Sabtu, 27 Agustus 2011

the question of "who am I"

Who am I?
If this queston appear, you must find out your past first. Where are you come from, who is you parents.
Then you'll questioning about why you were born to this world.

It's not matter about your past. You can create your future. You can choose what you want to be.

*efek nonton kungfu panda 2
nb: watch the 3D and you feel jump with Po from the highest stairs of pagoda and feel the comfort of Po big stomach

Jumat, 26 Agustus 2011

running and get refresh

this last few days is some of heavy days to me. the thing that i have to sit down in front of the computer for some hours. but, i know it gonna change soon. it's depend on how many hours i can sit calm in front of my computer without being out or something. so, i decide to remembering my out thing in the past.













these pictures taken from Batur Village, near Kopeng area, Central Java, Indonesia. Always miss the colofull flowers, the traditional snack, the fresh chill air, the mountain and cloud background, the mow, and the vegetable garden

Rabu, 17 Agustus 2011

Senin, 15 Agustus 2011

Slang With The Local ,,,end

Masih menyambung cerita tentang Bromo,,, Masih ada hal yang ingin saya bagi :)

Selama kira-kira separuh perjalanan saya ditemani oleh Pak Adi, warga asli Bromo atau dikenal dengan suku Tengger. Beliau menamatkan sarjana sebagai pendidik. Sempat mengajar di sekolah di daerah Tengger. Namun jiwa petualangnya menolak untuk mengabdi sepenuhnya sebagai abdi negara. Beliau memilih untuk bertualang dan menemani orang-orang seperti saya yang rindu menikmati alam di daerahnya. Jadilah saya dapat banyak cerita dan fakta tentang Bromo,,
  1. Masyarakat Tengger sepakat bahwa pendidikan itu penting. Terbukti ada syarat bahwa tidak boleh menikah bila belum punya ijasah SMA. Masyarakat Tengger pun melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah. Mereka kedatangan dosen ke daerah mereka dalam jangka waktu tertentu.
  2. Masyarakat Tengger sangat cinta dengan daerahnya dan menyatu dengan alamnya. Mereka memilih untuk berkarya di daerahnya. Kata mereka, orang-orang dari seluruh dunia datang kemari jadi untuk apa mereka harus pergi. Nice
  3. Belakangan ini kawasan Bromo sering terekspose, baik untuk FTV, acara life style, sampai pembuatan film. Namun masyarakat Tengger bangga. Eksposure ini untuk lebih mengenalkan daerah Bromo kepada dunia.
  4. Tengger mempunyai bahasa dan penanggalan sendiri yang berbeda dengan Jawa. Kasodo adalah salah satu bulan dalam budaya Tengger dimana ada upacara untuk menyambutnya. Penanggalan Tengger punya 12 bulan dalam satu tahun. Bulannya apa,, saya lupa,, hehehe,, padal Pak Adi sudah cerita.
  5. Upacara Kasodo diadakan tiap tahun dengan perhitungan oleh tetua Masyarakat Tengger. Ceritanya dulu ada sepasang suami istri yang belum mendapat keturunan memohon pada dewa agar diberi keturunan. Dewa menjawab doa mereka. Mereka dikaruniai banyak keturunan (kalo g salah 12). Namun, satu yang terakhir hilang ketika berada di kawah Bromo. Ketika anak itu hilang muncul suara dari kawah bahwa masyarakat Tengger harus mengadakan upacara tiap bulan Kasodo.
  6. Masyarakat Tengger terbagi dalam tiga wilayah yang terpisah-pisah. Hitungannya sudah beda kota. Namun semua masyarakat Tengger saling mengenal satu sama lain. Sama seperti halnya tradisi lebaran, masyarakat Kasodo punya saat tertentu untuk saling silaturahmi ke seluruh masyarakat Tengger di tiga kota tersebut.
Beberapa gambar dari perjalanan saya ke Bromo. Berharap bisa datang lagi

Minggu, 14 Agustus 2011

I'm just blessed

Actually this is my thing to life. I share how to do music. Love it. This is kind of fun job. 
Sometimes I just wonder how their little fingers can play some cute short funny song.

And It All Ends Here

I've been waiting for so long, then you come. Yeay


Harry Potter and The Deathly Hollow part2 as the ending is nice story. So happy I can enjoy it in Blitz with giant screen and great sound. I still scary to try the 3D because there's a lot nagine sceen on that movie.

