catatan kaki

Selasa, 15 Juli 2014

Bertahan Hidup di Singapura yang Mahal

Singapura? Kenapa? Karena kebanyakan orang Indonesia memulai perjalanan ke luar negeri pertama kali nya kesini. Singapura dekat dengan Indonesia dan sangat 'beda' dengan Indonesia, apalagi banyak tiket promo super murah untuk kesini. Meski tiket pesawat untuk pergi ke Singapura sangat murah, sayangnya biaya hidup di Singapura makin hari makin mencekik. Hiks.


Pertama kali ke Singapura, aku nekat bawa uang hanya 100 dolar singapura. Sebenernya karena ya punyanya cuma segitu sih. Tapiiii,,, saat itu aku survive. Uang 100 SGD itu untuk biaya penginapan di hostel dengan kamar privat bertiga, makan, transport sampai belanja ala kadarnya. Bahkan waktu itu bisa bawa pulang sepatu juga :D. Saat itu aku tinggal 3 hari 2 malam di Singapura.

Kali kedua ke Singapura, aku menambah jumlah budget menjadi 150 SGD. Kali ini aku tinggal 4 hari 3 malam. Ternyata nambah satu hari, nambah 50 SGD. Aku cuma bawa pulang recehan aja.

Kali ketiga sampai Singapura rasanya seneng banget. Aku cuma datang ke Singapura untuk transit semalam di Changi. Iya numpang tidur di airport. Bermodal recehan SGD sisa-sisa trip terdahulu, aku dan misi jalan semalaman di Singapura. Semua terasa murah karena saat itu kami barusan pulang dari Jepang yang biaya hidupnya super mahal.

Kali terakhir ke Singapura, rasanya Singapura mahal banget. Masalah ekonomi dan nilai tukar rupiah yang tak seberapa dengan dolar singapura membuat traveler kere macam aku tercekik di Singapura. Huhuhuhu. Tapi akibat kegilaan kurs dolar singapura itu, aku jadi punya beberapa tips buat kamu yang pengen banget ke Singapura tapi punya budget terbatas.

Cara mengakali tinggal di negara mahal adalah dengan mencari alternatif termurah dari pos-pos yang mau tidak mau harus dikeluarkan. Yang nggak mungkin nggak adalah masalah:

MAKAN


Rata-rata harga makanan di food court Singapura adalah 5-10 SGD. Kalo di restoran tentunya lebih mahal dan saya males masuk restoran. Masalahnya saya sering kejebak dengan penampilan bagus tapi rasa kurang enak dan porsinya kurang mantab. Nah, di Singapura nggak ada warteg atau pedagang dengan gerobak yang mangkal di pinggir jalan. Kalo kangen masakan Indonesia tahan dulu deh, harganya biasanya sekitar 6 SGD ke atas, belum pake es teh atau yang pernah saya jumpai disana teh kotak. 
Kalo mau makan seharga 2-4 SGD seporsi tetep masih ada lho. Coba ke food court yang dimakan orang lokal di lingkungan sekitar tempat tinggal orang lokal. Biasanya di rute paling pojok MRT, di rute-rute bus. Aku juga pernah nemu makanan seharga 3 SGD seporsi di food court basement mal. 
Untuk minumnya siapin botol dan isi tiap ketemu tap water. Tap water paling banyak diketemukan di airport dan kebun (garden, park) dan kadang di dekat toilet. Temenku yang orang Singapura aja nggak rela keluar duit buat beli minum dan pilih minum dari botolnya sendiri.
Ada lagi cara yang lebih murah untuk mendapat makanan. Bawa roti dari Indonesia yang rata-rata tahan 3 hari dan bawa pop mie yang bisa diseduh air panas gratis dari hostel. Trust me, it's work :D

TIDUR



Kamu bisa tidur di hostel. Harga paling murah adalah kamar asrama. Dalam satu kamar bisa diisi dari mulai 4, 8, sampai 20 orang. Ini pilihan hostel paling murah! Bila memilih hostel, yang menurut aku pada akhirnya mahal juga (25 SGD per malam untuk harga termurah), perhatikan fasilitas yang diberikan hostel. Kalo aku sebisa mungkin dapat wifi sampai kamar, ada laptop yang bebas diakses penghuni hostel, air minum gratis, kamar mandi bersih, bahkan ada yang menyediakan mesin cuci lengkap dengan pengeringnya gratis. Kebanyakan kamar hostel di Singapura bersih dan kasurnya nyaman.
Cara lain, bisa ikut komunitas jalan-jalan dunia. Kalau kamu beruntung kamu bisa dapat host dan merasakan menginap di rumah orang lokal. Bagian komunitas ini, bisa bayar bisa nggak, tergantung komunitas apa. Dan tentu saja ada tata krama ketika kamu menumpang di rumah orang ya.
Kemarin aku nemu cara lain lagi yang gratis. Tidur di taman! Tamannya Singapura itu super rapi dan bersih. Aku aja betah duduk lama-lama di sana. Tapi aku belum pernah sih tidur di tempat terbuka gitu di negara orang :p

