catatan kaki

Selasa, 13 Januari 2015

January 13th

Happy birthday to me!!!!
Yeay,,, today I able to celebrate my birthday. How old am I? Ask me directly. For me, I'm stopping count the number of my life. I'm learning to count my bless time by time.
Many things for many reasons have, has, and will be happen in my life. 
Some days before I wish to celebrate my birthday with doing nothing. It happens. Today I just at home, no electricity because some system in this city is broken or something. God grant my wish. And i feel so bored. So,, I think I have to use my time, every time to do something, to be blessed and being bless. What a gift today. Thank God.

This post is made to make me little note, note to always be grateful all the time. Once again, happy birthday to me! Yeay

Sabtu, 27 Desember 2014

Jalan - Jalan [lagi] ke Korea Selatan

Aku bukan penggemar garis keras K-pop atau K-drama. Artis yang aku tahu cuma Lee Min Ho. Tapi Korea Selatan membuat aku rela bayar mahal untuk maen lagi kesana setahun kemarin, bulan kemarin, dan mungkin tahun depan :P


Art instalation. Ketika aku naik pesawat berbudget rendah tahun lalu ke Seoul, aku membaca artikel tentang kota Seoul yang penuh dengan art instalation. Udah terbang tapi baru baca artikel tentang kota tujuan,,, ehehehehe. Sebelumnya yang aku tahu soal Korea adalah tetangganya Jepang yang sekarang jadi saingan Jepang dalam segala hal. Gara-gara sakit hati pas maen ke Jepang berasa miskin banget, jadi pengen nyobain saingannya Jepang tapi dengan harga yang lebih manusiawi.


Sekali datang ke Seoul langsung jatuh hati. Aku suka banget dengan negara yang rapi tapi ya nggak rapi-rapi banget. Maksudnya rapi, semua informasi mulai dari web sampai on the spot jelas, transportasi publik jelas, banyak tourism information center yang bersedia ngomong bahasa inggris. Nggak rapi-rapi banget maksudnya, masih ada orang yang nyelonong nyebrang sembarangan, masih ada yang parkir asal di pinggir jalan, dan jalanannya masih rada berantakan karena ada pedagang kaki lima di pinggiran.


Buat aku, Seoul kotanya photogenic banget. Jalan ke manapun bawaannya pengen foto. Nggak cuma landscapenya, tapi penduduk kota Seoul juga seru buat difoto. Mereka juga ramah dan bersedia bantuin meski bahasa inggrisnya terbatas banget. 


Orang-orang Seoul juga menghargai banget karya seni. Aku pernah datang ke pameran seni dan penuh sesak. Tiap datang ke museum selalu rame dengan anak sekolah yang lagi bertugas sekolah di museum tersebut sambil berusaha menyapa orang asing dan bagi-bagi permen enak. Kalo datang ke kuil selalu ada anak sekolah lari-larian bahagia sambil belajar sejarah budaya mereka.


Orang Seoul juga menghargai banget sejarah mereka. Di tengah-tengah kota modern yang selalu berkembang, bangunan-bangunan tua nya masih terawat banget banget. Hiks,, jadi inget kota tua Semarang yang terabaikan.


Rasanya seminggu nggak puas keliling Seoul, apalagi Korsel. Jadi ya kalo ada rejeki balik lagi. Kali ini landing di Busan. Next post, aku bakal cerita tentang perjalanan ke Busan dkk sesuai urutan waktu.

@dinilint wants to see you again

Selasa, 11 November 2014

[masih] tentang Solo Backpacing

Solo backpacking. Solo = kota. Back = belakang. Packing = ngepak barang. Jadi kalo dijadiin satu artinya ngepak di belakang kota. Halah,,,.
Intinya aku mau cerita lagi tentang acara jalan-jalan sendirian kemaren dengan budget terbatas.

mestinya yang nongol disitu muka akuuuuuu

Bangkok jadi kota terakhir dari rangkaian crosscountry trip ku. Aku start dari Singapura, jalan ke KL, transit di Penang, naik kereta ke Bangkok, dan akhirnya jalan sendirian di Bangkok.

kalo ada yang fotoin,, nggak cuma kaki yang nongol

Jalan sendirian nggak seserem yang dibayangin kok. Jalanin aja, jangan dibayangin. Tahu-tahu ada orang baik yang rela nemenin jalan sampe nongkrong. 

sebenernya pengen pose sok bingun baca peta gitu

Tapiiiii hal enak suka temenan sama yang nggak enak, semacam dua mata koin gitu. Kalo kamu bisa bebas menentukan apapun yang kamu mau, sayangnya kamu nggak bebas mengambil gambar diri kamu sendiri.

niat nyamain muka,, mirip?