Well, I'm not going to tell you how the strory. I just want to share my fave scene.

Snape. This guy seems so evil since the first book. But, in this end he show what he really is. I love this character actually. Snape have loved Lily since childhood and it continue until Lily has die and continued his love to Lily's son. Of course with his way,, and I think Snape has nice way to show it.
I love the scene to tell the world who is Snape really are. When Harry turn into pensive and watch Snape's memory.

The scene when Harry meet Prof Albus Dumbledore. When Harry have a choice to still alive or going somewhere nice. I like their conversation. When Dumbledore said that it's in your mind of course, but it's real,, what's the different


Sabtu, 13 Agustus 2011

padang pasir. savana. bukit telletubbies. perkebunan miring ,,,part5

yap, sesuai dengan judulnya saya akan cerita bagaimana saya melewati tempat2 seru tersebut. :D

Tempat-tempat itu biasanya ada dalam cerita yang menyenangkan atau dalam perjalanan liburan. Liburan kali ini saya tidak mau melewatkannya. Pak Adi sukses meyakinkan saya untuk berpetualang bersamanya. Modal cerita dan keperacayaan pada Pak Adi, saya pun mempercayakan diri saya sendirian. Yap, kali ini saya harus berpisah dengan teman-teman saya di Cemoro Lawang. Teman-teman pulang duluan naik elf menuju stasiun Purbolinggo. Saya sendirian (sebenarnya nggak sendirian, kan ditemani) dengan Pak Adi naik motor menuju stasiun Malang. Tentu saja dengan melewati alam luar biasa yang sudah ada di dekat saya.


Perjalanan dimulai dari lautan pasir. Motor yang kami tumpangi turun melewati lautan pasir. Mengapa motor bisa berjalan di pasir dengan nyaman tanpa selip. Pak Adi dan teman2nya di Bromo sudah memodifikasi motornya sedemikian rupa. Cara berkendara mereka pun berbeda dengan cara berkendara motor di jalanan aspal. Melintasi gurun pasir dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam di atas roda mempunyai sensasi berbeda. Ini ajaib dan nggak kalah rasanya dengan naik unta di gurun.


Motor terus melaju. Padang pasir abu-abu menemukan ujungnya. Bukit yang tampak dari kejauhan lama-lama tampak semakin besar dan kokoh. Warnanya pun berubah menjadi campuran antara kuning dan hijau. Di bagian kanan dan kiri kulihat rumput di sana-sini. Warnanya seperti di buku-buku gambar yang bercerita tentang musim gugur, campuran hijau-merah-kuning.


Semakin jauh roda ini membawaku pergi, aku bertemu dengan gundukan bukit-bukit kecil berwarna hijau. Jadi mengapa ini disebut sebagai bukit telletabies. Memang ini rumah telletabies yang selalu ceria. Sang surya seperti melihat ke bawah dan tersenyum padaku. Udaranya sejuk dan menyenangkan. Di sisi sana, tampak gerombolan fotografer sedang mengabadikan keceriaan di rumah tinky-winky, dypsy, lala, dan poo.


Ini adalah persimpangan jalan. Bila belok ke kiri kau akan bertemu dengan Ranu Kumbolo. Tampak truk sayur berhenti sesaat di pertigaan ini. Dari belakang muncul sepasang manusia berambut pirang. Aku tersenyum pada mereka dan memperlihatkan keramahan khas Indonesia. Mereka tersenyum balik dan melambai padaku, memberikan salam khas ransel. Kami berbelok ke kanan, menuju jalan pulang.


Berjalan melewati lereng terjal sepertinya menjadi hal yang sulit dilakukan. Namun, untuk masyarakat di sini, itu bukan hal yang susah. Mereka bahkan mampu berkebuk di lereng-lereng yang sulit. Bagaimana caranya, aku pun tidak paham pastinya. Mungkin kaki-kaki mereka memang sudah fix dengan lereng terjal dan tanah gembur. Yang jelas perkebunan ini tampak indah sekali dengan background pegunungan dan langit biru cerah. Lebih indah bila bisa menikmatinya dengan mata kepala sendiri sambil dibelai tiupan angin pegunungan yang sejuk.

