Sabtu, 13 Agustus 2011

padang pasir. savana. bukit telletubbies. perkebunan miring ,,,part5

yap, sesuai dengan judulnya saya akan cerita bagaimana saya melewati tempat2 seru tersebut. :D

Tempat-tempat itu biasanya ada dalam cerita yang menyenangkan atau dalam perjalanan liburan. Liburan kali ini saya tidak mau melewatkannya. Pak Adi sukses meyakinkan saya untuk berpetualang bersamanya. Modal cerita dan keperacayaan pada Pak Adi, saya pun mempercayakan diri saya sendirian. Yap, kali ini saya harus berpisah dengan teman-teman saya di Cemoro Lawang. Teman-teman pulang duluan naik elf menuju stasiun Purbolinggo. Saya sendirian (sebenarnya nggak sendirian, kan ditemani) dengan Pak Adi naik motor menuju stasiun Malang. Tentu saja dengan melewati alam luar biasa yang sudah ada di dekat saya.


Perjalanan dimulai dari lautan pasir. Motor yang kami tumpangi turun melewati lautan pasir. Mengapa motor bisa berjalan di pasir dengan nyaman tanpa selip. Pak Adi dan teman2nya di Bromo sudah memodifikasi motornya sedemikian rupa. Cara berkendara mereka pun berbeda dengan cara berkendara motor di jalanan aspal. Melintasi gurun pasir dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam di atas roda mempunyai sensasi berbeda. Ini ajaib dan nggak kalah rasanya dengan naik unta di gurun.


Motor terus melaju. Padang pasir abu-abu menemukan ujungnya. Bukit yang tampak dari kejauhan lama-lama tampak semakin besar dan kokoh. Warnanya pun berubah menjadi campuran antara kuning dan hijau. Di bagian kanan dan kiri kulihat rumput di sana-sini. Warnanya seperti di buku-buku gambar yang bercerita tentang musim gugur, campuran hijau-merah-kuning.


Semakin jauh roda ini membawaku pergi, aku bertemu dengan gundukan bukit-bukit kecil berwarna hijau. Jadi mengapa ini disebut sebagai bukit telletabies. Memang ini rumah telletabies yang selalu ceria. Sang surya seperti melihat ke bawah dan tersenyum padaku. Udaranya sejuk dan menyenangkan. Di sisi sana, tampak gerombolan fotografer sedang mengabadikan keceriaan di rumah tinky-winky, dypsy, lala, dan poo.


Ini adalah persimpangan jalan. Bila belok ke kiri kau akan bertemu dengan Ranu Kumbolo. Tampak truk sayur berhenti sesaat di pertigaan ini. Dari belakang muncul sepasang manusia berambut pirang. Aku tersenyum pada mereka dan memperlihatkan keramahan khas Indonesia. Mereka tersenyum balik dan melambai padaku, memberikan salam khas ransel. Kami berbelok ke kanan, menuju jalan pulang.


Berjalan melewati lereng terjal sepertinya menjadi hal yang sulit dilakukan. Namun, untuk masyarakat di sini, itu bukan hal yang susah. Mereka bahkan mampu berkebuk di lereng-lereng yang sulit. Bagaimana caranya, aku pun tidak paham pastinya. Mungkin kaki-kaki mereka memang sudah fix dengan lereng terjal dan tanah gembur. Yang jelas perkebunan ini tampak indah sekali dengan background pegunungan dan langit biru cerah. Lebih indah bila bisa menikmatinya dengan mata kepala sendiri sambil dibelai tiupan angin pegunungan yang sejuk.

@dini_lintang

1 komentar:

  1. duh, jadi kangen trekking dua hari lewat jalur ini tahun 2009 lalu, kapan bisa cuti, biar bisa napak tilas lagi ini T_T

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)