Iya sih,, sekarang kamera depan udah punya megapixel juara, ditunjang dengan alat bernama tongsis. Tapiiiiii tetep beda si kalo difotoin. Nggak bisa difotoin adalah hal paling nyebelin buat aku pas jalan sendirian.

foto dalam bus lokal,, andai ada yg fotoin background nya nampak lebih jelas

Tapi (kebanyakan tapi yak), ada kalanya bebas dari ritual "fotoin dong, ntar gantian" ternyata ada enaknya. Pas maen ke Jim Thompson House, ternyata aku sekelompok dengan mbak cantik yang dandannya maksimal tapi jalan sendirian. Ketahuan si mbak pengen deketin trus bikin deal untuk saling memfotoin satu sama lain. Tiba-tiba aku kok males sama ritual "fotoin dong, ntar gantian" dan pilih pura2 sibuk ngambil objek foto tanpa manusia. Pas maen ke Asiatique juga ada pasangan yang "niat" mau deal ritual "fotoin dong, ntar gantian" sama aku,, dan aku lagi-lagi sok sibuk ngambil gambar lanscape nya Asiatique. 

bye Bangkok,, see you!

Huahuauhua,,, nggak selamanya berfoto narsis pas jalan-jalan menyenangkan ternyata. Tapi jalan sendirian juga nggak enak melulu. Sekali lagi, yang enak pasti gandengan sama yang nggak enak kan?
@dinilint
pengen minta tolong difotoin, tapi jangan minta fotoin balik ya :P

Senin, 03 November 2014

Enaknya Solo Backpacking

Solo backpacking,, atau jalan-jalan sendirian dengan budget terbatas ternyata seru juga,,,,, setelah dicoba :D. Dulu aku juga ragu untuk jalan sendirian,, apalagi dengan budget minimal. Bayangin mesti cari tahu arah sendiri, cari tahu transport sendiri, nyasar sendiri, terutama,, nggak ada yang bisa diutangin. Hahahaha


Solo backpacking aku dimulai dari Butterworth Station, Penang. Setelah perjalanan panjang di Singapura dan Penang bersama teman-teman, aku bener2 sendirian dalam acara jalan-jalan dan harus memutuskan semuanya sendiri. Sekarang nggak ada lagi yang kasih bahan pertimbangan. Niatnya sih, sampai di Bangkok ada seorang teman yang akan menampung. Ternyata siang itu, mendadak teman dapat tugas ke luar negeri. Jadi yaa,,, kali ini aku harus bener2 survive sendirian.

my weapon

Aku sebenernya nggak punya iten pasti di Bangkok. Budget pun mengandalkan uang sisa dari trip sebelumnya. Modalku sebelum sampai Bangkok adalah browsing cara menuju Khaosan Road dengan public transportation. Kenapa Khaosan? Karena di situ tempat berkumpul para backpacker,, berarti di situ banyak hostel budget. Kenapa public transportation? Karena ngirit budget,, Bangkok adalah kota super besar dan aku nggak tahu jarak pasti Stasiun Hualampong, Bangkok. La kalo naek taksi yang ternyata jaraknya jauh kan jadi muahal.

the bus, the road, and the traffic jam

Sukses bertanya sana-sini tentang bus no 53 dari arah Hua Lamphong dan turun di area Khaosan Road, aku pun jalan santai untuk cari dormitory room. Saat itu aku go show. Beruntungnya, aku dapat dorm room kapasitas 25 orang yang hanya terisi 4 orang termasuk aku. Kenapa pilih dorm? Sebenernya ada pilihan private room untuk satu orang dengan fasilitas fan yang harganya hanya beda beberapa baht. Tapi aku merasa tidur dengan 'teman' lebih nyaman. Apalagi dorm ini pake AC dan Bangkok super panas. Toh nggak full capacity room dorm nya.

let's go

Sudah bisa mandi, sudah bisa pup, saatnya cari makan. Cari makan sendirian lebih bebas sih, suka-suka aku mau makan apa di mana. Tapiiiii ternyata nggak enak juga. Aku terbiasa kalo makan di luar selalu ada teman, tapi harus makan sendirian. Hiks

hectic khaosan road

warm welcome from tiny coffee shop
Ini adalah pertama kali aku maen ke Bangkok. Kalo nasehat dari beberapa orang must visit Bangkok adalah Wat Arun, Wat Pho, Grand Palace, dan tentu saja wisata belanja di mal-mal super besar dan ke Chatuchak Market kalo weekend. Tapi ternyata, solo travelling ke Bangkok setelah jalan dari Singapur dan Penang bikin aku anti mainstream. Inilah kebebasan jalan-jalan sendirian. Yeay!!!