@dini_lintang

Rabu, 10 Agustus 2011

Cahaya Kuning Kemerahan ,,part4



Saat itu jam 4 pagi dan sleeping bag saya sangat hangat. Biasanya keadaan seperti ini membuat saya sulit untuk membuka mata dan sangat mudah untuk melanjutkan mimpi. Namun tidak saat itu. Bagian diri saya yang lain berkata pada kebiasaan buruk saya, bahwa saya sedang berada di lokasi wisata internasional. Semua orang dari seluruh dunia datang ke tempat ini untuk menyaksikan tanda pasti bumi berputar. Yak, saya harus mengejar sang matahari yang beberapa saat lagi akan menunjukkan cahayanya yang indah, cahaya kuning kemerahan di ujung timur bumi.

Saya pun membuka mata, menyadarkan sekali lagi pada diri saya bahwa saya sedang berada di salah satu tempat terindah yang ingin dikunjungi begitu banyak manusia di muka bumi. Saya menguatkan tubuh saya untuk keluar dari kepompong tidur saya yang super nyaman, membuka pintu kamar, dan membasuh muka saya dengan air gunung.

Setelah menggunakan jaket dua lapis, topi kupluk, kaos kaki, dan sarung tangan, saya berjalan ke luar penginapan. Ternyata di tengah2 udara super dingin yang rasanya menggigit, puluhan jeep dan motor berlomba-lomba berlari menuju pananjakan. Saya pun bergabung dengan serdadu jeep dan motor itu. Bersama guide saya, Pak Adi saya melaju dengan kecepatan 40-60 km/jam melewati jalan terjal berdebu menuju pananjakan. Sekeliling saya gelap dan saya hanya bisa pasrah pada Pak Adi.

Ternyata kaki saya harus ikut bergerak demi mencapai puncak. Motor yang kami tumpangi harus parkir, kemudian saya harus melanjutkan langkah. Di depan, banyak titik2 cahaya yang berasal dari senter. Titik2 itu menuju ke atas, menuju pananjakan, untuk menyaksikan kedatangan sang surya.

Beberapa kali saya meminta Pak Adi untuk berhenti sejenak. Berjalan di pagi2 buta yang gelap di jalan terjal dan berdebu, pada ketinggian dua ribu sekian cukup membuat saya kesulitan mendapat oksigen. Saya tahu jika darah saya agak kesulitan mengikat oksigen pada kondisi seperti ini. Beberapa wisatawan yang lain juga mengalami hal seperti saya. Mereka pun memilih untuk istirahat sejenak, bahkan beberapa naik kuda. Saya tergoda untuk naik kuda, tapi rasa takut masih mengalahkan hasrat untuk naik kuda. Saya juga berpikir harus menggerakkan badan supaya bisa menghasilkan panas tubuh.

Berhenti. Jalan. Terengah-engah. Berhenti. Jalan. Terengah-engah. Siklus itu akhirnya berakhir setelah saya berhasil mencapai pananjakan. Beruntung saya naik bersama Pak Adi. Beliau menunjukkan tempat yang lebih tinggi dan lebih sepi untuk menikmati sang surya yang mulai naik. Dari ketinggian ini, saya bisa duduk dan memandangi detik2 kedatangannya.

Melihat cahaya kuning kemerahan yang luar biasa ini membuat saya bersyukur saya punya tubuh sehat dan mampu mencapai tempat ini. Tuhan luar biasa. Samar-samar gunung Bromo, Batok, dan Semeru mulai melihatkan guratannya. Cantik.


Cahaya semakin terang. Saya pun melihat berbagai macam manusia dengan jelas. Dari situ saya melihat 70% warga negara asing. Mereka datang jauh-jauh ke Indonesia dan mengagumi cerita tentang Bromo. Bromo memang menawan.  :))

Selasa, 09 Agustus 2011

The Chill Night ,,, part3

Seperti yang sudah2 terjadi kalo saya harus bermalam di gunung, saya kedinginan! Apalagi di ketinggian kira-kira 2300 mdpl suhunya mencapai 8-10 derajat celcius. Tubuh saya yang biasa ditemani dengan suhu 26-30 derajat di pinggir laut harus menyesuaikan suhu.

Tapi selain rasa dingin tadi, saya sangat menikmati udara gunung. Setelah sekian lama. Saya pun memberanikan diri keluar dari ruangan 3x3 yang pastinya lebih hangat bila dibanding dengan udara di luar. Ketika memandang ke atas, saya melihat begitu banyak bintang terhampar di langit luas itu. Rasanya sangat dekat dengan angkasa.

