Jumat, 29 April 2016

Salatiga dan Ronde Jago

Kalo ke Salatiga pastiin kamu makan ronde!!


Ronde yang wajib dicoba adalah ronde jago. Kenapa??? Rondenya beda. Suerrrr. Ronde ini punya rasa khas , terutama aroma daun jeruknya. Aku rasa komposisi daun jeruk di ronde jago sekitar 40%.


Ronde Jago letaknya nyempil di Pasar Salatiga. Kalo dari arah Semarang, melewati jalan satu arah itu ada tulisan J A G O besar-besar di kiri jalan. Masuk aja ke gang kecil di situ dan ketemulah antrian orang-orang yang lagi piknik untuk sekedar menikmati ronde jagoan ini ato makan batagor dan mi kopyok yang juga enakkk.

yok mimik ronde!

-ge.Lintang-

My Singapore Food Diary

When you are abroad,,, eat a lot!!


























Kali ini saya ke Singapore 2 malam. Tiba di Singapura malam hari,, bersenang-senang di Universal Studio seharian,, dan besok siangnya kembali pulang ke Semarang.
Ini adalah makanan-makanan yang saya nikmati di Singapura. Sayangnya saya lupa foto menu makan saya di Changi Airport. Kami bertiga pesan yong tofu (semacam sup sayuran yang isinya bebas pilih sendiri), ramen, dan seporsi besar nasi vegetarian dengan lauk-lauknya.
Untuk makanan dan cemilan beraneka ragam macam ini 100 SGD lebih dari cukup. Saya bisa makan es krim enak asal New York Ben's & Jerry di USS dan sempat belanja sepatu dan coklat liquor ketika pulang di Changi Airport. :)


Have an meal day!
-ge.Lintang-

Jumat, 01 April 2016

Cerita Gelintang

Duluuuu aku kenal batik sebagai kain tradisional dari Jawa. Alasannya sederhana, karena ibu yang orang Jawa suka banget pake gendongan batik untuk gendong anak-anaknya dan pake daster batik yang adem.

gelintang the intro: seri pertama dari gelintang

Setelah agak gedhe dan beberapa kali main-main ke museum batik di beberapa kota di Jawa, aku mulai paham bahwa motif-motif batik, terutama yang klasik punya arti tertentu. Aku nggak hafal satu persatu nama beserta artinya karena lumayan banyak. Huehuehue.

Kecintaanku terhadap batik bertambah. Aku selalu menyempatkan untuk datang ke tiap-tiap pameran UMKM yang menyediakan kerajinan khas daerah. Dari situ aku mulai ngeh kalo batik nggak cuma punya orang Jawa, tapi kerajinan tradisional Indonesia, yang membuat berbeda adalah motif-motifnya.

Dari coba sana coba sini, aku mulai ngeh bahwa kain batik yang dikerjakan dengan proses membatik baik batik tulis maupun batik cap adalah kain dengan kualitas bagus yang adem kalau digunakan. Kalo mau tetep berbatik tapi on budget,, ya pilih batik cap. Huehuehue.

Punya banyak kin tentu berlanjut dengan keinginan untuk menyulapnya jadi baju. Sayangnya, berkali-kali ganti penjahit tapi hasilnya nggak sesuai harapan. Aku pun belajar jahit sendiri demi memenuhi harapan. Eh,, ternyata temen-temen minta bantu bikinin (baju) juga.

Beberapa waktu yang lalu aku beruntung dapat kesempatan untuk praktek membatik. Dari situ aku bener-bener merasakan proses panjang dari menggambar di kain, mencanting dengan malam panas, proses pewarnaan hingga menikmati hasil akhir yang memuaskan karena bikinan sendiri.

Proses panjang untuk mendapatkan batik yang kami impikan butuh kesabaran dan ketekunan. Tapi ketika selesai rasanya fun! fun! fun!

Aku dan adik pun dapat ide untuk membuat baju batik kami sendiri. Mulai dari desain kain, warna, hingga desain baju kami kerjakan sendiri dan sesuai impian kami. Kami buat yang kami suka dan kombinasi warna-warna yang kami mau. Hasilnya,,, seru! fun! sukaaaa!