TRANSPORTASI



Alat transportasi di Singapura merupakan salah satu yang terbaik di dunia. MRT, bus, taksi, semua serba jelas. Aku paling suka pake MRT karena petanya jelas dan aksesnya sangat mudah. Bahkan sekarang aku bisa pakai aplikasi gratis di android yang bisa diakses secara offline. Anti nyasar deh.
Untuk harga yang lebih murah, pilihan jatuh kepada bus. Bus juga punya banyak sekali rute. Kalo untuk bayar MRT  butuh 2 SGD, bus cuma butuh 1 SGD. Tapi harga MRT maupun bus bergantung pada seberapa jauh kalian pergi. Tapi Singapura itu kecil,, jadi sejauh-jauhnya ya itungannya 1 jam untuk rute yang jauh. Oia, jalannya bus lebih lambat daripada MRT.
Kalo kamu jalan bertiga atau berempat dan hanya bergerak di wilayah kota, lebih murah lagi pakai taksi. Biayanya bisa patungan dan nyegatnya bisa sembarangan.
Selalu ada pilihan gratis ketika di Singapura. Jalan kaki! Singapura punya pedestrian yang super ramah untuk pejalan kaki. Hampir semuanya ada atap untuk nahan panas dan hujan. Bahkan untuk mencapai Pulau Sentosa pun, ada pilihan untuk berjalan kaki di tempat yang nyaman dibanding mesti bayar 4 SGD untuk naik monorel dimana itu adalah pilihan transportasi termurah.

Nah, kalo kamu bisa melakukan penghematan di tiga pos di atas, niscaya budget jalan-jalanmu akan berkurang juga dan sisa uangnya bisa buat pergi selanjutnya. Ya kan?


Dinilint,
lagi belajar ngirit anaknya

Minggu, 13 Juli 2014

Penantian 2jam Demi Makan di Kupang

Sore itu kami kembali lagi ke Kupang dengan selamat. Berhubung Kak Geni nggak ada di Kupang, jadilah kami harus mandiri semalam di Kupang, artinya nggak ada yang jemput di bandara, nggak ada yang bawain motor buat kami jalan-jalan. Tapi Kak Geni tetep antisipasi atas keadaan kami tanpa dia di Kupang ini. Kami sudah dibekali nomor telpon taksi langganannya dan kunci kos Kak Ulfa yang juga lagi pulang kampung.

Tidak ada angkutan umum semacam bus apalagi kereta dari bandara Kupang ke kota. Kami bisa pakai taksi dari bandara atau telpon taksi langganan. Taksi-taksi di Kupang menggunakan mobil avanza, xenia dan berplat nomor hitam sehingga agak susah dibedakan dengan mobil pribadi. Untuk mengantar kami dari bandara ke kota, kami harus membayar 80,000 rupiah. Jumlahnya sama dengan taksi bandara.

Begitu sampai di kosan Kak Ulfa, yang untungnya hari ini airnya sudah menyala dengan sempurna, kami bisa mandi dan bebersih diri. Inget kemaren cuma mandi di laut bersama air laut dan punya keterbatasan dengan air segar, rasanya seneng banget. Apalagi pas kami ninggalin kos Kak Ulfa beberapa hari lalu, air bersih di Kupang nggak ngalir. Thanks God, kita direstui untuk mandi :D.

Setelah mandi, bawaannya laper dan pengen makan. Tengok kiri-kanan sekitar kosan kok nggak ada warteg yah. Kabarnya si warung-warung di sekitar kosan tutup semua karena semua anak kos juga pada pulang liburan akhir tahun ke kampung halaman. Jadi di hari yang tidak biasa ini, Kupang terasa sepi, karena pada hari biasa yang banyak mengisi Kota Kupang ya anak-anak perantauan. Karena kami juga nggak punya alat transportasi dan males bergerak akhirnya diputuskan untuk pesan antar dari satu-satunya restoran cepat saji yang kami tahu -dan sudah kami nikmati beberapa hari lalu- yang ada di Kota Kupang.

