catatan kaki

Jumat, 25 Juli 2014

Bye Singapore & the Story Behind

Akhirnya hari-hari penuh perhitungan akibat perbedaan nilai tukar rupiah terhadap dolas singapura yang signifikan akan segera berakhir. Malam ini kami bisa bergeser ke Genting, Malaysia dengan menumpang bus malam dari Golden Mile Tower dengan membayar 35 SGD. Jam keberangkatannya jam 11.30 malam, dan kami harus siap di Golden Mile Tower jam 11. Woke!

Malam itu kami balik lagi ke hostel di daerah Bugis untuk ambil backpack. Saat itu masih jam 9. Kami masih punya sekitar 2 jam untuk cari makan malam. Cari sana-sini, pilihannya balik lagi ke resto fast food. Ya sudahlah. Sekitar jam 10.30 kami keluar untuk cari taksi. Kenapa taksi? Kalau menurut info, Golden Mile Tower dan Bugis area itu letaknya berdekatan. Biaya taksi sekitar 5 SGD. Dengan backpack gede, rasanya males balik ke mrt, diperiksa tas gedenya sama petugas, mesti transfer line mrt lagi.

Kami dengan pede nangkring cantik di salah satu halte bus. Sekian menit berlalu, tidak ada tanda-tanda taksi kosong meluncur. Haishhh,,,. Kami pun mulai berpikir untuk pakai bus. Banyak jalur bus yang bisa membawa kami ke Golden Mile Tower. Sayangnya, kami nggak tahu arah Golden Mile Tower kemana. Kami juga nggak punya koneksi internet. Tapi ini kan Singapura. Kami pun bagi tugas. Kuncrit jagain taksi kosong, aku ke halte cari info bus apa yang melintas di halte itu. 

Ternyata dari sekian banyak bus, nggak ada yang ke arah Golden Mile Tower. Oia,, kita juga bisa tahu arah bus itu kemana ternyata. Kami harus cari arah Nicoll Highway yang sepertinya bersebrangan dengan halte tempat kami nunggu. Kami pun nyebrang dan jalan ke halte yang berlawanan. Tunggu,, tunggu,, tunggu,,. Taksi nggak ada, bus pun nggak ada. Jamnya udah nambah aja. Di sisi jalan lain, kami lihat banyak taksi kosong melintas. Kami pun mutusin buat pindah jalur.

Halte itu agak sepi. Kami cuma nemu satu mbak-mbak dan beberapa orang tua di ujung. Udah males cari-cari info bus di papan halte, kami pun nanya sama mbak-mbak itu. Si mbak diem aja dan cuma utak-atik hp. Taksi juga nggak kunjung datang. Huft,,. Ternyata si mbak lagi cariin info buat kami. Dan kami salah jalur lagi. Ini halte letaknya di jalur searah, dan kami di jalur dengan arah yang berlawanan dari Golden Mile Tower. Terpaksa kami harus jalan cari belokan, dan cari halte di sisi lain.

Pas lagi jalan cepat di belokan, nggak sengaja lihat bus melintas. Kami pun lari ngejar bus itu. Bus itu merupakan salah satu bus yang bisa bawa kami ke Golden Mile Tower. Sayangnya halte busnya nggak di pojokan. Ya udah kita lari ngejar bus. Tapi, busnya ninggalin  kami gitu aja. Huhuhuhu. Jamnya udah makin mepet aja. Di halte itu ternyata banyak yang nunggu taksi juga. Kami pun cari segala macam kesempatan, nanyain orang-orang yang nunggu taksi apa mereka searah dengan kita biar bisa barengan. Kalo sikonnya nggak mepet kayak gitu, aku nggak berani deh minta nebeng gini.

Beberapa menit nunggu taksi yang nggak mau berhenti, rasanya kami udah putus asa. Pikiran-pikiran kalo ketinggalan bus ke Genting mulai bermunculan. Kalo mesti nginep lagi di Singapura, rasa-rasanya udah males banget (*baca: nggak punya duit). Huhuhuhu. Tetiba ada bus datang. Kami pun lari lagi ke arah bus. Kali ini bisa masuk. Yes! Pas nanya sama sopirnya, "Are you going to Golden Mile Tower?" si sopir malah bengong. Haish. Ternyata itu bus jalan ke arah yang berlawanan, info ini didapat dari penumpang. Huhuhuhu. Kami mesti balik ke halte di arah yang lain.

