catatan kaki

Minggu, 13 April 2014

12 jam menuju Labuan Bajo

"........ ada bus ke Labuan Bajo. Bus hanya satu kali sehari, berangkat dari Bajawa jam 7 pagi. Travel juga ada. Berangkatnya kalo ada penumpang."
"-___________-"


Itulah salah satu hal yang kurang mantab saat ngetrip di Indonesia, terutama di daerah-daerah semi pedalaman. Transportasi kurang memadai. Huhuhuhu. Nasib hobi jalan-jalan, duit mepet, waktu terbatas. Huhuhuhuhuhuhuhuhu.

Ada beberapa pilihan untuk berpindah tempat dari Bajawa menuju Labuan Bajo, our next destination
  1. Pesawat. Tapi buat aku itu bukan pilihan. Yanng jelas mahal. Pesawat menuju Labuan Bajo nggak ada yang direct dari Bajawa, kami wajib transit dulu, bisa beberapa jam sampai hitungan hari. Parahnya, pesawatnya belum tentu ada tiap hari.
  2. Sewa mobil. Waktunya fleksibel dan kami bisa berhenti-berhenti sesuka hati. Tapiiiii,,, ya itu, nggak rela keluar uang lebih. Apalagi kami jalan cuma berdua.
  3. Travel. Tapiiiii travelnya cuma mau berangkat kalo ada penumpangnya, dan nggak mau kalo penumpangnya cuma dua. Itu yang travel langsung dari Bajawa. Ada pilihan lain, travel yang pake berhenti / transit di _____[lali] yang bisa-bisa sampe di Labuan Bajo tengah malam. Kami anak perawan dua biji yang belum punya penginapan di Labuan Bajo mesti kelayapan tengah malam,, bukan pilihan.
  4. Naik bus Bajawa-Labuan Bajo satu-satunya. Siap jam 6.30 pagi tunggu dijemput di depan rumah. Mau gimana lagi,,,,
Iya. Kami dijemput bus di depan rumah. Tinggal telpon gitu. Namanya bus gemini. Mungkin karena kotanya kecil, busnya pun bus 3/4, jadi dia bebas muter2 di kota kecil itu demi jemputin penumpangnya satu-satu. Ketika sampai di Labuan Bajo, penumpang juga dianter ke depan rumah tujuan kok. Istimewa kan bus ini.

Kami beruntung dapat tempat di samping pak sopir yang mengendali bus supaya baik jalannya. Bapak sopir ini suka bagi-bagi makanan [ndeso *kata bapaknya] ke kami. Lumayan bisa ngerasain jagung yang dibakar tanpa bumbu apapun. Pak sopir ini juga suka muter lagu Flores sepanjang jalan. Kalo nggak salah namanya Pak Leo.

Tapi buat kami yang lebih istimewa lagi adalah jalanan Flores yang super cihuy. Pemandangan hijau, sawah, gunung, langit, jalanan berkelok-kelok yang lekukannya super seksi, laut, dan pemukiman-pemukiman kecil penduduk. Rasanya 12 jam berlalu begitu saja. Terima kasih Pak Leo, bus Gemini, dan jalanan Flores yang tak terlupakan.


@dinilint

Sabtu, 12 April 2014

#BersamaGaruda Demi Ikut Mesakke Bangsaku Pandji

Sebagai orang yang jujur dan apa adanya, aku ngaku aja dari awal kalo post kali ini sengaja aku buat supaya bisa ikutan om Pandji dalam world tour Mesakke Bangsaku. Siapa tahu aku bisa nonton stand up show nya Pandji secara langsung di London, Amsterdam, Berlin, Melbourne, Brisbane, Adelaide, GuangZhou, Beijing, Kuala Lumpur, atau Singapore.


Jujur nih, baru tadi malem aku nonton pertunjukan stand up-nya Pandji. Itu aja nggak sengaja, gara-gara ibu nyetel Kompas TV semalem. Tapi dari nonton nggak sengaja itu aku dapat hiburan cerdas. Sepanjang malam aku nggak berhenti ngakak lewat ucapan-ucapannya Pandji, dari mulai kaum minoritas, perbedaan pdkt cowok-cewek, sampe perkosaan. Tapi di balik ngakak-ngakak itu, aku dapat pengetahuan baru. Pandji emang bisa aja menyampaikan hal serius dengan cara yang santai. Salah satu hal yang 'kena' di aku adalah ketika Pandji cerita soal 'orang kalo beli beras kan nggak bisa dengan jawab pertanyaan, siapa bapak pendidikan Indonesia.'. 