Tut,, tut,, "Mbak pesan untuk ke Kupang ya," "Apa mbak?" "Kupang," "Hah?? Kupang?" "Iya mbak, Kupang." "Sebentar ya mbak saya cek."
Firasat buruk, mbak operator di ujung aja nggak yakin ada cabang restonya sendiri di Kupang. -___-
"Mbak kalo diantarnya jam 8 malam gimana? Ini semua petugasnya lagi sibuk."
Saat itu jam 6 sore. Makanan kami baru akan diantar jam 8 malam. Berarti kami harus menunggu 2jam untuk menikmati makanan kami. Huhuhu. Tapi apa boleh buat, kami iyakan saja. Kami bahkan pesan dua kali lipat sekalian untuk sarapan besok pagi. Semoga aman.

Sebenarnya jarak restoran cepat saji dengan kosan nggak jauh banget dan lalu lintasnya sangat lancar. Ketika kami pakai motor beberapa hari yang lalu, dari kosan ke resto cepat saji hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Tapi ya,, ngantri di restonya panjang banget. Sepertinya orang Kupang suka banget makan ayam disana. Ada juga yang jauh-jauh datang dari pulau seberang dan beli ayam itu untuk oleh-oleh. Ini beneran, soalnya yang beli itu mamanya temen di Flores.

Gara-gara nggak tahan cuma bengong nunggu makan sampe dua jam dan cacing-cacing dalam perut sudah berubah jadi naga, akhirnya aku mutusin buat gerakin kaki lagi entah kemana. Si Kuncrit yang udah teler pilih tinggal sendirian di kosan. Ternyata pas jalan kaki gelap-gelapan, aku menemukan fakta baru di Kupang. Kalo kamu jalan, ntar ada motor klakson-klakson, itu artinya dia nawarin ojek. Dan ternyata ojeknya banyak banget. Karena nggak tahu mau kemana, jadi ya aku tolak-tolak itu ojeknya. Pas udah di jalan gede, angkotnya juga banyak. Biasanya mereka pasang lagu-lagu heboh yang kenceng. Lagi-lagi karena nggak tahu mau kemana, aku nggak berani nyobain angkot.
Hasil dari jalan kaki itu, aku ketemu semacam supermarket gede yang ada resto franchisenya. Lumayan bisa ganjel perut pake jus. Padahal biasanya aku udah kenyang pake jus, kali ini buat ganjelan doang.

Pas balik ke kosan sekitar jam 8an malam, ternyata ayam yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Ayam penantian baru datang setengah jam kemudian. Olalala,,,, sabaaaaarrrrrr.

*cerita ini jadi penutup #jalanketimor. Aku berharap ada lebih banyak cerita lagi dari timur.

Dinilint

Jumat, 11 Juli 2014

Terima Kasih Air Asia,, Aku Bisa Pulang :)

Pagi itu aku bangun dengan perasaan bahagia. Setelah 10 hari di jalanan, luntang-lantung dengan  tas punggung kesayangan, pindah tidur dari satu ruangan ke ruangan yang berlainan, dan bertemu dengan berbagai macam teman-teman yang sangat menyenangkan, akhirnya hari ini saatnya untuk pulang. Yipie.
Seperti hari-hari kemarin, aku melakukan pengecekan pada semua dokumen yang kusimpan di satu pouch khusus. Paspor aman, duit, masih ada, ATM komplit, oret-oretan dan pulpen ada, tiket masih terlipat rapi. Semua dokumen masih lengkap dan tidak ada yang terlewat. Aman. Aku melihat ke arloji tangan. Saat itu jam tujuh pagi waktu setempat. Di kotak kecil di sebelah kanan terpampang tulisan 2 yang mengartikan bahwa saat itu tanggal 2. Kembali kubuka pouch khusus tadi. Kali ini aku mengambil tiket dan membacanya dengan seksama. Penerbangan Svarnabhumi - Singapore pukul 20.55 tanggal 2 Juni 2014. Yeay. Hari ini memang saatnya pulang.