Rasanya putus asa saat itu. Mau jalan kaki tapi nggak tahu arah. Mau balik ke MRT station tapi udah lari jauh banget dan kemungkinan waktunya nggak nyampe. Mau cara paling enak, pake taksi, taksinya nggak ada yang available. Huhuhuhu. Tapi justru di saat-saat putus asa gitu ada bus melintas. Kami langsung cegat dan nanya ke sopirnya "Are you going to Golden Mile Tower?", dan si sopir India itu menganggukan kepalanya. Fiuhhhh,,, satu masalah terlewati.

Si sopir baik hati menghentikan bus nya di halte Golden Mile Tower dan kasih tau kami kalo kami mesti berhenti disini. Katanya, Golden Mile Tower terletak di seberang. Thank you om sopir. Saat itu jam 11 lewat 5. Masih deg-degan karena belum konfirmasi. Yang bikin deg-degan lagi jalanan di deket halte itu sepi. Hanya tampak satu dua orang di kejauhan. Ini jalan raya yang gede banget dengan pembatas jalan. Gimana nyebrangnyaaaaa.

Oooh ternyata di ujung yang agak jauh ada jembatan penyebrangan. Ngos-ngosan lari-larian dari halte, naik jembatan, akhrinya lihat bangunan Golden Mile Tower dan bus-bus gedhe yang banyak. Yeay. Dengan keringat buanyak, akhirnya kami pun sampe. Konfirmasi. Naik bus deh. Yeay! Kami jadi juga ninggalin Singapura. Bye bye Singapore!

This is why I love traveling:
  • Ada banyak surprise tak terduga
  • Belajar untuk ambil keputusan dengan cepat dan memutuskan sesuai skala prioritas
  • Bertemu banyak orang dan berinteraksi dengan mereka
  • ....and a lot more
@dinilint
Thanks God I be traveler some time in my some life :D

Kamis, 24 Juli 2014

Gratisan di Singapura!

Kabar gembira! Singapura bisa dinikmati dengan gratisan :D


Singapura nggak melulu mahal. Nggak semua tempat menarik di Singapura membutuhkan administrasi (*baca: beli tiket) untuk masuk dan menikmati atraksinya. Ini beberapa tempat yang gratisan dan cakep. Kalo ada tambahan kasih tau yaaa,,,

1. Berfoto di mana saja!
    Singapura ini kota yang rapi & bersih. Jadi di foto hasilnya juga jadi cantik.


2. Main ke IKEA
    Ini favorit saya. Kamu bisa foto gaya indoor dengan furnitur dan pernik-perniknya. It's free dan yang penting pede aja gitu :p


3. Main ke taman
    Yang bikin aku mau balik lagi dan lagi dan lagi karena Singapura punya taman super gede yang rimbun dan rapi. Favoritku tetap di Botanical Garden


4. Garden by The Bay ada gratisnya
    Beberapa spot di Garden by The Bay memang ada biaya administrasi, tapi banyak spot-spot seru yang free admission fee. Misal, jalanan menuju garden by the bay yang epic banget, menurut aku. 


5. Bergaya di Haji Lane
    Salah satu gang kecil di kawasan Bugis ini nyeni banget. Banyak toko-toko kecil dengan touch of art di sini. Kalo nggak beli, jatuhnya gratis kan


Ups,,, hampir kelupaan. Untuk berfoto bersama Merlion, maskot singa kebanggaan Singapura juga tidak dipungut biaya. Spot favoritku adalah di MRT Station City Hall, jalan keluar, taadaaa,, lihat sendiri deh :P

@dinilint
I wish to explore more this world




Selasa, 15 Juli 2014

Bertahan Hidup di Singapura yang Mahal

Singapura? Kenapa? Karena kebanyakan orang Indonesia memulai perjalanan ke luar negeri pertama kali nya kesini. Singapura dekat dengan Indonesia dan sangat 'beda' dengan Indonesia, apalagi banyak tiket promo super murah untuk kesini. Meski tiket pesawat untuk pergi ke Singapura sangat murah, sayangnya biaya hidup di Singapura makin hari makin mencekik. Hiks.