Aku suka sama orang-orang macam Pandji, orang-orang pemikirannya luas, terbuka, dan bisa menyampaikan apa yang ada di pikiran dia ke orang banyak, khususnya anak muda, dengan cara yang menyenangkan. Aku inget pertama kali ngunduh bukunya Pandji yang nasional.is.me. Pandji berhasil menyampaikan pesannya lewat buku digital itu, 'kalo kamu mau hal yang lebih baik pada dirimu, bangsamu, jangan tunggu orang lain bekerja, tapi mulai dari diri kamu, apa yang bisa kamu lakukan'. Rasa-rasanya kalimat barusan berat ya,, tapi di bukunya Pandji jadi terasa enteng dan menyenangkan dan sangat praktis, mungkin dilakukan. Ah,,, kayaknya aku mesti banyak belajar lagi sama om Pandji untuk belajar menyampaikan sesuatu supaya lebih kena dan lebih asik.

Lewat karyanya Pandji -baru nasional.is.me dan Mesakke Bangsaku yang gratisan- aku belajar untuk lebih peduli, terutama di bidang politik. Sebelum baca dan dengar Pandji bercerita, aku merasa nggak perlu tahu sama yang namanya politik. Buat aku politik itu urusannya pejabat dan politikus, orang-orang yang duduk di kursi-kursi sakti itu dan nggak ada hubungannya dengan aku. Tapi ada satu kalimat di buku Pandji yang bilang kalo 'politik itu mempengaruhi semua orang'. Politik sedikit banyak mengatur hidupmu. *plak. Iya juga ya. Semua kebijakan itu muncul dari politik, dan kita yang rakyat ini kan wajib mematuhi kebijakan yang dibikin. Nah, kalo kita nggak peduli berarti kita nggak peduli dengan hidup kita dong. Nah, kalo kita nggak peduli dengan hidup, berarti kita menghina yang kasih kita hidup dong. Dosa gila kalo buat aku. Mmmmmffff,,, aku mulai berkata-kata nggak jelas lagi deh. Saranku mending baca deh bukunya om Pandji, beliau lebih lebih lebih pinter jelasinnya.

Nah,, akibat dari menikmati baru dua karya gratisannya om Pandji, aku penasaran buat menikmati salah satu karya pertunjukannya om Pandji secara langsung. Apalagi kalo dibayarin :p, di luar negeri pula. *bayangin denger lagu karya Guruh Soekarno Hatta diputer di luar Indonesia.


Thank God, Pandji bersama Garuda Indonesia membuka kesempatan untuk aku untuk mungkin bergabung dalam Mesakke Bangsaku keliling dunia. Yeap, aku yakin aku memenuhi semua syaratnya. Aku punya passpor yang masih berlaku. Aku follow @pandji dan @IndonesiaGaruda. Aku punya blog dan bersedia nulis. Aku udah punya KTP, yang berarti umurku udah lebih dari 17 tahun. Lalala yeyeye.

Ih aku udah bayangin aku duduk di dalam pesawat Garuda-Indonesia, makan nasi kuning prasmanan Indonesia di udara, dan lagi cekikikan bareng kru Mesakke Bangsaku. Senangnya. Kalo gini jadi inget pengalaman liburan ke Bali tahun lalu bareng Garuda-Indonesia. 

Thank God, Garuda-Indonesia yang merupakan maskapai full board kasih tiket promo. Kalo biasanya aku nunggu menjalankan tugas negara dulu biar bisa terbang bareng Garuda-Indonesia, kali ini aku bisa liburan bareng Garuda-Indonesia. Kali ini aku pilih rute dari Semarang - transit di Jakarta - lanjut ke Denpasar. Perjalanan panjang. Bayangin aja kalo mesti jalan darat naik bus dan ferry yang makan waktu 24 jam, apalagi kalo jalan kaki. Bisa sampe seminggu kali ya. Kalo pake Garuda jadinya cuma makan waktu 3 jam total di udara.

Aku selalu menikmati tiap perjalan dengan Garuda-Indonesia. Aku suka banget bagian masuk pesawat. Memasuki badan pesawat, aku boleh mendengar musik indah Indonesia sembari menunggu seluruh penumpang masuk, duduk, dan pesawat siap berangkat. Interior pesawat yang serba biru selalu bersih. Kursinya super empuk dan ergonomis. Kebayang kalo jadi ikutan tur Mesakke Bangsaku aku betah banget duduk berjam-jam di kursi nyaman itu. Selama di dalam pesawat juga nggak bakalan mati gaya, majalah dengan foto-foto indah, personal tv, dan makanan enak selalu menemani. Ah,, nyaman bener.