Tapi,, kenapa ada perasaan nggak enak ya. Aku kembali cek arloji dan angka 2 di kotak kecil itu masih terpampang disana. Aku melihat ke sekeliling ruang dormitory berkapasitas 20 bed yang dihuni 4 orang. Ternyata tidak ada kalender terpasang di sela-sela dindingnya. Aku memutuskan untuk cek ulang di handphone. Olala,,,, kenapa handphone ku menunjukkan tanggal 3

-_____________________-

Jadi,, tiketku tanggal 2, dan ternyata pagi itu adalah tanggal 3. Aku salah hitung hari dan mengacu pada kalender arloji yang tanggalnya habis di 31, sedangkan bulan Juni hanya berisi 30 hari. Damn. Mesti gimana ini? Butuh pulang. Yang terpikir saat itu adalah gimana caranya supaya punya tiket pulang sampai Indonesia. Oia, saat itu situasiku adalah di Bangkok tanpa teman sama sekali.

Hal pertama yang disyukuri saat itu adalah koneksi internet bisa mencapai kamar dorm. Jadi dengan memanfaatkan koneksi internet yang kenceng, aku bisa telpon ke Indonesia, menenangkan diri. Sambil berusaha bangun seutuhnya, aku cek situs-situs layanan pembelian tiket pesawat, cari harga termurah. Dan berhubung aku nggak punya kartu kredit, dengan segera minta bala bantuan dari teman-teman di Indonesia dengan kartu kredit mereka.

Setelah cek sana-sini dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, akhirnya aku bisa dapat tiket pulang dengan Air Asia. Kenapa Air Asia? Jadi, aku sebenarnya adalah orang yang suka jalan-jalan tapi punya duit sangat sangat sangat terbatas. Sebagai pelancong dengan budget terbatas atau sebut saja traveler kere, tentunya aku lebih banyak pergi ketika tiket promo ada di kantong. Jadi ketika peristiwa salah tanggal dan mesti punya tiket dadakan, aku nggak bisa asal ke bandara, milih maskapai sesukanya, trus beli tiket, trus duduk manis dalam pesawat. Danaku terbatasssss. Dengan Air Asia yang terkenal sebagai budget airlines, mudah di akses lewat web, aku jadi tahu kalo tiket Air Asia adalah yang termurah saat itu. Lagi-lagi Air Asia sungguh baik. Posisiku yang nggak punya kartu kredit nggak dibikin ribet sama Air Asia. Saat itu temanku yang berada di Indonesia, membantu memesan tiket Bangkok - KL - Jakarta dengan kartu kredit atas namanya untuk aku yang sedang berada di Bangkok sendirian. Aku pernah pakai cara yang sama untuk maskapai lain, dan akhirnya gagal karena nama di kartu kredit tidak sama dengan nama pemesan tiket dan nama di kartu kredit tidak ikut berangkat bersamaku.

Malam itu, aku sampai di Don Mueang International Airport, Bangkok dengan selamat. Cukup memasukkan kode booking ke mesin boarding pass, aku sudah siap untuk pulang ke tanah air. Legaaaa.

Ah,, aku berandai-andai bila Air Asia nggak eksis, kira-kira yang terjadi sama aku apa ya? Mungkin saat ini aku masih terseok-seok jalan kaki melintasi perbatasan darat Malaysia akibat tidak punya dana untuk membeli tiket pesawat premium untuk pulang ke tanah air. Atau mungkin aku sedang memohon-mohon untuk dideportasi supaya bisa pulang secara gratisan. Atau mungkin aku sedang kerja serabutan di kapal pesiar yang kebetulan sedang mengarah ke perairan Indonesia demi bisa kembali pulang.


Ah,, sudahlah. Yang jelas Air Asia berjasa besar pada perjalanan #crosscountry ku kali ini. Terima kasih Air Asia. Terima kasih juga koko Wisnu yang rela bantuin book tiket Air Asia. Terima kasih dedek2 misi & kuncrit untuk curhatan orang galau pagi2. Terima kasih mbak Lida yang juga udah siap2 bookingin temenmu yang rada edan ini. Terima kasih juga buat kamu yang rela baca tulisan aku ini yaaaa. Tulisan lain segera tertulis kalau aku dapat tiket promo, tiket gratisan, dan tiket-tiket lain yang membawaku jalan-jalan ke ujung-ujung dunia.