Pertama kali ke Singapura, aku nekat bawa uang hanya 100 dolar singapura. Sebenernya karena ya punyanya cuma segitu sih. Tapiiii,,, saat itu aku survive. Uang 100 SGD itu untuk biaya penginapan di hostel dengan kamar privat bertiga, makan, transport sampai belanja ala kadarnya. Bahkan waktu itu bisa bawa pulang sepatu juga :D. Saat itu aku tinggal 3 hari 2 malam di Singapura.

Kali kedua ke Singapura, aku menambah jumlah budget menjadi 150 SGD. Kali ini aku tinggal 4 hari 3 malam. Ternyata nambah satu hari, nambah 50 SGD. Aku cuma bawa pulang recehan aja.

Kali ketiga sampai Singapura rasanya seneng banget. Aku cuma datang ke Singapura untuk transit semalam di Changi. Iya numpang tidur di airport. Bermodal recehan SGD sisa-sisa trip terdahulu, aku dan misi jalan semalaman di Singapura. Semua terasa murah karena saat itu kami barusan pulang dari Jepang yang biaya hidupnya super mahal.

Kali terakhir ke Singapura, rasanya Singapura mahal banget. Masalah ekonomi dan nilai tukar rupiah yang tak seberapa dengan dolar singapura membuat traveler kere macam aku tercekik di Singapura. Huhuhuhu. Tapi akibat kegilaan kurs dolar singapura itu, aku jadi punya beberapa tips buat kamu yang pengen banget ke Singapura tapi punya budget terbatas.

Cara mengakali tinggal di negara mahal adalah dengan mencari alternatif termurah dari pos-pos yang mau tidak mau harus dikeluarkan. Yang nggak mungkin nggak adalah masalah:

MAKAN


Rata-rata harga makanan di food court Singapura adalah 5-10 SGD. Kalo di restoran tentunya lebih mahal dan saya males masuk restoran. Masalahnya saya sering kejebak dengan penampilan bagus tapi rasa kurang enak dan porsinya kurang mantab. Nah, di Singapura nggak ada warteg atau pedagang dengan gerobak yang mangkal di pinggir jalan. Kalo kangen masakan Indonesia tahan dulu deh, harganya biasanya sekitar 6 SGD ke atas, belum pake es teh atau yang pernah saya jumpai disana teh kotak. 
Kalo mau makan seharga 2-4 SGD seporsi tetep masih ada lho. Coba ke food court yang dimakan orang lokal di lingkungan sekitar tempat tinggal orang lokal. Biasanya di rute paling pojok MRT, di rute-rute bus. Aku juga pernah nemu makanan seharga 3 SGD seporsi di food court basement mal. 
Untuk minumnya siapin botol dan isi tiap ketemu tap water. Tap water paling banyak diketemukan di airport dan kebun (garden, park) dan kadang di dekat toilet. Temenku yang orang Singapura aja nggak rela keluar duit buat beli minum dan pilih minum dari botolnya sendiri.
Ada lagi cara yang lebih murah untuk mendapat makanan. Bawa roti dari Indonesia yang rata-rata tahan 3 hari dan bawa pop mie yang bisa diseduh air panas gratis dari hostel. Trust me, it's work :D

TIDUR



Kamu bisa tidur di hostel. Harga paling murah adalah kamar asrama. Dalam satu kamar bisa diisi dari mulai 4, 8, sampai 20 orang. Ini pilihan hostel paling murah! Bila memilih hostel, yang menurut aku pada akhirnya mahal juga (25 SGD per malam untuk harga termurah), perhatikan fasilitas yang diberikan hostel. Kalo aku sebisa mungkin dapat wifi sampai kamar, ada laptop yang bebas diakses penghuni hostel, air minum gratis, kamar mandi bersih, bahkan ada yang menyediakan mesin cuci lengkap dengan pengeringnya gratis. Kebanyakan kamar hostel di Singapura bersih dan kasurnya nyaman.
Cara lain, bisa ikut komunitas jalan-jalan dunia. Kalau kamu beruntung kamu bisa dapat host dan merasakan menginap di rumah orang lokal. Bagian komunitas ini, bisa bayar bisa nggak, tergantung komunitas apa. Dan tentu saja ada tata krama ketika kamu menumpang di rumah orang ya.
Kemarin aku nemu cara lain lagi yang gratis. Tidur di taman! Tamannya Singapura itu super rapi dan bersih. Aku aja betah duduk lama-lama di sana. Tapi aku belum pernah sih tidur di tempat terbuka gitu di negara orang :p

