilang ke saya kalo "that was the last bus stop". Saya melongo aja dengernya. Saya tengok, masih ada beberapa penumpang di kursi belakang. Lha, trus ini bus berhenti di poolnya gitu. Saya balik duduk manis lagi. Emang bener bus nya g berhenti2. Tapi gara2 ini, kita jadi bisa menikmati sirkuit F1 secara utuh. Yeay. Yak, kita emang di Singapura pas F1 lagi berlangsung. Tapi ya cuma nonton sirkuitnya doang uda seneng saya. La wong nggak mudeng balapan kok.


the sirkuit behind bus glass

Setelah terpana sama sirkuti F1 dan duduk manis beberapa waktu, si nenek tadi teriak2 ke saya. Ternyata bu berhenti di stopan depan. Maksud nenek tadi, that was the last bus stop from previous area. Now we in different area, and this is the first stop. Baiklah, turun saya. 
Jalan, jalan, jalan, dan kesulitan baca google map via hp ,, dan lapar. Akhirnya kita nyerah. Kita stop di McD yang jualan cheeseburger gede seharga 7SGD bonus kentang goreng gedhe dan cola. Kenyang sampe kekenyangan deh.
McD itu berada di daerah Aston. Ya,, daerah perkantorannya, mirip-mirip sama Sudirman di Jakarta.


Malamnya, kita lanjut ke Clarke Quay via MRT. Clarke Quay kalo malem seru. Cara untuk menikmati Clarke Quay juga banyak. Mulai dari uji adrenali dengan naik mainan ketapel raksasa (pilih yang dilempar naik turun ato digantung2), clubbung di klub2 hip, makan di restoran kapal pinggir kali, minum bir dingin sambil nonton F1 atau dengerin musik akustik format duo, naik kapal kayu ngider di kali, foto2 di pinggir kali, leyeh2 di jembatan, ato (yg kita lakuin saat itu) nonton polah tingkah manusia di tangga pinggiran sungai ,,pas banget saat itu ada adegan film romansa yang lagi scene si cewek ngambek sama si cowok, trus cowoknya pergi gitu aja.

clarke quey view

what u can do in clarke quay