Lintang,
yang senang bisa pulang :)

One un[Perfect] Afternoon in Bangkok

Sore itu adalah sore paling bete sepanjang perjalanan aku #crosscountry. Setelah mendapat banyak momen gila dengan dek crit di Singapura, dapat teman baru yang super asik di Penang, ini saatnya aku untuk jalan sendirian di Bangkok. Rencanya sih nggak sendirian. Ada teman yang bersedia menampung aku di Bangkok. Paling nggak seharusnya sore itu aku ada teman bicara. Tapi mendadak dia ada urusan di luar Bangkok sehingga kami nggak bisa bertemu dan aku nggak jadi nginep di tempat dia. Yah,, sudahlah. 
Dari awal berangkat aku udah siap dengan semua konsekuensi di perjalanan yang mungkin terjadi, termasuk jalan sendirian dan bener-bener jadi solo traveller. Udah diniati si,, tapi pas kejadian tetep aja ada rasa nelangsa. Itu orang-orang semua ada temennya, kenapa aku jalan sendirian gini. Biasanya pas makan ada temen ngomongnya sekarang cuma lihat-lihatan sama handphone yang bahkan nggak dapat koneksi internet. Khaosan Road yang ramai orang, rasanya kurang friendly sore itu. Di tiap sudut aku selalu lihat traveler yang lagi jalan dengan partner mereka. Kiri-kanan jalanan juga terasa kurang menarik sore itu. Ah,, pengen pulang.
"Where are you come from?" tiba-tiba ada sapaan bernada ramah dari sebelah kanan. Aku menengok dan mendapati penampakan traveler berambut gimbal.
"Indonesia." jawabku. 
"Where will you go?" 
Aku yang sore itu juga masih bingung mau kemana menjawab sekenanya, "Wat Pho." Kenapa Wat Pho? Yaaaa,,, nama kuil itu yang terlintas di kepala. Tiap aku inget Bangkok aku selalu ingat akan patung Budha dan kuil, disusul dengan belanja. Kalo untuk belanja,, nggak deh. Aku udah mblenger belanja di Singapura dan berniat untuk mengeluarkan uang sesedikit mungkin. Jadi ya aku pengen ke kuil aja. Aku kemudian teringat ada satu kuil yang diberi nama dalam Bahasa Inggris 'Temple of A Dawn'. Kayaknya cocok nih kalo sore-sore gini melakukan pembuktian akan nama kuil tersebut. Masalahnya aku nggak tahu Temple of A Dawn ini nama Thailandnya apa. Si teman baru menanyakan apa aku punya gambarnya, supaya dia tahu kuil mana yang aku maksud. Yah,, aku nggak pernah bawa gambar tujuan kalo lagi jalan-jalan. Biar indra visual dan persepsi otakku saat lihat, yang memberi kejutan di perjalananku.
Aku nggak tahu kenapa, si traveller gembel ini jalan searah dengan jalanku, nunjukin arah, dan akhirnya jadi menemanu perjalananku. Surprise,, dia temen perjalanan yang menyenangkan lho. Kami bisa bicara banyak hal sore itu. Mulai dari asal-usul kami sampai tentang pemikiran-pemikiran yang absurb, yang biasanya aku nggak bisa ngomong asal ke semua orang. God is so good.
Kami jalan bersama sepanjang Khaosan Road, tiba di sebuah pelabuhan kecil yang entah namanya pier entah apa. Kami naik boat lokal seharga 15 baht yang berjalan ngebut di aliran sungai besar Chao Phraya. Yeay, wishlistku di Bangkok terlaksana. Kami berhenti di pier selanjutnya yang entah namanya apa,, mungkin kalo sore itu aku jalan sendirian bakalan nyasar entah kemana. Kami tiba di Wat Arun yang ternyata dikenal dengan kuil dengan Budha tidur di dalamnya. Aku nggak mau masuk karena ya memang nggak ada keinginan untuk masuk saat itu. Toh, aku sudah bisa melihat patung Budha tidur dari balik jendela di kuil itu. Aku bilang pada teman baruku itu, ternyata bukan kuil ini yang ingin aku datangi. Kalau namanya bukan Wat Pho berarti temple of a dawn bernama Wat Arun. Dia dengan sukarela mengantarku lagi ke Wat Arun. Kirain sampe di Wat Pho bakal say goodbye lho, ternyata dianterin lagi. Senangnya.
Kami harus nyebrang Sungai Chao Phraya dengan boat seharga 3 baht. Meski boat yang ini lebih kecil, tapi jalannya tetep ngebut dan ngepot. Sampai-sampai air bisa masuk ke dalam boat. Tas temen bahkan sempat kena air karena ditaruh di bawah. Whoaa.