TRANSPORTASI



Alat transportasi di Singapura merupakan salah satu yang terbaik di dunia. MRT, bus, taksi, semua serba jelas. Aku paling suka pake MRT karena petanya jelas dan aksesnya sangat mudah. Bahkan sekarang aku bisa pakai aplikasi gratis di android yang bisa diakses secara offline. Anti nyasar deh.
Untuk harga yang lebih murah, pilihan jatuh kepada bus. Bus juga punya banyak sekali rute. Kalo untuk bayar MRT  butuh 2 SGD, bus cuma butuh 1 SGD. Tapi harga MRT maupun bus bergantung pada seberapa jauh kalian pergi. Tapi Singapura itu kecil,, jadi sejauh-jauhnya ya itungannya 1 jam untuk rute yang jauh. Oia, jalannya bus lebih lambat daripada MRT.
Kalo kamu jalan bertiga atau berempat dan hanya bergerak di wilayah kota, lebih murah lagi pakai taksi. Biayanya bisa patungan dan nyegatnya bisa sembarangan.
Selalu ada pilihan gratis ketika di Singapura. Jalan kaki! Singapura punya pedestrian yang super ramah untuk pejalan kaki. Hampir semuanya ada atap untuk nahan panas dan hujan. Bahkan untuk mencapai Pulau Sentosa pun, ada pilihan untuk berjalan kaki di tempat yang nyaman dibanding mesti bayar 4 SGD untuk naik monorel dimana itu adalah pilihan transportasi termurah.

Nah, kalo kamu bisa melakukan penghematan di tiga pos di atas, niscaya budget jalan-jalanmu akan berkurang juga dan sisa uangnya bisa buat pergi selanjutnya. Ya kan?


Dinilint,
lagi belajar ngirit anaknya

Minggu, 13 Juli 2014

Penantian 2jam Demi Makan di Kupang

Sore itu kami kembali lagi ke Kupang dengan selamat. Berhubung Kak Geni nggak ada di Kupang, jadilah kami harus mandiri semalam di Kupang, artinya nggak ada yang jemput di bandara, nggak ada yang bawain motor buat kami jalan-jalan. Tapi Kak Geni tetep antisipasi atas keadaan kami tanpa dia di Kupang ini. Kami sudah dibekali nomor telpon taksi langganannya dan kunci kos Kak Ulfa yang juga lagi pulang kampung.

Tidak ada angkutan umum semacam bus apalagi kereta dari bandara Kupang ke kota. Kami bisa pakai taksi dari bandara atau telpon taksi langganan. Taksi-taksi di Kupang menggunakan mobil avanza, xenia dan berplat nomor hitam sehingga agak susah dibedakan dengan mobil pribadi. Untuk mengantar kami dari bandara ke kota, kami harus membayar 80,000 rupiah. Jumlahnya sama dengan taksi bandara.

Begitu sampai di kosan Kak Ulfa, yang untungnya hari ini airnya sudah menyala dengan sempurna, kami bisa mandi dan bebersih diri. Inget kemaren cuma mandi di laut bersama air laut dan punya keterbatasan dengan air segar, rasanya seneng banget. Apalagi pas kami ninggalin kos Kak Ulfa beberapa hari lalu, air bersih di Kupang nggak ngalir. Thanks God, kita direstui untuk mandi :D.

Setelah mandi, bawaannya laper dan pengen makan. Tengok kiri-kanan sekitar kosan kok nggak ada warteg yah. Kabarnya si warung-warung di sekitar kosan tutup semua karena semua anak kos juga pada pulang liburan akhir tahun ke kampung halaman. Jadi di hari yang tidak biasa ini, Kupang terasa sepi, karena pada hari biasa yang banyak mengisi Kota Kupang ya anak-anak perantauan. Karena kami juga nggak punya alat transportasi dan males bergerak akhirnya diputuskan untuk pesan antar dari satu-satunya restoran cepat saji yang kami tahu -dan sudah kami nikmati beberapa hari lalu- yang ada di Kota Kupang.