Berjalan beberapa langkah, menikmati semilir angin gunung yang dingin, dan melihat kehidupan malam masyarakat Tengger. Malam-malam begini desa sudah sepi. Hanya beberapa orang yang masih berkeliaran untuk mencari makan. Ya,, seperti kami ini.

Kami menemukan warung kecil yang lumayan rame. Ditambah kedatangan kami (saat itu ber5) warung kecil itu rasa2nya makin sesak. Walaupun sesak, tapi tetep di dalam kami harus merapatkan jaket karena dingin tetap menusuk. Pak Adi sang pemilik warung, punya cara seru untuk menghangatkan kaki,,,


Cerita bromo, secangkir jahe hangat, penghangat kaki, sepasang bule pirang, dua bapak tionghoa, dan pastinya teman2 perjalanan yg menyenangkan :)

Sabtu, 06 Agustus 2011

andai ada sorban doraemon - bromo part2

di depan kami terhampar lautan pasir yang maha luas. semua sepertinya berwarna abu2 dan berpartikel sangat kecil. seorang pria dan seorang wanita berambut blonde berjalan melalui jalan setapak, menuju ke bawah, mengikuti jejak yang sudah ditinggalkan, dan meninggalkan kami menuju lautan pasir itu. di ujung sana kulihat gunung batok dan gunung bromo.

bromo. puncak itu yang akan kami tuju. setelah berdoa dan mengambil gambar, kami pun turun melewati jalan setapak pasir itu. jalannya tak mudah. kami harus menapakkan kaki kami perlahan dan mengikuti alurnya. ada pasir yang padat dan nyaman untuk dipijak namun ada pula pasir yang gembur dan mudah hancur. 

begitu masuk ke lautan pasir maha luas, angin dingin khas pegunungan berhembus. sang angin membawa serta butiran2 pasir kecil. untung kami sudah bersiap mengenakan masker, bahkan ada yang mengenakan kacamata penghalau debu. di kejauhan tampak torpedo2 pasir kecil menari-nari dengan anggun.




jalanan di lautan pasir ini menjebak. ada seperti sungai tak berair yang menjorok ke dalam. kaki kami tak mampu melewatinya. di kejauhan tampak gundukan2 pasir bagai gunung2 kecil. kata teman, gunung pasir ini hanya ada 2 di pulau jawa, di bromo dan pantai parangtritis. lokasi gundukannya tidak selalu sama, melainkan  berpindah2. namun perpindahannya tidak terlalu jauh.

melewati lautan pasir mengingatkanku pada cerita doraemon petualangan yang berpetualang di negeri dongeng. demi menyelamatkan shizuka, doraemon, nobita, suneo, dan jaiko harus melewati gurun pasir yang panas dan kadang2 harus menemui badai pasir.




mendekati puncak bromo, badai pasir pun menghampiri kami. butiran2 pasir halus itu menyerang kami. kami pun kesulitan bernapas dan melihat. saya jadi teringat akan doraemon dan sorban ajaibnya. kala badai pasir datang, sorban doraemon memanjang dan berubah menjadi tenda super nyaman. ah,,, tapi mana ada doraemon dan sorbannya di gunung. di sini yang ada masker, jaket, dan sarung. kita bisa mengatasi badai pasir bromo ini.

mendaki anak tangga demi anak tangga untuk mencapai puncak bromo tidaklah mudah. namun hei, kami bisa! walau hanya semenit berada di puncak dan berusaha memandang kawah, kami berhasil mencapai puncak dengan ketinggian 2300 mdpl. dengan ditemani badai pasir, kami turun kembali ke bawah, melewati anak tangga satu demi satu.

ketika kami sampai di bawah dan melangkah beberapa meter, badai pun reda dan puncak tampak jelas. ah,, puncak bromo, kenapa tadi kami disambut badai disana.







kami pun sempat berhenti sejenak menikmati padang pasir bromo. memandang pura dan mendapati gambar sempurna darinya. Tuhan memang luar biasa.

perjalanan pun berlanjut. kaki-kaki kami masih melangkah. kali ini melewati rute yang lain. beberapa tukang ojek motor dan kuda menawarkan kami untuk naik kembali ke cemoro lawang. kami menolak dan membiarkan kaki kami melangkah. ternyata perjalanan kembali ke cemoro lawang lumayan juga. menanjak.