view from Wat Arun - eventhough I can't get picture with my face, at least my hand come in a good result for the pic :)

Jim Thompson House - my wishlist have been checked

selfie di Asiatique

selfie di IKEA
someone nice help me take picture
Chao Praya

@dinilint - love to do all she wants to do  

Rabu, 29 Oktober 2014

Museum Nasional Thailand di Bangkok

Hari pertama saya datang ke Bangkok untuk kali pertama, ketika saya benar-benar jalan sendirian di jalan yang baru pertama kali datangi, seseorang menghampiri saya dan berkata;
"Kalo kamu mau tahu tentang Thailand datang ke museum. Kamu bisa datang ke kuil-kuil yang sudah berubah fungsi jadi barang komersil dibanding tempat ibadah, atau istana boongan yang digunakan untuk menarik banyak uang dari turis lain waktu. National Museum will be good."


Keesokan harinya, setelah puas melepaskan hasrat pada tangga-tangga curam Temple of a Dawn atau Wat Arun, berjalan-jalan di sekitar Great Palace, dan berusaha mendapatkan harga termurah untuk celana kain khas Thailand, akhirnya saya memutuskan untuk mencari tahu dimana letak National Museum of Thailand. Saya rasa saya kena pelet :P


Saya tinggal di kawasan Khaosan Road. Saya cukup naik gethek Wat Pho. Dari sana saya jalan kaki ke arah Grand Palace. Sepanjang Grand Palace saya dihibur dengan alunan lagu klasik. Sebenarnya lagu klasik itu untuk pemberitahuan pada pengunjung bahwa untuk memasuki Grand Palace hanya melewati satu pintu, yaitu di pintu utama. Banyak cerita bahwa turis-turis terjebak rayuan sopir tuk tuk. Cara yang kreatif dan menghibur untuk pemberitahuan, musik klasik itu.


Bangkok ramah untuk pejalan kaki macam saya. Saya nggak berani naik taksi sendirian. Konon, bila kita tidak bisa berbahasa Thai, si sopir enggan menyalakan meter / argo. Sedangkan saya orang yang disorientasi tempat dan susah mengira-ira jarak. Daripada saya keblondrok, mending jalan kaki sekalian ngirit. Hihihihi. Di sepanjang jalan, ada petunjuk dan peta jalanan. Mungkin karena ini adalah area turis. Untuk orang yang susah baca peta dan place disorientated macam saya, saya berhasil sampai ke National Museum dengan hanya bermodal petunjuk di jalanan. Bangkok ramah, kan?


National Museum ternyata sangat-sangat besar. Museum ini terdiri dari beberapa bangunan. Saya pilih leyeh-leyeh sambil ngemil roti dulu di bawah pohon rindang di taman besar di area depan museum. Di sana banyak biksu-biksu yang juga lagi leyeh-leyeh kepanasan. Di bangunan pertama terdapat kuil besar dengan lukisan cerita Budha di tembok-temboknya. Di gedung berikutnya menceritakan sejarah Thailand dari masa ke masa, juga beberapa cerita tentang negara-negara Asia Tenggara. Negara Thailand adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang selalu merdeka alias nggak pernah dijajah. 


Di bangunan selanjutnya terdapat rumah raja yang diangkut sengaja dari desa ke ibukota. Di bangunan menyimpan hadiah-hadiah dari berbagai kepala negara untuk raja Thailand. Ada pula bangunan yang berisi beraneka macam kereta kencana. Ada pula bangunan yang menyimpan sisa-sisa peninggalan masa lampau, salah satunya dari jaman kerajaan Sriwijaya. Mmm,,, saya menduga kita pernah sodaraan sama orang Thailand. 


Berkeliling di museum ternyata memperkaya wawasan saya,,, dan saya rasa peletnya kali ini sangat berguna. Saya janji sama diri sendiri, kalo berkunjung ke negara lain, saya mesti menyempatkan main ke museum nasionalnya.


Saya pernah dong ke Monas. Ups,, itu Monumen Nasional yak,, tapi kan ada museum di bawahnya. Iya deh,, besok ke jakarta bikin jadwal ke museum nasional ;)

@dinilint - is learning to learn about history, my favorite is from attractive museum
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...