Kami pun ingin berbagi rasa seru! fun! suka yang kami rasakan ketika berproses dengan batik. Kami pun memberanikan diri membuat ge.lintang. Semoga menjadi berkat,, bukan hanya untuk kami, namun juga untuk para pengrajin, dan kalian!

-geLintang-

*cerita ini pernah dimuat di instagram: @ge,lintang dalam bentuk caption pada beberapa foto.

Jumat, 11 Maret 2016

Cerita Batik: Proses Pembuatan Batik Tulis

Kalau ada kata batik, di benak aku selalu ada kata canting. Ya batik identik dengan proses nyanting. Tapi semakin saya belajar tentang batik, semakin banyak elemen untuk membuat selembar kain batik. Nggak cuma nyanting.

proses menyanting dan mewarna yang sering disebut colet

Kalo kita mau bikin batik tulis, alat yang pasti harus ada adalah canting. Canting itu semacam pena untuk menggambar apa yang kita mau di selembar kain. Tinta untuk menggambar di kain adalah malam. Setelah nyoba belajar bikin batik sendiri, ternyata untuk menghasilkan kain yang bagus nggak cuma sekedar asal menorehkan malam pada tinta.

motif batik pada kertas

Kita mesti punya pola motif. Biasanya pengrajin membuat pola motif di kertas minyak. Kemudian gambar di kertas minyak tadi dipindahkan ke kain putih.
Kain putih yang masih bersih tersebut digambar dulu dengan pensil satu persatu.

malam yang sudah membentuk motif batik

Kain putih dengan coretan pensil tadi, ditimpa dengan malam melalui proses nyanting. Proses ini yang paling populer dengan kata batik.

salah satu proses pewarnaan colet

Hasil malam yang sudah jadi, sudah membentuk motif kemudian dilanjutkan dengan proses pewarnaan.

bapak pengrajin menjelaskan proses pewarnaan batik yang bergantung pada sinar matahari

Proses pewarnaan disini membutuhkan keahlian pengrajin batik. Jadi yang membedakan hasil batik satu dengan yang lain salah satunya adalah pada warna yang dihasilkan. Tiap pengrajin punya formula sendiri-sendiri (yang merupakan rahasia) untuk menghasilkan warna-warna cantik pada tiap kain batik.
Proses pewarnaan ini sangat bergantung pada cuaca. Bila hari hujan dan tidak banyak sinar matahari, warna yang dihasilkan belum tentu seperti yang diharapkan.


Batik adalah karya seni. Pengerjaannya dilakukan dengan hati. Pengalaman aku dalam membuat (baca: meminta tolong pengrajin membuatkan) batik tidak bisa ditarget seperti memesan barang di pabrik. Apalagi motif yang aku desain ternyata adalah motif rumit (*pas bikin desain asal gambar aja dan nggak mikir rumit atau tidaknya, intinya suka). Untuk hasil terbaik harus sabar.

-geLintang-
I am waiting for the best result. There will be the time. I am waiting for the best time.

Selasa, 01 Maret 2016

Asiatique,, Some Selfie Mandatory

Tahu Asiatique kan? Tempat seru di pinggiran Sungai Chao Phraya, salah satu spot wajib kunjung di Bangkok yang buka tiap malam dan penuh dengan kerlip lampu. Ah,, ini adalah salah satu tempat wajib untuk swafoto,, atau kata kerennya selfie!





Selfie berdua, selfie rame-rame, ataupun selfie sendirian, semua ada di Asiatique. Malah kesannya orang-orang berlomba-lomba untuk mengambil foto terbaik mereka dengan latar belakang Asiatique yang kerlap-kerlip genit.





Mau difotoin, mau foto sendiri, mau foto close up, mau foto sebadan, semua ada di Asiatique. Kira-kira pose macam apa yang paling bagus untuk berfoto di Asiatique,,




Nggak cuma foto badan dan diri sendiri, foto sepeda dengan latar belakang Sungai Chao Phraya juga jadi hal seru untuk selfie di Asiatique.



Jadi bagian mana yang jadi spot seru untuk selfie di Asiatique? Kalo menurut saya sih di bagian dekat pelabuhan dimana ada tulisan Asiatique gede dan di bagian Sungai Chao Phraya dengan latar belakang gedung-gedung tinggi khas Bangkok dengan lampu-lampunya yang cantik.


Saya juga selfie dong. Heheh
-geLintang-