Taaadaaaa,,, akhirnya aku sampai juga di Wat Arun. Indahnya. Karakteristik bangunannya tidak sama dengan wat - wat kebanyakan di Thailand yang terbuat dari semacam aluminium dan berwarna emas. Di sekeliling bangunannya ada tempelan porselen-porselen dengan detail yang sangat cantik. Di bangunan utama ada tangga curam ke atas. Aku berharap untuk naik ke atas sambil menikmati senja. Kalau bisa melihat dengan sudut 360 derajat dari atas, pasti bisa dapat spot cantik saat matahari perlahan menghilang di barat. Saat aku datang, matahari belum sepenuhnya tenggelam. Sayangnya, Wat Arun sudah ditutup pukul 6 sore. Yah,, sayang sekali. Padahal aku berharap karena namanya temple of a dawn, aku bisa menikmati senja disana. Ya sudahlah. Wishlistku sudah terlaksana, menyebrang ke Wat Arun ketika matahari mulai terbenam.
Jadi selanjutnya apa? Ternyata di dekat Wat Arun ada wat lain yang tidak terkenal. Mungkin karena tidak dikenal dan benar-benar untuk tempat beribadah, maka wat yang satu ini bebas dimasuki siapa saja tanpa ada biaya administrasi. Demi melengkapi catatan perjalananku, aku coba masuk ke wat yang satu ini. Setelah itu. Selesai agendaku untuk hari ini. Yang jelas aku nggak tahu jalan pulang dan nggak punya rencana selanjutnya. Si teman baru tetepa ada di samping aku tanpa ada tanda-tanda untuk say goodbye.
Entah kenapa, aku mau aja tu ngikut si teman baru pergi. Dia ngajak berhenti di sebuah cafe kecil di pojokan. Dia minum kopi, dan aku kembali memenuhi wishlistku untuk minum jus di Bangkok. Meski nggak seutuhnya real jus (menurut temenku itu dari jus mangga, kiwi, lemon yang dicampur air dan es, yang asli cuma lemonnya aja) yang dibuat dalam porsi super gede yang pada akhirnya nggak habis aku minum sendiri dan terpaksa berubah rasa akibat kelamaan diminum dan dibuang seperdelapan bagiannya karena nggak habis.
Aku nggak perlu cerita detail tentang apa yang terjadi malam itu di Bangkok di blog ini kan. Malamnya aku masih kelayapan di tempat yang aku nggak tahu dengan teman baru ini. Aku naik ke condonya yang berada di lantai entah berapa yang aku lupa pas nulis ini untuk menikmati lampu Bangkok dari atas. Kami makan malam bersama dengan menu roti prata, humus, dan pasta tomat lengkap dengan minum jus mint dan lemon, yang kalo di rumah pasti aku nggak mau nyoba yang ternyata rasanya seger. At the end i have to admit that I did kissing with strangers, that strangers. Kalo ditanya, kenapa, ya aku nggak tahu jawabannya. 
At the end, aku selalu berpikir kalo semua yang ada di hadapanku hanyalah ilusi. Kenapa aku bertemu dia, mungkin itu alam bawah sadarku yang minta ditemani dan minta orang seperti dia yang datang ke kehidupanku. Mungkin takdirku cuma sehari. Makanya aku tulis judulnya sebagai [un]perfect. Dibalik sesuatu yang sempurna di dunia, ada ketidaksempurnaan di sana. 
Bad me, aku kasih nama facebook ku ketika aku setting untuk menyembunyikan facebook dari publik. Dia kasih alamat email tapi secara lisan dan jeleknya aku selalu lupa apa yang tidak bisa dilihat secara visual. Ah,, if our fate is only for a day, thank you for this wonderful day. I wish to talk to you more.

Sabtu, 05 Juli 2014

My Wishlist for Batu, Malang

I've been dreaming about visiting Batu many times. I had some opportunity but I feel it's not enough. This time I have three days to enjoy Batu. Yeay!


First day is the arrival day. After many hours stuck in economic taste train that so uncomfy, we decided to just stay at villa and do reunion with family all day long. At night I have opportunity to visit BNS (Batu Night Spectacular). Unfortunately I feel disappointed because I had too much expectation. It just night market that we had done in our local area, but in bigger market and it happen every night there.

Second day is for my sister wedding. It was sweet wedding that happen in small garden. Congratulation sista!

Third day is the nicest day in Malang. We take ticket for Eco Green Park, Jatim Park 2, and Museum Satwa. All these places is awesome! You have to come and experience it by yourself. Pssst,,, it's better to come in non-holiday-day.








Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...