Tut,, tut,, "Mbak pesan untuk ke Kupang ya," "Apa mbak?" "Kupang," "Hah?? Kupang?" "Iya mbak, Kupang." "Sebentar ya mbak saya cek."
Firasat buruk, mbak operator di ujung aja nggak yakin ada cabang restonya sendiri di Kupang. -___-
"Mbak kalo diantarnya jam 8 malam gimana? Ini semua petugasnya lagi sibuk."
Saat itu jam 6 sore. Makanan kami baru akan diantar jam 8 malam. Berarti kami harus menunggu 2jam untuk menikmati makanan kami. Huhuhu. Tapi apa boleh buat, kami iyakan saja. Kami bahkan pesan dua kali lipat sekalian untuk sarapan besok pagi. Semoga aman.

Sebenarnya jarak restoran cepat saji dengan kosan nggak jauh banget dan lalu lintasnya sangat lancar. Ketika kami pakai motor beberapa hari yang lalu, dari kosan ke resto cepat saji hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Tapi ya,, ngantri di restonya panjang banget. Sepertinya orang Kupang suka banget makan ayam disana. Ada juga yang jauh-jauh datang dari pulau seberang dan beli ayam itu untuk oleh-oleh. Ini beneran, soalnya yang beli itu mamanya temen di Flores.

Gara-gara nggak tahan cuma bengong nunggu makan sampe dua jam dan cacing-cacing dalam perut sudah berubah jadi naga, akhirnya aku mutusin buat gerakin kaki lagi entah kemana. Si Kuncrit yang udah teler pilih tinggal sendirian di kosan. Ternyata pas jalan kaki gelap-gelapan, aku menemukan fakta baru di Kupang. Kalo kamu jalan, ntar ada motor klakson-klakson, itu artinya dia nawarin ojek. Dan ternyata ojeknya banyak banget. Karena nggak tahu mau kemana, jadi ya aku tolak-tolak itu ojeknya. Pas udah di jalan gede, angkotnya juga banyak. Biasanya mereka pasang lagu-lagu heboh yang kenceng. Lagi-lagi karena nggak tahu mau kemana, aku nggak berani nyobain angkot.
Hasil dari jalan kaki itu, aku ketemu semacam supermarket gede yang ada resto franchisenya. Lumayan bisa ganjel perut pake jus. Padahal biasanya aku udah kenyang pake jus, kali ini buat ganjelan doang.

Pas balik ke kosan sekitar jam 8an malam, ternyata ayam yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Ayam penantian baru datang setengah jam kemudian. Olalala,,,, sabaaaaarrrrrr.

*cerita ini jadi penutup #jalanketimor. Aku berharap ada lebih banyak cerita lagi dari timur.

Dinilint

Jumat, 11 Juli 2014

Terima Kasih Air Asia,, Aku Bisa Pulang :)

Pagi itu aku bangun dengan perasaan bahagia. Setelah 10 hari di jalanan, luntang-lantung dengan  tas punggung kesayangan, pindah tidur dari satu ruangan ke ruangan yang berlainan, dan bertemu dengan berbagai macam teman-teman yang sangat menyenangkan, akhirnya hari ini saatnya untuk pulang. Yipie.
Seperti hari-hari kemarin, aku melakukan pengecekan pada semua dokumen yang kusimpan di satu pouch khusus. Paspor aman, duit, masih ada, ATM komplit, oret-oretan dan pulpen ada, tiket masih terlipat rapi. Semua dokumen masih lengkap dan tidak ada yang terlewat. Aman. Aku melihat ke arloji tangan. Saat itu jam tujuh pagi waktu setempat. Di kotak kecil di sebelah kanan terpampang tulisan 2 yang mengartikan bahwa saat itu tanggal 2. Kembali kubuka pouch khusus tadi. Kali ini aku mengambil tiket dan membacanya dengan seksama. Penerbangan Svarnabhumi - Singapore pukul 20.55 tanggal 2 Juni 2014. Yeay. Hari ini memang saatnya pulang.