Garuda-Indonesia landing dengan mulus di Bandara Ngurah Rai. Aku kembali ke Bali untuk yang kesekian kalinya. Bali buat aku adalah tempat tujuan wisata mainstream yang selalu ngangeni dan selalu aku kasih ucapan 'sampai ketemu lagi'. Ketika terlintas kata Bali, di otakku selalu bersliweran gambar pantai berpasir halus, ombak yang bergulung-gulung teratur, suara gamelan bali yang adem, sawah hijau ubud, pasar seni, dan senyuman para bli dan nyai di ujung gang. Bagian menyenangkan dari Bali yang selalu aku simpan baik-baik di memori.


Liburan kali ini, aku belum memutuskan mau main kemana di Bali. Tujuan pasti setelah turun dari pesawat Garuda-Indonesia ini adalah cari taksi biru, minta diantar ke Nusa Dua. Aku mau nebeng bude nginep di hotel bintang. Muehehehehe. Ketahuilah, aku adalah pejalan berduit cekak dan emang nggak rela keluar duit banyak-banyak buat liburan kalo bisa dapet murah :p.

Aku pikir-pikir, dapet hotel berbintang dengan kamar super luas dan punya private beach, kenapa aku mesti pergi ke tujuan lain. Kali ini aku mau diem di hotel aja, menikmati setiap fasilitas hotel yang ditawarkan. Biarpun cuma di hotel, tapi suasana Bali tetep kental. Di mana-mana aku denger gamelan Bali. Ketika malam salah satu bagian hotel berubah jadi mirip pasar seni, banyak nini buka lapak jualan kerajinan tangan lucu-lucu. Yang paling menyenangkan adalah momen sunrise dan sunset. Karena hotel ini punya privat beach, jadi aku tinggal lompat aja ke pantai, goler-goler cantik sambil menikmati langit berwarna kemerahan oranye. Ah,,, momen-momen ini selalu bikin aku merinding. Seneng banget bisa jadi orang Indonesia, tinggal di Indonesia, dan bisa menikmati alam Indonesia dengan gembira.


Total 3 malam aku habiskan dengan leyeh-leyeh cantik di private beach, bangun pagi untuk ketemu sunrise di ujung hotel, jalan-jalan santai keliling hotel demi ngecengin bule-bule ganteng berperut rata. Hari terakhir akhirnya aku keluar hotel dan mutusin buat jalan-jalan. Pilihannya jalan ke Uluwatu. Coba deh ke sana pas senja, beli tiket untuk nonton pertunjukan Fire Dance. Kamu bisa lihat sunset di ujung barat sebagai latar belakang, pas persis ketika matahari terbenam, api tersulut ke udara dan semua penari menari dengan tarian yang super indah. Ah,,, Bali emang luar biasa.

Saatnya pulang. Buat aku hal paling menyenangkan dari sebuah perjalanan adalah pulang ke rumah. Apalagi pulang ke rumah dengan cara super nyaman. Berangkat pake Garuda-Indonesia, pulang naik Garuda-Indonesia juga dong. Kan promoooooo :p. Biar promo tetep fasilitasnya komplit. Perjalanan total di udara selama 3 jam, ditemani bacaan bagus dari majalah in-flight-garuda, makan siang yang enak, dan kudapan yang menyenangkan. Nyaman dan puas :D


Semoga pengalaman menyenangkan bersama Garuda-Indonesia bisa terulang lagi. Aku berharap Garuda-Indonesia bisa menemani aku jalan-jalan ke luar negeri. Pasti lebih menyenangkan lagi ketika menikmati karya anak bangsa di negeri orang. Pandji,,,, aku mau ikut Mesakke Bangsaku keliling dunia.

@dinilint

Kamis, 03 April 2014

Hello [again] Solo


What to do in Solo?
Use becak (three wheel vehicles). Take a lot of photos. Eat a lof of Solo traditional food and snack. Go to the market, traditional and modern.

@dinilint

Sebentar di Bajawa

Thank God! Selalu ada hal baik di balik kejadian tidak menyenangkan, begitu juga hal yang menyenangkan menandakan kita selalu dikeliling hal yang baik. :)


Senang rasanya akhirnya bisa menginjakan kaki di Bajawa, kota kecil yang damai, rapi, dan tenang. Yeay,, aku bertemu lagi dengan sahabat di masa-masa kuliah dan awal kerja. 

