Rabu, 29 Juni 2011

secuil serpihan di kota lama - semarang

Bila kembali ke Semarang melalui gerbang Stasiun Tawang, rasanya selalu menyenangkan. Alunan Gambang Semarang selalu menyambut dan memberikan rasa nyaman. Apalagi bila dilanjut dengan naik becak menyusuri kawasan kota lama di area Stasiun Tawang. 
Ini beberapa serpihan yang bisa kubeberkan. Serpihan yang lain silakan datang ^^










dinilintangasri.dla@gmail.com

Jumat, 24 Juni 2011

membaca kata hati di sam po kong

Siang itu panas seperti biasanya. Matahari tampaknya sedang bersuka belakangan ini. Dengan ditemani keriaan sang surya, aku melalui jalanan aspal Semarang yang memantulkan kehangatan sang mentari. Warna merah klenteng menambah aura ceria. Baiklah apa yang kita dapat hari ini. Aku pun memarkir motor dan dengan mantap melangkahkan kaki.


Tidak seperti dulu, ketika namanya belum dikenal luas. Untuk menikmati keindahan klenteng Sam Po Kong, kami harus menukar 3000 IDR untuk tiket masuk, ditambah tiket penitipan motor 1000 IDR atau 3000 IDR bila bawa mobil. Kalau mau menikmati klentengnya langsung (masuk lebih dalam) kami harus rela menukar 20000 IDR. Tak habis akal, aku menyatakan mau sembahnyang pada pak satpam. Pak satpam mempersilakan kami untuk beli hio di toko depan. Kutukar 10000 IDR untuk hio. Kami pun masuk dengan tenang.

Saat menukar hio, si ibu penjual berkata, "bila mau bertanya, bisa berdoa di dua klenteng dari total tiga klenteng. klenteng pertama adalah dewa bumi. atau klenteng ketiga, sam po kong.".


Di tempat dewa bumi, kami melihat ada orang yang mengacungkan hio ke udara. Mengucap doa. Kemudian menggerakan hio ke atas ke bawah beberapa kali. Ah, cara manusia memang berbeda-beda. Aku pun mengucap doa pada Sang Empunya. Suasana hening. Kubakar hio tadi 3biji dan kuletakkan di tempatnya, seperti orang tadi.

Klenteng ketiga, sam po kong, lebih besar dan megah. Seorang engkok tidur-tiduran menikmati siang. Hawa disini memang lebih menyenangkan dan adem dengan semilir angin yang sepoi-sepoi. Kulihat ada orang lagi yang melakukan ritual kurang lebih sama. Aku ikut menggumamkan doa pada Yang Kuasa dan menaruh 3 hio lagi di sana.

Kudengar suara 'ocrok-ocrok' di sudut satunya. Di depan Gua Batu tampak seseorang sedang mengocok kaleng yang berisi beberapa lidi bernomor. Dia menunggu lidi itu jatuh. Satu saja. Bila ada dua atau lebih lidi yang jatuh maka dia mengambilnya dan mengulang mengocok kaleng. Akhirnya satu lidi bernomor 17 jatuh ke tanah. Dia pun mengambil benda berwarna merah dan hitam berbentuk mirip bumerang. Melemparnya ke udara. Dan menemukan si bumerang tersebut jatuh ke tanah. Satu jatuh berwarna merah, yang lain jatuh berwarna hitam. Berarti jawabannya sudah ditemukan.


Dia datang untuk bertanya, haruskah ia pergi atau tetap tinggal. Dia menuju laci, mengmbil kertas no.17. Membacanya sendiri rupanya kurang memuaskan. Engkok pun ditanya untuk membantu membaca arti kertas no.17. Jawabannya seperti kata hatinya, tidak perlu pergi.

Ah, ocrok-ocrok tadi hanya penegasan. Sebenarnya hati sudah berbicara duluan. Namun, kadang kita tidak bisa membacanya dengan pasti. Ah, opini. Semua orang punya pilihannya sendiri-sendiri. 


Kamis, 23 Juni 2011

the jazzy tune

i always love to enjoy the jazzy tune.
that saturday night, in taman kb, enjoying jazzngisoringin
and off course, friends and music lover
ah, i love my city

the enjoyer



the picture capturer

the performer

the performer

the saxophone

dinilintangasri.dla@gmail.com
@dini_lintang

Rabu, 22 Juni 2011

daun.yang.jatuh.tak.pernah.membenci.angin



"Aku tak pernah menginginkan perasaan ini, kan? Dia datang begitu saja. Menelusuk hatiku. Tumbuh  pelan-pelan seperti kecambah disiram hujan. Aku sungguh tidak pernah menginginkan semua perasaan ini."

"Orang-orang yang sedang jatuh cinta memang cenderung senang menghubungkan satu dan hal lainnya. Mencari-cari penjelasan yang membuat hatinya senang. Tetapi aku sudah memutuskan untuk memilah mana simpul yang nyata serta mana simpul yang berasal dari ego mimpiku."

"Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah ke mana. Dan kami akan mengerti, kami akan memahami... dan kami akan menerima."

Selasa, 21 Juni 2011

pagi . matahari . harapan

setiap travelling untuk menikmati alam bebas, saya selalu mencari cara untuk menikmati momen2 ketika sang surya menampakan dirinya.
tapi bukankah, sang surya selalu menampakan wajahnya ke dunia setiap hari. ritual itu tidak pernah berhenti dan selalu menimbulkan perasaan yang luar biasa ketika menikmatinya.
saya pun mencari ke sudut2 kota, semarang, tempat dimana saya menghabiskan sebagian besar hidup saya, untuk menikmati wajah sang surya. bulatan emas menakjubkan diiringi warna langit yang menawan.






dinilintangasri.dla@gmail.com
@dini_lintang

Senin, 20 Juni 2011

from phuket w/ love,, i take elephant for you

 i pray you have wonderful vacation and i should get some gift from your trip, my bestie pray for me before i leave for trip. so, your wish come true dear bestie. i have brought an idea from phuket and bring it to you. enjoy :)
the elephant pulshie
dinilintangasri.dla@gmail.com

message from God




dinilintangasri.dla@gmail.com

Sabtu, 18 Juni 2011

another story

memburu sang budha di ketinggian, bertemu kabut, dan berkejaran dengan waktu menikmati temple di tempatnya di wat calong. menikmati rupa manusia, mencoba tuk tuk layaknya the locals, bertamu ke budget hotel dengan lobi museum, dan naik taksi keren. another story of phuket. here are some picture: 

the local bus
phatong - phuket town 25B each

hello big budha

pemandangan dari big budha saat kabut merayap turun


rupiah eksis!

suatu tempat di big budha
*ketutup kabut dan gerimis*

funny big fat cat

taman di wat kalong

salah satu temple di wat calong

inside wat calong

unyu,,,, jadi pengen kembaran kolor
anyone? :D

dinilintangasri.dla@gmail.com

finish my step on phuket. the story has been recorded. i just share by note this. wish you enjoy :)