sembari kembali ke cemoro lawang, kami dihadiahkan pemandangan spektakuler oleh alam. menit-menit ketika matahari kembali ke peraduan. warna jingga yang menenangkan ditambah pemandangan ranting pohon dan lautan pasir. Tuhan,,, ini hebat. terima kasih :)
dinilintangasri.dla[at]gmail[dot]com

Jumat, 05 Agustus 2011

long road to get through.....part1

perjalanan kali ini dimulai dini hari. menurut jadwal kereta bisnis gumarang akan membawa saya ke surabaya selama 5jam. jadilah tengah malam saya minta dianterin ke stasiun tawang trus duduk manis menanti si gumarang datang. ternyata gumarang yang ditunggu-tunggu datangnya telat. yak, saya mesti tidur2an sejam-an lah di stasiun.

pas nunggu2 ternyata ada temen ngobrol. hari gini jarang lho bisa dapet temen ngobrol. kalo diperhatiin ke sekeliling2 orang2 yang menunggu itu matanya selalu nempel ke layar hp sambil jempolnya utek2 (termasuk saya juga sii,,,). berhubung bosen sama hp, saya pilih ngobrol sama orang. ternyata si mas punya cerita seru. si mas ini uda menjelajah kota2 di indonesia, mulai dari kota2 di jawa, sulawesi, kalimantan, papua udah. dia menjelajahnya pake kaki gitu. katanya penasaran. ah, saya juga jadi ikut penasaran. jadi si mas ini barusan ngabisin cuti buat keliling semarang. lah, tau saya mau ke bromo, si mas ini pengen ikut. tapi g berdaya karena bosnya uda manggil suruh balik kerja.

si gumarang yang ditunggu2 pun nongol. yipie,, berangkat kita. di dalam gerbong, banyak yang gelar lapak buat tidur di bawah. saya aja mesti lompat biar bisa mencapai kursi saya. persis di sebelah kursi saya ada mas2 tidur pules les les. beberapa orang lain juga nampak tidur dengan pulas di sudut2 kereta yang lain. setelah mendapat posisi yang asik, saya pun ikut tidur,,, tapi di kursi saya lho. ternyata ini kereta bisnis tapi dinginnya ngalahin eksekutif. perasaan jendela di deket2 saya ditutup, tapi anginnya duingin.
                                                                                                                    
sama seperti kedatangannya di stasiun tawang, si gumarang juga telat sejam sampe stasiun pasar turi surabaya. temen2 saya yang laen (yang sampe di surabaya dengan kereta yang laen) uda sampe duluan jam4 tadi. jadilah saya kurang tenang gitu gara2 baru nyampe jam 7 pagi. ah, tapi mau gimana lagi, bukan saya yang telat, maklum masih di indonesia. 

hal pertama yang saya nantikan di turi adalah toilet. tentu saja, saya orang yang males ke toilet kalo di kereta, goyang2 gitu. selesai dengan urusan toilet dan tampak agak seger, perut saya mulai protes. berhubung saya harus lanjut ke terminal bungurasih, saya beli croisant di dunkin donat aja lah. lumayan bisa sarapan di bus yang bakal antar saya ke bungur.

keluar dari stasiun saya pun melangkahkan kaki ke arah kiri, cari pertigaan pasar turi trus nongkrong di sana buat nungguin bus ke bungurasih. g berapa lama si bus yang dinanti datang. masuk. duduk manis. trus makan deh tu croissant :d

sampe di stasiun bungur, ketemu temen2. yihaa,,, perjalanannya jadi rame ni. lanjut kita ke porbolinggo. pake bus AC dengan tuker 20IDR. setelah duduk. ngobrol. nikmatin AC selama kira2 dua jam, badan ini sampe di terminal porbolinggo. makan lagi. trus cus berangkat lagi,,,,, :)).

elf hijau membawa kami menuju puncak. jalanan terus naik naik dan naik. setelah melewati jalan berliku, berkelok, dengan disertai pemandangan spektakuler di kiri kanan, kira2 satu jam kemudian kami sampai di cemoro lawang. kami menaruh barang dan rasa capek kami di sebuah guesthouse sederhana. kami menukar rupiah kami senilai 160k untuk bisa menaruh badan kami ber8 disini.

barang aman, capek ditinggal di guesthouse, kami siap melanjutkan langkah dengan kaki kami. :)

,,,,to be continue