Bajawa seperti halnya kota dalam cerita masa kecilku. Kota kecil yang rapi, rumahnya teratur, dan jalanannya sepi. Rasa-rasanya orang-orang Bajawa hanya mengenal aktivitas bersantai. Ketika matahari menghilang di barat, penduduk Bajawa menikmati rumah dan keluarga.

Satu lagi yang wajib dinikmati di Bajawa, mandi air panas. Sumber air panas di Bajawa adalah air belerang di aliran sungai. Ini seperti pijat gratis setelah perjalanan panjang, relaksasi setelah mendapati stressor tingkat tinggi, dan spa setelah aktvitas tanpa henti.

Hal lain yang bisa dinikmati di Bajawa adalah berkunjung ke perkampungan adat Wae Bena. Sayangnya, waktu kami yang semalam tidak mengijinkan kami untuk berkunjung ke Wae Bena :(.

Meskipun Bajawa ada dalam daftar wajib kunjung kami ke Flores, tapi pada kenyataannya kami harus menerima kalau kami hanya numpang mandi dan bermalam di Bajawa. Kami harus berangkat jam 7 pagi dengan bus yang menjemput kami di depan rumah untuk melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo. 


Sebentar di Bajawa yang membangkitkan imajinasi masa kecilku tentang kota damai, tenang, dan adem seperti dalam dongeng. Mau lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

@dinilint

Sabtu, 15 Maret 2014

Hal Kurang Menyenangkan di Flores :(

"Bagaimana Flores, nak?".
"Menyenangkan. Semua orang ramah dan suka menolong. Saya harap terus begitu sampai saya pulang dari Flores ya"
:)

Pesan yang selalu ibu berikan ketika aku hendak berangkat ngetrip adalah 'waspada'! Tiap dengar kata itu aku selalu teringat dengan para scamer dan penipu di jalanan yang suka memanfaatkan turis dengan berbohong demi kepentingan dirinya sendiri saat itu. Sayangnya, aku selalu pasang sikap waspada paling tinggi saat jalan-jalan di negara sendiri, Indonesia :(. 

Tapi ketika tiba di Flores, aku merasa hal yag berbeda. 

Sebelum berangkat menuju Flores, aku boleh merasakan keramahan orang Flores. Berbekal blog dan alamat email, aku bertanya pada orang lokal. Satu pertanyaan dijawab dengan informasi detail dan jelas. 
Pertama kali menginjakkan kaki di tanah Flores, sambutan Flores yang ramah lewat pertolongan pak polisi sangat menyenangkan. Aku cukup bertanya bagaimana cara mencapai satu titik, si bapak-bapak polisi memberiku dua orang tukang ojek lengkap dengan motornya.
Saat menunggu travel, kami dapat saudara baru. Hanya bercerita mau menghabiskan malam di Moni, dibantu mencari penginapan sesuai budget dan bersih. Kami tinggal duduk manis di travel dan kamar kami sudah siap, lengkap dengan sambutan hangat saudara jauh yang lama tidak bertemu.

Sayangnya, saya juga ketemu hal kurang menyenangkan di Flores :(.
Pagi itu kami akan berpindah dari Moni ke Bajawa. Berdasar pengalaman sebelum-sebelumnya bahwa orang Flores super baik, males ribet cari-cari sendiri, dan mengejar waktu, kami minta tolong bapa di penginapan untuk mencarikan travel ke Bajawa. Saat itu sudah jam 9 pagi, agak susah rupanya untuk mencari travel karena kebanyakan sudah penuh. Syukurlah, saat itu ada satu travel yang masih kosong 2 tempat duduk. Pas sekali.

Kami ikut travel itu, diantar langsung ke Bajawa. Kami harus bayar 175k untuk satu orang. Belakangan kami tahu harga itu terlalu mahal. 175k adalah harga rute dari Maumere ke Manggarai. Memang travel itu berasal dari Maumere, melewati Moni, dan melewati pertigaan menuju Bajawa. 

Hal yang paling mengecewakan adalah, mobil travel yang menarik uang berlebih, yang seharusnya memberhentikan kami di depan rumah, malah menurunkan kami di pertigaan Bajawa coret. Kata Bajawa saja belum ada di pertigaan itu. Kami harus lanjut ber-ojek sekitar 20 menit. :( :( :(. Sedih sekali. Kami marah-marah, tapi energi kami terbuang hanya  untuk marah dengan bapak travel tak bertanggung jawab itu.

Aku jadi ingat pesan seorang bapak (orang Flores juga), "Kami orang Flores memang baik, tidak suka tipu-tipu. Tapi kau hati-hati dengan orang Maumere ya nak.". Ah,, terjawab sudah mengapa.

Hati-hati ya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...