Rabu, 10 Agustus 2011

Cahaya Kuning Kemerahan ,,part4



Saat itu jam 4 pagi dan sleeping bag saya sangat hangat. Biasanya keadaan seperti ini membuat saya sulit untuk membuka mata dan sangat mudah untuk melanjutkan mimpi. Namun tidak saat itu. Bagian diri saya yang lain berkata pada kebiasaan buruk saya, bahwa saya sedang berada di lokasi wisata internasional. Semua orang dari seluruh dunia datang ke tempat ini untuk menyaksikan tanda pasti bumi berputar. Yak, saya harus mengejar sang matahari yang beberapa saat lagi akan menunjukkan cahayanya yang indah, cahaya kuning kemerahan di ujung timur bumi.

Saya pun membuka mata, menyadarkan sekali lagi pada diri saya bahwa saya sedang berada di salah satu tempat terindah yang ingin dikunjungi begitu banyak manusia di muka bumi. Saya menguatkan tubuh saya untuk keluar dari kepompong tidur saya yang super nyaman, membuka pintu kamar, dan membasuh muka saya dengan air gunung.

Setelah menggunakan jaket dua lapis, topi kupluk, kaos kaki, dan sarung tangan, saya berjalan ke luar penginapan. Ternyata di tengah2 udara super dingin yang rasanya menggigit, puluhan jeep dan motor berlomba-lomba berlari menuju pananjakan. Saya pun bergabung dengan serdadu jeep dan motor itu. Bersama guide saya, Pak Adi saya melaju dengan kecepatan 40-60 km/jam melewati jalan terjal berdebu menuju pananjakan. Sekeliling saya gelap dan saya hanya bisa pasrah pada Pak Adi.

Ternyata kaki saya harus ikut bergerak demi mencapai puncak. Motor yang kami tumpangi harus parkir, kemudian saya harus melanjutkan langkah. Di depan, banyak titik2 cahaya yang berasal dari senter. Titik2 itu menuju ke atas, menuju pananjakan, untuk menyaksikan kedatangan sang surya.

Beberapa kali saya meminta Pak Adi untuk berhenti sejenak. Berjalan di pagi2 buta yang gelap di jalan terjal dan berdebu, pada ketinggian dua ribu sekian cukup membuat saya kesulitan mendapat oksigen. Saya tahu jika darah saya agak kesulitan mengikat oksigen pada kondisi seperti ini. Beberapa wisatawan yang lain juga mengalami hal seperti saya. Mereka pun memilih untuk istirahat sejenak, bahkan beberapa naik kuda. Saya tergoda untuk naik kuda, tapi rasa takut masih mengalahkan hasrat untuk naik kuda. Saya juga berpikir harus menggerakkan badan supaya bisa menghasilkan panas tubuh.

Berhenti. Jalan. Terengah-engah. Berhenti. Jalan. Terengah-engah. Siklus itu akhirnya berakhir setelah saya berhasil mencapai pananjakan. Beruntung saya naik bersama Pak Adi. Beliau menunjukkan tempat yang lebih tinggi dan lebih sepi untuk menikmati sang surya yang mulai naik. Dari ketinggian ini, saya bisa duduk dan memandangi detik2 kedatangannya.

Melihat cahaya kuning kemerahan yang luar biasa ini membuat saya bersyukur saya punya tubuh sehat dan mampu mencapai tempat ini. Tuhan luar biasa. Samar-samar gunung Bromo, Batok, dan Semeru mulai melihatkan guratannya. Cantik.


Cahaya semakin terang. Saya pun melihat berbagai macam manusia dengan jelas. Dari situ saya melihat 70% warga negara asing. Mereka datang jauh-jauh ke Indonesia dan mengagumi cerita tentang Bromo. Bromo memang menawan.  :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading and leaving comment :)