Tapi,, kenapa ada perasaan nggak enak ya. Aku kembali cek arloji dan angka 2 di kotak kecil itu masih terpampang disana. Aku melihat ke sekeliling ruang dormitory berkapasitas 20 bed yang dihuni 4 orang. Ternyata tidak ada kalender terpasang di sela-sela dindingnya. Aku memutuskan untuk cek ulang di handphone. Olala,,,, kenapa handphone ku menunjukkan tanggal 3

-_____________________-

Jadi,, tiketku tanggal 2, dan ternyata pagi itu adalah tanggal 3. Aku salah hitung hari dan mengacu pada kalender arloji yang tanggalnya habis di 31, sedangkan bulan Juni hanya berisi 30 hari. Damn. Mesti gimana ini? Butuh pulang. Yang terpikir saat itu adalah gimana caranya supaya punya tiket pulang sampai Indonesia. Oia, saat itu situasiku adalah di Bangkok tanpa teman sama sekali.

Hal pertama yang disyukuri saat itu adalah koneksi internet bisa mencapai kamar dorm. Jadi dengan memanfaatkan koneksi internet yang kenceng, aku bisa telpon ke Indonesia, menenangkan diri. Sambil berusaha bangun seutuhnya, aku cek situs-situs layanan pembelian tiket pesawat, cari harga termurah. Dan berhubung aku nggak punya kartu kredit, dengan segera minta bala bantuan dari teman-teman di Indonesia dengan kartu kredit mereka.

Setelah cek sana-sini dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, akhirnya aku bisa dapat tiket pulang dengan Air Asia. Kenapa Air Asia? Jadi, aku sebenarnya adalah orang yang suka jalan-jalan tapi punya duit sangat sangat sangat terbatas. Sebagai pelancong dengan budget terbatas atau sebut saja traveler kere, tentunya aku lebih banyak pergi ketika tiket promo ada di kantong. Jadi ketika peristiwa salah tanggal dan mesti punya tiket dadakan, aku nggak bisa asal ke bandara, milih maskapai sesukanya, trus beli tiket, trus duduk manis dalam pesawat. Danaku terbatasssss. Dengan Air Asia yang terkenal sebagai budget airlines, mudah di akses lewat web, aku jadi tahu kalo tiket Air Asia adalah yang termurah saat itu. Lagi-lagi Air Asia sungguh baik. Posisiku yang nggak punya kartu kredit nggak dibikin ribet sama Air Asia. Saat itu temanku yang berada di Indonesia, membantu memesan tiket Bangkok - KL - Jakarta dengan kartu kredit atas namanya untuk aku yang sedang berada di Bangkok sendirian. Aku pernah pakai cara yang sama untuk maskapai lain, dan akhirnya gagal karena nama di kartu kredit tidak sama dengan nama pemesan tiket dan nama di kartu kredit tidak ikut berangkat bersamaku.

Malam itu, aku sampai di Don Mueang International Airport, Bangkok dengan selamat. Cukup memasukkan kode booking ke mesin boarding pass, aku sudah siap untuk pulang ke tanah air. Legaaaa.

Ah,, aku berandai-andai bila Air Asia nggak eksis, kira-kira yang terjadi sama aku apa ya? Mungkin saat ini aku masih terseok-seok jalan kaki melintasi perbatasan darat Malaysia akibat tidak punya dana untuk membeli tiket pesawat premium untuk pulang ke tanah air. Atau mungkin aku sedang memohon-mohon untuk dideportasi supaya bisa pulang secara gratisan. Atau mungkin aku sedang kerja serabutan di kapal pesiar yang kebetulan sedang mengarah ke perairan Indonesia demi bisa kembali pulang.


Ah,, sudahlah. Yang jelas Air Asia berjasa besar pada perjalanan #crosscountry ku kali ini. Terima kasih Air Asia. Terima kasih juga koko Wisnu yang rela bantuin book tiket Air Asia. Terima kasih dedek2 misi & kuncrit untuk curhatan orang galau pagi2. Terima kasih mbak Lida yang juga udah siap2 bookingin temenmu yang rada edan ini. Terima kasih juga buat kamu yang rela baca tulisan aku ini yaaaa. Tulisan lain segera tertulis kalau aku dapat tiket promo, tiket gratisan, dan tiket-tiket lain yang membawaku jalan-jalan ke ujung-ujung dunia.

Lintang,
yang senang bisa pulang :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...